Cahaya Kehidupan : Aku Seribu Cahaya, Part 33

* Pesawat komersil penerbangan perdana dari bandara internasional
melesat mulus ke angkasa. Bandara ramai oleh suara tepuk tangan.
Presiden pun ikut bertepuk tangan, dan juga pembantu-pembantunya.

Dhee tidak berada di bandara itu, tidak menghadiri acara akbar
tersebut. Tidak berdiri di sebelah presiden, meskipun ia lebih dari
layak mendapatkan posisi itu. Dhee sedang duduk menatap jalanan di
balik jendela kaca, berada dalam mobil yang melesat menuju Ibukota.
Pergi lagi dari kota masa kecilnya.

Pandangannya kosong menatap jalanan kota yang sangat ramai. Hari ini
adalah hari kemenangan. Bayang-bayang gigi kelincinya terlintas jelas
di pikirannya. Sangat disayangkan gigi kelincinya tidak lagi
bersamanya.

Dhee memutuskan pergi menjauh. Tidak kuat lagi berada di rumah itu.
Setiap kali berada disana, semua kenangan itu membayang-bayangi
kepalanya. Hari ini Dhee memutuskan pergi ke Ibukota. Delapan tahun
sejak pertemuan pertama mereka di dalam bus kota.

Dhee menjual rumah itu. Dhee ingin melupakan semua kenangan yang
menyesakkan. Dhee menelan ludah, hari ini ia pergi. Entah kapan ia
akan kembali. Atau mungkin tidak akan pernah kembali lagi.

Dua jam kemudian, Dhee tiba di Ibukota. Menatap menara-menara Ibukota,
gedung-gedung pencakar langit. Bukan main, delapan tahun berlalu.
Semua berubah mencengangkan.

Mobil itu melesat lagi, menuju pemberhentian pertamanya di Ibukota.
Rumah singgah, apakah masih ada disana? Sayang, tidak ada yang tersisa
disana. Jangankan anak-anaknya, rumah lain di sekitar sana pun sudah
tidak ada. Tempat itu jadi lahan kosong belasan hektar.

Dhee turun dari mobilnya, bertanya-tanya dalam pikirannya. Sejenak
berdiri menatap sekitaran sana, kosong. Dhee menelan ludah, ia
sempurna kehilangan jejak anak-anak rumah singgah. Kehilangan semua
kenangan berharga itu.

Mobil itu melesat lagi, menuju pemberhentian berikutnya. Meski baru
menemukan lokasi rumah singgah sudah rata dengan tanah, Dhee tidak
cemas sedikit pun apakah pemberhentian berikutnya masih ada atau
tidak.

* Dhee turun dari mobilnya, menenteng gitar milik Epul. Sampai
sekarang hanya ada dua benda berharga miliknya yang selalu ia bawa
jika ia pergi lama. Gitar Epul dan potongan kertas janji masa lalunya.

Kontrakan itu tidak berubah sedikit pun. Lihatlah, jauh disana rumah
Reza masih berdiri kokoh. Namun sayang, rumah itu sudah tidak terurus.
Garis kuning polisi masih ada disana, rusak dibeberapa bagian. Rumah
itu kotor sekali, delapan tahun tidak ada yang berani kesana.

Namun tempat pertama yang akan ia datangi bukanlah kontrakan itu,
bukan juga rumah Reza. Melainkan lapangan sunyi yang akan ia datangi
terlebih dahulu.

Lapangan itu masih seperti dulu, tidak mengalami banyak perubahan.
Hanya saja rerumputan dann ilalang makin tinggi, semakin sejuk saja
disana. Sayang, jarang ada orang yang berkunjung kesana.

Senja datang menjelang, Dhee sudah terbaring di tengah lapangan sunyi
itu. Duduk-duduk sejenak, nanti malam ia akan berkunjung ke kontrakan
itu. Menemui ibu pemilik kontrakan, hanya sekedar silaturahmi saja.

Dhee memetik gitarnya, memainkan beberapa lagu kesukaan Reza dan gigi
kelincinya. Dulu ia selalu sendiri. Delapan tahun berlalu, ia kembali
sendiri. Hidup ini seperti lelucon.

Waktu berlalu begitu saja, kini sudah malam. Dhee memutuskan
berkunjung ke kontrakan itu. Menemui pemiliknya, bertanya apa kabar?
kemudian sejenak basa-basi. Dan akhirnya pergi lagi entah kemana.

Dhee mendatangi rumah pemilik kontrakannya dulu, seraya menyandang
gitar milik Epul di bahunya. Tiba disana, Dhee langsung saja mengetuk
pintu rumah pemilik kontrakan tersebut. Hanya sekedar silaturahmi
saja.

