Sebuah Cinta dan Kenangan, Part16

“Za..” Ucap Shani.

“Ya” Jawab Erza kembali, Shani menengok ke arah Erza.

“Ya ampun !” Kaget Shani.

“Hidung kamu berdarah…” Ucap Shani panik.

“Hah ? Hidung gue Berdarah ?” Batin Erza dengan mengelap hidung dengan tangannya.

“Kamu ga papa za ?” Shani khawatir melihatnya.

“Udah ga papa kok, palingan cuma mimisan biasa”

 

Shani bediri dari duduknya dan menggenggam tangan Erza.

 

“Ayo !” Ajak Shani sambil menarik pelan tangan Erza.

“Kemana ?”

“Masuk lah, isirahatin badan kamu”

“Tapi ini langit malamnya lagi bagus nih. Sayang kali kalo dilewatin”

“Lebih baik ga liat langit malam kali ini daripada aku harus kehilangan malam tiap hari tanpa kamu kalo kamu kenapa-napa” Shani memandang Erza dengan tatapan memohon.

Erza tersenyum, “Baiklah. Tapi mikirnya ga usah sampe situ juga, aku ga bakal kemana-mana kok”

“Aku kan cuma khawatir aja. Udah, ayo masuk”

 

Erza menuruti apa yang Shani suruh dengan tangan yang di genggam Shani dalam langkahnya.

 

SKIP

 

Hari kelima para siswa siswi tingkat 11 berada di desa tersebut. Sudah banyak aktifitas yang dibuat oleh para guru pembimbing. Mulai dari game dengan tema membantu kegiatan warga sekitar, menanam sayur mayur hingga memetik daun teh dipagi buta.

 

Banyak keseruan dan juga pengalaman baru yang didapat. Semua dilakukan secara bersama-sama saling bantu sama lain. Dihari kelima kali ini mungkin adalah hari yang akan cukup melelahkan. Hari dimana para murid yang sudah tergabung dalam kelompok akan mengikuti game cari jejak.

 

“Kita disini harus lebih menekankan pada ketelitian dan juga saling menjaga satu sama lain” Ucap Erza.

“Kita tidak tau ada rintangan apa saja di jalur nanti” Lanjut Erza.

“Jangan ada yang lengah. Nanti kita bukan berada di jalan perkampungan melainkan pada jalan hutan” Ucap Anin.

“Harus hati-hati juga, kalo kita mengabaikan mungkin kita bisa terpisah” Ucap Yogi.

“Untuk perempuan sebaiknya berjalan didepan anak laki-laki dan untuk laki-laki, kita harus jagain perempuan ? Oke semua anggota baik itu laki-laki maupun yang perempuan” Terang Erza.

“Apa ada pertanyaan ?” Semua menggeleng.

“Penjelasan singkat ini kita tutup. Dengan ini kita tinggal nunggu giliran kelompok kita bergerak. Apa semua sudah siap ?” Tanya Erza.

“Siap !” Jawab serempak dengan anggukan yakin.

 

Permainan dimulai dengan satu persatu kelompok. Setiap sepuluh menit setelah kelompok pertama maju, maka kelompok kedualah yang maju dan seperti itu seterusnya. Dikarenakan kelompok yang ada lumayan banyak, makan dari pihak guru pembimbing memberikan waktu sampai kesesokan harinya.

 

“Ya, sekarang kelompok dari Anindhita Rahma silahkan untuk memulainnya” Ucap salah satu guru.

“Peralatan yang mungkin dibutuhin buat bermalam udah semua apa belum ?” Ucap Erza memastikan.

“Udah lengkap semua za” Jawab Elaine.

“Baiklah kalo sudah lengkap. Selamat berpetualang” Ucap guru tersebut.

“Awal langkah sebaiknya kita sambil berdoa” Ucap Erza berjalan di belakang.

 

-oOo-

 

“Hosh…hosh…hosh…” Suara hembusan nafas terdengar lelah.

“Kita udah jalan berapa lama sih ?” Tanya Sinka.

“Sekitar…hampir 2 jam” Balas Shani.

“Buset lama juga. Gue capek banget nih” Eluh Sinka.

“Yaudah kita istirahat aja dulu” Ucap Erza duduk bersandar pada pohon dengan kaki diluruskan.

“Minum mana ? Minum…” Ucap Sinka.

“Brisik ah sin. Nih minumnya” Shani memberikan sebotol air.

 

“GLEK ! GLEK ! GLEK !”

 

“Tu anak udah kaga minum berapa lama sih ?” Gerutu Rezki pelan.

“Ahh ! Leganya tenggorokan gue” Ucap Sinka.

“Nih za” Shani juga memberikan minum untuk Erza.

“Ah iya” Erza menerimanya.

