Cahaya Kehidupan : Aku Pertanyaan Ketiga, Part 32

* Esok sore, sehari menjelang hari raya. Istrinya dimakamkan,
bersisian dengan dua permata mereka. Lihatlah, kedua nisan itu tanpa
nama. Pemakaman itu sudah usai lima belas menit lalu.

Gerimis membasuh kota, payung-payung hitam dikembangkan. Undangan
mulai beranjak pergi. Mobil-mobil perlahan meninggalkan jalanan.
Pemakaman itu semakin sepi.

Satu per satu pelayat, teman dekat, relasi bisnis, pekerja, dan
tetangga beranjak pulang. Memeluk Dhee, memegang bahunya, berbisik
ikut berduka cita. Gre yang terakhir pergi.

Gre hendak menyentuh bahu Dhee, tapi Gre terlalu gentar. Kesedihan
yang terpancar dari wajah itu bahkan cukup untuk membuat siapa saja
yang melihatnya tertunduk dalam. Gre menelan ludah, perlahan mundur
menjauh meninggalkan Dhee yang hanya ditemani gerimis yang tak kunjung
deras ataupun reda.

Duduk, Dhee menatap kosong nisan istrinya. Lututnya kotor, terbenam di
lumpur. Dhee sama sekali tidak terisak. Semalaman ia menangis tanpa
suara, air matanya telah habis tak tersisa.

Lihatlah, sekarang umurnya 34 tahun. Melewati enam tahun bersamanya.
Enam tahun yang indah bersama gigi kelincinya. Wajahnya yang sendu di
bus kota, tatapan pertama mereka.

Wajahnya yang biasa saja saat bertatapan langsung dengannya. Membalut
tangannya dengan lembut. Dia mencengkeram ujung-ujung kaca demi
mendapat perhatiannya. Wajahnya yang panik saat dikepung oleh beberapa
pemuda berandalan.

* “Kau tahu, semua orang pasti pernah kehilangan sesuatu yang
berharga. Ada yang kehilangan sebagian tubuh mereka, kehilangan
pekerjaan, kehilangan anak, orang tua, benda-benda berharga, kekasih,
kesempatan, kepercayaan, nama baik, dan lain-lain.” orang berwajah
menyenangkan menyentuh lembut bahu pasien yang tersungkur dalam.

“Semua kehilangan itu menyakitkan. Apapun bentuk kehilangan itu, cara
terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan
dari sisi yang ditinggalkan. Penjelasanmu amat rumit jika kau
memaksakan diri memahaminya dari sisi kau sendiri, yang ditinggalkan.
Kau harus memahaminya dari sisi istrimu, yang pergi.” sambung orang
berwajah menyenangkan.

Orang berwajah menyenangkan itu menghela nafas prihatin, senyap
seketika. Pemuda berumur 34 tahun dan pasien berumur enam puluh tahun
itu masih tersungkur di samping kuburan.

“Ketahuilah Dhee, malam itu Tuhan tidak sedang menghukummu. Malam itu
saat takbir hari raya, Tuhan justru sedang mengirimkan seribu malaikat
untuk menjemput istrimu. Sama seperti Ulung, malam itu ia menjemput
takdir terbaiknya.” orang berwajah menyenangkan ikut duduk disebelah
pasien berumur enam puluh tahun.

“Malam itu istrimu dijemput oleh seribu malaikat bertasbih yang turun
dari surga. Malaikat yang sayapnya saja mampu menutupi seluruh
permukaan langit. Istrimu menjemput penghujung yang baik, bahkan
tersenyum saat maut menjemputnya.” orang berwajah menyenangkan
tersenyum menatap wajah pasien berumur enam puluh tahun, sementara
pasien itu masih tertunduk dalam.

Karnaval malam takbir mulai memenuhi jalanan. Gerimis sudah berhenti
sejak lima menit lalu. Digantikan kemeriahan, suara beduk
dipukul-pukul. Galon-galon air didendangkan.

“Sebelum kita menuju pertanyaan berikutnya, ada sebuah rahasia kecil
milik istrimu yang harus kau tahu. Aku akan memberitahukannya, karena
ini terkait dengan dua pertanyaanmu berikutnya.” orang berwajah
menyenangkan kini menatap kuburan Nabilah.

“Kau tahu siapa Nabilah sebenarnya? Siapa keluarganya? Bagaimana masa
lalunya?” orang berwajah menyenangkan bertanya, pasien itu hanya
menggeleng pelan.

“Kau ingat pertama kali kalian bertemu? Di dalam bus kota, sehari
setelah eksekusi mati Reza. Kau tahu kenapa kalian bisa bertemu?
Karena malam itu dia hadir di eksekusi hukuman gantung Reza, sebagai
satu-satunya kerabat Reza. Nabilah adalah rekan kerja Reza,
bersama-sama mencuri sedikit kekayaan orang lain. Kemudian
membagikannya pada orang yang kurang beruntung. Mereka berdua tidak
memiliki keluarga, hanya berdua saja.” orang berwajah menyenangkan
merengkuh bahu pasien disebelahnya.

Karnaval hari raya di jalanan kota semakin ramai. Pasien itu terdiam,
memeluk lemah kuburan istrinya. Dia mungkin tidak akan pernah tahu
nama yang akan diberikan istrinya untuk kedua anak perempuan mereka.
Semua ini seharusnya dipahami dari sisi yang pergi.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s