Tok… Tok… Tok…
Pintu dibuka, keluarlah pemiliknya.
“Hey, apakah kau pengamen yang dulu?” tanya seorang ibu-ibu, rupanya
ibu itu masih mengenali Dhee.
“Apa kabar?” Dhee tersenyum

Ibu itu melotot melihat penampilan Dhee. Memperhatikannya dari ujung
kaki hingga ujung kepala.
“Kau mengamen dengan baju ini?” tanya ibu-ibu itu, Dhee hanya
tersenyum saja sebagai jawabannya.

“Kau pasti pengamen terkeren yang pernah ada.” ibu itu berusaha
bergurau, Dhee hanya tertawa kecil saja.
“Ibu hampir tidak mengenalimu. Lama sekali ibu menunggumu berkunjung
kembali kesini. Lama sekali menyimpan surat itu. Sebentar, ibu
ambilkan.” ibu itu bergegas hendak mengambil sesuatu.

Dhee menyeringai, surat? Lama menyimpannya? Untuk siapa? Inilah yang
tidak diketahui Dhee. Ketika amplop kuning lusuh itu diberikan,
seketika hatinya mendadak bisa menduga-duga. Reza, pasti ada
kaitannya.

Dhee membuka amplop tersebut. Benar saja, itu dari Reza. Pesan yang
tertulis di kertas lusuh itu tidak panjang : “Dimana rencana itu
bermula, disitulah rencana itu berakhir. Seribu cahaya masih ada
disana. Kau adalah sahabatku, Rusdi. Gunakanlah seribu cahaya itu
dengan baik. Aku selalu mengawasimu, Rusdi.”

Dhee melipat surat itu, tanpa sepatah kata pun pergi dari sana membawa
suratnya. Ibu itu terdiam, menatap aneh. Lalu kembali masuk rumah,
menutup pintunya rapat-rapat. Dhee berjalan santai menatap langit
malam, ia tahu persis apa maksud surat itu.

Dhee berjalan menuju rumah Reza. Merusak garis kuning polisi. Sempurna
tidak ada yang berani memasukinya selama delapan tahun terakhir ini.
Seribu cahaya ada disana?

Malam ini, sudah saatnya mengambil seribu cahaya itu. Dhee tersenyum
menatap langit. Berjalan santai menuju kamar rahasia di rumah Reza.
Mencari sesuatu, tas milik Reza.

Setelah beberapa menit mencari, akhirnya tas itu ditemukan. Lihatlah,
betapa banyaknya lumut disana. Dhee perlahan membuka resletingnya,
menelan ludah.

Dhee berdiri gemetar memegangi benda itu. Apa yang dulu pernah Reza
katakan? Tidak ada yang meninggalkan teman. Rupanya ini maksudnya,
berlian seribu karat ia tinggalkan disini. Mengaku telah membuangnya
pada polisi.

Dhee tidak pernah berpikir dimana berlian itu selama ini. Dia dulu
berpikir mungkin sudah hilang entah kemana. Berita-berita menyebutkan
berlian itu tidak pernah ditemukan. Reza tidak pernah membuka mulut.
Hanya mengaku telah membuangnya di lantai 48. Itulah yang membuat
kontroversinya makin rumit.

Berapa harga berlian itu? Puluhan milyar? Dengan berlian ini, besok ia
akan membangun sesuatu. Kesedihannya harus dilalui dengan banyak
aktivitas. Rumah Nabilah sudah jauh tertinggal ratusan kilometer.
Kenangan itu sudah terkubur bersama wajah cantik gigi kelincinya.

“Aku akan membangun gedung tertinggi untukmu.” Dhee menyeringai
mengingat kata-katanya dulu.
“Inilah saatnya mimpi itu terwujud.” Dhee perlahan meneteskan air matanya.

* Dua bulan kemudian, Dhee mulai membangun gedungnya. Ia menghadirkan
Gre dan puluhan mantan pekerja lamanya. Ia membutuhkan kepala mandor,
Gre pilihan terbaiknya. Ia tidak pintar, tapi dapat dipercaya.

* Setahun berlalu sejak pembangunan proyek pribadi milik Dhee di lahan
bekas rumah singgah. Malam ini Dhee sedang duduk termenung di lantai
tertinggi konstruksi gedung, menatap langit malam.

“Bapak!” panggil seseorang.
“Kemari, Gre.” Dhee berkata pelan, tanpa menoleh.
“Apa bapak tidak ingin menikah lagi?” Gre berkata pelan, menelan ludah.

Gre amat dekat dengan Dhee. Tahu semuanya, termasuk tentang istrinya.
Gre tahu seharusnya ia tidak ikut campur urusan Dhee, si pemilik
gedung.
“Maaf, pak.” Gre merasa bersalah.

“Tidak apa-apa, seharusnya aku menemukan pasangan baru. Tapi bagiku
hidup hanya sekali, mati sekali, maka jatuh cinta juga hanya sekali.
Ia sudah pergi membawa sepotong hatiku. Tidak masalah, ia hanya
nenek-nenek.” Dhee tertawa mengingat hal itu, Gre pun ikut tertawa
lebar.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s