Romansa Di Kota Itu, Part9

KRIIING

Suara alarm membangunkan Dendhi dari tidurnya, ia pun bergegas mandi dan memakai seragam, ia teringat akan pesan LINE yang masuk melalui hp nya

“Den, jemput aku di rumah nya Gracia, Reza”

“Den, pagi amat kamu berangkat ke sekolah nya, kakak aja belum sempet masak buat kamu” ujar kakak nya yang menguap karena masih mengantuk,

“Iya kak, Reza mau sekolah di sekolah ku” balas Dendhi setengah tersenyum.

“pantes aja kamu semangat, ooh iya, nanti jemput kakak di kampus kakak ya” ujar kak Ve yang berlalu ke dapur

“Siap deh kak, aku berangkat dulu ya kak” Dendhi setengah berteriak

“Tunggu dulu dek” kata kak Ve

“kok tum..” kata Dendhi yang kaget dengan perlakuan kak Ve yang mencium keningnya

“Se..sekolah yang bener ya dek” kata kak Ve

“iii..iya kak” kata Dendhi salting.

Ia lalu bergegas menuju ke mobilnya, dengan cepat mobilnya menuju ke rumah Gracia,

 

*Di Rumah Gracia*

 

“Kak, bangun kak, katanya mau sekolah hari ini” ujar Gracia sambil menggedor kamar pintu nya

“Apaan sih? Masih ngantuk tau” kata Reza

“Bangun nggak, kalo nggak bangun, aku bangunin pake cara ku” ujar Gracia pelan, namun mematikan, Reza langsung terbangun, karena cara yang Gracia pakai sangat keterlaluan, Gracia membangunkan Reza dengan kecoak mainan yang cukup ampuh untuk membangunkan Reza

Reza langsung membuka pintu kamar nya, Gracia langsung masuk ke kamarnya

“apaan sih? Masih ngantuk tau, tidur jam tiga pagi aku” ujar Reza dengan mata yang setengah tertutup

“Waduh.. keceplosan aku” ujar reza dalam hati

“What? Jam tiga? Ngapain aja kak?” Gracia menatap tajam Reza

“Biasaaa lah gre, kamu kan tau kebiasaan anak cowok kalo malem-malem ngapain” ujar Reza terkekeh

“ooh.. kakak abis main PS 4 sampe jam tiga, mulai nakal nih kakak, aku aduin ke mama lho ya” ujar Gracia sambil tertawa licik

“Eh.. jangan dong gre” ujar Reza memohon

“Es krim Magnum dulu kak” kata Gracia sambil menjulurkan lidahnya

“Bazeeeeng.. Magnum” ujar Reza kaget

“Nggak mau nih?” Gracia mengancam Reza

“iii… iya mau kok” ujar Reza

“udah ah. Kakak mau mandi, bentar lagi kakak di jemput temen kakak” ujar Reza yang menutup kembali pintu kamarnya.

 

Ting-tong

 

“Jangan-jangan temennya kak Reza” kata Gracia dalam hati

 

CEKLEK

 

Suara kenop pintu yang terbuka

“eh… kak Dendhi” kata gracia kaget

“Haiii Gre” kata Dendhi tersenyum

“Reza nya udah bangun?” tanya Dendhi

“Belum kak, ayo masuk” ujar Gracia

Dendhi memasuki rumah Gracia, rumah yang bisa di bilang sangat mewah dengan dekorasi yang mirip abad pertengahan. Tak lama kemudian muncul lah seorang wanita paruh baya

“eh, ada tamu” kata wanita itu

“Iya tante” balas Dendhi sopan

“mau cari siapa? Reza atau Gracia?” tanya wanita itu lagi

“Mau cari Reza tante, dia katanya mau sekolah di SMA 4 Banyuwangi” ujar Dendhi

“Iya, coba aja ke kamarnya” kata wanita itu

Dendhi dan Gracia duduk di ruang tamu, tak ada obrolan yang keluar.

“Gre, kamu nggak mau ikutan bareng kita ke sekolah?” Dendhi memberanikan diri membuka percakapan

“emmm.. nggak ngerepotin nih kak?” tanya Gracia malu-malu

“Nggak kok, tapi maaf ya. Mobil kakak jelek” ujar Dendhi merendah

“Ehh.. Den, udah dateng kamu?” tanya seorang pria yang baru saja turun dari lantai dua kamarnya

“Iya, baru aja dateng” kata Dendhi

“Gre, kamu ikut bareng kita aja, takutnya papa nggak bisa nganter kamu” ujar Reza

“Iya kak” ujar Gracia masuk kembali ke kamarnya, lima menit berselang, Gracia keluar dengan membawa tas sekolah.

