Nakinagara Hohoende

Suara engsel pagar berbunyi ketika aku membuka dan kemudian menutupnya. Tanpa menggemboknya aku melangkah menuju pintu masuk utama tempat tinggalku ini. Baru saja aku akan memasukkan kunci yang kurogoh dari tas kuliahku rintik hujan terdengar. Untunglah, memilih pulang lebih cepat dengan menolak tawaran ketiga sahabatku untuk nongkrong ke salah satu café langganan adalah pilihan tepat. Aku segera masuk sambil mengucap salam dan menutup pintu kembali. Tidak ada yang menyahuti. Tentu saja. Aku hanya tinggal berdua dengan Bi Imah (yang kemungkinan sedang keluar) yang membantu merawat rumah budheku ini. Sebenarnya masih ada satu lagi Pak Iman yang bertugas mengurusi halaman dan tumbuhan tapi beliau tidak menginap di rumah ini.

Aku seorang mahasiswi rantau di sebuah kota tradisional yang mencoba untuk beradaptasi dengan modernisasi. Seperti yang ku bilang tadi, aku tinggal di rumah budheku yang sering ditinggalkan karena urusan kerja yang sering memaksanya untuk keluar kota bahkan negeri.

Setelah melepaskan sepatu dan menaruhnya di rak, aku menuju salah satu sisi tembok dan memencet dua tombol saklar disana. Dua ruangan bersinar terang karena dua lampu menyala. Kemudian aku menuju kamarku. Remang, cahaya dari luar hampir tidak mampu menyinari kamarku. Memang diluar sedang mendung pekat dengan hujan rintik. Sesekali angin berhembus mengoyak gorden jendela kamar. Aku melangkah menuju jendela yang tadi pagi kubuka itu setelah menghidupkan lampu kamar dan menaruh tas kuliahku yang terasa sangat  berat. Selesai dengan itu aku berbalik sambil meraih handphone yang sedari tadi getar . Notif chat, batinku. Isinya hanya ocehan Novintha, salah satu sahabatku, karena mentionnya di reply oleh artis idolanya. Aku tersenyum dan membalas seperlunya.

Seketika setelahnya, hujan rintik tadi berubah menjadi deras. Aku sedikit kaget dan menoleh kebelakang sekedar memastikan. Ternyata benar. Aku mengarahkan pandang ke arah kasur dan langsung saja mataku terfokus kepada sebuah boneka Rilakkuma dengan posisi tidur secara telungkup dan tangan kedepan mengarah padaku. Aku tersenyum sambil menuju kearahnya. Aku meraihnya lalu mendekapnya dan kemudian tidur miring. Setelah beberapa menit aku diam,  boneka itu ku angkat sedikit keatas.

“Sharil, mau denger ceritaku lagi?” ucapku pada boneka itu.

Tentu saja ia takkan menjawab.

“Baiklah, semoga kamu gak bosan dengan ceritaku ya?” lanjutku lalu mengambil posisi telungkup juga dan menaruh boneka Rilakkuma yang ku ajak bicara tadi di samping kananku. Aku kembali menatapnya.

“Ini cerita tentang orang gila yang aku sayang, tuanmu yang dulu” ucapku sambil tersenyum dan berusaha menahan sesuatu yang memaksa mengalir dari kedua ujung mataku.

*****

“Kelompok 7?? Yang dapet nomor 7??” Teriak seorang wanita yang berada di depan kelas dengan suara sedikit tinggi, bernama Novintha yang sudah berteman denganku sejak masa Ospek karena satu gugus denganku.

Aku mengangkat tanganku. Kemudian kulihat kesekeliling dan kudapati seorang lelaki berambut sedikit acak-acakan juga mengangkat tangan.

“Namanya ?” Tanya Nobi kepada si lelaki, panggilan akrab untuk Novintha.

“Aris” jawabnya mantap, lalu ia menopang rahang kirinya dengan tangan kiri dan melihat kembali kertas kecil ditangan kanannya. Aku kembali menoleh kearah papan, namaku juga sudah tertulis disana.

Kelompok 7: Aris, Shafa.

Satu kelompok ada 2 orang untuk sebuah tugas observasi sebuah karya seni.

“Jadi gimana ?” Ucap seseorang yang berdiri disampingku tiba-tiba.

Aku yang masih memasukkan beberapa barangku ke tas menoleh kearah sumber suara. Itu lelaki yang sekelompok denganku. “Ya ?”

“Gimana dengan tugasnya? Kapan mulai dikerjain. Ngasih komentar tentang karya kan ?” Ucapnya.

Aku mengangguk. “Hm, cari waktu selo aja” jawabku. “Kita cocokin jadwal aja dulu, terus cari hari” lanjutku.

Ia mengeluarkan handphone dan meminta nomorku. Aku memberikannya.”Nanti kuhubungi” ucapnya lalu memasukkan kembali handphonenya kedalam saku celana, “Aris, Aris Alfiansyah” ujarnya lagi sambil menyodorkan tangannya.

Aku menyambutnya, “Fakhiryani Shafariyanti, Shafa” ucapku setelah menyambut telapak tangannya sambil tersenyum.

“Aku keluar dulu, ada kelas bentar lagi” ujarnya sambil melambaikan tangan lemah.

Aku masih duduk di kursi melihatnya melangkah pergi keluar ruangan yang tanpa kusadari hanya tinggal aku dan lelaki yang baru saja meninggalkanku sendiri di kelas ini. Dan benar saja, malam harinya sebuah chat masuk dengan  akun yang belum dikenali. Isinya jadwal kuliah. Aku sudah langsung mengerti jika pengirimnya adalah Aris.

Saling balas chat dalam menentukan waktu dan tempat terjadi hingga fix dan perlahan chat berangsur keluar dari jalur tadi. Kami seolah mencoba mengenal satu sama lain.

“Saling mengenal dengan teman sekelas terlebih satu kelompok itu perlu” pikirku.

Begitulah hubungan awal kami yabg biasa-biasa saja. Meski begitu, dengan hanya satu kelompok dan berdiskusi tentang karya yang ditugaskan membuatku lebih dekat dengannya dikemudian hari. Siapa sangka ? Aku ? Tidak sama sekali.

***

Tiga bulan di semester awal terlewati. Kuliahku masih lancar dengan beberapa kesibukannya. Dan saat ini, aku baru saja menuruni tangga dari lantai dua bersama Novintha setelah menyelesaikan salah satu mata kuliah umum.

“Jadi gimana ?” Tanya Nobi.

Aku menoleh dengan raut wajah penuh tanya. “Apanya ?”

“Aris” jawabnya to the point.

Aku tertawa kecil, “Memang ada apa dengan Aris ?” Ucapku tanpa menjawab pertanyaan awal Nobi.

