You’re Mine, Part6

AUTHOR POV

“Rizal, apa sih? Tadi malem gue makan sama Dimas nggak berdua, rame-rame!”

“Tetep aja lo makan sama cowok lain. Dan juga, lo minta dianter sama dia kan?” tanyanya tepat sasaran. Memang sih tadi malam dia meminta Dimas mengantarnya, tetapi ‘kan pemuda itu tidak mau. Tunggu, dari mana Rizal tahu? Dan kenapa hal seperti ini jadi masalah?

“Tau dari mana?” pertanyaan itu keluar dari mulut Yupi. Rizal mendengus.

“Penting?” katanya dingin lalu berjalan lebih cepat.

“Astaga, apa deh? Kenapa lo tiba-tiba jadi sensi dan cemburu nggak jelas gini? Biasanya juga nggak masalah. Lagian lo ‘kan tau siapa Dimas.”

Yupi terus mencoba mengejar langkah lebar Rizal dan berbicara pada pemuda itu. Mengacuhkan tatapan anak-anak di sepanjang koridor yang menatapnya seolah berkata ‘Berisik banget sih lo, masih pagi juga!’ yang sangat kentara.

“Tetep aja dia cowok.” Jawab Rizal acuh dan terus melangkahkan kakinya meninggalkan Yupi.

“Rizal tunggu! Aw,” Yupi mengaduh saat seseorang menabrak bahunya. Ia berdecak saat tahu siapa orang yang telah menabraknya.

“Ngapain sih lo?!” tanyanya kesal. Gadis yang baru saja menabraknya itu tersenyum miring.

“Siapa suruh berdiri di tengah jalan, Penyihir!” katanya. Yupi menghentakkan kakinya kesal.

Bukan. Bukan karena perkataan gadis di sebelahnya, itu sih sudah biasa. Tapi karena pemandangan tiga meter di depannya. Di sana Rizal sedang mengobrol dan bercanda dengan Elaine. Sekali lagi, Yupi tegaskan bercanda! Dan itu artinya tertawa.

Yupi mengepalkan kedua tangannya dan menggeram gemas. Padahal tadi dia mengoceh sana-sini berusaha membuat Rizal tidak mendiamkannya tetapi pemuda itu hanya menjawabnya datar dan mengabaikannya. Dan sekarang Rizal malah tertawa dengan gadis lain?

Rasa-rasanya saat ini dia ingin sekali menjambak rambut seseorang.

“Rizal….” rengeknya, menghentakkan kakinya berharap Rizal mau menoleh ke arahnya.

“Akhirnya Rizal sadar juga mana cewek tulen mana cewek jadi-jadian,” cibir gadis bermake up tebal yang tadi telah menabrak bahunya dan memanggilnya penyihir. Yupi menoleh dan menatap kesal pada itu.

“Dasar Mak Lampir sok cantik! Bisa nggak sih lo nggak bikin mood gue makin buruk!” teriaknya kesal dan menjambak rambut panjang gadis itu. Gadis itu meringis.

“Sakit woy! Apaan sih lo?!” Yupi tidak mempedulikan ringisan gadis itu.

“Dasar Sendok Ariana!” Yupi kembali memekik. Gadis yang dijambaknya balas menjambaknya.

“Nama gue Sendy Ariani bukan Sendok Ariana ataupun Mak Lampir!” sahut gadis itu. Yupi meringis.

“Gue nggak peduli! Nenek Sihir!”

“Lo tuh penyihir jelek!”

“Lo sok cantik!”

Anak-anak mulai membuat lingkaran untuk menonton perkelahian dua gadis yang memang tidak jarang membuat onar ini. Pagi ini akhirnya mereka bisa menonton dua gadis itu beradu argumen dan fisik lagi setelah beberapa minggu tidak melihatnya.

“Iri kan lo?!”

“Mimpi lo!”

Yupi dan Sendy masih saja saling menyerang tanpa mempedulikan teman-temannya yang mulai bersorak gaduh menyemangati mereka bahkan ada juga yang membuat mereka sebagai bahan taruhan.

Rizal menggelengkan kepalanya melihat aksi brutal kekasihnya itu. Jika biasanya dia akan langsung bertindak untuk menghentikan Yupi, kali ini dia mencoba untuk tidak peduli. Ia menghela nafas dan memilih melanjutkan langkahnya bersama Elaine.

