Fiksi dan Fakta part 29

Pagi yang cerah, bisa dikatakan salah satu pagi terbaik untuk sejarah persahabatan diantara Jaka, Kelpo, Mike, Bobby, Shania, Andela, Elaine dan Viny. Namun, nama tuan rumah tampak terlupakan.

“Raz, Kelv, ga makan dulu?” Michelle dengan perawakan dewasanya keluar dari dapur.

“Eh, Michelle? kamu udah bangun?” Kaget Jaka.

“Iya nih, hehehe.. ada sahabat dirumah kan harus di-servis total..” Senyum Michelle terlihat begitu menambah keindahan pagi.

“Bisa aja kamu, Chel.” Jawaban yang nyaris mirip dari Kelpo dan Jaka. Hanya pengucapannya yang berbeda.
“Hehehe.. pertanyaan aku diawal ga ada rencana buat dijawab?” Michelle menaikkan alis sebelah kirinya.

“Eh, lupa. Ntar-an aja, Chel.” Kelpo tertunduk.

“Hehehe.. sekalian nunggu yang lain, Chel. Jadi sarapan bareng..” Timpal Jaka tertawa kecil.

“Hahaha.. oke deh, aku ke kamar dulu, ya.. Kalo kalian mau duluan, itu tinggal diambil piringnya di rak deket kulkas.. mari,” Michelle mulai menaikki anak tangga satu per satu.

“Siap, makasih Chel.” Jaka tersenyum.

“Baik banget dia..” Bisik Kelpo pelan kepada Jaka.

“Ya, begitulah. Mana dewasanya lagi keluar nih.. hahaha..” Jaka tertawa
cukup keras.

“Weittss.. yang lain masih tidur-_-” Kelpo mengingatkan.

Tak lama, Kelpo dan Jaka memutuskan untuk bergerak ke depan teras rumah Michelle. Mereka duduk di kursi depan, kebetulan ada salah satu sopir Michelle. Mereka bercerita-cerita banyak hal.

“Wih.. dah pada bangun..” Tiba-tiba Bobby muncul dari dalam.

“Udah bangun, mas legend?” Kelpo menahan tawa.

“Hushh-_-” Bobby malas.

“Mike belom bangun, Bob?”

“Belom, Jak.” Balas Bobby kepada Jaka.

Obrolan mereka kembali berlanjut. Sementara itu, para gadis sudah bangun sepenuhnya. Diawali dengan Viny, Elaine, Andela, dan Shania yang terakhir sekali bergabung.

“Mari, pak. Kami masuk dulu..” Pamit Jaka mewakili teman-temannya untuk masuk ke dalam.

Lantai pertama rumah itu mulai dipenuhi kegembiraan sepenuhnya. Andela dan Elaine menonton tv bersama. Shania dan Viny tampak sibuk membantu Michelle menyiapkan piring-piring.

“Ini kamu semua yang masak, Chel?” Kaget Shania.

“Hehehe.. engga kok, dibantu bibi.” Ucap Michelle tersenyum.
“Semuanya sudah siap, kita langsung panggil aja yang lain, Shan, Chel.” Viny menyarankan.

“Oke!” Jawab Michelle semangat. Sementara Shania hanya mengangguk tanda setuju.

“Ayo semuanya! Kita sarapan dulu..” Ajak Michelle semangat.

“Iya, Michelle.” Jawab Andela santai.

“Ayo, Ndel.” Elaine menarik tangan Andela.

“Lu duluan aja, Po, Bob. Mau bangunin anak reptil.” Suruh Jaka seraya menunjukkan ekspresi konyol khas Mike.

“Iye, Jak!” Jawab mereka berdua bersamaan.
Jaka memasuki kamar.

“Oy, Saurus! bangun!”

“Hadeh.. rusuh lu,” Mike terus menutup kepalanya dengan bantal guling.

“Cepetan! lu mau ditinggal? kami mau pergi abis ini!” Jaka sukses membangunkan Mike.

Tanpa menjawab, Mike langsung bangun dan duduk di tepian ranjangnya.