“Kamu deket kan sama dia ?” Selidiknya.

Aku terdiam sambil melihatnya. Benar juga, semenjak kami sekelompok dulu, mengerjakan tugas hingga presentasi kami sekarang menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Setelah pertemuan ketiga, pertemuan dimana kami sama-sama mengambil kertas dengan angka yang sama yaitu; 7. Dan kemudian dijadikan kelompok, kami jadi sering berbicara ran sedikit bercanda dibanding dua@ pertemuan awal. Dan aku mengakui, intesitas chatku bersama dengan lelaki lebih sering dengan dia. Dan sepertinya hal-hal tadilah yang menjadikan Nobi Apa pertanyaan dan pernyataan yang membuatku sedikit tertawa tadi.

“Aku sama dia sahabatan aja kok” ujarku menjelaskan.

Nobi mengangguk kecil beberapa kali sambil tersenyum jahil. Sd aku dengan seketika bertanya pada diriku sendiri. Kenapa aku langsung melabelinya menjadi seorang sahabat ? Padahal  diantara kami tidak ada ungkapan kata ‘sahabat’ yang keluar dari mulut maupun isi chat. Sedetik kemudian aku melupakannya.

“Yaudah, yuk ke kantin! Viny sama Kinal udah nunggu” ujarku. Kami langsung menuju kantin.

Saat berada di pintu kantin, seseorang melambaikan a@atangannya padaku. La\h nemutar badannya menoleh kearah kami. Kami segera menghampiri  mereka.

“Kalian ga ada kuliah ?” Tanyaku sambil menarik sedikit sebuah kursi disamping Viny dan kemudian mendudukinya.

“Masih satu jam lagi” jawab Viny.

“Aku udah free” Kinal menyambung.

“Wah, mujur. Aku masih ada satu mata kuliah praktek” jawab Nobi

“Ngapain ? Ngedrama lagi?” Celetuk Kinal.

“Aku ngedramanya semester ini tiap hari selasa malem, nal” jawab Nobi bangga.

“Hidupmu penuh drama, Nov” ujar Viny.

“Mentang-mentang anak seni teater” aku ikut dalam pembicaraan.

“Ngomong-ngomong tasmu kok kayaknya berat banget Shaf ?” Tanya Viny penasaran.

“Bawa kamera, mau konsultasi buat tugas” jawabku.

“Mentang-mentang anak Seni Fotografi” ucap Nobi tiba-tiba, semua tertawa termasuk diriku. “Eh, kamu gak mau pesen, Shaf ??” Tanya Nobi kemudian.

“Mau sih” jawabku singkat.

“Nitip” ujarnya sambil nyengir.

Aku memutar bola mataku,”Pesen apa?” Tanyaku dengan posisi hendak berdir.

“Jus apel aja” ujarnya. Kemudian aku beranjak ke stand langgananku.

“Yah, antri” gumamku sambil berdiri di urutan ke lima.

“Dorr!!” Ucap seseorang tiba-tiba sambil menggoyang pundakku dari belakang yang mengagetkanku. Reflek aku menoleh.

“Aris!!” Ucapku sambil mencoba memukul lengan kirinya, dia berhasil menangkisnya. “Ngagetin aja” gerutuku.

Dia sedikit tertawa karena responku, “Maaf, maaf. Lagi ngapain ?”

Aku menunjuk antrianku yang  tinggal beberapa orang  lagi. Aris  mengerti maksudku dan membulatkan mulutnya.

“Kalo gitu aku titip pesenin” ujarnya.

Aku melongo.

“Boleh gak ??” Tanyanya lagi.

Entah mengapa aku mengangguk. Dia tersenyum. Aku menanyakan titipannya.

“Bilang aja paket 1” jawabnya.

Aku kembali bingung. Seingatku penjual stand yang sedang ku antri ini tidak menyediakan menu paket.

“hahaha, ekspresimu lucu” jawabnya sambil sedikit mencubit pipi kiriku.

“Aduh, sakit!” Rintihku dan ia pun melepaskan cubitannya. Aku mengelus pipiku.

“Udahlah, bilang aja kalo aku pesen paket 1” ujarnya lagi sambil tersenyum dan membalikkan badanku menghadap antrian kembali, “Makasih” bisiknya tiba-tiba yang membuatku kembali kaget. Sedetik kemudian ia melangkah menduduki sebuah bangku kosong.

Setelah memesan aku kembali ketempat dudukku. Dan ku merasakan sesuatu yang aneh dengan kedua sahabatku sejak masa Ospek kampus, Nobi dan Viny. Entah kenapa merekA secara kompak mengelus-elus pipi mereka. Kinal sendiri masih fokus dengan handphonennya

“Kalian kenapa ?” Tanyaku bingung.

“Eum, agak sakit ini pipi tadi di cubit  sama Kinal” jawab Nobi.

“Kalo pipiku di cubit Kinal kok malah kayak berasa asyik gitu ya ??” Viny menyambung.

Mendengar hal itu, ku sudah tahu jika mereka menyindir adegan dimana Aris mencubit pipiku tadi. Kinal yang sepertinya memang tidak tahu apa-apa hanya kebingungan. Aku tertunduk. Entah kenapa aku jadi malu.

Melihat reaksiku Nobi dan Viny terkekeh. Dan kemudian  handphoneku bergetar. Aku mengeluarkannya dari saku celanaku, tanpa menghiraukan kedua orang yang madih terkekeh tadi.

Ada sebuah chat masuk, “Dari Aris ?” Tanyaku dalam hati, segera aku membukanya. Dan seperti biasa, dia sering mengirim chatnya perkata. Setiap satu atau dua kata lalu dikirim hingga menjadi sebuah kalimat. Bukan dijadikan satu kalimat, kenudian baru dikirim.

-Shafa, kamu tahu? Kamu lucuk- Aris

Isi dari chat Aris yang berhasil membuatku menoleh kearahnya. Ia sedang mencoba menyulut apinya ke rokok yang terselip di mulutnya. Kemudian aku kembali berbalik dengan sebuah senyum tipis dan gelengan kecil. Hal tersebut disadari oleh teman-temanku. Dan akhirnya membuatku menjadi narasumber yang dihujani berbagai pertanyaan tentang hubunganku dengan lelaki tadi. Aku hanya menjawab sesuai dengan keadaannya.

***

Pernah, suatu hari kami baru menyelesaikan mata kuliah yang ‘mempersatukan’ kami, dan berniat untuk ke kantin bersama. Nobi tidak masuk karena sakit. Viny dan Kinal sedang ada kelas. Dan teman-teman yang biasanya bersama dengan Aris saat ngantin juga sedang berkuliah.

“Kamu pesen apa ? Biar aku yang pesen” tawarku.