BRAK

Yupi dan Sendy berjingkat kaget saat sebuah penggaris kayu beradu dengan kerasnya meja mahoni di depan mereka, menghasilkan bunyi yang cukup keras dan menerbangkan debu-debu di sekitarnya. Mereka meringis dan menatap takut-takut pria paruh baya berambut putih yang tengah mengintimidasi mereka dengan mata tajam yang sudah dikelilingi kerutan-kerutan tanda penuaan di wajahnya.

Sepertinya ada yang harus sedikit diralat. Hanya Sendy yang menatap pria paruh baya itu dengan takut, tidak dengan Yupi. Gadis itu justru memasang wajah kesalnya, bibirnya maju beberapa senti dan bergerak-gerak seperti menggumamkan sesuatu tetapi tidak mengeluarkan suara apapun.

“Kapan kalian akan akur dan tidak bertengkar lagi?!” suara berat pria itu terdengar ke seluruh penjuru ruangan yang tidak asing lagi untuk troublemaker seperti kedua gadis ini.

“Maaf Pak, kalimat bapak nggak efisien harusnya kalo udah pake kata ‘akur’ nggak perlu ditambahi ‘tidak bertengkar lagi’ karena kalo akur udah pasti nggak bertengkar.” Sahut Sendy dengan sisa keberaniannya, mengintrupsi. Yupi mengangguk setuju.

“Kamu?! Saya ini sedang marah bukan sedang ujian! Jadi saya tidak perlu kamu koreksi!” kata pria itu semakin geram. Sendy mendengus samar.

“Iya deh, guru selalu benar,” gumamnya menggerutu.

Guru pria yang sebentar lagi masa baktinya habis ini, menjatuhkan pantatnya di kursi guru yang sudah ia tempati selama bertahun-tahun. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut karena tingkah kedua muridnya ini.

“Tumben kamu diam?” sindirnya pada Yupi yang terlihat tengah sibuk dengan lamunannya sendiri, terlihat dari responnya yang harus disikut oleh Sendy terlebih dahulu.

“Pak Arif ngomong sama saya?” tanya Yupi menunjuk dirinya sendiri. Sendy mendelik ke arah Yupi saat melihat hidung gurunya mulai kembang kempis.

“Bego! Lo bikin Pak Arif makin marah,” bisiknya. Yupi mencebik kesal.

“Gue lumayan pinter dan gue juga nggak ngomong aneh-aneh ‘kan elo yang bikin Pak Arif makin marah!” balas Yupi dengan suara yang cukup keras. Sendy mendelik.

“Diam!!”

Yupi dan Sendy langsung mengatupkan bibirnya dan menoleh ke sumber suara.

“Jadi kapan?”

“Apanya?”

Pak Arif memukulkan spidol yang dia pegang ke kening Yupi membuat gadis itu meringis.

“Aw, sakit Pak! Bapak nggak liat jidat saya udah biru gini?” ucap Yupi menunjuk dahinya yang memang agak membiru karena tadi sempat mencium tembok karena ulah Sendy. Arif menggeleng.

“Lah ini, kapan kalian akan berhenti bertengkar dan saling menyakiti seperti ini?” tanya Pak Arif mulai serius.

“Liat penampilan kalian!” perintah Pak Arif. Yupi meringis melihat menampilannya. Berantakan.

Rambut kusut, seragam yang sudah tidak selicin saat keluar rumah pagi tadi, lengan yang memerah, luka di dahi dan pelipis. Benar-benar tidak menggambarkan sosok siswi teladan sedikitpun. Ia menggerakkan kepalanya ke arah samping. Sendy juga terlihat berantakan bahkan lebih berantakan darinya. Rambut kusut dan awut-awutan, luka lebam di lengan, seragam yang keluar dengan satu kancing lepas dan tanpa dasi.

“Semua ini gara-gara Rizal” tutur Yupi gemas. Pak Arif menautkan kedua alisnya.

“Ah, iya! Biasanya dia yang melerai kalian, sekarang mana anak itu?” tanyanya. Yupi mengangkat bahu.

“Dia udah punya pacar baru Pak, jadinya nggak peduli lagi deh sama Yupi.” Celetuk Sendy membuat Yupi mendelik.