“Hmm.. lu gamau sarapan?” Pertanyaan yang seharusnya ditanyakan Jaka, malah ditanyakan oleh Mike.

“Hadeh-_- perasaan lu yang daritadi belom bangun-_-” Jaka malas.

“Yaudah, ayo. Dah ditungguin, kan?”
Mike berdiri dan berjalan kearah pintu dengan coolnya.

Jaka berpikir sejenak. Mungkin perkataannya yaitu ‘lu mau ditinggal?’ membuat Mike tersadar dengan cepat. Jaka tersenyum konyol membayangkan kesadaran Mike yang begitu naik drastis kala mendengar perkataan Jaka.

“Oy? Lu mau keluar?” Panggil Jaka.

“Aneh lu, kita udah ditungguin, ayo cepet!” Perintah Mike lagi.

Jaka menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tak lama, Mike kembali membuka pintu tersebut.

“Michelle udah gila ya? pintu ke ruang keluarga kok dipindah-pindahin.” Mike
bergerak kearah pintu yang lain.

“Lu yang gila-_- udah jelas-jelas itu pintu ke kamar mandi. Dari jaman jepang juga dah disitu pintu keluarnya-_-” Jaka berdiri sambil menggeleng-geleng malas.

Singkat cerita, sarapan bersama pagi itu terasa menyenangkan. Michelle sempat bertanya tentang destinasi wisata mereka hari ini. Tanjung Benoa mereka pilih atas saran dari Michelle sendiri.

*Skip

Liburan yang sangat lengkap bagi mereka semua. Tak dapat dijelaskan bagaimana perasaan dan keseruan diantara mereka. Waktu sudah menunjukkan sore hari. Selanjutnya, mereka kembali memikirkan soal menghabiskan hari pertama ini.

“Pulau Penyu asik sumpah..” Mike mengacak-acak rambut Kelpo.

“Hahaha.. ketemu sodara?” Celetuk Kelpo tertawa.

“Kalo ketemu sodara, beda lagi tempatnya, Po.” Tambah Bobby lagi.

“Sangeh, ya ga Bob?” Jaka bermain mata dengan Bobby.

“Hahaha… bener-bener.” Lanjut Kelpo lagi.

“Hah? Sang-“

“Pletak!” Kelpo menjitak Mike.

“Apa sih?-_-” Balas Mike malas.

“Inget Sangeh-_- bukan yang aneh-aneh..” Lanjut Kelpo menyipitkan
kedua matanya.

“Kalian ga boleh ngomong gitu, kera-kera disana itu keramat loh..” Andela memperingatkan.

“Mickey juga keramat kok, Ndel.” Lanjut Elaine lagi sambil menjulurkan lidahnya kearah Mike.

“Hadeh-_- kena mulu..” Mike malas.

“Hahaha..” Elaine tertawa keras.

Semuanya pun ikut tertawa.

“Oke, udah jam 3 nih, kemana lagi kita?” Viny membuka obrolan baru.

“Jimbaran? dinner-nya asik tuh, gue mau di-“

“Pletak!” Kelpo menjitak Mike lagi.
“Nape lagi?-_-” Mike memegangi kepalanya.

“Uang kita dikit-_- pake acara mau dinner-dinner” Kelpo malas.

“Kita ke Kuta aja, Chel..” Usul Bobby.

“Iya, Aku juga ada rumah disitu, walaupun ga deket banget ama pantai.” Michelle tersenyum.

“Boleh, tapi barang-barang kita?” Elaine bertanya.

“Kita pulang ke Denpasar ntar malem?” Tanya Andela.

“I-“

“Kita bermalam di rumah aku yang di Kuta aja..” Potong Michelle cepat saat Jaka hendak menjawab.
“Barang-barang kita gi-?”

“Udah, aman.” Potong Michelle yang kali ini memotong pertanyaan Mike.

Semuanya mengangguk setuju.

*Skip

Tak terasa, suasana malam hari di pantai Kuta begitu menenangkan. Cenderung dipenuhi turis-turis asing, namun mengingat ini liburan tahun ajaran baru di Indonesia, turis domestik juga tak kalah banyak.