“Paket dua” ujarnya

Aku mengangguk meskipun aku tidak paham. Yang ku pahami kode seperti itu hanya masih paket satu dan tiga. Paket satu sama saja dia memesan secangkir kopi dan segelas air putih, sedangkan paket tiga adalah jeruk hangat, air putih dan soto ayam. Untuk paket dua ini ia pertama kalinya menyebutkannya.

Hm, bagaimana aku bisa tahu ? Kujawab, kami semakin dekat. Kami yang kumaksud disini tidak hanya Aris dan aku, melainkan ketiga sahabatku juga dua sahabat Aris. Terkadang juga kami bertujuh berkumpul bersama. Selama itu juga aku beberapa kali menjadi waitress untuk memesan dan memperhatikan setiap pesanan Aris. Kenapa hanya Aris ? Karena dari kami bertujuh hanya dia yang memberikan istilah ‘paket’ di setiap pesanannya. Dan bapak-ibu penjual tersebut paham. Sungguh hebat dan sedikit unik, menurutku.

“Aku mau menghilang sebentar” ucapnya tiba-tiba setelah menaruh gadgetnya diatas meja.

Aku yang baru saja duduk langsubg mengernyitkan dahi sambil menatapnya.

“Kayak nenek-nenek, berkeriput” balasnya.

Tanganku reflek mencoba untuk mencubit lengan kanannya. Lagi-lagi gagal. Refleknya lebih cepat dari gerakan tanganku. Dia menjulurkan lidah, mengejekku. Lalu, pesanan kami datang.

“Maksudmu menghilang ?” Tanyaku sambil membantu Si Ibu menaruh peaanan kami di meja.

“Rahasia” jawabnya. “Biar kamu ga kaget dan kangen aja pas aku ngilang” lanjutnya, yang tentu membuatku kaget untuk kesekian kalinya.

Kata ‘kangen’ yang keluar dari mulutnya sulit ku artikan. Entah itu bercanda atau serius. Aku hampir tak pernah bisa membedakan niat kelakuan atau perkataannya itu serius atau hanya bercanda.

“Sudahlah, kalo emang nyusahin jangan di pikir. Mending makan” ujarnya lalu nyengir.

Aku masih diam menatapnya yang tengah menyantap salah satu makanan di ‘paket 2’ nya; mie instant goreng yang di beri sedikit kuah. Untuk minumnya tersedia segelas air putih dan secangkir kopi. Aku kamudian menyruput sedikit jus jambuku dan  mengaduk nya pelan dengan perasaan aneh hanya karena sebuah kata yang pria berambut acak di depanku ini katakan tadi.

“Ris” panggilku, ia menghentikan kegiatannya sejenak kecuali mengunyah dan menatapku. “Kamu ga mau potong rambut ?” Tanyaku kemudian. Dia hanya merespon dengan senyum yang sedikit mengejek menurutku. Tapi aku hanya diam setelahnya.

Beberapa hari setelahnya. Hal itu terjadi. Aris benar-benar menghilang selama hampir seminggu. Kedua temannya juga tidak tahu ketika ku tanyai. Chatku juga belum atau mungkin tidak masuk. Entah kenapa aku jadi kepikiran.

“Aris kemana, tumben ga keliatan akhir-akhir ini ?” Tanya Viny padaku di hari ketiga Aris menghilang.

Aku menjawab dengan mengangkat kedu bahuku.

“Lesu amat” tanggap Kinal.

“Efek kangen” Nobi sedikit terkekeh.

Dan sialnya, kata tersebut mungkin membenarkan keadaanku. Kata-kata Aris sebelumnya juga mengandung satu kata sama uang sulit kuartikan dan siapa sangka itu terjadi? .

Aku tak merespon. Aku bingung. Kedekatanku dengannya, perasaan yang kurasakan membuatku tidak bisa merespon setiap ucapan sahabatku.

Saat dirumah dan ku melihat kembali riwayat chatku dengannya. Pertama untuk mengecek apakah chatku sudah masuk atau belum. Kedua membaca kembali riwayat chatku dengannya. Terkadang aku tersenyum kecil membaca riwayat chat yang lebih sering membahas hal-hal tidak penting. Dan semakin aku membaca riwayat chat itu, aku merasa rasa kangenku bertambah. Akhirnya aku menutup aplikasi chat tersebut dan me-lock handphoneku. Sambil berbaring aku menatap lampu utama kamarku.

Tak lama setelahnya ku rasakan getar dari handphone yang ku genggam. Aku membukanya dengan sedikit malas, awalnya. Hingga aku tahu jika Aris telah mengirimku sebuah chat, aku segera membukanya.

-Aku tahu kamu kangen aku- Aris

Aku tersenyum membacanya. Sesaat aku akan membalas dengan membenarkan pernyataannya barusan. Tapi….. Pada akhirnya ku balas dengan sebuah kata ‘No’. Ada balasan lagi, aku segera membukanya.

-Bohong itu dosa lho….- Aris

Aku kembali tersenyum. Sejenak aku berpikir ingin meneruskannya tapi entah kenapa aku langsung mengalihkan topik untuk memintanya membawa salah satu buku yang sempat kami sewa dulu di perpustakaan, untuk menyelesaikan salah satu tugas, besok.

Namun setelah beberapa menit, tidak ada balasan. Dan aku mulai cemas lagi. Kulihat handphoneku, chatnya terkirim namun belum terbaca. Hingga akhirnya ku habiskan sisa sisa kesadaranku sambil menatap handphoneku beberapa kali hanya untuk mengecek hal tersebut. Sampai aku tertidur.

Aris tidak membalas chatku semalam. Hanya terkirim. Tidak ada keterangan terbaca. Pagi itu, masih dengan perasaan khawatir aku berangkat ke kampus. Setelah turun di halte depan rektorat aku berjalan menuju fakultasku. Saat berada di bawah sebuah pohon tua yang menggugurkan daunnya aku menghentikan langkah. Pintu utama gedung kuliahku sudah terbuka tapi masih terlihat sepi. Samar-samar aku mendengar namaku disebut. Aku menoleh ke arah sumber suara.

Seorang pria betambut pendek itu berjalan sambil mencangklong tas slempangnya. Ia nyengir saat berada beberapa langkah fidepanku. Di salah satu sisi pelupisnya tertempel sebuah plester luka dan ada sebuah luka gores di tulang pipinya.

“Kamu Aris ?” Tanyaku meyakinkan. Dia mengangguk.  Aku pangling, “Itu kenapa ?” Tanyaku sambil menunjuk mukanya.

“Oleh-oleh dari menghilang beberapa waktu lalu” jelasnya.

Aku melongo.

“Entar ku ceritakan detilnya” ucapnya.

Aku mengangguk kecil, “Terus bukunya?” Tanyaku sambil menyidorkan tangan.

“Buku ?”

