“When You Romance Love Blossom In Spring” Part 2, ( Bagian 2 : Pertemuan )

( Bagian 2 : Pertemuan )

Pelajaran di sekolah telah usai. Terlihat beberapa murid yang sudah mulai pulang, tetapi tidak denganku. Aku saat ini sangat merasa bosan dan akhirnya kuputuskan untuk memasang earphone di telingaku. Alunan musik dari lagu “Ano Koro no Sneakers” membuatku lebih hidup, tapi juga membuatku mengingat masa laluku. Aku masih melanjutkan menulis beberapa partitur balok kemarin. Tiba-tiba pintu ruang kelas terbuka yang membuatku sedikit terkejut.

“Ehem…”.

JDAKKK!!!

“Kamu lengah :p”. Ucap seorang wanita melamparkan sebuah bola baseball tepat di belakang kepalaku. Aku terkejut sekaligus agak sakit sedikit sih.

“Ish siapa sih?! Kurang kerjaan banget” kesalku

“Hahaha ekspresi kamu lucu kalo lagi gitu” keluarlah seorang gadis dari beakang kursi. Ternyata dia adalah Okta.

“Sebenarnya aku agak heran sama kamu. Kamu kenapa sih? Tau nggak, musim semi di umurmu yang ke 16 tahun nggak akan kembali untuk kedua kalinya loh” ucap Okta menhampiriku seraya mencabut sebelah earphone di telinga kiriku.

“Duduk sendirian setelah pulang sekolah dan bukanya bersenang-senang menyambut musim semi. Kamu lagi ngerjain apa sih?” tanyanya.

“Jangan main cabut aja dong! Eh eng-enggak kok, aku nggak ngerjain apa-apa. Bosen aja gitu” balasku.

“Ano Koro no Sneakers ya? Sneakers Waktu Itu? Apa kamu nggak keingat masa lalu kamu?” tanyanya.

“Nggak kok biasa aja”.

—o0o—

 

“Za, hmm… besok Sabtu kamu ada acara nggak?” tanyanya padaku.

“Jangan memutuskan seenaknya -__-“ balasku.

“Jadi kamu ada acara?” tanyanya lagi. Aku hanya diam dengan memasang wajah datar -_-

“Jadi gini, cewek dikelasku ada yang minta dikenalin sama Rizal. Besok kita bakal ketemuan. Kamu ikut juga ya Za?” Okta memasang wajah memelas yang sangat imut. Ah aku tau maksudnya, hampir selalu saja aku kalah dengan wajah imut melasnya itu.

“Huh? Kenapa harus ikut?” tanyaku.

“Kalo Cuma aku, cewek itu, dan juga Rizal, pasti rasanya aneh buatku. Dikira Cuma jadi obat nyamuk doang kali. Soalnya mereka bakalan kencan kayaknya. Kalo berpasangan pasti akan lebih bagus”.

“Selain itu…

Aku dengar dia juga suka main musik klasik. Karena kamu juga main piano, jadi kalo ada yang dia pengen tanyain tentang musik pasti lebih gampang nanyanya ke kamu” tambah Okta tersenyum ke arahku dengan penuh arti. Aku sedikit tercengangang dengan kata-kata Okta barusan tentang gadis yang ia bicarakan itu.

“Ya jadi kupikir kalian bisa akrab. Mulai dari membicarakan musik,alat instrumental,dan hal-hal lainnya.” Jelasnya.

“Tapi aku…

Sudah berhenti bermain piano…” jawabku.

“Sudah 3 tahun aku tidak bermain” ucapku.

“Bohong?! Kemarin kamu memainkan piano di ruang musik kan?” tanya Okta curiga padaku.

“Itu untuk pekerjaan!” balasku.

“Kerja?”.

“Aku menyalin not lagu-lagu baru dengan mendengarkannya. Itu untuk karaoke dan lainnya” itulah alasanku

“Kalo kamu bisa melakukanya di kelas, lalu kemarin kamu ngapain?”.

“Aku hanya memeriksa suaranya” jelasku.

“Bagiku… kamu terlihat masih seperti ingin bermain. Oh lupakan saja kata-kataku tadi” ucap Okta.

“Saat kamu memainkan piano, kamu keliatan keren” Okta kembali berbicara

“Itu adalah mimpi ibuku. Dia mendidikku untuk menjadi seorang pianist ternama di dunia” masa laluku teringat lagi.

[FLASHBACK ON]

a1

“Ibuku punya sekolah musik dan aku diajari langsung olehnya. Setiap harinya… Setiap jamnya…Dia memukulku, dia memarahiku. Dia tetap bersikeras padaku meskipun aku menangis sekali pun” semua masa laluku teringat kembali.

a2

“Kau akan menggantikanku untuk besar di Eropa nanti” ucap Ibuku.

“Kalau itu bisa membuat Ibu senang, kalau itu bisa membuat ibu sehat…

…Aku akan berusaha” balasku.

