Fiksi dan Fakta part 28

Hari itu berakhir, Jaka sempat meminta nama-nama calon siswa/i tahun ajaran baru kepada Sinka. Menurut kabar yang berhembus, angka murid pindahan meningkat drastis tahun ini. Jaka dan lainnya tak mau melewatkan satu nama pun, karena mereka harus memastikan SMU48 aman tahun ini.

*Skip

Tepat hari sabtu. Rencana liburan ke Bali sudah benar-benar diputuskan.
Jaka sudah memastikan bahwa pesawat berangkat sekitar jam 4 sore.

Terlepas dari rencana yang sudah terwujudkan, ada banyak kisah-kisah menuju hal tersebut. Seperti dana yang ternyata banyak sesuai dugaan Jaka, Mike dan Kelpo dari awal.
Bahkan, Bobby pun ikut, setelah izin yang diberikan sang ayah.

“Andela, Mike, Elaine, Kelpo, Shania, Viny, Bobby..” Jaka mengabsen.

“Nama ndiri jan lupa” Sahut Mike menahan tawa.

Jaka menggeleng malas.

“Bobby jemput Inyi, kan?” Tanya Kelpo kepada teman-temannya.

Jaka mengangguk.

“Mereka langsung, kita langsung aja..” Andela memberi kabar dan langsung disetujui Jaka dan lainnya.

Obrolan selama perjalanan menuju Jakarta terasa seru. Mereka tampak begitu bahagia dan tak bisa menunggu.

“Liburan kali ini, pertamanya kita liburan bareng ya?” Elaine tersenyum kearah sang pacar, Mike.

“Liburannya mahal, kwek.” Mike merangkul Elaine, namun ditepisnya.

“Huuu… Mickey maksa ortu-nya ya?” Elaine menggembungkan pipinya.

“Enggalah.. wleee..” Mike mencubit kedua pipi Elaine yang menggemaskan itu.

“Ihh.. Mickey! sakit!” Elaine memegangi pipinya.

Andela dan Kelpo yang berada di barisan tengah hanya tertawa melihat kekonyolan Mike dan Elaine yang duduk di barisan terakhir.

Berbeda dengan ke-empat temannya,
Jaka dan Shania tampak diam pada kesibukan mereka masing-masing. Jaka terfokus pada kemudi yang ia ambil alih, sementara Shania berkutat dengan handphone yang juga terpasang headset ke kedua telinga-nya.

“Ehh..?” Jaka menyadari ke-empat temannya bercanda bersama dengan begitu akrab.

Jaka melirik kearah Shania yang duduk disebelahnya. Tak ada respon.

“Shan?” Panggilan pelan Jaka tidak bisa menembus suara yang keluar dari headset yang terpasang langsung ke telinga Shania.

Jaka menyenggol bahu Shania.

“Iya?” Shania melepas headset dari telinga sebelah kanannya.

“Kok diem banget? Gamau ngajakin orang ganteng disebelah kamu ngobrol? Hehe..” Ucap Jaka memecah keheningan.

“Hahaha.. apaan sih..” Respon hangat dari Shania. Hmm.. tepatnya membuat pipi Shania memerah.

“Kamu ga enak badan ya?” Tatap Jaka sekilas.

Shania mengangguk.

“Sebenernya gapapa sih, cuma agak pusing..”

“Gapapa apanya, pusingnya gimana?” Jaka mulai serius. Teman-temannya di bangku belakang tampak masih sibuk dengan obrolan mereka.

“Emm.. cuma pusing biasa..” Shania
tertunduk.

“Jangan bilang kalo-“

“Hah?” Shania memotong Jaka.

Jaka terdiam sejenak.

“Kamu belum makan ya?” Tanya Jaka sambil menaikkan alis sebelah kirinya.

“Hehehe.. hari ini belum..”

“Aduh, Shania! Wajar kalo gitu mah..” Jaka menepuk jidatnya.

“Maaf, aku buru-buru jadi lupa sarapan..” Shania tertunduk.