“Chatku semalem ga masuk?” Tanyaku.

Dia segera merogoh saku celananya, mengeluarkan dan mengecek handphonenya. “Baru ku baca”

Aku diam.

“kamu selesai kuliah jam berapa ?” Tanyanya, aku masih menjawab dengan menunjujkan seluruh jari tanganku. “setelah itu ?”

“Kosong”

“Ada dua hal  yang kutawarkan” ujarnya, aku masih menatapnya. “Pertama, nanti ku antar bukunya ke rumahmu. Kedua, kamu ikut aku ke tempatku buat ngambil bukunya nanti ku antar pulang” jelasnya.

Aku berpikir sejenak. Meski sejujurnya entah kenapa aku sangat ingin memilih pilihan kedua.

“Gimana ?”

“Yang kedua aja” jawabku mantap sambil sedikit menunduk.

“Baiklah, jam sepuluh ketemu di depan gedung kuliah. Dan sekarang aku mau masuk ke gedung, bentar lagi ada kelas. Mau bareng?”

Aku mengangguk. Ia tersenyum kemudian melangkah masuk. Aku membuntut. Saat baru menaiki lantai dua, lantai dimana kelasku berada Aris menaiki  satu lantai lagi.

“Nanti jangan lupa” ucapku mengingatkan kembali janjinya.

Ia berhenti di salah satu anak tangga dan menoleh sambil mengangguk. Aku tersenyum dan berbalik. Namun saat langkahku yang pertama ia memanggilku. Aku kembali berbalik.

“Kamu tahu? Kamu menarik” ujarnya sambil tersenyum lalu melanjutkan langkah ke lantai selanjutnya.

Aku? Masih tepaku di tempatku. Lagi-lagi aku tak mengerti dengan ucapannya. Bercanda atau serius. Hingga akhirnya aku disadarkan dengan ajakan teman sekelasku yang baru sampai di lantai dua.

Jam sepuluh lebih sekian. Perkuliahanku baru selesai dengan beberapa tugas foto yang dosen berikan. Ku cek handphone yang sedari tadi beegetar karena chat masuk. Dari Nobi, Viny dan Kinal berisi pesan yang sama, mengajakku ke kantin. Aku segera membalasnya dengan satu kalimat yang sama; aku ga bisa, ada urusan. Kemudian aku bergegas untuk turun ke bawah. Tempat aku janjian dengan Aris.

Keluar gedung aku mengumbar pandanganku kesekitar. Mencari sosok yang sudah berubah penampilannya sejak ia menyatakan ‘menghilang. Dan Bingo! Aku mendapatinya duduk dengan sebuah rokok yang dihisapnya. Aku melangkah kearahnya dan setelah berada di belakangnya ku tepuk pundaknya. Ia menoleh.

“Oh.. Hei” ujarnya lalu berdiri dan mematikan rokoknya.

“Udah lama ?” Tanyaku.

Dia menggeleng, “Yaudah, yuk” ajaknya kemudian ia melangkah. Aku mengimbangi langkahnya.

Dia memintaku menunggu di depan pintu parkiran. Tak lama kemudian ia datang dengan mengendarai sebuah motor matic lalu menyodorkan satu helm lagi padaku. Aku menerimanya. Lalu naik di jok motor belakangnya. Ia mulai menggas motornya. Sejenak saat di perjalanan aku berpikir, “untuk apa dia membawa dua helm ?”.

“Kalo aku ga bawa motor dan dua helm, ga mungkin ngasih tawaran kedua tadi” ujarnya di tengah perjalanan.

“Kok bisa pas ?”

“Tadi aku berangkat bareng temenku. Sekarang dia masih kuliah”

Aku membulatkan mulutku. Sekitar sepuluh menit perjalanan, akhirnya kami sampai. Saat itu, aku baru tahu jika ia tinggal di sebuah asrama putra.

“Ayo masuk” ajaknya.

“Eh, gapapa ?” Tanyaku.

“Emang kenapa ?”

“Ini kan asrama cowok…”

“Asramaku bukan pondok pesantren, bukan juga hotel, Shaf. Ini rumah. Ga ada larangan cewek masuk kedalam, bahkan kamar. Asalkan setiap kegiatan tidak melanggar norma yang ada” Jelas Aris memotong ucapanku tiba-tiba. Penjelasannya seolah tahu kekhawatiranku.

Aku akhirnya masuk membuntut dibelakang Aris. Benar saja, ketika masuk ada seorang cewek dengan beberapa cowok sedang melihat televisi bersama. Semakin kedalam aku tahu bangunan ini dirawar dengan baik oleh para penghuninya. Di halaman tengah ada dua buah pohon mangga yang sudah menunjukkan beberapa buahnya menggantung. Dan beberapa taman hias yang di tata rapi. Ada juga beberapa kursi di tengahnya.

“Jangan kaget sama kamarku, belum sempat nferapihin total” ucapnya saat kami menaiki tangga menuju lantai dua.

Aku paham maksudnya. Tak lama setelah kami menyusuri salah koridor atas, ia berhenti di sebuah kamar dengan sebuah tas besar diluar. Ia membuka kamarnya kemudian masuk. Aku masih mengintip dari luar.

Kamarnya tidak seberantakan yang kupikirkan. Beberapa lukisan dengan berbagai ukuran tergantung rapi. Hanya memang di salah satu sudut kamar terdapat sebuah kanvas dengan beberapa cat yang sedikit berantakan. Dan ketika aku mengintip leibih dalam aku sedikit terkejut.

Di atas kasurnya tertidur sebuah boneka rilakkuma dengan posisi telungkup. Hal tersebut membuatku memasuki kamar Aris dan meraih boneka tersebut.

“Kamu kok punya boneka rilakkuma sih ?” Tanyaku sambil menoleh kearah Aris yang sedang mencari-cari sesuatu, mungkin mencari buku yang kuminta.

“Memang kenapa?” Ucapnya tanpa menoleh.

“Gapapa sih” sambil kembali memainkan boneka Rilakkuma tadi.

“Namanya Sharil” ujar Aris kemudian sambil berpindah ke rak buku yang tergantung di salah satu sisi tembok kamarnya. Aku menoleh kearahnya dengan pikiran penuh pertanyaan. “Ah, ini dia” ucapnya lagi sambil menarik sebuah buku, lalu menatapku. “Ada apa?” Tanyanya bingung.

“Siapa Sharil ?” Tanyaku.

Dia menunjuk boneka yang ku pegang, kemudian melangkah dan duduk di sebelahku. “Shafa ini Sharil. Sharil ini Shafa” ujarnya seoalah mengenalkanku dengan boneka yang ku pegang.

Aku tertawa kecil. Dalam benakku, anak ini ada-ada aja. Ia hanya tersenyum lalu memberikan buku yang kuminta. Aku menerimanya setelah memangku Sharil.