Makan malam mereka juga sudah lama selesai. Shania yang lelah, telah lebih dahulu pulang bersama Michelle. Viny masih duduk membiarkan deburan ombak menyapu ujung kaki-nya. Bobby bermain bola kaki bersama anak-anak lokal, skill Bobby yang baik juga membuat anak-anak tersebut
terkesima olehnya. Andela, Mike, Kelpo, dan Elaine berjalan-jalan bersama. Banyak turis-turis asing mengatakan bahwa suasana Kuta di malam hari sangat seru untuk sekedar melihat-lihat kerajinan-kerajinan yang dijual penduduk setempat.

Jaka memutuskan untuk mengambil kamera DSLR milik Bobby yang Bobby letakkan dalam tasnya.

“Bob! Pinjem kamera lu ya!” Teriak Jaka pada Bobby.

“Yo Jak!” Balas Bobby yang masih bermain bersama anak-anak.

Foto di kamera tersebut tak terlalu banyak. Mata Jaka membulat kala melihat foto-foto hasil jepretan Bobby.

“Rata-rata subjek-nya Shania?” Jaka berkata dalam hati

Bosan dengan pemikirannya tersebut, Jaka memutuskan untuk memulai mengambil foto dari view pantai Kuta di malam hari.

“Perfect!” Seru Jaka dalam hati saat mendapatkan sudut yang pas.

Seorang gadis bertubuh tinggi dengan topi boater sedang menatap kearah ombak, disekitarnya ada anak-anak yang sedang membuat istana pasir, membuat si gadis menjadi dewi malam yang sempurna kala itu.

Jaka berdiri hendak menghampiri gadis tersebut, ingin menunjukkan betapa kerennya foto yang baru saja ia ambil.

“Hai, selamat malam..” Sapa Jaka hangat.
Gadis itu menoleh. Sungguh sangat mirip dengan dewi dan tak dapat dipungkiri bahwa manusia seperti dirinya itu begitu langka.

“Iya? Malam juga..” Balasnya akrab.

“Ah, salam kenal. Razaqa Nafan..” Jaka menyodorkan tangannya.

“Jessica Veranda..” Ve menyambut tangan tersebut.

“Ah? Ve?” Batin Jaka terkejut.

“Kamu, Ve?” Tanya Jaka spontan.

“Kok kamu tau nama panggilanku?” Dia balik bertanya.

“Ahh engga, temenku satu barisan seat denganmu di pesawat..”

“Ohh, kamu temennya Andela dan..
siapa ya satu lagi?”

“Kelvin?” Tebak Jaka.

“Nah iya! Kelvin..” Ve tersenyum.

“Mereka bilang, kamu orangnya baik.. dan aku udah buktiin sendiri sih, hahaha..” Entah mengapa, Jaka merasa akrab.

“Oh, Really? seneng dengernya..” Ve terus melontarkan senyumannya.

“Kamu sendiri?” Tanya Jaka canggung.

“Hmm.. menurut kamu?” Ve menatap Jaka konyol.

“Ehh?” Mata Jaka membulat.

“Hahaha.. aku liburan sendiri disini. Kamu ga sama temen-temenmu?” Tanya Ve lagi.

“Emm.. mereka sibuk masing-masing..” Nafas Jaka cukup tertahan. Mungkin nervous atau mungkin juga? jatuh cinta? Entahlah.

“Kesibukan mereka bukan berarti ga peduliin kamu, kok. Dulu aku punya temen, lebih tepatnya sahabat dari kecil. Dia selalu sibuk, tapi titik-titik bebasnya bener-bener nunjukin betapa dia sesungguhnya menyayangi kita..” Ve sedikit tertunduk.

“Ve?” Jaka berhenti. Ve menoleh dan menatap Jaka.

“Boleh aku tanya sesuatu?”

“Everything, Razaqa..” Lagi, Ve tersenyum lagi.

“Pertama, Kamu ada masalah dengan sahabat kecilmu itu? kedengerannya
kamu baru aja curhat loh..” Jaka tertawa kecil.

“Hahaha.. big problem, Razaqa. Aku sadar sebenernya masalah kamu ga kaya yang aku bilangin, tapi-“

“Tapi kamu cuma mau berbagi kan?”