 

Saat akhirnya aku ikut di kompetisi Eropa, 3 tahun yang lalu…

 

…Ibuku meninggal

 

Aku benci piano. Meskipun begitu, aku tetap memainkannya karena aku tak punya hal lain lagi. Jika piano diambil dariku, aku merasa sangat hampa. Yang tersisa dariku hanyalah…

…gema sumbang.

 

Dan mulai hari itu…

 

Aku tak bisa mendengarkannya lagi…

[FLASHBACK OF]

—o0o—

Keesokan harinya…

Waktu sudah menunjukan pukul 3 sore. Mereka bilang akan bertemu di taman kota Jakarta ini. Seharusnya mereka di sini 5 menit yang lalu, padahal mereka yang mengajakku tapi kenapa mereka malahan yang terlambat huft…

Daripada bosen nungguin mereka, kuputuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman ini. Saat berjalan-jalan, terdengar suara pianika. Mainnya bagus juga batinku. Karena tertarik, ya aku putuskan mencari sumber suara itu.

a3

Langkah demi langkah, keras demi keras irama musik itu. Membuat Heavy Rotation di hatiku. Tak terasa langkahku berhenti di tengah taman kota. Taman bermain bagi anak-anak kecil. Sebenarnya bukan itu yang menarik perhatianku, tapi seorang gadis yang sedang memainkan alunan pianika dengan suara yang merdu itu. Di kelilingi burung merpati tanda dari keabadian yang mengerumi si gadis pemain pianika itu. Setelah lama mengamati…Dia melihat ke arahku.

Wajahnya seperti tersenyum bahagia, tapi tunggu! Di wajahnya terdapat se-setetes… Apa?! Dia menangis?!

“Ehem, kayaknya aku meniupnya terlalu keras” ucap gadis itu pada anak-anak yang sedang memperhatikannya bermain tadi.

“Wah permainan kakak hebat banget!”.

“Keren kak!”.

“Bagus banget deh!”.

“Boleh kami ikut bermain?” tanya salah satu dari ketiga anak-anak yang memeperhatikan gadis itu bermain

“Pasti pianika lebih bagus!”.

“Ah enggak, sulinglah yang paling bagus!”.

“Ya jelas terompet lah!”.

Ketiga anak itu beradu menentukan alat musik apakah yang paling bagus untukk memanggil burung-burung merpati tadi.

“Hei-hei. Batasan,ras,ekologi, itu semua tidak ada hubungannya dengan musik” ucap gadis itu.

“Hmmm… kalo gitu, Ayo kita bermain bersama!!! Mari kita panggil burung-burung itu dengan Melody lantunan musik kita!” ucapnya seraya meyemangati para anak kecil itu yang sudah siap dengan suling,pianika,dan terompet digneggaman mereka masing-masing.

“Ayo…!!!” ucap mereka serentak

Lantunan musiknya mulai terdengar kembali. Kali ini jauh berbeda, mereka semua bermain dengan alat musik mereka masing-masing. Keselarasan melody tiap not dan juga lantunanya sangat luar biasa. Angin pertama musim semi yang sedang berhembus menerpa rambut hitam gadis itu. Angin seakan mengikuti simfhony yang telah gadis itu ciptakan bersamaan dengan permainan dari anak-anak itu.

Entah perasaan apa aku ingin mengambil HPku. Berniat ingin memfotonya karena kupikir ini merupakan momen yang tak bisa dilewatkan. Dengan sedikit demi sedikit aku akan memencet tombol foto itu. Tiba-tiba angin menghembus lagi…

Dia menoleh kaepadaku lagi. Dia berkata…

“Kamu yang di sana?!” tanya gadis itu. Saat ini dia sedang duduk di bawah pohon yang rindang di taman itu. Aku menunjuk diriku dengan telunjuk dan dia menganggguk. Firasat atau apa lah entah mengapa kakiku ini terasa ingin mendekat ke arahnya. Dia tersenyum dan berkata…

a4

“Hei, Kau ingin menjadi warna apa?” tanyanya. Pertanyaan macam apa itu? Ah sudahlah aku jawab asala juga tidak apa-apa mungkin. Ya mungkin saja (?)

“Aku…? Aku belum pernah memikirkannya” jawabku.

“Kalu begitu, pikirkanlah” ucapnya lagi.

“Aku tidak tahu ingin menjadi warna apa” balasku.

“Tapi saat ini, kurasa

…warna-warni?” tambahku.

“Warna-warni?” tanyanya.

“Kalau kamu sendiri bagaimana?” tanyaku balik padanya.

“Aku belum pernah memikirnkannya juga” ucapnya

“Hei… mungkin saat ini…

Putih…” tambahnya menatap kearahku

—o0o—

Author’s P.O.V.

 

“Mereka dimana ya? Apa mereka menunggu di tempat yang salah?” ucap seorang gadis berambut sebahu dengan ditemani seorang lelaki tampan berambut klimis di sebelahnya. Ya, mereka adalah Okta dan Rizal.

“Hei Okta, apa cewek ini bener-bener cantik,imut,dan manis kayak yang lu omongin kemarin?” tanya Rizal seraya berjalan mengikuti Okta dari belakang.