“Kakinya beneran udah sembuh ?” Tanya Erza sambil melihat ke arah pergelangan kaki Shani.

“Udah kok”

“Ga sakit ?”

“Emang kalo sakit mau gendongin lagi ?”

“Hmm…ga, berat sih” Canda Erza.

“Ihh…nyebelin banget kan” Shani mencubit lengan Erza.

“Curang nih mainnya cubitan mulu” Erza mengusap-usap lengannya.

“Biarin. Wlee…”

“Sakit…” Ucap Erza dengan ekspresi wajah dibuat-buat.

“Sakit ya ? Maaf deh” Shani memegang lengan Erza dan…

“CUPS !” Shani mengecup pelan lengan Erza.

“Masih sakit ga ?” Tanya Shani.

“…masih…”

“Tapi disini yang sakit” Ucap Erza memegang pipinya.

“Ihh…itu mah maunnya aja”

 

“Woi ! Kalo pacaran jangan terang-terangan gitu. Ga sadar apa ada yang sendiri” Ucap Ardi.

“Jomblo panas” Ucap Erza.

“Lengan kamu sakit juga ga ?” Tanha Elaine pada Yogi.

“Iya nih sakit” Elaine dan Yogi ikut memanas-manasi.

“Brisik lu pada. Kalo mau pacaran di jurang sono, jangan disini” Ucap Anin.

“Pengen dikulitin kali” Ucal Sinka menambahi.

“Ampun” Ucap keempatnya.

 

Namun semua malah tertawa bersama atas candaan kecil yang mereka buat sendiri.

 

“Dadar guling, dadar guling” Ucap Sinka tiduran diatas rumput.

 

“Kenapa lagi tuh bocah ?” Ucap Rezki.

“Kumat kesambetnya kali” Jawab Anin.

 

Shani dan yang lain hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Sinka.

 

“Udah jam 2 siang lebih ya” Ucap Erza.

“Iya. Gimana ? Mau lanjut sekarang apa bentar lagi” Tanya Elaine.

“Gimana sin ?” Tanya Erza pada Sinka yang sedang tiduran di tanah bercampur rerumputan.

“Oke, kita lanjut” Jawab Sinka berdiri.

 

Semua kembali melanjutkan perjalanan dengan formasi yang sama. Laki-laki berjalan dibelakang dan perempuan berjalan didepan.

 

Langit biru cerah dengan bayangan cahaya Matahari yang menyilaukan kini telah digantikan oleh cahaya bulan dengan ditemani taburan bintang dilangit malam. Udara kian terasa semakin menusuk tulang. Semua berkumpul di depan tenda yang sebelumnya telah dubuat sebelum malam datang.

 

“Jam berapa shan ?” Tanya Erza.

“Jam 8 malam za” Balas Shani.

“Ga kerasa udah malam ya, perasaan sore belum lama”

“Kurang kerjaan banget lu za, mikirin gituan” Celetuk Rezki.

“Lagian gue mau ngerjain apa di hutan kaya gini ?”

“Ngupas kulit pohon kan bisa”

“Ngupas otak lu baru iya”

“Hahaha…”

 

“Sayang ga bawa gitar” Ucap Rezki didepan api unggun.

“Lu kira kita sengaja mau kemping apa sampe bawa-bawa gitar” Sewot Ardi.

“Kan lumayan buat obat dingin”

“Obat dingin tuh ini kali. Iya ga nin ?” Sela Sinka.

“Yoi” Balas Anin.

 

Anin dan Sinka sedang menikmati mie rebus hangatnya.

 

“Yaelah makan mulu, pantesan pipi kelebihan muatan” Ucap Ardi.

“Biarin yang penting anget dan yang pasti….

“Kenyang” Ucap Anin dan Sinka bersamaan.

 

“Nin” Panggil Ardi, Anin menengok.

“Ini garis akhirnya nanti dimana sih ?”

“Tempat awal kita mulai atau lebih tepatnya kembali ke penginapan” Jawab Anin.

“Anjir, kalo gitu kita ngapain susah-susah cuma buat muter lagi. Lebih baik tadi kita balik aja”

“Lu inget ini apa ?” Ucap Anin menunjukan lembaran gambar kecil yang diperoleh saat perjalanan.

“Kalo kita balik tanpa ngikutin jalur yang udah ditentuin maka kita juga ga bakal dapet kaya gini dan itu artinya kalo kita langsung balik kita bakal ketahuan” Jelas Anin.

“Oke” Singkat Ardi dengan santainya.

“Apaan ? Ngomong banyak jawab singkat -_- ” Gerutu Anin dengan mengunyah.

“Udah malam, matiin ini api unggun terus masuk ke tenda” Ucap Erza.

“Emang kertas apa sih nin ?” Tanya Erza.

“Photopack member-member Ekebi” Balas Anin seenaknya.

