Cahaya Kehidupan : Aku Kecelakaan Mobil, Part 42

Dan seperti dikembalikan, seluruh kejadian masa lalu itu muncul di
depan Dhee. Semua detail itu menyatu dengan hujan yang semakin deras.
Mobilnya yang berputar arah, mobil lain yang melaju liar tak
terkendali.

Berdecit menghantam jeruji besi, remuk. Dhee sekarang bisa melihat
orang yang mengemudikan mobil itu, tergeletak. Sendy? Ya, ia adalah
Sendy. Orang tua angkat Ulung. Tubuhnya berdarah-darah. Astaga, ia
sungguh tidak tahu kejadian itu.

“Bagian depan mobil itu hancur, orang di dalamnya terjepit. Kau tahu
siapa sebenarnya Sendy?” orang berwajah menyenangkan bertanya pelan.
“Aku… sungguh tidak tahu.” Dhee menjawabnya pelan.

“Ve dulu pernah bilang padamu, bahwa ayahnya sudah meninggal sejak ia
masih kecil. Dan ibunya ada di Jepang. Ya, ia telah menikah lagi.
Meninggalkan Ve kecil bersama kakek dan neneknya.” orang berwajah
menyenangkan terlihat sedih.

“Puluhan tahun kemudian, ibunya kembali. Ia hendak menjenguk anaknya
yang sedang sekarat di rumah sakit. Sendy adalah ibu dari Ve. Kau
lihat bayi disana? Ia adalah Rena, adik dari Ve.” tatapan orang
berwajah menyenangkan terlihat mencekam.

“Meskipun Sendy menikah lagi, tapi kasusnya sama seperti yang
dulu-dulu. Sendy memutuskan untuk mematungkan diri dalam pekerjaan,
sama sepertimu. Puluhan tahun kemudian, ia memutuskan menikah dengan
orang Jepang. Tapi tak lama kemudian suaminya meninggal, menyisakan
Rena kecil yang baru beberapa bulan.” ia menyeka air matanya.

“Tak tahan, Sendy akhirnya menjual perusahaan kecilnya dan memutuskan
untuk kembali ke tanah kelahirannya. Tapi kabar buruk menimpanya,
ternyata kedua orang tuanya sudah lama meninggal. Dan anaknya kini
sedang sekarat di rumah sakit.” orang berwajah menyenangkan mulai
meneteskan air matanya.

“Dari bandara, Sendy memutuskan untuk menjenguk anaknya di rumah sakit
yang sama dengan tujuanmu enam tahun silam. Sendy membawa bayi
kecilnya, Rena. Sampai akhirnya kejadian itu terjadi. Ia kecelakaan,
itu semua karna kesalahanmu. Ibu dan anak itu meninggal di hari yang
sama.” kini orang berwajah menyenangkan sudah menangis.

“Itulah kisah pilu keluarga Jepang itu. Mereka rela mengorbankan harga
untukmu. Tapi apa yang mereka dapat? Kau justru menyebabkan Sendy,
anak kandung Takeshi-san dan Haruka-san meninggal. Menyisakan Rena
yang selamat dalam tragedi itu.” tak ada lagi sisa-sisa wajah
menyenangkan di sana.

“Ya Tuhan, kenapa kau tidak membuat gadis itu meninggal saja. Kenapa
gadis kecil itu harus terselamatkan? Kenapa kau membuat gadis kecil
itu harus menjalani masa kanak-kanaknya dengan sesak bertanya di mana
Ayah-Bundanya? Membuat kota ini selalu terbungkus hujan setiap kali ia
menangis. KENAPA??? KENAPA YA TUHAN???” orang berwajah menyenangkan
itu tergugu.

Petir menyambar sekali lagi, guntur menggelegar. Langit semakin buas
menurunkan amarahnya. Orang berwajah menyenangkan itu masih menatap
sedih Rena yang berayun sendirian.

Apalagi Dhee, ia sudah tersungkur bagai sehelai kapas di jalanan yang
basah. Ya Tuhan, ia tidak pernah tahu akan kejadian itu. Sungguh ia
tidak pernah tahu hal itu.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s