“Menurut gue nggak ada seorang cewek yang menyebut cewek lain itu ‘manis’ dan lainnya” ucap Rizal lagi.

“Ah itu mereka! Ve! Sini Ve!” ucap Okta menemukan seorang gadis dengan seorang laki-laki sedang duduk di sebuah kursi taman ditemani pohon yang rindang.

“Eh Okta!” ucap gadis di sebelah Reza.

—o0o—

“Langsung aja kita mulai” ucap Okta. Semuanya, maksudku Reza,Rizal,Okta,dan gadis itu sudah berkumpul sekarang.

“Uh… biar kuperkenalkan. Dia adalah teman sekelasku namanya Rizal Dinnur. Meskipun penampilannya begini tapi dia adalah kapten tim sepak bola di SMA 48 Jakarta yaitu sekolah kita” ucap Okta memperkenalkan Rizal

“Dia manis dan cantik sekali Okta!!! Pilihan lu emang cocok banget!” batin Rizal

“Salam kenal” ucap Rizal pada gadis di sebelahku

“Dan pria di sebelahmu. Orang yang tidak penting, lebih baik tidak usah aku kenalkan” ucap Okta membuat Reza… hmmm sepertinya mulai panas. Terlihat dari wajahnya yang mengkode-kode sesuatu pada Okta. Hampir seperti tatapan emosi aura membunuh mungkin (?)

“Salam kenal semua!” ucap gadis di sebelahku.

“Wah! Kamu sopan sekali” Rizal memuji  gadis itu.

“Ah tidak, biasa saja kok” ucapnya tersenyum manis.

“Hei Za, Kamu tidak mau kalah dengannya dengan medekatinya dulu?” Okta mengkode dan melihat dari wajah Reza sepertinya dia menyukai gadis berambut hitam panjang nan cantik itu, dia sedang berkenalan dengan Rizal.

“Eh? Kamu ada-ada aja Ta” ucap Reza mengelak

“Hahaha kelihatan tuh :p Tapi sayang banget. Rizal kayaknya juga suka sama cewek itu begitu pun sebaliknya mungkin” ucap Okta.

“Hari ini tugasmu hanya mendukung mereka aja kok. Mendukung hubungan mereka berdua kalau semisal mereka emang bener-bener suka. Kamu akan jadi…” ucap Okta menggantung

“Hei kalian sini!” ucap Okta kepada Rizal dan gadis itu yang sedang berkenalan. Mereka hanya mengangguk dan mendekat.

“Jangan menyerah gitu dong. Cobalah deketin sana” bisik Okta pada Reza yang membuat dia terkejut.

“Ah nggak mungkin aku suka sama cewek yang agak aneh kayak dia” bisik Reza pada Okta

“Eh sebentar lagi aku tampil, aku harus pergi ke sana sekarang” ucap gadis itu.

“Ke mana?” tanya Rizal

“Itu di sana!” ucap Okta menunjuk sebuah gedung yang bertuliskan ‘Taman Mini Indonesia Indah Hall’.

—o0o—

Reza’s P.O.V

 

Bukankah itu…

Aula TMII…

“Hari ini aku akan tampil di sana” ucap gadis itu.

“Karena aku…

Seorang violinis” semangat dan senyum terukir di wajahnya. Aku hanya tercengang mengetahui bahwa dia seorang violinis.

“Violinis?! Keren!”ucap Rizal

“Ayo za!” ajak Okta padaku

“A-aku…

Tidak usah ikut” ucapku menghela nafas.

“Sedari tadi kita belum kenalan. Kenalin nama aku…

Jessica Veranda, panggil saja Ve” ucap gadis itu berkenalan

“A-aku…” ucapanku terpotong

“Dia Arian Rezalical. Meskipun dia tidak penting, dia berperan sebagai Teman A” ucap Okta memotong pembicaraanku.

Tiba-tiba gadis bernama Ve itu meraih tanganku…

a5

“Kau juga ikut…

 

Teman A…”.

-To Be Continued-

Created by       : Anonymous No Name

-Author’s Note-

Ini udah sampe bagian kedua di part 2 ini. Selanjutnya masih ada satu bagian lagi di part 2 ini yaitu bagian ketiga. Kenapa ya? Agak panjang? Hmm… ngikutin plot cerita sama imajinasi aja soalnya juga agak panjang. Sorry karena ini fanfiction bergenre Romance dan Musical aku nggak bisa nambahin suara di fanfiction ini.. Kalau digambarkan dengan kata-kata jadinya aneh di cerita ini. Masih ingat pesanku yang kemarin? Aku akan mengirimkan clue di setiap part, bukan di setiap bagian. Sekian itu aja dari aku. Terima kasih yang sudah membaca dan kalau bisa lah menyempatkan diri untuk menuliskan sesuatu di kolom komentar,kritik,dan saran. Salam Tanpa Nama (*_*)

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk ““When You Romance Love Blossom In Spring” Part 2, ( Bagian 2 : Pertemuan )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s