Cahaya Kehidupan : Aku Pertanyaan Keempat, Part 36

“Sayang, sayang sekali. Gadis yang amat malang. Bak bunga yang mekar
di waktu dan tempat yang salah.” orang berwajah menyenangkan menghela
nafas prihatin.

Pasien berumur enam puluh tahun yang berdiri di sebelahnya tertunduk,
menatap ramai jalanan. Mobil-mobil terlihat bagai mainan dari
ketinggian ini. Senja di Ibukota, langit sunset berwarna oranye.

Pasien itu baru beberapa menit lalu terlemparkan dari tersungkur di
sebelah makam istrinya. Tersedot kembali dalam kumparan cahaya. Silau,
ada jutaan warna-warni yang memedihkan mata.

Seketika matanya nyaman untuk kembali dibuka. Pasien itu sudah berdiri
di ruang kerjanya yang luas, lantai tertinggi gedungnya. Kapan
terakhir kali ia duduk di ruang kerjanya? Kalau tidak salah enam bulan
lalu, sebelum akhirnya terkapar di rumah sakit. Sungguh ada banyak
kenangan di ruangan ini.

Pasien itu baru saja mengenangnya satu per satu. Mengenang tahun-tahun
berlalu setelah kematian istrinya. Berlian di dalam tas milik Reza.
Pembangunan gedungnya di lahan bekas rumah singgah. Masa-masa
kesendiriannya. Hari-hari yang terasa kosong dan hampa meskipun kini
ia memiliki segalanya.

Ulang tahun Takeshi-san, Ve. Semua kenangan itu kembali menderas.
Kenangan yang akhirnya terpotong kalimat orang di sebelahnya.
Mengangkat kepala, menoleh kearah orang berwajah menyenangkan.

“Gadis yang malang, bukan? Waktu yang salah karena kau sedang sesak
dipenuhi pertanyaan betapa hampa dan kosongnya kehidupanmu. Tempat
yang salah karena di kepalamu tidak ada lagi tempat yang tersisa untuk
gadis lain selain istrimu. Hidup hanya sekali, mati sekali, maka jatuh
cinta pun juga sekali” orang berwajah menyenangkan itu tertawa.

Pasien itu menunduk lagi. Menelan ludah, menggigit bibir. Ya, itu
benar sekali. Waktu yang salah, tempat yang salah. Kenapa pula ia
tidak pernah bisa menerima kebaikan gadis itu?

“Dhee, kita sudah tiba di pertanyaan keempatmu. Lima pertanyaan, lima
jawaban. Ini yang keempat. Ternyata setelah sejauh ini semuanya tetap
terasa kosong, hampa. Ternyata semua yang kau miliki tidak pernah
memberikan kebahagiaan seperti yang pernah kau dapatkan bersama
istrimu.” orang berwajah menyenangkan menghela nafas.

“Tapi kau selalu punya pilihan dalam hidup. Pilihanmu adalah bertahan
dari rasa kesepian atau menyerah dan menikah lagi. Tapi kau memutuskan
untuk bertahan. Pilihan sulit itu sama seperti pilihanmu saat mengikis
satu per satu sahabatmu. Namanya X-Warriors, tapi kini telah menjadi
Ex Warriors.” orang berwajah menyenangkan tertawa lebar.

“Dhee, aku tidak akan menjawab pertanyaan keempatmu. Sebentar lagi,
banyak potongan yang belum lengkap. Jadi, maukah kau mengenang
beberapa kejadian lagi untukku? Terutama kenangan tentang Ve itu?
Gadis yang cantik, bukan?” orang berwajah menyenangkan tersenyum,
mengedipkan mata.

* Ada yang berubah dari ruang kerja Dhee. Sekarang ruangan itu tertata
rapi, Ve yang melakukannya. Gadis itu menjadi rekan kerja baru Dhee,
tepatnya belajar. Ia amat sibuk sekarang. Selain mengurus beberapa
perusahaan yang diserahkan Dhee, ia juga menyempatkan mengurus ruang
kerja Dhee.

Gre mendekap mulut menahan tawa saat pertama kali masuk ruang kerja
Dhee. Dhee menunjuk Ve yang kebetulan ada dalam ruangan. Gre
menyeringai jahil, Dhee menatapnya serba salah. Kemudian mengusir Gre
jauh-jauh.