“Weh ! Kalo itu, mending kita cari sekarang aja terus kita ambil semua jangan sisain buat kelompok lainnya” Ucap Erza antusias.

“Ya bukanlah. Dasar wota, vvibu lu” Ucap Anin melempar ranting kecil ke arah Erza.

“Gue bukan vvibuuu !” Balas Erza sambil merebut sendok yang Anin pegang dan mengambi satu suapan mie instan Anin.

“Ihh…itu punya gw, Erzaaa…” Anin merebut kembali sendoknya.

“Hahaha…” Semua tertawa.

“Kalo udah matiin api unggunnya terus tidur” Ucap Erza.

 

Suara hewan malam terdengar dimana-mana. Semakin malam suasana semakin sunyi ditambah lagi sedang berada di hutan. Hembusan angin malam menggerakan ranting dan dedaunan pohon terdengar dengan jelasnya.

 

Shani terbangun dari tidurnya. Ia merasakan ingin buang air kecil. Berada ditenda diantara Anin, Elaine dan Sinka, Shani mencoba membangunkan salah satunya.

 

“Nin…nin” Shani menggoyangkan pelan tubuh Anin.

“Hmm..apa ?”

“Temenin buang air kecil”

“Minta temenin Elaine aja…

“Len…ilen, bangun…”

“Ada apa sih shan ?” Jawab Elaine dengan mata masih tertutup.

“Temenin buang air kecil yuk”

“Ngantuk ah, sama Sinka aja” Lagi-lagi Elaine menolak.

“Sin..sinka, sinka…” Shani mencoba membangunkan Sinka namun Sinka tetap tidur tanpa merespon.

“Ini anak tidur kaya mati, dasar kebo” Gerutu Shani.

 

“Haaahh…” Shani menghela nafas.

 

“Terpaksa kayaknya harus keluar sendiri deh”

 

Keadaan diluar sangatlah gelap dengan dingin yang menusuk tulang. Shani berjalan menjauh dari tenda dengan ditemani senter pada ponselnya sebagai alat penerang.

 

Cukup jauh Shani mencari tempat yang dirasa aman, Shani berhenti.

 

Setelah selesainnya Shani buang air kecil, Shani terlihat bingung dengan tempatnya ia berada saat itu.

 

“Tadi arah mana ya ?” Shani mencoba menengok ke segala arah.

“Semua gelap. Pikir tadi kayaknya jalan ga jauh-jauh amat deh kok bisa lupa gini ya. Mana semua gelap lagi”

“Kayaknya tadi arah situ deh”

 

Shani melangkahkan kakinya, namun baru beberapa saat melangkah cahaya senter dari ponselnya mati. Hal tersebut membuat Shani panik, takut dalam kegelapan hutan.

 

“Aduh, gimana nih ? Hp pake batrai habis segala lagi” Panik Shani.

 

Shani terdiam dalam paniknya beberapa saat.

 

“Nin…Sin…Len…Teman-teman…” Panggil Shani namun pelan karena takut.

“Kalian dimana ?”

“…za, aku takut…”

 

Shani mencoba memberanikan diri berjalan kembali tanpa cahaya dari ponselnya. Shani berulang kali menengok saat bunyi-bunyi asing terdengar.

 

“Duh…tadi arahnya kemana ?!”

 

“SLASH !” Sebuah cahaya senter menyorot kearah tepat pada wajah Shani.

 

“I…itu siapa ?” Shani benar-benar takut.

 

Cahaya senter mulai mendekat ke arah Shani. Shani mulai melangkah menjauh.

 

Saat Shani berjalan, orang dengan senter ditangannya juga ikut berjalan. Saat Shani berlari, ia pun ikut berlari. Saat Shani berhenti, ia juga ikut berhenti. Keadaan tersebut membuat Shani merinding takut.

 

Shani berusaha lari kembali dengan power yang lebih dicepatkan. Namu saat Shani berlari dikarenakan kondisi sekitar gelap Shani tak mlihat jika didepannya terdapat batu hingga Shani tersandung.

 

Cahaya senter mulai mendekat ke arah Shani yang tergeletak diatas tanah. Orang dengan senter telah berada tepat didepannya, Shani melihat kearahnya dengan mata yang berkunang-kunang sebelum Shani bener-benar pingsan.

 

Keadaan didalam tenda. Elaine terbangun dari tidurnya.

 

“Shani belum balik ?” Pikir Elaine.

“Nin, Sin, bangun !”

“Ada apa sih ?” Tanya Anin dan Sinka.

“Shani belum balik”

“Tadi katanya mau buang air kecil, gw kira sama lu len” Ucap Anin.

“Gue kira malah sama lu atau sama Sinka”

“Ga kok”

“Jadi ?”