Ve mengangguk pelan.

“Pertanyaan kedua boleh?”

“Silahkan..” Kini Ve mulai berhenti menunjukkan senyumnya.

“Kedua, apakah aku boleh jadi temen kamu?” Pertanyaan yang sukses membuat Ve terhenyak.

“Tapi, kenapa? kita kan baru kenal..” Ve tertunduk.

“Aku udah sering ketemu perempuan,
tapi pas ketemu kamu itu, aku yakin bakal ngasih banyak pengalaman.. sepenggal curhatan kamu itu, bikin aku tambah yakin kalo ada kecocokan di pembahasan kita..” Jaka begitu to the point.

“Maksud kamu?” Ve tak mengerti.

“Your personality.. really interesting..” Jaka tersenyum.

Senyuman Ve mengembang pada wajahnya.

“Apa alasannya buat aku harus percaya sama orang yang baru aku kenal?” Pertanyaan lagi dari Ve.

“Hahaha.. sejujurnya, ombak juga gapunya alasan untuk menghampiri dan menyapa pantai..” Jawaban Jaka sukses membuat hubungan diantara mereka dekat.

Mereka berdua berjalan menyusuri sekitaran pantai yang masih cukup ramai tersebut. Mereka bercerita banyak hal.

“Ehh, Ve? Coba liat deh..” Jaka menunjukkan foto yang tadi ia ambil.

Ve mendekat, berdiri sangat dekat dengan Jaka. Membuat jantung Jaka berdegup kencang.

“Relax!” Batin Jaka dalam hati.

“Bagus banget!” Seru Ve kala memperhatikan hasil jepretan Jaka.

“Makasih.. tapi-“

“Kamu fotografer ya?” Tanya Ve cepat memotong perkataan Jaka.

“Ehh?”

“Foto ini harmonis banget, perhatiin deh..” Lanjut Ve lagi.

“Emm, Ve? boleh jujur?” Jaka menatap Ve serius.

“Iya?” Ve menunjukkan ekspresi bingungnya.

“Jujur, yang bikin bagus itu anak-anak dengan istana pasirnya, ombak laut malem ini, pemandangan malem yang indah, dan kamu yang menatap kedepan dengan kebebasan..” Ucap Jaka panjang lebar.

“Hahaha.. kamu tuh ya! persis di film-film drama tau! Huahaha..” Ve tak mampu membendung tawa-nya.

“Film yang mana?” Tanya Jaka polos, membuat Ve makin tertawa geli.
“Hahaha.. apa ya? sayangnya aku ga hafal judulnya tuh..” Lanjut Ve masih mencoba mengontrol tawanya.

“Happy ending ga tuh? kalo happy, bacotannya mau ditambahin nih,” Jaka masih memasang tampang polos.

“Hahaha, dasar kamu tuh ya..” Ve menepuk-nepuk pundak Jaka.

“Ehh, liat deh, makin malem makin rame aja..” Jaka menuntun Ve-Gadis yang baru beberapa saat ia kenal tersebut sedikit ke ujung pantai, dimana deburan ombak menyapu telapak kaki mereka berdua.

Jaka dan Ve sedikit mengobrol tentang cerita mereka masing-masing. Mereka juga bertukar nomor telepon, lebih tepatnya mencoba agar pertemanan malam ini tetap terjaga.
“Ehh, Raz, aku pulang dulu ya.. masalahnya rumah aku aga jauh kalo jalan dari sini..” Pamit Ve.

“Oke, Ve. Semoga ketemu lagi ya!”

“Iya Razaqa! Pasti ketemu kok!” Ve tersenyum girang.

“Eh, Ve? Mau aku anter?”

Ve melihat kearah arlojinya. Jaka tersadar bahwa sekarang sudah jam 22.40, Hmm.. penolakan mungkin.

“Gausah, Razaqa. Kamu pulang aja deh, besok masih harus jalan kan? Bali gede loh..” Lanjut Ve.

“Gede? Hahaha.. destinasi wisata-nya udah nyamain surga tuh..” Jaka tertawa kecil.