* Enam bulan berlalu dengan cepat.
“Ayo, buruan kak!!! Nanti terlambat!!!” Ve berteriak macam anak kecil,
kepalanya terselip di pintu ruangan.
Tertawa, Dhee ikut tertawa. Melipat berkas-berkas laporan kerjanya.

Ve berlari-lari kecil masuk ke dalam ruangan. Hari ini ia mengenakan
baju hitam dengan syal putih di lehernya.
“Ayo!” Ve menarik tangannya.
“Sebentar lagi, Ve.” Dhee masih membereskan berkas-berkasnya.

Wajah Ve menyeringai jahat. Ia jahil menekan tombol, mematikan lampu
ruangan. Kejahilan diselingi tawanya.
“Astaga, iya kita berangkat sekarang.” Dhee pura-pura sebal.

Dhee merapikan berkas-berkasnya. Menyambar potongan kertas tua yang
menguning di atas meja. Ve sudah berlari-lari lagi menuju pintu
ruangan. Dhee melangkah, menyusulnya.

Malam ini ia berjanji menemani Ve ke taman hiburan milik perusahaannya
juga. Setiap hari Ve membujuknya pergi kesana. Merajuk setiap kali
Dhee menolak.

Lift berdesing meluncur turun. Gadis itu jahil berdiri di belakang
Dhee. Meletakkan kedua tangannya di pinggir telinga Dhee. Terlihat
seperti memiliki tanduk. Dhee tertawa menatap ulahnya dari cermin
pintu lift. Gadis itu selalu tertawa riang.

Mobil yang Dhee kemudian meluncur menuju taman hiburan. Dari kejauhan
siluet lampunya terlihat mengundang. Menurut berita, taman hiburan itu
menjadi favorit baru penduduk Ibukota menghabiskan waktu bersama
keluarga.

Ve menyeret Dhee di sepanjang jalan, bercanda riang. Dhee lebih banyak
mengangguk. Sesekali mengangguk ke staf dan pengunjung taman hiburan
yang mengenalinya.

Tujuan Ve malam itu hanya satu, biang lala raksasa. Ke sanalah Ve
menarik lengan Dhee. Mereka berdua naik ke gerbong biang lala. Petugas
berseragam yang berjaga di biang lala mempersilahkan mereka berdua
untuk masuk, tanpa harus membeli tiket terlebih dahulu.

Malam cerah, langit bersih tak tersaput awan. Bintang gemintang
membentuk ribuan formasi. Angin semilir menyentuh ujung-ujung rambut.
Langit malam yang indah. Biang lala mulai bergerak. Dhee menatap
langit, sementara Ve sibuk melihat-lihat pemandangan dari atas sana.

“Kakak tahu, aku tidak pernah tahu rasanya memiliki ayah.  Memiliki
kakak lelaki, bahkan ibuku berada di Jepang. Mungkin sudah menikah
lagi. Aku hanya memiliki kakek dan nenek saja. Dan juga kakak yang
sangat aku sayangi.” Ve tiba-tiba memecah keheningan.

Apa sekarang saatnya? Baiklah, ia tidak bisa menunggu lagi. Tidak bisa
menunggu enam bulan lagi, sekaranglah saatnya.
“Apa kakak tidak pernah suka dengan gadis lain?” akhirnya pertanyaan
itu terlontarkan.

Dhee menggeleng mantap, kepalanya sama sekali tidak menoleh. Ia masih
sibuk menatap langit malam yang begitu indah. Dihiasi lampu sorot
taman hiburan. Ia tidak terlalu memperhatikan ocehan gadis itu.

“Kakak memberikan semuanya. Saat pertama kali bertemu di pemakaman.
Selama setahun terakhir berhubungan dengan surat. Enam bulan tinggal
disini. Aku merasa memiliki kakak lelaki. Terima kasih telah menjadi
kakak untukku.” kalimat Ve membelok di ujungnya.

Ia tidak akan pernah bisa mengatakannya. Untuk apa? Hanya akan
menyakiti perasaan. Kakak? Ide yang bagus. Semoga waktu berbaik hati
padanya. Bukankah waktu bisa merubah perasaan? Dhee mengangguk,
mendekap lembut bahu gadis itu.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s