Mereka bertiga berjalan menuju ke depan rumah Gracia

“Za, wanna Drive?” tanya Dendhi

“may I?” tanya Reza

“Sure” kata Dendhi sambil melemparkan kunci mobil nya ke Reza

“Akhirnya bisa santai di mobil sendiri” ujar Dendhi sambil masuk ke mobilnya.

Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan yang keluar dari mulut mereka, tiba-tiba

 

TUNG

 

Sebuah notifikasi BBM masuk ke HP Dendhi. Ia membaca BBM itu, lalu

“Za, bisa ke rumah ku dulu nggak? Adikku mau berangkat bareng ke sekolah” kata Dendhi

“iya bisa kok, nggak pindah rumah kan kamu?” tanya Reza

“nggak kok, rumah itu banyak kenangannya, jadi nggak mungkin aku pindah” kata Dendhi

Butuh waktu lima belas menit bagi mereka untuk sampai di rumah Dendhi, di depan rumah Dendhi terlihat remaja yang mengenakan seragam sekolah sedang berdiri menunggu sesuatu, dari kejauhan remaja itu melihat mobil Innova hitam milik kakaknya

“akhirnya datang juga” kata remaja itu dalam hati

Mobil innova itu berhenti di depan nya, lalu keluarlah pria yang lalu menggendong nya seperti penculik yang sedang menculik anak kecil

“lepasin, tolong” wanita itu berteriak

Remaja itu di masukkan dengan paksa ke mobil innova hitam, dengan cepat mobil innova hitam itu meninggalkan kompleks perumahan Dendhi menuju ke sekolah

“apa yang kalian mau?” tanya Michelle sambil menangis

“Urusai, aku bukan penculik, aku iki kakak mu” ujar Pria itu yang melepas topeng nya

“Ih.. kak Dendhi” ujar Michelle sambil memukul Dendhi, sedangkan Gracia dan Reza tertawa lepas.

“Eh.. bentar, kok kakak nggak nyetir?” tanya Michelle kepada Dendhi

“Nggak, itu Reza yang nyetir” ujar Dendhi sambil menuju kursi kemudi yang di duduki oleh Reza

Lima belas menit kemudian mereka berempat sampai di sekolah, setelah memarkirkan mobilnya, mereka keluar, Michelle dan Gracia menuju ke kantin, sedangkan Dendhi dan Reza menuju ke ruang kepala sekolah.

 

TENG-TENG…

 

“permisi pak” ujar Dendhi sambil mengetuk pintu

“Silahkan, ada apa Den?” tanya kepala sekolah

“Saya mau mengantarkan siswa baru pak” ujar Dendhi

“ooh iya, nanti kamu akan masuk kelas XI IPA 3, letaknya di lantai tiga, di west building, di dekat tangga, saya sama Dendhi akan mengantarkan kamu ke ruanganmu” kata kepala sekolah

“ayo berangkat” ujar kepala sekolah

Perlahan, mereka menuju ke kelas XI IPA 3, tak butuh waktu lama bagi mereka, mereka kini sampai di depan kelas XI IPA 3,

“Den, sekarang kamu bisa kembali ke kelasmu” kata kepala sekolah

“Baik pak” ujar Dendhi yang berlalu menuju kelasnya, pak kepala sekolah mengetuk pintu kelas, dan masuk sambil di ikuti oleh Reza. Kepala sekolah berbincang sedikit kepada guru yang sedang mengajar di kelas itu, lalu kepala sekolah keluar dan kembali ke ruangannya, hanya menyisakan Reza, guru yang bersangkutan, dan siswa-siswi kelas XI IPA 3

“Baiklah, perkenalkan dirimu” ujar guru itu

“Hai guys, nama ku Reza Haditama, aku pindahan dari New York” kata Reza

“Wiih.. New York” kata Bayu pelan

“Baik Reza, kamu duduk di pojok kanan, di dekat kinal” ujar guru itu sambil menunjuk tempat yang di maksud

Dengan langkah cepat Reza duduk di tempat yang di tunjuk oleh guru itu

“hai Reza, nama gue Kinal” ujar Kinal sambil menyodorkan tangannya

“hai Kinal, aku Reza, mohon bantuannya ya” kata Reza yang menyambut uluran tangannya

 

~oOo~

 

“Den, kamu ke kantin nggak?” tanya Rafles

“iya, tungguin ya?” balas Dendhi

Tak lama kemudian Dendhi menuju ke kantin dengan Rafles, mereka berdua hanya memesan air mineral dingin. Setelah mereka mendapat tempat duduk ada suara lembut

“Boleh ikutan duduk di sini nggak?” tanya wanita itu

“Boleh kok Vin” jawab Dendhi dan Rafles

“bentar lagi kan turnamen futsal nasional ya? Kalian lawan mana aja?” tanya Viny

“Kita pake system group, kita di group B, kita satu group sama Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta” kata Rafles.