“Hahaha.. agree! ehh, Razaqa, ga abis-
abis nih.. aku pamit ya..” Kali ini, Ve benar-benar berlalu pergi.

Jaka masih memperhatikan satu foto yang dia ambil tadi. Kali ini, dia menggeser kesamping.

“Shania..” Batin Jaka.

Jaka sadar, bahwa Bobby pun tidak buta. Sosok Shania memang menarik, bahkan itu tak bisa dipermasalahkan, apalagi karena status Jaka dan Shania hanya ‘teman dekat’. Oh, ya Tuhan.. mereka lebih tepatnya ‘teman tapi mesra’.

“Kalo gue perhatiin, gue ama Kelpo punya kesamaan saat ini. Berada di ‘teman tapi mesra’, bahkan status yang lebih hina dibandingkan ‘single’.” Ucap Jaka pelan. Tenang saja, orang-orang sudah mulai pulang, hanya ombak, angin malam dan Tuhan yang
mendengar perkataan Jaka barusan.

Jaka memutuskan untuk pulang. Semuanya tampak sudah tidur, namun pintu depan masih terbuka lebar.

“Razaqa! Oh syukurlah!” Ucap Michelle menghela nafas lega.

“Chel? Ada apa?” Tanya Jaka bingung.

“Aku kira kamu ketiduran di pantai. Banyak yang gitu..” Michelle tampak lega.

“Hahaha.. aneh-aneh aja kamu. Aku pamit du-“

“Razaqa?” Potong Michelle membuat langkah Jaka terhenti.

“Ada apa, Chel?” Jaka menatap Michelle
“Hehehe, gapapa kok. Kamu mau nemenin aku kerumah temenku ga?” Pinta Michelle cepat.

“Hmm.. boleh. Temen di Bali?” Tanya Jaka.

“Engga sih, dia sama kaya kalian. Dia dari Jakarta..” Jawab Michelle.

“Ohh.. dia stay di?” Tanya Jaka lagi.

“Dirumah tante-nya. Kami ketemu pas SMP, ayahnya dan papa aku temen lama. Jadi, pas aku ke Jakarta, kami ketemu deh..” Jawab Michelle lagi.

“Hmm.. cool! Tapi, maaf ya, aku kurang tertarik buat dengerin cerita sekarang..”

“Capek ya?” Michelle mengangkat alis sebelah kirinya, menatap Jaka seperti biasanya.

“Bukan! Masuk angin.. hahaha..” Jaka mendekatkan mulutnya dengan telinga Michelle, seperti sedikit berbisik.

“Hahaha..” Michelle tertawa cukup keras.

“Ssttt… nanti saurus bangun.” Jaka meletakkan telunjuknya di bibir, menyuruh Michelle untuk memelankan suaranya.

“Saurus? siapa?” Tanya Michelle bingung.

“Itu si Mike Oscar..”

“Oalah.. wkwkwk..” Michelle menggeleng-gelengkan kepalanya.

Akhirnya, Jaka pamit masuk ke kamar. Ia meletakkan DSLR Bobby di meja kamar tersebut. Merebahkan tubuhnya
dan meresmikan berakhirnya malam kedua di Bali.

“Terkadang ada pilihan yang perlu kau perhatikan, seperti ‘Hidup’ atau ‘Mati’. Bagiku, manusia itu berada di posisi sekarat saat dia hidup, dan berada di posisi sadar saat mati. Aku bersumpah, ‘Fiksi’ dan ‘Fakta’ akan menjadi pilihan terjelas, walaupun kau bisa memilih untuk ‘Netral’. Apa yang kita lakukan? Kita semua berada pada posisi ‘Tak berpendirian’, bukan ‘Netral’!. Kenapa? Karena kita memilih berfantasi saat menghadapi kenyataan, sementara kita membahas fakta nyata saat sebuah kartun seharusnya dibuat berdasarkan hasil fiktif sepenuhnya demi menghibur, bagaimana dengan netral? mulailah mencari jawaban lain mengenai itu, karena aku terpaksa merahasiakannya..” Bobby Abdillah

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s