“When You Romance Love Blossom In Spring” Part 2 (Bag.1)

( Bagian 1 : Monotone atau Berwarna )

 “Waahh!!! Ada mayat!!!” teriak Okta.

“Tunggu! kau ini kenapa sih?!” terlihat seorang pemuda dengan wajah lebam berdarah di bagian kepala karena lesatan bola baseball yang dipukul Okta.

“Aduh! Sakit nih!” erang pemuda itu mengambil kacamatanya yang terjatuh.

“Oh… ternyata Reza. Kukira itu tadi mayat hehe. Syukurlah bukan orang lain yang ada di sini” ucap Okta mandekati pemuda itu yang sedang celingukan kebingungan.

—o0o—

p1

Reza’s P.O.V.

 

“Loh? Okta? Sejak kapan kamu di sini?” Aku terheran lalu melihat ke arah kaca di sebelah pianonya.

“Hah! Kacanya pecah!? Kenapa semua yang kulihat jadi berwarna merah?!” Aku itu bangun dan panik.

“Kau memecahkannya lagi ya? Padahal kami baru saja memperbaiki jendelanya!” Aku itu tampak marah.

“Pemukul yang hebat bisa dilihat dari berapa banyak kaca yang telah ia pecahkan” Okta tersenyum puas.

“Kau sudah terlalu sering memecahkannya! Pelan-pelan sedikit kenapa!” marahku.

“Aku hanya mau memukul dengan pukulan tingkat ‘A’ ku!” Okta tak kalah denganku..

“Soalnya ini musim panas terakhirku di kelas XI. Aku pasti akan memenangkan Triple Crown!” jelas Okta

“Sudahlah, yang penting aku harus membersihkan ini dulu” Aku bangkit dan mulai menyapu pecahan kaca itu dibantu dengan Okta. Ya kalau bukan karena Okta, pasti nggak bakalan kayak gini jadinya.

“Aku yang harus meminta maaf lagi ya? Laporannya juga akan kutulis” Aku hendak mengambil pecahan kaca dengan tanganku.

 

CTASSS!!!

 

“Bahaya tau!” Okta menepis tanganku yang hendak mengambil pecahan kaca itu.

“Bagaimana kalau tanganmu terluka!”.

“Nggak masalah kok” ucapku

 

CEKREK!!!

 

“Tetanggan, teman masa kecil. Di mana pun itu kalian selalu berasama. Pasangan suami istri yang mesra?” Ucap seorang lelaki yang iseng memfotoku dengan Okta yang sedang berpegangan tangan.

“Kami bukan suami istri!!!” ucapku dengan Okta bersama marah.

—o0o—

“Dasar kepala sekolah itu. Bikin kita pulang satu jam lebih lama dari biasanya gara-gara mecahin kaca doang!” ucap Okta memeriksa lokernya

“Untung cuma satu jam. Lagian kamu sih pake mecahin kaca ruang musik segala. Terjebak 1 jam denganmu bikin aku ketiban sial” ucapku membenahi seisi lokerku. Okta hanya cemberut menanggapinya.

“Sudahlah, lagian sama-sama salah juga kok lu berdua” ucap Rizal yang entah dari mana datangnya.

“Lagian juga kenapa lapangan sama sekolah disatuin lajur arahnya” Okta mengelak

“Kalo gue sih nggak papa. Soalnya banyak cewek-cewek yang nyemangatin gue dari jendela” Rizal membayangkan saat dia bermain sepak bola disoraki para gadis di sekolah.

“Iya, iya deh. Nggak usah ngobrol terus. Ini kita kapan pulangnya?” tanyaku

“Entar dulu dong! Aku laper nih” ucap Okta

“Yaudah mending kita ke minimarket aja. Tuh kebetulah di deket jalan sini ada Lawson” usul Rizal

“Oke! Aku mau belis es krim di sana”.

Setelah itu, kami memutuskan untuk pergi ke Lawson. Yah karena Okta lapar dan minta beli es krim. Sifat kekanak-kanakannya keluar lagi batinku.

“Es krimnya enak! Aku beli banyak deh!” Okta bersemangat mengambil dan memakan es krim di tanganya.