“Lalu tentang ini” Aris menunjuk luka di tulang pipinya. “Aku terjatuh di sebuah turunan terjal” jelasnya.

“Kok bisa ?”

“Saat itu, hujan deras tiba-tiba turun. Jalannya jadi licin dan akhirnya aku terpeleset kemudian terjatuh”

“Dimana?”

“Gunung”

Aku diam sejenak, “Gunung?” Tanyaku memastikan pendengaranku tidak salah.

Aris mengangguk, “Menghilang, adalah saebutanku untuk pendakian”

Baiklah, hal tadi menjelaskan tas besar yang ada di depan kamarnya. Entah kenapa aku jadi penasaran dan meminta ceritanya. Ia bersedia. Aku tinggal disana beberapa waktu untuk mendengarnya bercerita. Setidaknya ada rasa ingin mengenalnya lebih dalam lagi. Mungkin, saat itu adalah pembalasan dendamku terhadap sebuah kata bernama ‘kangen’ yang sebelumnya melandaku karena menghilangnya dia.

Aris bercerita banyak hal, mulai dari awal dirinya ikut sebuah ekstrakulikuler pecinta alam  hingga beberapa pengalamannya saat mendaki.

“Pendakian itu perjalanan sakral” ucapnya di tengah tengah cerita.

Aku memiringkan  kepalaku yang dihinggapi sebuah tanda tanya akan kelimatnya sambil memeluk Sharil.

“Kita ga pernah tahu apa yang terjadi saat pendakian. Setiap gunung itu mistis dan punya rahasianya masing-masing” ujarnya kemudian diam sejenak. “Menurutku juga, tujuan utama pendakian adalah untuk pulang. Bukan untuk mengumbar eksistensi” jelasnya yang menekankan nada pada kata ‘pulang’.

Jika ditarik makna dari penjelasannya secara umum. Aku bisa mengerti maksudnya. Tapi entah kenapa kalimatnya seolah memiliki arti ganda atau bahkan lebih. Biarlah, yang penting saat ini aku senang mengobrol dengannya.

Waktu seakan berlalu cepat sekali, matahari yang tadinya berada di tengah kini sedikit bergeser ke barat. Aku meminta untuk dipulangkan. Setelah sedikit beres-beres, kami segera turun. Di ruang depan kini bertambah ramai. Aku berpamitan pada mereka, meskipun aku belum mengenalnya. Mereka menyauti dengan sedikit heboh. Selanjutnya Aris mengantarkanku pulang ke tempat tinggalku.

“Jangan kangen aku dulu ya ? Tadi kan udah lama ketemunya” ujarnya pede setelah aku turun dan memberikan helm yang ku pakai.

“Aku  kangennya sama Sharil” ujarku sambil menjulurkan lidahku padanya.

“Kalo mau main kesana gapapa. Di tempat tinggalku orangnya baik-baik dan enak” ujarnya sebelum ia pergi menggas motor matic yang dibawanya.

Untuk masalah tempat memang disana sedikit sejuk. Aku mengakuinya. Dan untuk hal yang tidak ku mengerti juga ssetelahnya. Aku jadi lumayan sering berkunjung ke tempat Aris. Dan benar saja, penghuninya asyik-asyik.

Waktu terus berjalan. Beberapa kali kami berada di satu kelas yang sama selama sekian semester. Beberapa kali pula kami terkadang bermain atau berjalan-jalan bersama. Bertujuh atau sesekali hanya berdua. Pernah suatu ketika ia memintaku untuk mengajarinya teknik dasar dalam fotografi. Tentu aku menyetujuinya. Hampir sebulan penuh aku mengajarinya. Pergi ke berbagai tempat untuk hunting tugas kuliahku sekaligus mengajari Aris. Dan beberapa waktu setelahnya, ia berpamitan untuk kembali menghilang. Dan saat itu sudah yang ke empat kalinya sejak aku mengenalnya. Yap, aku menghitungnya, setiap akan mendaki ia selalu berpamitan denganku dan mengatakan perkataan yang hampir  sama. Lalu, tepat dimana ia sudah kembali, ia mengirim sebuah foto sunrise hasil dari pendakiannya.

‘Oleh-oleh’ tulisnya setelah ia mengirim fotonya.

-Kurang banyak- balasku

-Besok ketempatku liat sendiri kalo mau- Aris

Aku tersenyum dan senang setelah membacanya. Dan ada yang lebih menyenangkan lagi, Aris mau menjemputku. Uh, entah kenapa aku bisa sesenang ini untuk bertemu dengannya. Keesokannya setelah dzuhur, aku sudah memeluk Sharil dan berada di depan laptop milik Aris. Foto-fotonya sedang kulihat.

“Gimana, Sensei ?” Tanyanya.

“Bagus, makin hebat aja kamu ini” jawabku sambil menoleh kearahnya.

“Syukurlah, makasih udah ngajarin aku” ucapnya.

Aku mengangguk, kemudian aku kembali melihat foto foto yang ada di laptop Aris. Beberapa saat kemudian aku berbalik. Ia melihatku. Rautnya menyiratkan tanda tanya.

“Ris, Ajak aku mendaki” ujarku. Sesaat setelah aku mengatakan permintaanku aku bisa melihat sedikit kekagetannya, namun tak lama dia tersenyum dan sedikit membenarkan duduknya di depanku.

“Kenapa tiba-tiba mau mendaki?” Tanyanya. Sejenak aku berpikir, dan bukannya menjawab aku malah menanyakan hal itu pada diriku sendiri. “Digunung itu bahaya” tambahnya lagi.

“Kalo bahaya kenapa kamu selama ini …”

“Karena setidaknya aku bisa dapet sedikit penghasilan dari hal itu” ucapnya menjawab pertanyaan yang belum selesai ku ucapkan.

“Maksudnya ?” Tanyaku.

“Aku ditawari buat jadi porter atau penunjuk arah dalam sebuah pendakian dan terkadang aku mendapat bayaran untuk menopang sejenak hidupku atau perkuliahan yang aku jalani disini. Bukan semata-mata untuk senang-senang” jelasnya. “Naik gunung itu capeknya minta ampun. Enakan disini, tidur enak ada kasur ga perlu jalan jauh di hutan, apa lagi kedinginan pas malem” tambahnya.

Dan saat itu aku baru tahu alasan sebenarnya dari Aris mendaki selama ini. Aku tertunduk sambil mempererat pelukanku pada boneka Aris.

“Lagian…” Ucapan Aris terhenti sejenak, aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya. “Emang kamu udah berani sama ayam ?” Tanyanya.

Aku menggeleng.

“Nah, sama ayam aja masih takut. Gimana kalo pas pendakian ketemu sama yang lebih bahaya seperti hewan buas.” ujar Aris dengan sedikit tawa kecil.

