Cahaya Kehidupan : Aku Anak Kedua Part 31

Tiga tahun berlalu, waktu melesat bagai pesawat lepas landas di
bandara. Pekerjaan Dhee berjalan lancar. Bandara itu sejak dua tahun
terakhir memasuki tahap pengerjaan fisik.

Tiga tahun berlalu tanpa terasa. Tanpa terasa? Tidak juga, tiga tahun
itu juga Dhee dan istrinya menunggu. Istrinya cemas jika ia tidak bisa
hamil lagi. Khawatir kesempatan itu tidak akan datang lagi.

Beruntung saat mereka mulai merencanakan banyak terapi hamil,
penantian itu berakhir. Pagi itu istrinya mendadak mual-mual.
Kegembiraan melingkupi keluarga muda itu, istrinya kembali hamil.

Kali ini Dhee jauh lebih siap, belajar dari pengalaman. Mereka banyak
berkonsultasi. Dhee mengurangi separuh aktivitasnya di lokasi
konstruksi. Berangkat lebih siang, pulang lebih awal.

Dhee punya waktu banyak menemani istrinya merajut pakaian-pakaian
bayi. Berbelanja keperluan calon bayinya. Duduk-duduk di taman kota
menatap indahnya langit sore. Tiduran di teras rumah menyaksikan
indahnya rembulan.

Kabar gembira bagi Dhee. Konstruksi bandara internasional itu sudah
mencapai 90% jadi. Dhee mendapat banyak pujian dari anggota
konsorsium. Dua bulan lagi presiden dan petinggi negara dari Ibukota
akan meresmikannya langsung. Itu berarti Dhee dan istrinya ikut
berdiri diantara rombongan hebat tersebut.

* “Ada apa? Apanya yang sakit? Jangan bercanda!” Dhee bertanya panik.
Istrinya jatuh terduduk, meringis kesakitan. Mulutnya mendesah
tertahan, seluruh tubuhnya mengejang seketika. Mata indahnya terpejam
menahan sakit.

Darah! Darah berceceran membasahi daster istrinya. Dhee berlari
kesetanan mengeluarkan mobil dari garasi. Menggendong istrinya,
gemetar memasukkan tubuh istrinya ke dalam mobil.

“Sakit!” istrinya mendesah tertahan.
“Bertahanlah gigi kelinciku, aku mohon!” mobil Dhee memecah keramaian kota.
Menerobos palang parkiran rumah sakit. Patah dua, terpental entah kemana.

Dhee berteriak-teriak di depan Instalasi Gawat Darurat. Memanggil
perawat yang berjaga. Dhee membopong istrinya, memaksakan diri
berlari. Tangannya basah oleh darah. Perawat-perawat bergegas
menyiapkan kereta dorong.

Ya Tuhan, apa maksud semua ini? Lagi? Bukankah ia sudah menyiapkan
semuanya? Belajar dari pengalaman? Berhati-hati? Berangkat lebih
siang? Pulang lebih awal? Kenapa semuanya terjadi lagi?

Setengah jam berlalu, dokter keluar dari ruangan. Dokter itu hendak
berbicara, tapi Dhee menerobos masuk ke dalam ruangan istrinya tanpa
merasa perlu mendengar ocehan sang dokter. Dhee ingin melihat kondisi
istrinya. Sang dokter hanya menatap aneh Dhee saja, kemudian
mengikutinya masuk ke dalam ruangan tersebut.

Dhee mendekat perlahan. Istrinya melihat Dhee dengan tatapan aneh.
Tatapan kesedihan yang amat dalam.
“Aku takut.” istrinya menangis.
“Jangan takut.” Dhee berusaha menenangkannya.

“Aku sungguh takut.” istrinya menangis sesenggukan.
“Tenang saja, aku akan melindungimu dan mengusir orang-orang yang
membuatmu takut.” Dhee tersenyum.

Dhee sungguh keliru. Masalah ini sangat rumit, tidak seperti yang ia
bayangkan. Untuk seseorang yang akan pergi, terkadang pertanda itu
datang seketika. Itulah yang dilihat istrinya beberapa detik lalu.
Saat pertama kali menatap suaminya mendekat

“Jangan menangis, aku mohon!” Dhee ikut menangis.
“Apakah aku cantik?” istrinya berusaha tersenyum.
Dhee menelan ludah. Pertanyaan apa itu? Dhee pelan mengangguk.

“Secantik apa aku?” istrinya mulai terlihat pucat, Dhee memegangi
tangan istrinya.
Tangannya dingin? Dhee mengangkat kedua telapak tangannya.
Mengacungkan sepuluh jarinya, tersenyum.

“Kau tahu, aku ingin selalu terlihat cantik dimatamu. Aku ingin selalu
terlihat cantik!” istrinya terisak lagi.
Dhee menelan ludah, mengusap lembut air mata di lesung pipi istrinya.

Ada yang tidak beres, ada yang keliru. Tetapi Dhee masih belum
menyadarinya. Takdir apa itu? Adakah yang berbaik hati menjelaskannya?
Ketentuan apa itu? Ia akan kehilangan separuh rembulannya.

* Bayi itu tidak selamat. Dhee yang baru menyadarinya tersungkur
dalam-dalam. Dokter yang baru saja menjelaskannya menelan ludah.
Perawat-perawat menyeka ujung mata. Mereka baru saja kehilangan
permata mereka, lagi.

Entah apa sebabnya mendadak istrinya kembali menangis, terisak dalam.
Amat memilukan menatap wajah lembut itu menangis. Kesedihan yang amat
dalam terpancar setelah mendengar berita bahwa bayinya tidak bisa
diselamatkan.

“Jangan menangis, aku mohon. Semuanya akan baik-baik saja.” Dhee
menelan ludah, bingung kenapa istrinya menangis.
“Apakah kau ikhlas padaku?” istrinya bertanya tersenggal di sela-sela tangisnya.

“Jangan menangis.” Dhee membujuk.
“Apakah kau ikhlas padaku?” istrinya bertanya lagi, mata itu semakin redup.
Ya Tuhan, mendadak Dhee tersadar. Itu kalimat terakhirnya. Jemari Dhee
seketika bergetar menggenggam jemari istrinya.

“Jangan… kumohon, jangan pergi!” Dhee berseru panik.
“Apakah kau ikhlas padaku?” suara istrinya melemah, nafasnya juga melemah.

“KUMOHON!!! JANGAN PERGI!!!” Dhee berteriak panik.
“JANGAN PERGI!!!” Dhee gemetar merengkuh tubuh istrinya.
“Apakah…” istrinya menatap lemah, menunggu jawaban.

Tidak ada harapan lagi. Benar-benar sudah berakhir. Dhee terpana,
menggigit bibir. Mata itu hendak menutup. Istrinya masih menunggu
jawaban. Dhee mengangguk pelan. Dia sungguh ikhlas, anggukan itu
sangat mahal harganya. Mata indah istrinya perlahan menutup. Pergi
untuk selamanya.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s