Legend of Moonlord, Part18 (Unbelievable Decision bagian 2)

Unbelievable Decision bagian 2

Shafa masih melamun di ruangan Gani sambil menatapi barang yang dibawa olehnya. Ucapan pria itu juga masih menempel dikepalanya.

 

“Shafa, dengarkan aku. Saat ini Raja Goblin Gosuk dan pasukannya sedang bersiap menuju Shadow Forest. Mereka akan datang dalam jumlah besar. Kau ku tunjuk sebagai pengganti sementara diriku. Pimpinlah seluruh Assassin melawan Gosuk.”

“Dan Shafa, berikanlah benda ini pada anak yang kau tolong tempo hari. Ini adalah Sacred Weapon milik Assassin. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa menggunakannya.”

 

Dengan tubuh berlumuran darah, Gani menyampaikan pesan dan juga barang yang susah payah ia dapatkan. Sedangkan Shafa, hanya bisa mengangguk.

 

Shafa membuka kain pembungkus dan menemukan mata pedang nan gelap. Tak hanya itu, seluruh bagian pedang juga berwarna senada.

 

“Inikah senjata dalam legenda itu? Auranya begitu kuat. Tak heran jika aku kesulitan membawanya kala itu, tapi…”

 

Shafa berjalan menuju rak buku dikirinya. Jarinya berjalan pada buku-buku yang tersusun rapi itu, seperti mencari sesuatu. Buku bersampul abu-abu yang sudah kusam ditariknya dari susunan. Bagian depan buku itu tertulis huruf yang bahkan ia sendiri tak bisa membacanya. Bukan hanya bagian depan, tapi seluruh buku itu ditulis dengan jenis huruf yang sama.

 

Shafa membalik perlahan lembaran yang sudah lapuk dimakan usia itu. Jemarinya terus bergerak hingga berhenti pada satu halaman. Dilihatnya halaman pada buku itu dan pedang yang tergeletak dimeja secara bergantian.

 

“Ternyata memang benar pedang yang dibawa tuan Gani adalah senjata legendaris seperti yang ada dalam buku ini,” gumamnya. “Tapi tulisan ini…”

 

この刀は闇の力を持ってる。一番目の暗殺者しかがこの刀を使えない。普通のはこの刀を使えない。今までこの刀の所在は誰も知らない。旧英の中に手掛かりがあります。

(Kono katana wa yami no chikara wo motteru. Ichibanme no anshatsusha shika ga kono katana wo tsukaenai. Futsuunowa kono katana wo tsukattara, zettai ni shinu. Ima made kono katana no shozai wa dare mo shiranai. Kyuuei no naka ni tegakari ga arimasu.)

 

“Aku sama sekali tidak mengerti!”

 

*tok tok tok*

Suara ketukan pintu sejenak mengalihkan perhatian Shafa.

 

“Siapa?”

 

“Ini aku,” balas seseorang dengan suara yang sangat familiar.”Oh Sisil, apa semuanya sudah siap?”

 

“Ya, semua sudah berkumpul di Jungle Fort seperti yang kau perintahkan.””Baiklah, aku akan segera ke sana.”

 

“Shafa, sebelum itu…”

 

Suasana di Jungle Fort begitu ramai, tak seperti biasanya. Seluruh penghuni Shadow Forest berkumpul atas perintah Shafa. Sandy juga ada disana, berdiri ditengah kerumunan orang-orang. Melihat berbagai perlengkapan Assassin dari dekat menjadi kesenangan tersendiri baginya. Tapi hal itu sirna begitu Shafa datang. Ia berdiri di satu-satunya balkon dalam benteng itu.

 

“Bekerja dalam kegelapan!!” teriak Shafa lantang sambil mengangkat tinggi kepalan tangannya.

 

“Untuk melayani cahaya!” semua serentak berlutut dan menundukkan kepala ke arah Shafa.

 

“Salam saudaraku,” Shafa kembali berujar. Bersamaan dengan itu, semuanya berdiri lagi.

 

“Terimakasih atas kesediaan kalian untuk berkumpul. Aku memiliki pengumuman penting untuk kalian semua.” ia lalu menarik nafas dalam.