“Baiklah, begini saja. Akan ku ceritakan pengalamanku yang mungkin bisa menyusutkan keinginanmu untuk melakukan perjalan berbahaya seperti mendaki” Aris kembali membetullan posisi duduknya lalu mulai bercerita. Aku menyimak ceritanya. Dan setelah itu, ada ketakutan yang membayangiku.

***

Seharusnya aku sudah mengakui hal ini. Aku tertarik dengan Aris. Hal itu kusadari setelah Aris kembali mengucapkan satu kalimat yang dulu diucapkannya padaku ketika menaiki tangga menuju lantai tiga dikampus. Tapi saat itu berbeda, dia menambah isi kalimatnya.

Dengan kepala yang dimiringkan sambil disanggah dengan satu tangannya di atas meja. Dia menatapku. Aku yang sebelumnya fokus  dengan membalas beberapa chat sambil meminum jusku akhirnya menyadarinya. Saat aku sadar akan tatapannya ia tersenyum.

“Ada apa ?” Tanyaku.

“Shafa, kamu tahu? Kamu menarik” ujarnya masih dengan posisi dan senyum yang sama. Aku sadar kalimat itu pernah diucapkannya dulu tapi ada perasaan yang sulit kujelaskan saat ia mengatakannya. Dan ternyata Aris tak hanya berhenti disana. “Menarik hatiku” lanjutnya setelah berhenti tiga detik sambil tersenyum.

Dengan kedekatan kami selama ini. Kemudian ia berkata seperti itu ditambah dengan perasaanku padanya yang sulit kujelaskan. Aku merasa kepalaku panas. Ada rasa malu tapi ada rasa senang. Aku menunduk takut kalau mukaku berubah menjadi merah. Aku mencoba mengontrol diriku. “Jangan bercanda” ujarku kemudian sambil mencubitnya dengan tingkah saltingku saat itu. Dan ia tidak mengelak. Ia hanya mengembangkan senyumnya hingga terlihat sedikit giginya. Lalu ia menyesap kopinya yang sempat ia diamkan.

Aku mengaduk jusku dengan penuh tanda tanya dikepala.

“Kenapa diem?” Tanyanya memecah keheningan kami.

Aku menatapnya. Kemudian menggeleng sambil menyunggingkan senyum.

“Kalo memang ada yang mengganggu pikiranmu cerita aja gapapa. Itupun kalo kamu mau” ucapnya lagi.

Aku menatap pemuda yang rambutnya sudah mulai panjang dan duduk di depanku. “Ada” aku masih mengaduk jus ku. Aris mengangkat kedua alisnya.

“Beberapa perkataan atau chatmu yang manis bahkan terlihat romantis saat berkomunikasi denganku, aku sulit mengartikannya” ujarku, Aris masih mendengarkan. “Aku sulit membedakan tindakanmu yang serius atau bercanda. Hingga entah mulai kapan, ada perasaan yang sulit kujelaskan dan itu berhubungan denganmu. Entah itu sebenarnya aku bener ga tahu atau aku mencoba menolaknya. Perasaan itu bikin aku bingung ” tambahku.

Ia tersenyum, “Kalo yang dulu-dulu mungkin aku udah lupa mana yang serius dan mana yang bercanda” ucapnya. Aku diam masih memasang telinga ku. “Tapi untuk yang barusan aku serius”

Dan sekali lagi saat itu aku terkejut. Kemudian sebuah pertanyaan riba-tiba muncul dibenakku. ‘Jika benar itu serius, hubungan kita sedari dulu, sekarang dan kedepannya akan seperti apa?’

“Kamu tahu? kemungkinan ada rasa yang sama di dalam diriku buat kamu”

Aku terkejut, “Lalu ?”

“Aku tidak ingin ada ikatan yang lebih dari ini dulu. Tapi Aku ingin perasaanku ini masih ada. Begitu juga denganmu” ucapnya. “Mengungkapkan hal tadi sebenarnya dapat mencanggungkan kita. Tapi menyimpannya juga bukan pilihan yang tepat. Dan aku ingin hubungan kita masih sama seperti sebelumnya meski tanpa ada ikatan lebih. Ketika kita terikat lebih, aku takut kita memiliki batas suatu saat bahkan setelah pembicaraan ini mungkin batasan itu akan sedikit tercipta. Tidak seperti hubungangan yang kita miliki sebelumnya. Itu yang aku takuti” jelasnya.

Aku terdiam sejenak, “Aku paham maksudmu”  ucapku di sambil dengan mengukir senyum palsu.

Dia diam. Setelahnya tak banyak percakapan terjadi. Dan benar saja. Ketakutannya itu terjadi. Kami berdua menjadi canggung. Tak banyak berkomunikasi seperti sebelumnya sekalipun saat bertemu dan berkumpul langsung. Ada batas yanh tercipta diantara kami. Percakapan panjang lebar terakhir kami adalah saat adanya isu sebuah pameran untuk memperingati ulang tahun universitas. Kami membicarakannya dengan antusias. Serta berniat untuk mengikutinya. Setelahnya, batasan itu kembali.

Entah sudah berapa minggu sejak kami membahasnya dan batasan itu datang lagi. Aku menghubunginya setelah menyerahkan sebuah karya foto untuk pameran  yang sebelumnya akan ku ikuti bersama Aris. Chat pertamaku setelah sekian lama adalah sebuah kata tanya. ‘Dimana ?’.

-Di asrama, ada apa ??- Aris

Aku mengetikkan sesuatu lagi, ‘Aku pengen jalan-jalan’, balasku.

-Sekarang??- Aris

Kubalas dengan sebuah kata ‘Iya’

-Yaudah, kebetulan juga sih. Sekarang, Kamu dimana ?- Aris

“Kebetulan” gumamku membaca balasan chat Aris. Kemudian aku mengetik sebuah kata untuk menjawab pertanyaannya, Kampus.

-Tunggu di kantin, 20 menit lagi aku kesana. – Aris

Aku hanya membacanya dan segera menuju kantin. Tak ku duga disana ada Nobi dan tiga sahabatku yang lain. Mereka juga sedikit terkejut akan kedatanganku.

“Bukannya kamu ga ada kelas hari ini ??” Tanya Nobi.

“Iya, tapi ada perlu. Ngasih karya buat ikut pameran universitas” jawabku seadanya lalu duduk.

“Ada apa, Shaf ?” Tanya Kinal kemudian.

Aku menatapnya, lalu menggeleng.

“Meskipun kita baru beberapa semester kenal, tapi aku atau kami mungkin sudah tahu jika saat ini kamu sedang ada pikiran. Kenapa ga cerita ?”

