In My Heart, Part43

Sesampainya Rizal dan Sinka di cafe yang dituju, mereka langsung masuk ke dalam karna Dzikri dan Melody sudah menunggu. 

“Lama nunggu yah?” tanya Rizal.

“Ga papa. Santai aja, Zal,” jawab Dzikri. 

“Terus ada apa sampe kita disuruh buat dateng kesini?” tanya Rizal.

“Ga ada apa-apa sih. Cuman, ya nongkrong-nongkrong kayak anak muda jaman sekarang lah, haha,” jawab Dzikri.

“Kelakuan dah kelakuan,” balas Rizal.

“Mau pesen apa?” tanya Melody.

“Aku vanilla latte nya satu,” jawab Dzikri.

“Zal?”

“Aku juga, Mel. Sama kayak Dzikri.”

“Kalo Sinka?” tanya Melody.

“Aku mah laper,” jawab Sinka.

“Hadeuh.. itu pipi entar tambah gede,” kata Rizal.

“Ga papa. Kayak yang ga suka sama pipinya, padahal kerjaanya nyubitin pipi terus,” ledek Sinka.

What ever..

Pelayan pun datang, Melody menyebutkan seluruh pesanannya. Lalu pelayan itu mencatat apa saja yang dipesan leh Melody dan kawan-kawan, lalu pergi kembali.

“Ada kerjaan dari bokap yah?” tanya Rizal, tiba-tiba.

Dzikri sedikit kaget. “Iya, Zal.”

“Apa Rizal liat dia lagi jalan yah,” pikir Dzikri.

“Pantesan tadi gue liat dia pas mau naik taksi,” kata Rizal.

“Tuh, kan bener,” kata Dzikri dalam hati. “Disuruh bokap gue kesini.”

“Ooohh.. gitu yah,” balas Rizal.

“Iye.”

“Kalian ngomongin apa sih?” tanya Melody, aga kesal karna tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Dzikri dan Rizal.

“Bukan apa-apa,” jawab Rizal.

“Tapi pembicaraan kalian itu ngundang kepo tau,” sahut Sinka.

“Yee.. sabar aja. Hahaha.” Dzikri semakin menutupi apa yang ditanyakan oleh Melody.

Pelayan pun datang sambil membawa beberapa makanan dan minuman. Cafe yang bernuasa klasik, diiringi musik yang sangat pas sangat cocok untuk malam kali ini, sambil menikmati suasana malam dari cafe ini.

Dzikri, Melody, Rizal dan Sinka sangat menikmati pertemuan mereka kali ini. Mungkin karna perbincangan ringan yang diiringi dengan candaan membuat semakin betah untuk bertahan di suasana ini.

“Eh, iya, kalian semua ada rencana buat liburan ga? Kalo ngga, kita bikin acara, ya nginep di villa gitu. Enak kayaknya,” tanya Sinka.

“Hmm.. boleh juga tuh ide Sinka,” sahut Dzikri.

“Wah iya nih boleh. Kebetulan banget ide Sinka bisa pas sama keinginan aku,” kata Melody.

“Tuh Zal, kak Dzikri sama kak Melody udah setuju. Kamu setuju ga?” tanya Sinka.

“Hmm.. boleh deh,” jawab Rizal.

“Wih.. mantep nih keknya, ajakin yang lain kalo gitu,” kata Dzikri.

“Pasti kak Dzikri, masa mau berempat,” sambar Sinka dengan intonasi datar.

“Yakali. Hahaha..”

“Yaudah mending sekarang kita bahas ini aja, biar yang lain enak tinggal ikut ga perlu mikirin yang lain-lain lagi,” Rizal berargumentasi. Nampaknya Dzikri, Melody dan Sinka menyetujui.

“Ah iya bener apa kata Rizal.” Melody menunjukan tanda setujunya dengan sebuah omongan.

Dzikri membernarkan posisi duduknya, lalu meminum vanila latte-nya. “Jadi, villa siapa yang mau digunain?”

Hmm. Mereka semua berpikir sejenak, memikirkan villa yang akan ditempati.