“Bisa nggak sih lo sekali aja bikin gue tenang?!” pekiknya dengan suara bergetar. Dadanya naik turun. Rasa kesal yang dari tadi berusaha dia tahan akhirnya muncul juga ke permukaan.

Yupi tiba-tiba saja menangis di ruang konserling membuat baik Pak Arif maupun Sendy bingung sendiri.

“Huwa… hari ini semuanya ngeselin!” teriaknya dengan suara serak. Pak Arif bingung untuk melakukan apa yang bisa membuat siswinya ini berhenti menangis. Dia takut guru-guru atau siswa yang lain mendengar tangisan Yupi yang tidak seperti tangisan anggun gadis remaja biasa melainkan seperti bocah berusia 5 tahun.

“Sendy, tenangin temen kamu!” perintah Pak Arif. Sendy menggaruk kepalanya bingung.

“Eh, jangan nangis dong!” dia menepuk-nepuk pundak Yupi. Yupi mengusap air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan.

“Beliin gue es krim!”

“Iya—eh, apaan?! Enggak-enggak!” Sendy membulatkan matanya dengan alis menyatu. Pak Arif mendelik ke arah Sendy saat Yupi akan kembali menangis, memberi isyarat supaya gadis itu menurut saja.

“Oke. Gue beliin.” Jawabnya pasrah. Pak Arif maupun Yupi tersenyum lebar.

“Tapi jangan senang dulu, kalian tetap dihukum untuk menyapu taman belakang.” Titah Pak Arif yang membuat kedua gadis itu menjatuhkan bahunya lemas, apalagi Sendy.

***

Yupi menyeka keringat yang menetes dari pelipisnya. Ia menyipitkan mata menerima sengatan sinar matahari yang siang ini bersinar terik. Tidak ada setitikpun awan yang mencoba untuk melindungi kulit Yupi dari cahaya kekuningan itu.

Dia melempar begitu saja sapu yang di tangannya dan menghentakkan kakinya sebal.

“Bahkan alam berkonspirasi buat bikin gue kesel hari ini,” keluhnya. Sendy mengarahkan sapunya pada kaki Yupi.

“Heh, nggak baik ngomong gitu!” nasihatnya membuat Yupi menahan tawanya.

“Apa?” tanya Sendy bingung. Yupi menggeleng.

“Selama berteman selama 2 tahun, baru tahu gue kalo lo tau mana yang baik mana yang enggak,” balas Yupi seraya tertawa. Sendy ikut tertawa kecil.

“Teman ya?” gumamnya berbisik.
Yupi masih tertawa dan mengambil sapunya kembali, meneruskan apa yang harus ia selesaikan.

“Emang kita temanan? Kita kan selalu berantem setiap ketemu?” tanya Sendy pada Yupi. Yupi mengangkat bahunya.

“Gue sama Leon nggak jarang berantem dan dia tetep jadi kembaran gue. Gue sama Rizal juga, dan dia pacar gue,” Yupi tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri. Sendy mencibir.

“Paling enggak kita pernah berinteraksi kan?” tanya Yupi yang berhasil membungkam mulut Sendy.

Berinteraksi ya? Sendy tersenyum masam. Yupi benar, paling tidak mereka pernah berinteraksi walaupun itu adu otot sekalipun.

“Lo… Kenapa?” tanya Yupi sedikit ragu saat melihat setetes air mata turun dari mata Sendy. Yupi menyentuh bahu Sendy dengan ragu.

“Air mata nggak bikin lo lemah kok. Jadi kalo lo mau nangis, nangis aja nggak usah ditahan.” Ucap Yupi saat melihat Sendy menggigit bibir bawahnya mati-matian menahan isakannya. Yupi tersenyum saat Sendy memeluknya. Gadis itu menangis.

“Selama ini gue selalu belajar mati-matian, gue pengen jadi yang terbaik, gue pengen ngalahin lo, gue pengen orang tua gue ngasih selamat ke gue,” rancaunya tidak jelas tapi Yupi mengerti. Ia balas memeluk Sendy.

“Nggak sampai di situ, gue juga selalu bikin masalah sama lo berharap kedua orang tua peduli, berharap mereka mau ngomong sama gue walaupun itu omelan,” adunya dengan suara parau. Yupi menepuk-nepuk punggung Sendy.