“Nanti, pas kita udah nyampe Jakarta, kita baru cari tempat makan ya? gimana?” Pertanyaan itu hanya mendapat anggukan dan senyuman tipis dari Shania.

“Kamu tidur aja dulu, Shan. Istirahat sebentar, nanti aku bangunin kalo udah nyampe..” Jaka tersenyum dan lagi-lagi mendapat anggukan pelan dari Shania.

*Skip

Obrolan panjang membuat perjalanan Bandung-Jakarta jadi tak terasa. Jaka mencari rumah makan untuk mengajak teman-temannya makan terlebih dahulu.

“Jak, lu mau nraktir?” Seru Mike.

“Husshh.. engga. Liat nih..” Jaka menunjuk kearah Shania yang tampak masih tertidur dengan musik yang ter-setel melalui headsetnya.

“Shania belum mam, Raz?” Tanya Andela.

“Hehehe.. iya Ndel.” Jaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Traktir dong, Jak.” Kelpo ikut berseru diikuti Mike yang mengajak Kelpo tos.

“Yaudah, aku kabarin Bobby sama Viny ya, Zaq?” Elaine bertanya.

“Iya, Len. Suruh mereka kesini dulu aja,” Jaka tersenyum.

Mereka telah sepakat untuk makan terlebih dahulu. Jam menunjukkan pukul 14.25, Jaka yakin tak akan terlambat karena posisi mereka juga dekat dengan bandara.

“Shan?” Jaka menepuk lengan Shania pelan.

“Ehh? Iya?” Shania terbangun.
“Ayo, kita makan dulu..”

“Hoaamm… kita udah di Jakarta, Zaq?” Shania bertanya.

Jaka mengangguk.

“Kamu ga laper?” Tanya Jaka sambil menaikkan alis sebelah kirinya.

“Hahaha.. engga, tapi udah demo nih..” Mereka berdua bergerak masuk, menyusul teman-temannya yang sudah terlebih dahulu masuk mencari tempat duduk.

Sementara itu,

“Bob, Elaine bilang mereka makan dulu..” Lapor Viny kepada Bobby.

“Mereka makan dimana?”

Viny pun memberi tau detail
tempatnya.

“Kita kesana aja..” Viny berkata pelan.

“Oke, Kamu laper juga kan?” Bobby tersenyum.

Viny mengangguk.

“Hahaha.. sama lah, aku juga. Bentar lagi nyampe nih..” Viny terus menatap Bobby yang tampak santai itu. Entah, mungkin Viny mulai menyukai Bobby.

Akhirnya mereka sampai. Mereka berdua mulai memasuki restoran tersebut.

“Tuh, disana tuh..” Tunjuk Viny.

“Eh, Iya.” Bobby segera berjalan kearah posisi duduk teman-temannya itu, sementara Viny membuntuti dari belakang.

“Yo, what’s up, brother?”

“Wow, Bobby!” Sambut Mike heboh.

“Hai legend..” Berbeda dengan Mike yang langsung berdiri, Kelpo masih duduk dan hanya tersenyum lebar kearah Bobby.

“Yo, Bob. Legend ga akan kesesat di kota sekecil Jakarta.” Jaka menahan tawa.

Mereka tos.

“Hahaha.. bisa aja dah.” Bobby mengambil posisi duduk disebelah Shania dan Kelpo.

“Viny, kamu bawa novel ga?” Tanya Elaine kepada Viny yang mengambil posisi duduk disebelah Mike dan Andela.

“Bawa, Len. Ini nih salah satunya..” Viny mengambil salah satu judul novel yang ia bawa.
Mike yang dari tadi memperhatikan Elaine disebelah kanannya dan Viny disebelah kirinya, merasa penasaran dengan salah satu judul yang tampak menjadi daftar novel yang Viny bawa.

“Itu boleh liat, Vin?” Pinta Mike.

“Ini, Car? Kalo ini-“

“Mike..” Mike tersenyum.

“Ehh, maaf Mike. Kalo ini novel favorit aku pas menjelang UAS. Seru ceritanya..” Viny menunjukkan.