“Kalo pada bingung, pake villa gue aja, kebetulan keluarga gue ga ada acara buat ke villa,” kata Dzikri. “Tempatnya juga enak, apalagi kalo malem-malem, mantap dah..”

“Hmm.. Boleh-boleh tuh Dzik,” kata Rizal setuju.

“Seriusan nih?” Dzikri menanyakan kepastian lebih lanjut.

“Iye seriusan.”

“Terus kalo soal kegiatannya mau apa aja?” setelah berbicara, Dzikri meneguk kembali vanila latte-nya.

“Hmm..” Melody menopang dagunya dengan tangan kiri sambil ikut memikirkan.

“Yeay.. kenyang.” Sinka tiba-tiba menggerakan kedua tangannya keatas, layaknya anak kecil beres makan.

“Ish.. yang lain lagi pada mikir kamu malah gitu,” sambar Rizal.

“Yee.. maaf-maaf,” kata Sinka.

“Mungkin kayak kebanyakan orang-orang kalo lagi ke villa aja yah.” Melody mengutarakan pendapatnya.

“Jadi kegiatannya ga jauh-jauh, paling bakar-bakar apa malem harinya yah,” kata Rizal.

“Iya. Kegiatan standar kalo lagi di villa deh. Entar juga kalian kepikiran mau nambahin kegiatan lagi atau apa.” Melody meneguk Lemon tea nya.

“Boleh juga.” Rizal hendak mengambil minumannya.

“Sambil pacaran kali yak.”

“Uhuk.” Rizal langsung batuk ketika minum mendegar peryataan dari Dzikri.

“Racun.. parah..” Rizal kembali meneguk minumnya.

“Hmm.. Pemberangkatan mau kapan?” tanya Dzikri.

“Lusa kak gimana?” Sinka langsung menyambut pertanyaan Dzikri dengan sebuah pertanyaan kembali.

“Gimana guys?” Dzikri melihat kearah Melody dan Rizal.

Mereka berdua mengangguk setuju.

“Yaudah, sekarang kalian semua ajak yang mau ikut siapa aja,” kata Dzikri. “Gue mau istirahat sebentar.” Entah istirahat seperti apa yang Dzikri lakukan.

Mereka bertiga mengambil smartphonenya masing-masing untuk berkomunikasi dengan teman-teman yang lainnya.

Dzikri mengambil posisi menunduk, sedikit istirahat sejenak sambil membenamkan mata.

Melody, Rizal dan Sinka sibuk mengabari teman-temannya, sampai akhirnya mereka melaporkan siapa saja yang mau ikut.

“Kak Naomi katanya ga bisa ikut, kak,” laporan Sinka. Diterima.

“Aldy, Fadlan, Gilang katanya siap-siap aja. Oiya, adeknya Fadlan juga mau ikut,” laporan Rizal. Diterima.

“Hmm.. Yang aku kasih tau banyak, pada mau ikut juga lagi. Entar deh aku yang catet siapa aja yang mau ikut,” kata Melody.

“Iyadeh terserah kamu.” Dzikri meneguk tegukan yang terakhir. Dzikri mengeluarkan uang berwana mera tiga lembar, lalu menaruhnya tepat dibawah gelas Dzikri.

“Mel, kita duluan yuk!” Dzikri berdiri sambil mengambil jaketnya.

“Oh yaudah, Dzik, bareng aja, gue juga mau cabut pulang.” Rizal mengambil jaket hitamnya.

“Ok deh.”

Mereka berempat pun pergi menuju parkiran motor, lalu pulang menuju rumah. Rizal mengantarkan dahulu Sinka pulang, sedangkan Dzikri dan Melody menuju rumah Dzikri untuk beristirahat. Sesampainya, mereka berdua langsung menuju kamar masing-masing untuk mengganti dengan pakaian tidur. Dzikri dan Melody memutuskan untuk menonton televisi dahulu. Keadaan rumah sudah sepi, mungkin mereka sedang istirahat. Dzikri dan Melody membahas sesuatu yang sangat menyenangkan bagi mereka berdua sambil berpegangan tangan.

 

*to be continued

 

@DPriatama23

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s