“Tapi maaf ya Za soal yang tadi. Gara-gara aku, kamu jadi harus kena hukuman dan harus menulis surat permintaan” Okta meminta maaf padaku

“Ah nggak apa-apa. Bukan masalah kok” balasku

Kami berjalan melewati sebuah jembatan. Ya, seingatku ini merupakan jembatan tempat kami sering bermain dulu. Lompat dari ketinggian 10 meter untuk menceburkan diri ke sungai yang ada di bawah jembatan.

“Wah kalo lewat sini jadi inget masa kecil dulu” ucap Okta megingat-ingat masa kecil kita bersama.

“Hahaha iya nih. Kasian tuh si Reza lu jorokin di ketinggian 10 meter pas di jembatan” Rizal tertawa mengingat itu.

“Pas kelas 3 SD kan?” tanya Rizal meyakinkan pada Okta

“Iya, bener banget” balasnya

“Aku pikir aku akan mati -_-“ ucapku. Mau bagaimana lagi dulu waktu masih kecil aku sangat penakut. Okta dan Rizal malah nyuruh aku buat lompat dari ketinggian 10 meter. Lagian aku juga nggak bisa berenang, parah banget tuh anak berdua.

“Meskipun begitu aku sangat berterima kasih sama kamu Ta. Rasanya aku seperti punya kakak perempuan yang nakal hahaha” ucapku diselingi tawa.

“Ish kamu gitu ah” Okta cemberut lagi.

TING!!!

“Suara apaan tuh?” tanyaku.

“Bentar, itu suara HP gue” ucap Rizal.

“Wah!!! Gue dapet notif SMS dari Kinal nih! Duluan ya!” ucap Rizal bersemangat lalu pergi meninggalkan aku dan Okta.

“Cewek yang ke berapa?” tanya Okta padaku.

“Yang no.3” balasku.

“Emang apa sih kelebihan Rizal? Padahal payah begitu kok”.

“Tapi Rizal cowok yang baik” balasku tersenyum tipis.

“Dia itu musuh semua wanita!”.

“Kalau kamu gimana?” tanya Okta padaku

“Apa ada cewek yang kamu sukai?” tanyanya lagi

“Huh?” aku hanya tercengang mendengar pertanyaan itu

“Kemarin Melody bilang gini. Saat kau jatuh cinta dengan seseorang, semuanya akan terlihat berwarna. Setiap apa pun yang dilakukan orang yang kau cinta, semuanya akan terlihat berkilauan” ucapnya melihat langit sore hari saat kita pulang. Aku tersenyum tipis menanggapinya.

“Eng-enggak kok. Enggak ada cewek yang aku sukai kok” balasku

“APA?! Suram!!! Kita ini udah 16 tahun tau! Tapi nggak ada sama sekali kilauan di matamu” ucapnya kaget karena yang kuucapkan.

“Mataku emang nggak berkilau karena berwarna coklat kehitaman” balasku

“Hei, sebenarnya masa remaja itu masa-masa yang indah loh. Seharusnya matamu juga berkilauan karena masa remajamu yang indah” ucap Okta.

“Iya, matamu berkilauan Okta” ucapku melihatnya dan ia hanya terheran-heran.

“Dari matamu, aku yakin kalau segala sesuatu yang ada disekitarmu penuh warna” tambahku sambil melihat dalam mata Okta.

“Tidak sepertiku” aku mulai murung mengingat masa laluku yang sangat menyedihkan.

“Udahlah Za, kan sekarang ada aku. Ngomong-ngomong, kapan Ayahmu pulang?” tanya Okta diselingi berjalan.

“Hmm… mungkin sebulan atau dua bulan lagi” balasku.

“Kok lama banget ya?”.

“Ya karena pekerjaanya tergantung pada kebutuhan pelanggan”.

“Jika terjadi sesuatu dengan keluargaku, keluargamu selalu membantuku. Aku sangat berterima kasih” tambahku.

“Iya, lagian kita udah kayak saudara kok” ucapnya tersenyum.

“Kalau begitu sampai ketemu besok” pamitku.