Aku terdiam sambil menatap ketiga sahabatku. Akhirnya aku memutuskan menceritakan masalahku dengan Aris. Mereka menyimak dengan seksama. Namun, pas saat aku akan mengakhiri ceritaku, aku melihat Aris masuk kedalam kantin dengan sebuah tas slempang, kaos oblong yang tettutupi sebuah hem yang tidak dikancing, celana tiga perempat dan juga sandal jepit.

Dia serius masuk daerah kampus dengan outfit seperti itu. Aku sempat tak percaya dan akhirnya memakluminya. Teman-temanku hanya menggeleng dan tersenyum.

“Ayo” ujarnya saat berdiri di sebelah meja kami.

Aku berdiri, “Mau kemana ?” Tanya Kinal penasaran.

“Jalan-jalan”. Mendengar jawabanku semua mengangguk kecil dan aku dapat melihat ia menahan senyum atau mungkin rawa dengan sedikit bumbu bingung. Tapi, cara ini adalah salah satu usahaku untuk merekatkan kembali hubungan kami.

“Sudah siap jalan-jalan sama aku ?” Jawabnya dengan ekspresi seadanya. Aku mengangguk. “Lalu, kamu mau kemana ??” Tanyanya sambil membelakangiku.

“Terserah” jawabku yang masih melihat punggungnya.

Ia berhenti lalu menoleh kearahku. “Beneran ?” Ujarnya meyakinkan ucapanku sebelumnya. Aku berhenti kemudian mengangguk. Setelahnya ia tersenyum lalu kami melanjutkan langkah.

Dan perlu diketahui. Aku memang benar mengajaknya jalan-jalan dan bilang ‘terserah’. Tapi siapa sangka Aris   saat itu benar-benar mengajak untuk berjalan kaki hampir ke setiap tujuannya. Pusat kota, alun-alun kota, salah satu taman yang ada di kota, bahkan beberapa destinasi pariwisata yang dekat. Kami jelajahi dengan jalan kaki setelah naik bus.

Tapi saat itu batas yang ku rasakan benar-benar tidak ada. Aku senang, hibunga  kamu bisa kembali seperti dulu. Hari itu kami menjelajah kota ini meski tujuannya sudah pernah ku singgahi. Hingga di saat senja datamg, kami sudah duduk di sebuah rerumputan yang ada di salah satu komplek percandian.

Aku duduk berselonjor sambil sesekali memijat kakiku. Aris berada disampinggku sedang tiduran. Di depan kami ada sebuah komplek candi megah dan dibelakangnya bulatan mentari bergerak ke ufuk barat dengan menghadirkan warna jingga yang indah.

“Makasih”  ujarku sambil menoleh kearahnya. Kedua tanganku masih memijat kakiku yang sedikit pegal.

“Untung hari ini ga hujan” ucapnya, “beberapa hari kemarin hujan deres kan pas siang” tambahnya lagi sambil bangkit dan duduk.

Aku mengangguk.

“Udah ngasih karya buat pameran?”

“Udah, tadi. Kamu sendiri?”

“Besok” jawabnya. “Besok kamu ada kelas ?”

Aku menoleh kearahnya, ia masih memandang senja. “Ada, tapi dosennya lagi keluar kota. Dan tugasnya udah dikasih tahu kemarin. Ada apa ?”

“Besok bisa ke kampus ??” Ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku. “Aku mau minta sesuatu dari kamu” lanjutnya.

“Kenapa gak sekalian sekarang aja ?” Tanyaku.

Dia menggeleng, “Besok”.

Aku diam.

“Gimana ?? Bisa ?” Tanyanya lagi. Aku mengangguk. Melihat hal tersebut ia tersenyum. Kemudian berterima kasih. Setelahnya kami pulang. Sebelum aku turun di halte bus dekat tempat tinggalku, Aris kembali mengingatkanku untuk datang ke kampus di saat jam makan siang.

Keesokan harinya. Aku sudah berada di salah satu taman hijau universitas. Tempatnya sedikit ramai. Sudah 10 menit aku disini dan Aris belum datang juga. Ku cek handphoneku, chat yang kukirim belum dibacanya. Namun dari kejauhan, aku bisa melihatnya sedang merokok dan mencangklong tas ranselnya melangkah dengan pelan sambil mengamati sekitar. Yang membuatku sedikit heran adalah Kepala Sharil muncul dari dalam ranselnya.

Aku melambaikan tanganku pelan. Ia menangkap sinyalku dan akhirnya melangkah kearahku setelah mematikan rokoknya. Sebuah senyum mengembang. Kemudian ia duduk di bangku taman kosong disebelahku setelah sebelumnya memutar tasnya kedepan dan akhirnya memangkunya.

“Lama ?” Tanyanya.

Aku menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaannya, “Dari mana ??” Tanyaku.

“Ngasih lukisan” jawabnya singkat.

“Terus, itu…” Aku menunjuk Sharil yang berada di dalam tasnya.

“Oh.. Ini. Aku mau titip Sharil” ujarnya.

“Titip?”

Aris mengangguk, lalu membuka lebar resleting tasnya dan mengeluarkan Sharil dari belenggu tasnya.

“Kenapa dititipin ??” Tanyaku heran.

Ia menyerahkan bonekanya padaku, “Karena aku mau menghilang lagi” jawabnya, “Dan mungkin agak lama”

Aku terkejut, kalimat terakhirnya yang lebih membuat aku terkejut. “Seberapa lama ?” Tanyaku.

Aris mengangkat kedua bahunya, ” Aku mau pulang kampung dulu. Kangen sama adik”

Aku diam sejenak. Kemudian aku menanyakan gunung yang akan di dakinya. Sekali lagi, jawaban dari pertanyaanku tadi menambah kekagetanku. Ia menyebutkan nama gunung yang pernah membuatnya hampir tersesat, dua kali.

Aku mengetahui dari ceritanya saat berusaha menurunkan motivasi dan  keinginanku untuk mendaki. Ia bulang saat membawa rombongan pulang dari puncak dan hanya berputar di tempat yang sama lalu tidak dapat melihat jalur pendakiannya. Namun setelah sekitar satu jam ia mengistirahatkan rombongan Dan Aris mencoba kembali mencari jalurnya, salah satu rombongan melihat jalur pendakian yang ternyata sangat dekat dari tempat mencari sebelumnya. Dan baru saat itu ia sadar. Itu salah satunya.

“Apa kamu yakin mau mendaki gunung itu?” Tanyaku.

Aris mengangguk mantap, “Gapapa, tenang aja, aku udah dua kali ke gunung itu dan aku baik-baik aja sampe sekang. Lagian aku memutuskan untuk membuat pendakian ini pendakian terakhir sebelum fokus untuj ujian, lalu lulus dan bekerja dan setelah cujup, aku akan menjalin ikatan denganmu”

Mataku terbuka lebar setelah mendengar ucapannya barusan. Kalimat terakhirnya, membuat merinding dan ada perasaan haru mendengarnya.