“Hmm.. drama romance ya?” Tebak Mike.

Viny mengangguk sambil tersenyum
lebar.

“Eh?!” Mike terdiam kala melihat senyuman dan tatapan Viny yang begitu fokus menangkap pandangan mata Mike. Sebuah tatapan serius yang terlihat santai.

“Mike, lu bawa DSLR ga?” Pertanyaan Kelpo sukses memecah lamunan Mike.

“Ehh, Po? Engga..”

“Gue bawa, Po.” Bobby menjawab.

“Ini mas, mba. Selamat menikmati..” Pesanan mereka telah datang.

“Selamat makan semua!” Seru Mike menirukan gaya anak kecil.

“Mickey gemesin huuu..” Elaine mengacak-acak rambut Mike.

“Pomade-nya luntur tuh.. hahaha..” Timpal Kelpo tertawa.

Semuanya pun tertawa.

“Shan?” Jaka memanggil Shania pelan.

“Iya?” Shania menoleh.

“Makan yang banyak ya.. harus semangat, oke?” Jaka tersenyum lebar kearah Shania. Tentu dibalas oleh Shania dengan senyuman khasnya yang begitu menggetarkan raga siapa saja. Bahkan juga berlaku kepada Jaka yang sangat sering melihat senyuman itu.

*Skip

Mereka sudah bergerak meninggalkan ruang tunggu.
“Mike!” Teriak Jaka yang mencari Mike ke toilet.

“Iya Jak?”

“Cepet! anak-anak udah pada naik semua..”

“Udah boarding?” Tanya Mike bingung.

“Iya, cepet..” Mereka bergerak cepat.

Akhirnya mereka memasuki pesawat.

“Wihh.. di sayap lagi nih..” Mike menyenggol bahu Jaka.

“Paan sih, suka banget lu.. hahaha..” Jaka tak bisa menahan tawanya.

“Itu Razaqa sama Mike!” Teriak Elaine melapor kepada Shania yang duduk diseberangnya.
“Nyi, kamu dimana?” Tanya Kelpo.

“Hmm.. aku disebelah Oscar. Eh, Mike maksudnya..” Viny yang baru saja memasukkan ranselnya menunjuk kearah kursi kosong di sudut jendela sebelah kiri.

Barisan pertama dari kiri yaitu Viny, Mike, Elaine. Kedua di sebelah kanan yaitu Shania, Jaka, Bobby. Sementara, Kelpo dan Andela berdua di belakang.

“Mike, aku takut.” Elaine menggengam tangan kanan Mike.

“Jangan khawatir ya, sayang. Gapapa kok.” Mike menatap Elaine dalam. Anggukan pelan dari Elaine menunjukkan dia percaya kepada sang kekasih.

Viny tak memperhatikan hal yang barusan terjadi didepan matanya. Ia
memutuskan untuk mendengarkan musik.

“Maaf, mba. Jaringan data-nya mohon dinon-aktifkan selama penerbangan.” Himbauan dari pramugari kepada Viny.

“Iya, terimakasih mbak.” Jawab Viny seraya tersenyum kepada sang pramugari tersebut.

“Vin?” Panggil Mike pelan.

“Ya, Mike?” Viny menoleh.

“Dengerin apa tuh?” Mike tersenyum.

“Hehehe.. musik-musik ringan aja sih, ya kaya The Beatles, Coldplay, gitulah..”

“Headphone-ku di ransel nih.. boring juga ya..” Mike melanjutkan.
Viny hanya tersenyum dan kembali fokus pada musiknya sambil melihat ke luar jendela pesawat.

“Seneng, Shan?” Jaka menatap Shania.

“Hehehe.. melebihi seneng, Raz. Makasih ya..” Shania tersenyum begitu manis.

“Syukur deh, kalo kamu seneng. Ga perlu makasih atuh, enjoy ya!” Jaka memegang tangan Shania.

“Aku istirahat ya? ngantuk juga..” Pamit Shania dilanjutkan dengan anggukan setuju dari Jaka.

“Udah aman, Jak?” Bobby menahan tawa.

