Cahaya Kehidupan : Aku Anak Surga, Part 30

Pukul sebelas, larut malam. Malam ini lagi-lagi ia pulang terlambat.
Beberapa hari setelah peresmian gedung, Dhee dipindahkan ke proyek
yang lebih besar, lebih menantang, dan tentu saja lebih sulit.
Pembangunan bandara internasional.

Istrinya pasti sudah menunggu di ruang tengah, duduk terkantuk-kantuk.
Rajutan di tangannya pasti berceceran diatas meja. Dhee menyeringai
tipis, tidak seharusnya ia sering pulang larut malam seperti ini.

Lima belas menit berlalu, ia telah sampai di depan rumah. Dhee
beranjak turun dari mobil, pelan melangkah menuju pintu. Mengeluarkan
kunci, mencoba tidak gaduh. Ia tidak mau membangunkan istrinya.
Perlahan melangkah masuk.

Istrinya tidak ada di sofa ruang tengah. Rajutannya berserakan di
meja. Mungkin istrinya sudah tertidur di kamar. Dhee tersenyum, meraih
rajutan kaos kaki untuk calon bayinya. Baru setengah jadi, bentuknya
lucu. Ada motif kelinci disana.

Dhee merapikan rajutan itu, melepas dasi. Menuju kamar, ternyata ia
keliru. Istrinya tidak ada di kamar mereka. Dhee menelan ludah,
dimana? Menuju dapur, tidak ada. Teras depan? juga tidak.

Dhee berlari menuju kamar mandi. Dan kakinya lemas seketika,
meneriakan nama istrinya. Lihatlah, tubuh istrinya tergeletak di kamar
mandi. Darah memenuhi lantai. Daster panjangnya basah kuyup oleh
darah. Dhee panik, wajah istrinya pucat membiru. Dhee gemetar
menggendong tubuh istrinya, dingin sekali.

Dhee mendesis panik, ia ketakutan. Berlari melewati ruang tengah.
Menendang pintu depan rumah, tidak merasa perlu untuk menutupnya lagi.
Bergegas memasukan tubuh istrinya ke dalam mobil. Lantas kesetanan
memacu mobilnya menuju rumah sakit.

“Bertahanlah, gigi kelinciku.” Dhee gemetar memacu mobilnya.
Entah sejak kapan tubuh istrinya jatuh pingsan di kamar mandi. Andai
ia bisa pulang lebih cepat, bisa menemani istrinya. Mungkin tidak akan
separah ini.

Dhee menggigit bibir, mobilnya menerobos palang parkiran rumah sakit.
Patah dua, mental entah kemana. Rusuh lima menit kemudian di Instalasi
Gawat Darurat.

Dokter terbirit-birit masuk ruang operasi. Suster yang tadinya
mengantuk langsung siaga seribu watt. Petugas parkiran ikut rusuh
bertanya siapa pemilik mobil yang telah merusak palang parkiran.

Apa maksud semua ini, Tuhan? Aku mohon, jangan sampai. Sudah lama
sekali pertanyaan-pertanyaan itu pergi. Tidak mengutuk langit lagi.
“Apakah kau akan tega sekali lagi merenggut kebahagiaan istriku?
Kenapa kau suka sekali mengambil kebahagiaan orang-orang baik?” Dhee
bertanya-tanya.

Dhee menghabiskan berjam-jam penuh tanya di lorong instalasi, duduk
cemas menunggu kabar istrinya. Lima jam telah berlalu, matahari terbit
dari ufuk timur. Apakah ia masih bisa menikmati pemandangan indah itu
bersamanya? Dhee masih cemas.

Tetapi hari itu Tuhan berbaik hati, istrinya tertolong. Dhee tertunduk
menatap wajah istrinya. Meskipun istrinya selamat, tapi bayinya tidak.
“Maafkan aku…” istrinya menangis tersedu-sedu.

“Akulah yang salah, seharusnya aku tidak pulang larut malam. Tidak
meninggalkanmu sendirian. Seharusnya aku menemanimu sepanjang hari.”
Dhee berbisik, menggenggam lembut jari-jemari istrinya.

“Bayinya sudah dikuburkan… perempuan!” Dhee menelan ludah, mencoba tersenyum.
“Padahal aku sudah menyiapkan nama untuknya.” istrinya terlihat lesu.

“Siapa?” Dhee bertanya.
“Ada, kamu tidak boleh tahu. Tapi sekarang lupakan saja. Mungkin nama
itu cocok untuk anak kedua kita.” Nabilah tersenyum, dan akhirnya
mereka berdua tersenyum.

* Enam bulan berlalu, kesedihan itu masih menyisakan jejak. Rajutan
itu terpaksa disimpan. Mainan bayi dimasukkan ke dalam kardus. Tempat
tidur bayi disembunyikan dalam gudang.

Malam ini langit tampak indah, rembulan bersinar menerangi sudut-sudut
bumi. Bintang membentuk ribuan formasi. Malam ini Dhee dan istrinya
sedang menatap langit malam.

“Kau tahu, sejak kecil aku suka sekali menatap langit. Entah itu sore,
atau pun malam. Aku selalu merasa damai menatapnya, merasa tenteram.”
Dhee berkata pelan.

“Langit selalu membuatku sejenak melupakan banyak masalah. Semakin
banyak masalah, maka semakin sering aku menatap langit. Mengadu
padanya, cahaya yang sungguh indah. Kau tahu, dua tahun terakhir
bersamamu aku tidak pernah merasa lagi perlu menatap langit!” Dhee
berbisik pelan, tersenyum.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s