“Dan lo tahu? Ternyata semua itu nggak berhasil,” Yupi menggigit bibir bawahnya mendengar tawa parau Sendy. Ia berusaha untuk tidak menangis.

Yupi membiarkan Sendy menangis sepuasnya. Air mata adalah pelampiasan terbaik perasaan apapun. Jadi dia pikir ini sudah benar. Dia diam tidak berusaha untuk menyela Sendy sedikitpun, ia membiarkan gadis itu mengeluarkan semua uneg-unegnya.

Keduanya tidak pernah menyangka ini bisa terjadi. Sendy tidak menyangka ia akan menceritakan masalahnya dan bersandar pada Yupi, yang notabanenya adalah rivalnya selama ini.

Untuk pertama kalinya mereka berdekatan tanpa saling berargument ataupun menyerang fisik. Mereka bahkan berpelukan. Pelukan pertama mereka sekaligus yang terakhir.

“Besok gue bakal pindah ke Bandung” ucap Sendy saat mengurai pelukan mereka. Yupi mengernyitkan keningnya.

“Kenapa? Kok mendadak?” tanya Yupi. Sendy tertawa.

“Kenapa? Lo takut kehilangan gue?” goda Sendy. Yupi mencibir.

“Nggak mendadak kok. Gue udah mikirin ini sejak semester kemarin dan keputusan gue udah bulat. Sebenernya semester ini gue bukan lagi siswi sekolah ini tapi gara-gara lo gue masih harus berangkat” jelasnya. Yupi terlihat bingung.

“Kok?”

“Gue pengen berantem buat yang terakhir kali sama lo dan bikin pertengkaran itu membekas buat lo. Eh, dari kemaren lo malah nempel mulu sama Rizal” ucapnya pura-pura kesal. Yupi tertawa.

“Lagi-lagi gue gagal, perpisahan kita justru kayak gini, nangis nggak jelas” jeda, Sendy terkekeh dengan pandangan lurus ke depan.

“rencana Tuhan emang nggak pernah bisa ditebak dan gue tau apapun itu, itu emang yang terbaik.” Sendy tersenyum. 
Yupi mengangguk dan menengadah menatap langit biru yang mulai diselimuti awan putih.

“Makasih Yup, lo udah bikin gue ngelupain masalah gue di rumah walaupun ya ujung-ujungnya kita harus masuk BK.”

Mereka berdua tertawa.

“Walaupun lo nyebelin, gue tetep do’ain yang terbaik, buat lo sama Rizal.” Sendy mengangkat ibu jarinya dan mengedipkan sebelah matanya. Yupi tergelak dan memeluk Sendy sekilas.

“Thanks, Bung. Gue juga do’ain buat kebaikan lo dan orang tua lo. Tapi, btw lo udah berhasil ninggalin bekas buat gue. Nih, nih!” Yupi menunjuk wajah dan lengannya. Sendy tertawa.

“Oke-oke! Mendingan cepetan kita selesaiin ini, karena gue udah laper.” Sendy menunjuk daun-daun kering yang masih berserakan dengan dagunya. Yupi mengangguk semangat. Dia juga sudah sangat lapar.

***

“Lebih kenceng!”

“Bawel lo!”

Yupi mendengus dan menenguk es tehnya dengan rakus. Saat ini dia sudah berada di kantin bersama Vino dan Vinny. Sendy sudah kembali ke kelas terlebih dahulu. Gadis itu memutuskan untuk langsung pulang karena dia pikir urusannya yang sempat tertunda beberapa hari sudah selesai.

“Vin! Kencengan dikit! Lo juga No! Panas nih,” rengek Yupi mengipas-ngipaskan telapak tangan. Vinny dan Vino kompak memutar matanya.

Awalnya saat pertama kali melihat keadaan Yupi, mereka merasa iba dan kasian. Apalagi saat mereka mendapati luka di kening dan lengan gadis itu. Tetapi kalau ceritanya sudah begini, Yupi merengek dan menyuruh-nyuruh mereka berdua, rasa iba dan kasian mereka lenyap seketika.

“Lagian, siapa suruh sih lo berantem brutal banget kayak tadi? Dihukum ‘kan akhirnya?” cerocos Vinny, kesal. Yupi menghela nafas panjang.