“Hahaha.. udah tuh.”

“Gue denger, Fuuto udah bebas, Jak.”
Bobby memulai obrolan.

“Fuu udah dibebasin? berapa tahun sih?” Jaka heran.

“Gatau juga tuh, statusnya aja gue ga ngerti..” Bobby menaikkan kedua bahunya.

“Gue kepikiran pas Gilang nyelakain anak SMA lain itu loh..” Jaka mengingat.

“Jangan bilang kalo-“

“Kalo?”

“Pemikiran kita sama.” Bobby menatap Jaka serius.

“Balas dendam?” Jaka menebak.

Bobby mengangguk.
“Kok gue ga kepikiran ya?” Jaka mengacak-acak rambutnya.

“Daftar kelas XI udah liat?” Tanya Bobby lagi.

“Belom.”

“Kabarnya, Rendi bakal masuk.” Bobby sukses membuat Jaka terdiam.

“Re-Ren..di?” Jaka gelagapan.

“He’s joined.” Lanjut Bobby lagi.

“Sialan!”

“Kenapa, Jak?” Tanya Bobby lagi.

“Kita lupain soal ini dulu. Yang jelas, gue curiga Gilang kali ini gantiin Iman..”

“Wilman? Gilang tangan kanannya
kan?” Tanya Bobby lagi.

“Lu kumpulin anak IPS lainnya, ini waktunya IPA-IPS kelas XII rekrut anak-anak..” Perintah Jaka yang hanya dibalas dengan anggukan dari Bobby.

Obrolan di barisan kedua terus berlangsung. Bobby dan Jaka terus bercakap-cakap soal bahaya yang menunggu SMU48.

Lain halnya di barisan belakang, Kelpo dan Andela mengobrol dengan seorang yang cukup ramah disebelah mereka.

“Jadi, kamu ke Bali sendiri?” Tanya Andela kepada gadis itu.

“Iya, kalian sama temen-temen ya?”

“Iya, mereka didepan.” Balas Kelpo.
“Kamu suka travelling?” Tanya Andela.

“Iya, feeling aku bagus soal Bali. Mungkin ini bakalan jadi pengalaman baru, karena biasanya aku pergi ke Bali bareng keluarga terus.” Gadis bernama Veranda itu tersenyum.

“Ohh.. asik dong, hehehe..” Lanjut Andela.

Sementara itu, Kelpo mengeluarkan novel yang sejak tadi ia selipkan.

“Kamu suka Sherlock Holmes?” Ve bertanya antusias.

“Cuma suka beberapa seri kok, Veran-“

“Panggil Ve aja.” Ve tersenyum.

“Kamu suka, Ve?” Kini Andela yang bertanya.
“Aku penggemar Sherlock Holmes!” Ve tersenyum dan obrolan itu resmi dimulai.

*Skip

Kurang lebih 2 jam mengudara, informasi mengenai pesawat yang sudah pada tahap landing membuat semua pengunjung menghirup nafas lega.

“Shan, bangun Shan.” Jaka membangunkan Shania.

“Iya, Raz? Udah landing?” Shania masih setengah sadar.

“Iya, Shan, udah.” Jaka tersenyum.

“Syukur deh,” Shania menegakkan kepalanya yang menyandar di bahu Jaka.
“Len, nanti jangan ada barang yang ketinggalan ya.” Mike mengingatkan Elaine.

“Siap, pak!” Elaine tersenyum girang.

Mike membalas senyuman itu dan menoleh ke sebelah kirinya.

“Viny?”

“Ehh, Iya?” Viny tersadar dari lamunannya.

“Kok ngelamun?” Mike tersenyum.

“Hehehe.. gapapa kok. Ga nyangka aja, dulu selalu dilarang kalo mau kemana-mana sama papa mama. Sekarang udah bisa pergi sendiri.” Lagi, Senyuman lebar Viny begitu menusuk Mike.

“Hahaha.. keren deh!” Mike
mengacungkan jempolnya.