“Iya, sampai ketemu lagi!” ucap Okta masuk ke rumahnya. Aku pulang ke rumahku yang ada di sebelah rumahnya Okta.

—o0o—

Author’s P.O.V.

 

Aku hendak masuk ke rumah tapi tunggu…

TUT…TUT…TUT…

Ponsel Okta berbunyi. Segera saja dia mengangkatnya

Hallo?”.

Ya, sorry-sorry aku lupa”.

“Tadinya aku ingin menanyakannya hari ini tapi aku lupa”.

“Iya, besok pasti akan kutanyakan”.

“Jangan khwatir, kalo aku yang minta dia pasti mau deh”.

“Iya, jadi jangan terlalu dipikirin. Bye!”.

Percakapannya telah berakhir.

Siapa orang yang ada di telepon itu?

—o0o—

Reza telah sampai di rumahnya. Dia perlahan membuka pintu rumahnya yang sudah cukup tua dari kayu jati yang kokoh itu. Perlahan tapi pasti terlihat ruang tamunya. Dia melanjutkan langkahnya ke sebuah ruangan. Ruangan yang berantakan sekali bak sebuah gudang. Penuh dengan barang-barang kuno, piano yang dipenuhi dengan debu, piala-piala kosong yang kotor, dan foto ibunya di tengah inti ruangan itu.

Tunggu! apa itu tadi piano?

Piala-paial itu juga?

Foto ibunya?

Reza memasuki ruangani itu sambil melihat ke arah foto ibunya

p4

“Aku pulang…

 

Ibu…”.

—o0o—

Reza’s P.O.V.

 

Keesokan harinya di sekolah…

p5

Semuanya sedang memperhatikan yang ditengkan guru sambil mencatatnya. Terlihat beberapa siswa yang mengantuk, mengobrol dengan temannya, dan juga mencatat. Tak terkecuali aku yang sedang mencatat. Aku teringat dengan yang diucapkan dengan Okta kemarin. Cinta? Orang yang dicinta? Semua yang berwarna dan berkilauan?

Saat aku bertemu dengannya, hidupku berubah…

Semua yang kulihat, semua yang kudengar, semua yang kurasakan

Segala hal di sekitarku mulai berwarna…”

p6

“Tapi bagiku…

p7

Bagiku semuanya terlihat monotone…

Seperti lantunan musik, seperti suara, seperti piano…” seketika aku teringat masa laluku yang suram.

Saat umurku 13 tahun di musim gugur…

Aku…

Tidak bisa memainkan piano lagi…

p8

-To Be Continued-

Created by       : Anonymous No Name

Twitter            : …^^ Akun Tidak Terdeteksi ^^…

-Author’s Note-

Karena beberapa pertimbangan akhirnya kuputuskan untuk melanjutan fanfiction ini. Di part 2 ini mungkin ada beberapa bagian. Tapi untuk bagian 2 di part 2 akan dirilis di bulan April seperti waktu datangnya musim semi. Akan kubuat ini lebih dari sekedar fanfiction. Pernah membaca Webtoon yang berjudul “Dice”? Bayangkan saja kalau aku ini adalah ‘X’. Permainannya adalah mencari tahu siapa jati diriku. Akan kuberikan clue di setiap part fanfiction ini. Bagaimana? Cukup menyenangkan? ^^ Permainan kita mulai… Terima kasih sudah membaca, bagi yang berkunjung sempatkan diri mengisi kolom komen,kritik,dan saran. Salam Tanpa Nama (*_*)

Clue                : Kita mulai dari hal yang umum terlebih dahulu. Karena blog ini merupakan blog fanfiction JKT48, kita mulai dari yang mudah. Oshi atau bisa dibilang member yang disukai. Oshiku Jessica Veranda ^^  

 

 

 

 

 

 

Iklan

3 tanggapan untuk ““When You Romance Love Blossom In Spring” Part 2 (Bag.1)

  1. Ya sorry aja kalo ini cuma ff copy paste. Tapi ke depannya bakalan ada perkembangan. Ini hanya unsur awalan saja tapi plot aslinya bukan seperti ini. Ditunggu saja, mohon maaf atas segala kekurangan ∆∆

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s