 

“Pemimpin kita, tuan Gani Snallow, telah kembali dari perjalanannya selama beberapa bulan. Akan tetapi, beliau kembali dengan tubuh penuh luka dan sekarang sedang dalam perawatan Magina juga bawahannya. Sebelum kesadarannya hilang, beliau sempat berpesan padaku bahwa Gosuk sang Raja Goblin sedang bersiap menyerbu Shadow Forest, rumah kita semua. Pertanyaanku hanya satu, apakah kalian bersedia bertarung melawan Gosuk dan pasukannya hingga titik darah penghabisan?” Shafa berteriak lantang.

 

Hening terasa sesaat sebelum akhirnya…

 

“YA, KAMI BERSEDIA !!” … Jawaban keluar dari semua Assassin.

 

“Terimakasih semua,” Shafa tersenyum kecil.

 

“Lalu kapan mereka akan menyerang?” tanya seseorang.

 

“Menurut info dari Tuan Gani dan pengintaian yang dilakukan The Cursed Seven di pedalaman Shaded Wood, Gosuk dan pasukannya diperkirakan akan tiba di Jungle Fort dalam 10 hari.”

 

“Jadi maksudmu kita semua akan melawan mereka disini?” orang lainnya bertanya.

 

“Sebisa mungkin kita menghabisi banyak pasukan mereka disini dengan perangkap dan serangan jarak jauh. Jika keadaan mendesak, kita gunakan Shadow Forest sebagai medan pertempuran.”

 

“Apa itu sudah jelas?” Shafa balik bertanya. Hening kembali melanda.

 

“Kalau tidak ada, aku sudahi pertemuan kali ini. Persiapkan diri dan peralatan kalian dalam kurun waktu yang kusebutkan tadi karena pertarungan ini menjadikan nasib banyak orang sebagai taruhannya. Setiap tenaga yang tercurah akan sangat berarti untuk semuanya.”

 

“BUBAR!!”

 

Dalam sekejap mata Jungle Fort berubah sepi. Semua pergi dengan cepat. Sandy hanya terdiam di lapangan yang sepi. Pernyataan Shafa tadi cukup mengejutkannya. Pasalnya waktu yang tersisa pada jam tangannya hanya 10 hari.

 

“Sandy, kemarilah. Aku ada perlu denganmu,” ucap Shafa.

 

Shafa dan Sandy duduk berhadapan. Mereka kini berada di ruang Gani.

 

“Ada perlu apa denganku?” tanya Sandy.

 

“Aku langsung saja. Kalau tidak salah kau datang kesini untuk mempelajari segala sesuatu tentang kami, benar?” Shafa begitu dingin dalam melontarkan kata-katanya.

 

“Ya, benar.”

 

“Lalu, orang yang mengirimmu yaitu Red-Hood Grandma, seingatku, memberimu batas waktu untuk berada disini. Apa aku salah?”

 

“Tidak, itu juga benar.”

 

“Bisa beritahu aku berapa lama sisa waktu yang kau miliki?”

 

“Sekitar 10 hari lagi,” jawab Sandy pelan.

 

“Begitu ya.”

 

Shafa berjalan menuju tempat pedang legenda beserta buku yang sempat ia baca. Di buku itu lalu kembali pada Sandy. Dijatuhkan benda yang dipegangnya tepat dihadapan pria itu.

 

“Apa ini?” Sandy terheran.

 

“Ini adalah buku kuno, harta berharga pemimpin kami. Aku mendapat perintah untuk memberikan buku ini juga pedang dimeja itu padamu.

 

“Sandy terdiam sejenak. Pikirannya bercampur aduk. Ia lalu melirik isi buku dihadapannya. Simbol-simbol huruf tersusun rapi dalam setiap halaman tua. Huruf yang tak asing baginya.

 

“Shafa, apa kau benar-benar yakin memberikan benda yang sangat berharga ini padaku?” tanya Sandy setelah membaca beberapa halaman buku itu.

 

“Ya, karena itu adalah perintah langsung dari Tuan Gani, orang yang sangat ku hormati. Selain itu, aku juga tidak mengerti dengan apa yang tertulis disana. Jadi tak ada alasan bagitu untuk terus menyimpannya,” jawab Shafa.