*Skip

Pesawat sudah benar-benar mendarat. Perlahan, satu per satu penumpang meninggalkan pesawat.

Mike yang bangkit terakhir melihat seorang gadis yang tampak tak asing di matanya. Lebih tepatnya, di hidupnya. Gadis itu berlalu begitu saja, tampak hanya membawa rfv;/

anselnya dan begitu fashionable.

“Casual euy.” Batin Mike tercengang.

“Mike, gamau turun?” Viny menepuk pundak Mike.

“Eh iya, Vin?”

“Elaine udah keluar tuh.” Viny
tersenyum.

“Oh iya, maaf.” Mike bangkit dan membantu Viny mengambilkan ranselnya juga.

Bobby juga tampak belum berdiri dari kursinya. Viny berjalan menuju pintu keluar. Sementara, Mike menghampiri Bobby dan duduk disebelahnya.

“Yo, Bob? gamau turun?”

“Hahaha.. nyamanan disini, Mike.” Bobby santai.

“Hahaha.. masih rame juga tuh.” Mike melirik kearah penumpang yang masih sabar menunggu satu per satu untuk keluar.

“Ayo deh, ntar kita balik ke Jakarta lagi deh.” Bobby bangkit dan berjalan membututi Mike.

Bobby dan Mike mencari yang lainnya.

“Itu mereka!” Tunjuk Bobby.

Kelpo melambai-lambaikan tangannya.

“Gokil si Epo, hahaha..” Mike tertawa, diikuti Bobby.

“Gue, Kelpo, Bobby ama Elaine nungguin barang dari bagasi.” Instruksi Jaka.

“Aku duduk disitu ya, Zaq?” Viny menunjuk kearah tempat duduk disudut kanan.

“Iya, Vin.” Jaka menyetujui.

Shania mengangguk setuju.

“Yo wes, ayo Viny.” Andela menarik tangan Viny dan Shania.

“Gue ke toilet ya, Jak.” Pamit Mike lalu menghilang begitu saja.

Disisi lain, Jaka yang baru saja meng-aktifkan ponselnya segera membuka pesan-pesan dari Michelle.

“^^udah nyampe nih, Michelle! :D” Pesan dari Jaka yang tentunya diketik dengan penuh kebahagiaan.

“Wihh… asik! aku udah didepan nih!” Balasan cepat dari Michelle.

“Tunggu ya!”

“Kamu pake baju apa?”

“Aku pake sweater coklat tua, ama joggerpants khaki.” Balas Jaka lagi.

“Oke deh, aku tunggu ya :D” Pesan itu hanya di read Jaka, sambil tersenyum
melihat pesan tersebut.

“Oke, udah semua?” Mike muncul tiba-tiba.

“Koper gue belom, Mike.” Balas Kelpo.

“Jangan-jangan koper lu dibuang orang, hahaha..” Mike tertawa.

“Ga lucu.” Balas Kelpo malas.

“Caranya, kamu siksa si Mike itu, baru lucu.” Celetuk Elaine sambil menatap Mike sinis.

Jaka, Elaine dan Kelpo tertawa bersamaan.

*Skip

Mereka mulai bergerak keluar. Begitu mengejutkan, Michelle telah berdiri sambil tersenyum lebar kearah
rombongan Razaqa.

“Razaqa! Shania!” Michelle berteriak dan menghampiri mereka semua.

“Chel, kangen kamu!” Shania dan Michelle berpelukan.

“Razaqa..” Michelle hendak mendekat.

“Eh?” Jaka mundur tampak menghindari pelukan Michelle.

Suasana canggung pun menyelimuti mereka.

“Aduh, kok gue ngehindar sih!” Batin Jaka kesal.

“Ehh, Ini ya yang namanya Michelle?” Mike mencairkan suasana.

Michelle tersenyum.
“Salam kenal ya, semuanya..” Michelle sedikit membungkuk.

“Jadi, ini Mike Oscar, ini Kelvin, ini Andela, ini Elaine, ini Viny, dan itu Bobby.” Jaka memperkenalkan teman-temannya satu per satu.

