Pengejar Rahasia : Misteri Slendrina, Part 2

“Lari! Dia dibelakangmu, Boim lari!” Epul menarik kerah Boim, mereka
berusaha melarikan diri dari kejaran hantu nenek Slendrina yang
semakin mendekati mereka.

“DASAR!!! NENEK-NENEK SIALAN!!!” Boim berteriak sambil terus berlari
dibelakang Epul, melarikan diri dari kejaran hantu nenek Slendrina
yang terus mengejar mereka berdua.

Mereka terus berlari, berlari, dan berlari. Hingga akhirnya mereka
berhenti di sudut ruangan. Tidak ada jalan, mereka lalu memasuki
sebuah kamar. Menutup pintunya rapat-rapat. Bersembunyi disana,
sementara hantu nenek Slendrina masih terus mencari mereka diluar
kamar.

“Dia… masih mengejar?” Epul bertanya, nafasnya terengah-engah.
“Entahlah!” Boim memasuki sebuah lemari tua, bersembunyi disana.
“Hey, tunggu!” Epul mengikutinya, mereka berdua bersembunyi di dalam
sebuah lemari tua.

Sementara itu, di tempat lain. Rusdi, Nabilah, dan Naomi berusaha
mencari keberadaan Epul dan Boim yang terpisah dengan mereka. Mereka
berpencar tak tentu arah saat pertama kali melihat hantu Slendrina
secara langsung, dengan mata kepala mereka sendiri.

Mereka bertiga terus menyusuri lorong-lorong di rumah itu. Gelap,
hanya cahaya senter yang dipegang Rusdi lah penerang jalan mereka. Dua
wanita itu menguntit mengikuti di belakang Rusdi.

“Mereka ada dimana?” tanya Rusdi.
“Mana aku tau, dari tadi kan aku sama kamu!” jawab Naomi asal.
“Aku enggak bicara sama kamu!” Rusdi memarahinya.

“Biasa aja kali, gak usah marah-marah gitu.” Naomi geram pada sikap
pacarnya, Rusdi berbalik badan dan bertatapan langsung dengan Naomi.
“Kamu harusnya sadar, kamu itu…” ucapannya terpotong.

“Haaaaaaaaa!!!” tiba-tiba hantu Slendrina datang, tepat berdiri di
belakang Rusdi.
“LARI!!!” Nabilah menarik lengan Rusdi, sementara Naomi berlari di
belakang mereka berdua.

“RUSDI!!!” Naomi berteriak gelagapan, Rusdi mengibaskan lengannya.
“Hantu itu sudah tidak ada!” Rusdi menghentikan langkahnya, tiba-tiba
Naomi memeluknya.

“Kamu jangan gitu mulu, jangan marah-marah mulu sama aku.” masih
memeluk, perlahan tapi pasti Rusdi membalas pelukan itu.
“Iya!” jawabnya singkat, Nabilah sontak tersenyum lebar menyaksikan
kejadian di hadapannya.

Sementara mereka bertiga bersembunyi, Epul dan Boim nampak masih di
dalam lemari tua itu. Mereka tidak akan keluar sebelum pagi, misteri
malam ini amat mencekam bagi mereka berdua.

“Sialan! Aku terlalu takut!” Epul duduk gemetaran.
“Tenanglah, ia hanya nenek-nenek!” Boim berusaha menenangkan Epul,
menepuk lembut bahunya.

“Rusdi dan yang lainnya pasti selamat. Misteri kali ini harus
dipecahkan! Ada apa di balik rumah ini? Ada apa dengan kedua hantu
itu? Hantu Slendrina dan neneknya! Kita pasti bisa menyelamatkan anak
klien kita yang diculik hantu Slendrina!” Boim terlihat antusias.

Sementara di dalam lemari tua itu dipenuhi dengan rasa takut,
tiba-tiba terdengar sebuah jeritan di luar kamar. Ya, tepat di depan
pintu masuk kamar. Lemari itu terlalu sempit, tidak mungkin hantu
nenek Slendrina masuk kesana.

“Boim! Apa yang akan kau lakukan?” Epul menahan pundaknya.
“Aku akan memeriksa keadaan diluar kamar.” Boim perlahan keluar dari lemari itu.

“Haaaaaaa!!!” nenek Slendrina berada tepat di depan Boim, membuatnya terkejut.
“NENEK-NENEK SIALAN!!!” nenek itu mencekik Boim, tapi ia berusaha melawannya.

Dari dalam, Epul menutup rapat-rapat pintu lemari tua itu.
Meninggalkan Boim sendirian di luar lemari yang berusaha melawan hantu
nenek Slendrina. Senyap beberapa menit berikutnya.

“Boim??? Kau disana???” Epul bergumam pelan, di luar lemari tidak ada
suara sedikit pun.
“Boim??? Masuklah!” sekali lagi Epul memanggilnya.

Percuma, Boim mungkin sudah mati. Esok ia bersiap menerima kenyataan
itu, rekan yang mati dalam sebuah penyelidikan. Berita itu akan muncul
esok nanti. Epul akan menyesal seumur hidupnya.

Lima menit kemudian, di luar lemari kembali terdengar keributan. Kali
ini suara Boim. Ia belum mati! Ya, ia belum mati dan tidak akan mati
semudah itu. Misteri Slendrina harus dipecahkan.

Boim tiba-tiba masuk ke dalam lemari tua itu. Sontak Epul terkejut, ia
kira tadi yang masuk bukan Boim. Melainkan hantu nenek Slendrina yang
berusaha membunuhnya.

“Nenek itu masih diluar!!!” Boim menekan pintu lemari rapat-rapat,
tidak akan membiarkan hantu nenek Slendrina masuk dengan mudahnya.
“TAHAN!!!” kini Epul membantunya, berusaha melawan rasa takut itu.

BERSAMBUNG

Author : @RusdiMWahid

Iklan

2 tanggapan untuk “Pengejar Rahasia : Misteri Slendrina, Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s