“Udahlah nggak usah ngebahas itu. Lagian itu buat yang terakhir kali,” balasnya, mengibaskan sebelah tangannya. Vino mencibir.

“Dua bulan lalu lo juga bilang gitu,” Vino memukulkan kardus yang dia pakai untuk mengipasi Yupi ke kepala gadis itu. Yupi mencebik.

“Kali ini beneran! Mulai besok gue nggak punya lawan, kecuali kalo lo mau daftarin diri buat berantem sama gue.” Vinny dan Vino menautkan alis mereka.

Yupi menghembuskan nafas panjang sebelum kembali menjelaskan. “Sendy nggak sekolah di sini lagi,” jawabnya. Vinny dan Vino menganggukkan kepalanya.

“Tapi nggak usah berhenti juga ngipasnya!” Yupi menggerakkan tangan Vinny dan Vino yang berhenti mengipasinya.

Kedua orang tiu memutar matanya. Kalau bukan sahabatnya sudah pasti dia akan menimpuki kepala Yupi yang sudah dengan seenak jidat menyuruh-suruh mereka.

“Lihat Rizal?” tanya Yupi sambil menyingkirkan sayuran di nasi gorengnya sebelum menyendoknya.

“Tuh!” Vinny dan Vino kompak menunjuk ke arah depan mereka. Yupi mendongak dan mendapati Rizal berjalan ke arahnya bersama Sinka dan Elaine.

“Kok baru kesini?”

“Tadi masih ada guru,” jawab Rizal malas dan duduk di seberang Yupi.

“Vinny sama Vino bisa kesini?” kata Yupi tidak terima. Rizal berdecak.

“Gue nggak suka bolos kayak mereka. Lagian, gue udah di sini kan?” tanya Rizal datar. Yupi membuka mulutnya kemudian menutupnya lagi. ‘Rizal kenapa deh? Kenapa jadi krisis ekspresi kayak Leon gini?’ Batinnya.

“Semua ini gara-gara lo!” tuduh Yupi. Rizal menaikkan sebelah alisnya.

“Kok gue? Kan elo yang berantem,” kata Rizal tidak terima. Yupi mendengus.

“Makannya jadi cewek itu yang feminim dikit, nggak usah lah suka berantem kayak gitu. Contoh nih Elaine, feminim, kalem, pinter, cantik. Iya nggak Zal?” tanya Vinny memanas-manasi sahabatnya itu. Rizal mengangguk.

“This is me. Me is me. Not she or whoever!” Yupi beranjak dari duduknya dengan kedua tangan membawa dua cup es krim yang belum sempat ia makan.

Dia berjalan cepat meninggalkan kantin dengan nafas memburu. Dia kesal, dia marah. Dia tidak suka dibanding-bandingkan.

Sesampainya di kelas, dia langsung menyambar tas dan roller blandenya. Tidak peduli dengan guru di depan kelas yang tengah menatapnya tajam, teman-temannya yang menatapnya bingung dan juga Leon yang menatapnya tanpa ekspresi.

Yupi memasukkan es krimnya ke dalam tas dan menepis air mata yang dengan seenaknya mengalir tanpa permisi sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan kelas.

“Kali ini gue biarin lo bikin nangis adek gue tapi nggak buat selanjutnya,” Leon berjanji pada dirinya sendiri.

***

Entah sudah berapa es krim dia habiskan. Entah sudah berapa bungkus cokelat yang berserakan di tempat ini. Yupi tidak peduli pemilik tempat ini berulang kali menegurnya sejak siang tadi.

Dia sendiri tidak berhenti mengoceh dari tadi sampai-sampai dua pemuda yang menemaninya menggunakan earphone agar tidak mendengar ocehan tidak jelasnya.

“Kapan lo pulang?”

“Jadi lo ngusir gue, Kak?” pekik Yupi tanpa mengalihkan fokusnya dari layar led yang memperlihatkan 22 orang 3D yang tengah memperebutkan satu bola.

“Bukan gitu, cuma ini kan udah malem. Orang tua lo, pacar lo pasti mereka nyariin.”

“Gue balik, Bang!” pamit pemuda yang sama-sama masih menggunakan seragam SMA tetapi dengan motif yang berbeda dengannya.