“Aku inget sama Kelvin, Andela, dan Oscar.” Lanjut Michelle.

“Kamu udah lama nunggu?” Tanya Jaka lagi.

“Ahh.. ga terlalu kok, ayo kita langsung kerumah. Pasti capek, jadi bisa istirahat dulu, terus langsung makan malam..” Michelle menuntun rombongan tersebut.

Tampak 2 mobil Michelle disiapkan untuk menyambut teman-temannya itu.
Mike segera menarik Jaka.

“Jak, Gila! ga salah liat gue?! Dia kaya ya?” Mike kagum.

“Iye, bokapnya aja pengusaha besar.” Jaka membalas.

“Anjeg! enak nih!” Seru Mike lagi.

“Udeh ah, norak lu-_-” Jaka malas.

Mereka pun bergerak meninggalkan Bandara Internasional Ngurah Rai tersebut.

Mereka dibagi menjadi 2 mobil. Mobil pertama ada Michelle, Jaka, Shania, Kelpo dan Andela. Mobil kedua ada Viny, Bobby, Elaine, Mike.

Obrolan menuju rumah Michelle cukup seru. Mike begitu senang dan terkesan norak saat pak sopir menjelaskan
daerah-daerah yang mereka lewati. Di mobil pertama, Michelle terus melontarkan pertanyaan seputar SMU48 hingga kegiatan non-akademis mereka masing-masing.

Kedua mobil itu telah memasuki pekarangan rumah Michelle. Pekarangan yang luas dan juga rumah yang begitu besar dan megah menyapa para rombongan.

“Kalo gini, kita gausah pergi kemana-mana. Di rumahnya aja udah enak.” Bobby yang duduk didepan menoleh kebelakang, menatap teman-temannya sambil menahan tawa.

Perlahan, mereka turun dan segera memasuki rumah Michelle dari pintu depan.

“Oke guys, kita baginya gimana, nih?” Michelle tampak bingung untuk mulai
membagi.

“Kami pake 2 kamar aja, Chel.” Usul Jaka.

“Ehh, jangan. Nanti kalian sempit-sempitan. Ada 4 kamar kosong nih.” Michelle menunggu usulan lainnya.

“Sama pasangan masing-masing aja gimana? Hahaha.” Usul gila dari Mike.

“Ihh.. kamu.” Elaine menjewer Mike.

“Aduh.. aduh.. sakit bek, sa-sakit.” Rintih Mike memegangi telinganya.

Elaine melepaskan jewerannya.

Semuanya pun tertawa.

“Gila, sadis banget-_-” Mike memasang mimik konyol lagi.
“Hahaha.. udah gini aja. Razaqa sama Bobby dibawah, Kelvin sama Oscar dibawah, Elaine sama Andela diatas, Viny sama Shania juga diatas. Aku juga diatas.” Usul Michelle yang cukup brilliant.

“Tapi, boros kamar ga, Chel?” Kelpo tidak enak.

“Hahaha.. engga kok.” Michelle santai.

“Udah, kami cowo-cowo pake satu kamar aja, Chel. Yang di belakang itu gede kamarnya, tinggal tambah kasur aja.” Jaka menunjuk kearah kamar menuju dapur belakang.

“Hmm.. yaudah kalo kalian maunya gitu, tapi kalo mau pake 2 kamar gapapa kok. bener gapapa.” Lanjut Michelle.

“Sip, Cele. Nanti gue ama Kelpo ambil
kasur tambahannya dari mana?” Tanya Mike santai.

“Ptakk!” Kelpo menjitak kepala Mike.

“Apaan oy?-_-” Mike malas.

“Lu manggil ga sopan jir-_- nama dia Michelle, asal panggil aja.”

“Emang tadi gue manggil apa?” Tanya Mike polos.

“Cele-_-” Lanjut Kelpo lagi.

Jaka, Bobby, Michelle dan lainnya hanya memperhatikan sambil menahan tawa.

“Ya mending lah, iya ga, Le? daripada Lele.” Seru Mike lagi.

Semuanya tertawa sejadi-jadinya, termasuk juga Michelle.