“semoga kalian menang ya?” kata Viny.

“Vin, kita tinggal dulu ya ke lapangan futsal” kata Dendhi dan Rafles yang di balas oleh anggukan kecil dari Viny

Baru saja meninggalkan kantin, Dendhi dan Rafles di kagetkan oleh sebuah tangan yang tiba-tiba memegang pundak mereka

“kalian mau ke mana?” tanya lelaki itu, dengan berat Dendhi dan Rafles menoleh ke belakang, dan ternyata

“Kamu Za, aku lagi mau ke lapangan futsal sama Dendhi, kamu sekolah di sini juga?” tanya Rafles, Reza mengenal Rafles karena dulu nya waktu kelas lima SD, Rafles adalah siswa pindahan dari kota yang akan menjadi lawan mereka di turnamen futsal ini. Berselang dua bulan dari kepindahan Rafles, Reza meninggalkan Banyuwangi menuju ke New york

“Iya, aku murid baru hehehe…” Reza tertawa terkekeh. “Aku ikut ya?” tanya dia

“Oke” jawab mereka berdua

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di lapangan futsal indoor, Reza mengeluarkan sarung tangan dari tas nya.

“ayo, kita main kayak dulu lagi” ajak Reza pada dua orang kawan nya. Yang langsung di balas oleh anggukan kepala oleh mereka berdua, mereka berdua saling berebut bola yang nanti nya akan di shoot ke arah kiper. Bola kini berada di kaki Rafles dia memasuki kotak penalty, tiba-tiba

 

TENT-TENG

 

“Kampret, kok udah masuk sih?” Rafles geram, dan akhirnya memilih untuk meninggalkan lapangan futsal terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh Dendhi dan Reza

“Za, nonton ya pertandingan sekolah kita lawan perwakilan dari Jawa Tengah” ajak Dendhi pada Reza

“Oke deh” balas Reza sambil menepuk pundak Dendhi dengan keras, lalu berlari menjauh dari Dendhi

“Oiii.. sakit tau” kata Dendhi geram

 

~oOo~

 

Bel yang menandakan waktu untuk pulang sekolah sudah berbunyi, semua siswa sudah berhamburan keluar, Dendhi berada di sekolah masih menunggu Michelle, Gre, dan Reza keluar dari kelasnya.

“Ada kak Dendhi nih, gue harus bisa deketin dia, kalo perlu jadiin kak Dendhi milik gue” kata wanita itu dalam hati

“haii kak” sapa wanita itu

“Haii juga” kata Dendhi singkat

“Bentar, aku dulu kalo nggak salah jadi pembimbing di kelas kamu kan?” Dendhi berusaha mengingat-ingat lagi

“Iya kak” kata wanita itu

“Nama kamu kalo nggak salah nabilah kan?” kata Dendhi yang masih berusaha mengingat-ingat

“Iya kak” jawab wanita itu

“Kalo nggak salah kamu dulu pas MOS selalu sama temen kamu yang namanya Shania itu kan?” kata Dendhi

“Iya, Shania nya udah pulang duluan kak, padahal dia janjian ngajak in aku pulang bareng” kata nabilah sambil memasang ekspresi sebal.

“oh” jawab Dendhi singkat

“Kak, aku boleh ikutan nebeng kak Dendhi gak?” tanya nabilah

“Hmmm… boleh kok, ayo” kata Dendhi sambil menggandeng tangannya.

“Vin, coba lu liat tuh?” kata Lidya kepada Viny

“kok Dendhi bisa sedeket itu ya sama anak kelas sepuluh, sampe nggandeng tangannya, ke aku aja nggak pernah, padahal kita udah kenal se-tahun lebih” kata Viny

“Jangan negative thinking dulu Vin, siapa tau mereka berdua ada urusan” kata Lidya

“Tapi nggak sampe pegangan tangan juga kali lid” Viny membentak Lidya

“udah ah, aku pulang dulu” Viny yang sebal terhadap temannya itu lebih memilih untuk meninggalkan temannya itu sendirian.

Dendhi dan nabilah berjalan menuju ke parkiran, ketika ingin masuk ke dalam mobil, tiba- tiba…

 

*To Be Continued*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s