“Shani ilang ?” Ucap mereka bertiga bersamaan.

“Shani ilang !” Mereka langsung panik dan keluar tenda untuk membangunkan para anak laki-laki.

 

“Woi ! Gangguin orang tidur aja lu pada” Sewot Ardi.

“Iya, ada sih ?” Tanya Rezki.

“Ada apa len ?” Tanha Yogi juga, tinggal Erza yang masih tertidur.

“Shani…”

“Shani apa ?”

“Shani ilang !” Saat Erza mendengar kata tersebut Erza langsung terbangun.

“Shani ilang ? Kok bisa ?”

“Ga tau, tadi katanya mau buang air kecil tapi sampe sekarang belum balik-balik” Ucap Elaine.

 

Erza keluar dari tenda sambil membawa senternya.

 

“Gue ikut za” Ucap Yogi.

“Kita juga ikut”

 

Mereka mencari Shani bersama-sama ditengah gelapnya malam. Udara pagi hutan dataran tinggi menyiksa badan. Kondisi gelap bertambah saat jarak pandang mulai tebatas akibat kabut pagi yang mulai muncul.

 

Pencarian hingga pagi hari mereka belum juga menemukan Shani ataupun tanda-tanda hilangnya Shani. Tanpa sadar mereka mencari hingga sampai di pos penjaga hutan yang didalamnya terdapat juga salah satu guru pembimbing yang ditugasi ditempat tersebut.

 

Jarak pos sampai tempat awal atau penginapan kurang lebih hanya 100 meter.

 

“Pak, ada siswi yang hilang” Ucap Anin.

“Apa kamu yakin ?” Tanya Guru.

“Saya yakin pak, semalam katanya mau buang air kecil tapi ga balik-balik”

“Hilangnya semalam ?”

“Saya sudah jaga hutan ini puluhan tahun dan baru kali ini saya dengar ada anak hilang. Hutan ini aman pasti dia baik-baik saja, cuman kesasar. Lebih baik kita cari” Ucap bapak Penjaga hutan.

“Sebentar pak…” Sela guru pembimbing.

 

Semua anggota Osis yang sudah sampai duluan dipenginapan disuruh untuk datang ke pos. Berniat untuk mencari Shani bersama dengan anak-anak lainnya dan juga para guru.

 

Setelah menunggu beberapa waktu, anak-anak dan juga beberapa guru lainnya datang menghampiri. Tak terkecuali sang ketua Osis, Aldo.

 

“Siapa yang hilang” Tanya guru lainnya yang baru datang.

“Shani pak”

“Hilang kapan ?”

“Sekitar jam 1 an pak”

 

Saat Anin dan lainnya sedang ditanyai soal hilangnya Shani, Aldo pergi menghampiri Erza yang terduduk dengan posisi menunduk diatas bongkahan kayu.

 

” -_- ” Erza menatap Aldo ikut duduk disampingnya.

“Kan udah pernah gue bilang, Shani biar gue aja yang jagain” Ucap Aldo.

“Kalo saja lu nurutin omongan gue, Shani pasti ga bakal hilang kaya sekarang kan ?” Tambah Aldo.

“Gue bisa jagain Shani lebih baik dan jauh lebih baik daripada lu”

“Lu putusin Shani dan biar gue yang jadi pacarnya” Aldo terus berbicara.

 

Erza berdiri dan dengan cepatnya Erza mengangkat kedua kerah baju Aldo.

 

“Gue ga bakal lakuin itu dan jangan pernah macam-macam” Ucap Erza keras hingga yang lain mendengar hingga memisahkan mereka.

“Apa yang kalian lakukan hah ?” Bentak salah satu guru.

“Kita pikirkan hal ini dengan kepala dingin, bukan kaya gini caranya”

“Udah, kalian tenang dan kita cari Shani sama-sama” Lanjut si guru.

“Percuma juga kalo mau cari Shani dihutan, ga bakal ketemu” Ucap Aldo.

 

Ucapan Aldo membuat emosi Erza kembali muncul.

 

“Lu ngomong apa hah ?!” Erza kembali mengangkat kerah Aldo.

“Udah !” Bentak si guru kembali.

“Apa maksud kamu bilang seperti itu Aldo ?” Tanya si guru.

“Saya cuma ngomong yang sebenarnya pak, kalo kita percuma aja cari Shani di hutan, Shani ga bakal ketemu di sini. Saya ta….”

 

“BUG !”

 

Sebelum Aldo menyelesaikan perkataannya, Erza menonjok perut Aldo hingga tersyngkur.

 

“Arrgghhh…”

 

 

 

 

*bersambung…

 

Wali Murid : Shanji bukan Shanju

 

 

 

 

Iklan

3 tanggapan untuk “Sebuah Cinta dan Kenangan, Part16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s