“Hahaha.. udah, buat cowo-cowo ambil kasur dari kamar di sebelah tangga aja. Cewe-cewe bisa di atur nanti diatas ya?” Semuanya pun mengangguk setuju.

“Oke, abis ini kita makan malam ya.. (:” Michelle berkata diikuti senyuman dari yang lainnya.

“Asik!! Makan!” Seru Mike yang segera mendapat jitakan kedua dari Kelpo.

*Skip

Makan malam selesai. Jam 08.40 WIB.

“Belom diubah?” Seseorang memecah lamunan Jaka yang kini sedang duduk melihat pemandangan malam Bali dari lantai 2 rumah Michelle.

“Gitu lah, Po.” Balas Jaka diikuti Kelpo
yang duduk disebelah Jaka.

“Ga nyangka liburan kali ini bisa ke Bali bareng kalian.” Kelpo tersenyum sambil ikut menghirup tenangnya angin malam di kota Denpasar.

“Dari bandara kesini jauh juga ya.. hahaha..” Jaka tertawa pelan.

“Besok kita ke pantai yok?” Ajak Kelpo.

“Gausah lu bilangin, kita udah pasti kesana dengan sendirinya, Po. Hahaha..” Jaka terus merilekskan dirinya.

“Lu udah denger soal Putaw?”

Jaka mengangguk pelan.

“3 pasukan lagi, Jak?”

“Nope, gue biarin mereka yang
selesaiin sendiri.” Kini Jaka tertunduk.

“Mereka? Iman diganti ama?”

“Mungkin Gilang.” Kelpo tampak shock.

“Hah?!”

“Cuma Gilang tangan kanan Iman yang paling setia dan yang paling Iman percaya.” Lanjut Jaka lagi.

Kelpo diam sejenak dan mulai setuju dengan pendapat Jaka.

“Kita biarin mereka, kita bergerak saat?” Pertanyaan yang cukup sulit.

“Hmm.. saat semuanya mulai lupa kalo masih ada ‘SMA48’ yang sangarnya tetap sama, dengan julukan lama..” Jaka tak menyelesaikan kalimatnya.

“SMU48.” Kelpo melengkapi kata-kata
Jaka.

Jaka mengangguk pelan.

Kelpo menceritakan Jaka tentang gadis yang ia temui selama penerbangan tadi. Entah mengapa, Kelpo merasakan bahwa gadis itu begitu menarik dan extraordinary. Mungkin hanya satu-satunya didunia.

“Oh ya? Namanya siapa?” Jaka mulai penasaran.

“Kalo ga salah, Veranda. Dia suka dipanggil Ve.” Kelpo mengingat-ingat.

“Namanya bagus…” Puji Jaka pelan.

“Namanya siapa nih?” Mike muncul dari belakang.

“Ehh, si Saurus ikut-ikutan aja.” Kelpo menatap Mike malas.

“Hahaha.. udah Po, kita tidur yok.” Jaka berdiri dan hendak pergi menjauh.

“Yah.. Yah.. ga asik nih, kasih tau dulu siapa nih..” Mohon Mike penasaran.

“Au ah, tanya ama Kelpo.” Jaka mengangkat tangannya.

“Po, kasih tau dong.”

“Soal cewe, bawel lu ah..” Kelpo terus dihadang Mike.

“Siapa? ceritain gue juga.”

“Misi ah-_- lu kan dah ada Elaine.” Kelpo menerobos Mike.

“Ga seru lu pada ahh-_-” Mike malas.

Malam itu berakhir. Satu yang mereka sadari, bahwa pulau yang mereka pijak
beda dari yang tadi pagi mereka pijak, menandakan kawasan mereka kini benar-benar jauh dari rumah mereka masing-masing.

“Saya bukan pembunuh!. Siapapun yang bergabung ke dalam suatu perang, maka gugur bukanlah momen yang perlu kerabat mereka permasalahkan. Dia yang mulai! dan dia memaksa saya untuk menyelesaikan!” – Rahmad Narutora Fuuto

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s