“Tuh, sekalian nebeng Dimas sana!” perintah Aden. Yupi menggeleng.

“Ayo balik Yup!” menarik lengan Yupi dibantu Aden. Yupi merengek.

“Kalian nggak ngertiin gue!” Yupi berpegangan pada frame pintu. Dimas memutar matanya.

“Kurang ngertiin apa lagi? Kuping gue sampe panas dengerin lo ngoceh dan yang lebih parah lagi gue gagal kencan sama Yona” keluh Dimas. Yupi menyentakkan tangannya, menyerah.

“Sorry gue ngeropotin kalian. Gue pulang sekarang, bye!” Yupi berlari pergi menjinjing roller blandenya. Aden mengusap wajahnya.

“Kejar sana! Anterin sampe rumah. Gue nggak mau punya masalah sama Leon ataupun Rizal.” Katanya sebelum menutup pintu. Dimas mengangguk dan mengejar Yupi.

“Astaga, bahkan Yupi lebih nyusahin dari pada anak 4 tahun,” gerutunya. Dimas berlari keluar kost-kostan dan dia melihatnya di sana, di dekat gerbang tengah memasang roller blande di kakinya.

“Ayo! Lo pulang bareng gue!” katanya saat sudah berada di samping gadis itu. Yupi menggeleng.

“Gue pulang sendiri aja.” Yupi mulai meluncur menjauh. Dimas mendecak.

“Lo tuh ya jadi cewek nggak ada takut-takutnya! Feminim dikit kek.” Gerutuan Dimas berhasil membuat Yupi berhenti.

“Kenapa orang-orang nggak berhenti nyuruh gue jadi feminim sih? Gue udah pake rok, rambut digerai pake bando. Apa masih belum cukup feminim?!” rancaunya, berjongkok di tengah jalan.

Dimas mengusap wajahnya kasar dan menghampiri Yupi dengan mobilnya.

“Naik. Gue nggak nerima penolakan!” perintahnya. Yupi mengangguk dan duduk di kursi sebelahnya.

“Gue nggak suka dibanding-bandingin. Gue ya gue.” Yupi mulai mengoceh lagi saat mobil Dimas mulai bergerak. Dimas menghela nafas. Mungkin tidak salah sedikit mendengarkan dan menanggapi gadis ini.

“Dibandingin sama siapa?” tanyanya, melirik Yupi sekilas. Yupi menghembuskan nafas panjang.

“Siapapun. Dan dalam kasus ini, Elaine.” jawab Yupi menyimpan kembali sepatu rodanya. Dimas memasang tampang seolah bertanya ‘Siapa tuh?’ pada Yupi.

“Elaine Hartanto. Adik kelas gue, temennya Sinka.” Yupi menyandarkan punggungnya. Dimas mengangguk.

“Dan entah kenapa dia akhir-akhir ini deket sama Rizal” lirihnya. Dimas menyeringai.

“Jadi inti dari masalah ini adalah lo cemburu.”

“Enggak.” Jawab Yupi cepat. Dimas tertawa mengejek.

“Lo cemburu. Seharian ini lo uring-uringan itu karena lo cemburu cewek itu deket sama pacar lo,” cepat-cepat Dimas menambahkan saat Yupi kembali akan mengelak. “Gue nggak terima sanggahan.”

Yupi mendengus dan bersidekap dada. “Jujur gue minder sama dia. Dia cantik, pinter, baik, manis, kalem… Ah pokoknya definisi cewek cantik idaman ada semua di dia.” Yupi mendeskripsikan Elaine dengan wajah sedikit sebal. Dimas tertawa.

“Gue takut Rizal….” Yupi memejamkan matanya. Bahkan untuk mengatakan hal itu saja tenggorokannya seperti tercekat. Dimas tersenyum kecil dan memotong kalimat Yupi.

“Wajar kalo lo ngerasain itu. Tapi percaya sama Rizal, Yup. Gue kenal lo berdua lama, gue yakin dia sayang banget sama lo.” Kata Dimas berusaha menenangkan sahabatnya itu. Yupi tersenyum lebar.

“Thanks. Ternyata lo berguna juga, Mas!” pujinya. Dimas mendecih.

“Sialan lo!”

#bersambung….

– @ZubaeryAchmad –

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s