“Perasaanku di kamu akan selalu ada, Shafa” kata Aris sambil pindah posisi berjongkok di depanku.

“Aku juga” ujarku sambil menahan tangis haru yang kurasa.

“Iya, aku tahu. Dan semoga Tuhan mengabulkan doa kita barusan” ujarnya lagi lalu menggenggam tanganku yang berada diatas Sharil yang sedang kupangku. “Ucapan adalah doa, Tuhan Maha Mendengar dan Mengabulkan. Jika  Dia tidak segera mengabulkan akan ku paksa” ujarnya lagi sambil tersenyum.

“Ga baik ngomong gitu” ujarku.

Aris nyengir,”Iya, maaf”

Aku tersenyum, “Pas opening pameran kita lihat bareng ya?”

“Iyaa, amin. Semoga sempat. Dua minggu lagi kan ?”

Aku mengangguk. “Mau berangkat kapan ?”

“Bentar lagi, pulang kampung dulu. Mungkin 9-10 hari di rumah” jawabnya lalu bangkit dan mengambil tasnya.

“Aris” aku memanggilnya. Ia menoleh kearahku, “Jangan tersesat lagi”

Ia tersenyum, “Aku sudah tersesat” ujarnya. Lalu menunjukku, “Di sana. Di hatimu”

Aku senang mendengarnya. Dalam hati aku berkata, “Tersesatlah selamanya disini”

“Yaudah. Jangan kangen dulu ya selama aku menghilang” ujarnya lagi, ciri khas saat ia berpamitan. “Jaga Sharil dan aku pasti pulang”

Aku memgangguk. Aris pernah bilang, tujuan mendaki adalah untuk pulang.

“Hati-hati”

Aris tersenyum lalu melambaikan tangan dan sedikit berlari meninggalkanku. Aku memeluk Sharil sebentar seolah aku sedang memeluk orang yang ku sayang, pemilik Sharil.

***

Hari pembukaan pameran sudah tiba. Komunikasi terakhirku dengan Aris sekitar seminggu  lalu. Setelahnya aku hanya berkomunikasi dengan bonekanya, Sharil. Aku masih ingat chat terakhirnya.

                -Tetep semangat! Tetap tersenyum! Jalani hidup dan Kejar mimpi kamu, Shafa. Akan ada orang di belakangmu untuk membantumu. Jadi fotografer yang keren ya-

Namun, Aku sedikit cemas. Memang ia tidak berjanji bisa menghadiri opening pameran tapi setidaknya saat pembukaan aku ingin Aris berada di sampingku. Tapi yasudahlah, ia sedang bekerja, pikirku.

Malam harinya, aku menuju gedung pameran dengan menggunakan taksi. Saat aku datang pameran baru saja di buka  dan masih ada beberapa orang yang berebut masuk. Aku bertemu dengan Kinal, Nobi dan Viny lalu masuk bersama.

Aku bekeliling venue. Syukurlah, fotoku dinpamerkan. Sahabat sahabtku memberikan selamat. Aku kembali berkeliling dan sesekali terpisah dengan lainnya.

Saat aku masuk kedalam salah satu ruangan aku kaget. Di dalamnya ada beberapa karya dan ada yang langsung menarik mataku untuk mendekatinya. Sebuah lukisan dengan figur seorang wanita tengah memeluk boneka. Dan backgroundnya tergsmbar banyak pesawat kertas.

“Itu aku. Itu fotoku” pikirku, meski wajahnya tidak terlihat sepertiku, aku tahu itu aku. Aku pernah mengupload foto tersebut di sosmed. Aku mendekat melihat keterangan karya.

Disana tertulis ‘Aris Alfiansyah’. Aku tersenyum membacanya. Ada rasa senang. ‘seharusnya ia datang hari ini’ pikirku. Aku kembali melihat lukisan tersebut. Dan kemudian, seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku berbalik.

“Shafa?” Ujar seorang lelaki.

“Wah, Baim” dia Baim, salah satu sahabat Aris. “Eh, apa Aris udah balik ?” Tanyaku  langsung tak menyianyiakan kesempatan.

Baim terdiam, raut wajahnya berubah. “Itu yang mau ku kasih tahu” ujarnya. Aku bingung. “Ikut aku bentar yuk”

Aku mengikutinya melangkah keluar dan berdiri di tempat yang sedikit sepi. “Ada apa ?” Tanyaku.

“Ini tentang Aris”

Aku menyimak dengan seksama.

“Aris dikabarkan hilang di gunung. Aku baru dikabari sama pengurus Asrama ketika mendapat telefon dari pihak pos basecamp pendakiannya” ujar Baim.

Aku terkejut mendengarnya, “Jangan bercanda” ujarku.

“Maaf, aku harap aku juga bercanda. Tapi ini beneran” ujar Bain lagi yang matanya sudah mulai berair.

Perlahan mataku perih. Aku mencoba ingin menyangkalnya tapu entah kenapa aku memilih untuk pulang. Di jalan pulang, aku langsung mencari info kejadian yang Baim ceritakan, berharap itu hoax. Sayangnya itu benar-benar terjadi. Seorang pendaki bernama Aris Alfiansyah dikabarkan hilang dan masih dalam pencarian.

Saat aku sudah dirumah akubsegera masuk kamar dengan langkah lemah. Menutup pintu kamar lalu menguncinya dan langsung  duduk menekuk lutut sambil membenamkan mukaku. Tenagaku hilang. Aku memaksa bangkit dan melangkah ke arah kasur. Dimana Sharil berada. Aku langsung ambruk di samping Sharil lalu memeluknya erat. Tangisku pecah.

Lalu, Aris tak pernah kembali. Benar apa yang dia ucapkannya dulu padaku. Ucapan adalah doa. Saat itu dia bilang jika itu akan jadi pendakian terakhirnya dan memang benar itu adalah pendakian terakhirnya. Dia juga bilang jika ia akan pulang dan memang benar, dia benar-benar pulang. Tuhan mendengar dan mengabulkan doanya, meski dengan perspektif yang berbeda. Orang yang ku sayang  benar benar mendaki untuk yang terakhir kalinya dan benar benar pulang lalu tak kembali.

*****

Aku bangkit dari posisi tidurku. Mengambil tisu yang ada di nakas dan menghapus air mataku.

“Sharil, maaf” ujarku sambil tersenyun dengan sesekali sesenggukan. “Jadi, tadi itu cerita tentang pemilikmu yang dulu, orang yang kusayang”

Setelahnya aku memejamkan mata dan memanjatkan doa untuk Aris dengan mencoba menyunggingkan senyum tulusku.

 

END.

-Adam Alfarisyi-

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s