 

“Baiklah Shafa, aku mengerti. Akan ku gunakan pemberianmu ini dengan baik.” Sandy lalu mengemasi barang yang di dapat.

 

“Setelah ini, kau pergilah ke Timur. Dalam 3 hari perjalanan kau akan sampai di sebuah rumah ditengah hutan yang pernah ku tinggali. Disana kau bisa mempelajari buku itu sambil menunggu waktu kepulanganmu tiba,” jelasnya lebih lanjut.

 

“Apa? Jadi kau melarangku untuk ikut bertempur?” pungkas Sandy.

 

“Tepat sekali.”

 

“Tapi itu…”

 

“Dengar. Kau sekarang berada di wilayah kami para Assassin dan aku adalah pemimpin disini. Jadi kau sama sekali tak mempunyai hak untuk membantah perintahku. Mengerti?” tegas Shafa.

 

“Aku akan menyuruh dua anggota Cursed Seven untuk mengawal dan memastikan kau sampai ke tujuan. Sekarang istirahatlah karena besok kau akan memulai perjalanan yang melelahkan.”

 

Esoknya, Sandy pergi menuju Timur dengan kawalan Adel juga Diky. Ia benar-benar tidak bisa membantah ataupun mengelak dari perintah Shafa. Tetapi, sedikit-banyak, ucapan Shafa kemarin mengingatkan Sandy pada mendiang kakaknya.

 

Selepas kepergian Sandy, Shafa sedikit merasa kehilangan. Entah apa yang membuatnya demikian. Tiba-tiba Sisil datang dan membuyarkan lamunan teman sekaligus saingannya itu.

 

“Kau tak apa?” Sisil khawatir melihat wajah murung Shafa.

 

“Ya, aku baik,” balas Shafa. “Sisil, sebelumnya terimakasih karena kau memberitahu pesan penting dari Tuan Gani yang mengatakan kalau dia punya pertempuran sendiri. Satu yang jauh lebih besar dari pertempuran melawan goblin tepat sebelum kita menuju Jungle Fort. Kalau tidak, aku pasti sudah menunjuk Sandy sebagai komandan perang dan membahayakan jiwanya,” lanjutnya.

 

“Tentu. Kau bisa mengandalkanku kapan saja.” Sisil coba menghibur temannya.

 

“Baiklah, kita juga harus mempersiapkan diri menghadapi perang yang sudah didepan mata.”

 

Dalam hitungan hari, sebuah portal dimensi yang menjadi tiket pulang bagi Sandy akan terbuka. Ia tak tahu harus melakukan apa hingga saat itu tiba. Melihat buku pemberian Shafa yang tergeletak bebas di atas meja, pikirannya mulai menemukan tujuan. Ia memutuskan untuk membaca habis buku itu sebelum kepulangannya dan berniat meninggalkannya disini. Setelah Adel dan Diky kembali menuju Shadow Forest, Sandy mulai membaca.

 

Hari demi hari berlalu layaknya daun yang tertiup angin. Para Assassin semakin sibuk mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi Goblin. Di sisi lain, Sandy terus membaca buku kuno miliknya tanpa satu hari pun terlewat.

 

Seiring menghilangnya cahaya kehidupan hari itu, Sandy menyelesaikan laman terakhir dari buku kuno. Sesuatu dalam buku itu telah merubah dirinya. Tekadnya untuk turut andil dalam pertempuran di Shadow Forest kembali membara.

 

“Maaf ya kawan-kawan, sepertinya aku akan terlambat menemui kalian. Bersabarlah lebih lama lagi,” ujar Sandy sambil memandangi jam ditangannya. Kemudian ia melepas jam dengan durasi tersisa satu menit itu di atas meja, berdampingan dengan buku yang baru selesai dibaca.

 

“Kalau dengan kecepatan penuh sepertinya aku bisa mencapai Shadow Forest dalam satu hari. Shafa, Sisil dan yang lainnya, bertahanlah sampai aku tiba!” Sandy mengambil pedang yang berhari-hari bersandar pada dinding dan meluncur menuju Shadow Forest.

 

-to be continue

 

dipolacubo

 

Iklan

4 tanggapan untuk “Legend of Moonlord, Part18 (Unbelievable Decision bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s