Fiksi dan Fakta part 27

Cerita tentang Bobby yang sudah kembali ke ‘jalan-nya’ telah berakhir. Jaka terus menggeleng-gelengkan kepalanya karena Bobby tampak berhasil menggantikan posisi kakaknya.

“Perasaan classmeet kemaren aneh banget, gaada lomba futsal atau basket..” Mike kembali menghidupkan satu batang rokok lagi, sambil berdiri diluar dan membiarkan pintu geser kamar Kelpo terbuka.

“Classmeet kemaren gagal.. kelas XII gaada yang dateng..”

“Gue dateng sih, cuma nonton pas lomba drama..” Bobby ikut menimpali.

“Di aula ye? ‘classmeeting ter-aneh’, masa cuma 2 hari..” Mike terkekeh.

“Gue juga ga ngurusin program-programnya. Lagi fokus ke next project..” Jaka angkat bicara.

“Sumpah, drama-nya mayan sih.. tapi anak kelas X semua yang ikut..” Bobby melirik kearah teman-temannya

“Gue ada firasat buruk soal anak tahun baru nanti.. bakalan ke-ulang lagi.” Mike menghela nafasnya.

“Setidaknya, SMU 48 tetep bersatu.” Kelpo ikut menimpali.

Mike menggeleng-geleng.

“I’m afraid it’ll be more dangerous than before..”

“Maksud lu?!” Bobby menatap Mike dengan penuh tanda tanya.
Jaka hanya menoleh dan menatap tajam Mike.

“Pertama, sekolah kita bakal rusuh lagi.. Kedua, tawuran bakal dimulai lagi.. Ketiga, semua-“

“Udah!” Jaka memotong Mike.

Mike menatap Jaka penuh tanya. Viny hanya menatap 4 temannya itu, walaupun Bobby yang sebenarnya baru saja ia kenal.

“Kalian harus paham, gue udah capek ama keadaan kemaren-kemaren.. tahun ini ga akan ada lagi masalah begituan..!” Jaka meyakinkan.

“Lu harus realistis, Jak!” Bentak Mike cepat.

“Realistis dari segi apa? Gue ga mau lagi, Mike. Korban kemaren aja udah
ba-“

“Mereka yang jatuh adalah mereka yang mulai semuanya!” Potong Bobby cepat.

Semuanya terhenyak.

“Bob?” Kelpo mencoba mendapatkan tatapan Bobby yang melihat ke dinding didepannya.

“For 2 years.. gue bener-bener diluar kendali soal ‘Wilman’ itu..” Bobby tertunduk.

“Udahlah..”

“Gausah dengerin omongan gue diawal. Lu bener, Jak. Semuanya bakal baik-baik aja..” Mike mengakhiri.

Semuanya hanya saling menatap dalam diam. Mike terus menghisap
rokok yang telah dihidupkannya, membuat Viny terus bingung dengan Mike.

“Ehh, Viny. Jadi, kamu tinggal di Palembang dari kecil?” Bobby memecah keheningan siang itu.

“Eh? Engga, Bob.” Jawab Viny yang pecah dari lamunannya.

“Jadi?”

“Dia temen gue dari kecil, Bob.” Potong Kelpo sambil menaikkan alis sebelah kirinya.

“Ohh.. Tangerang juga..” Mulut Bobby berbentuk huruf ‘O’.

Viny mengangguk pelan.

“Apa yang terjadi diantara kalian?” Pertanyaan Viny sukses membuat baik
Jaka, Kelpo, Mike ataupun Bobby terdiam. Tenggorokan mereka terasa kering, dan lidah mereka membeku seketika.

“Vi-Vin.. Viny?” Jaka gelagapan.

“Aku cuma mau tau.. kalo gaboleh, maaf..” Viny tertunduk.

“Ehh.. Boleh kok..” Lanjut Jaka.

Viny memiliki sedikit harapan setelah Jaka menjawab.

“Sialan, what the shit answer?!” Gerutu Mike dalam hati.

“Darimana kita mulai ceritanya?” Kali ini, Viny menatap Jaka sambil tersenyum simpul.

“Emm..” Jaka melirik kearah teman-temannya. Nihil. Tak ada kode
sedikitpun. Semuanya tampak lemas dan tak mau membicarakan hal ini.

“Razaqa?” Viny melambaikan tangannya ke depan wajah Jaka.

“Ehh, Iya?” Jaka keluar dari lamunannya.

“Gimana?”

“Kamu bakal tau sendiri, Vin. Seseorang akan nyeritainnya nanti.” Ucap Jaka sambil tak mau menatap Viny.

Viny hanya tertunduk, menunjukkan ekspresi kecewa yang amat sangat.

“Eh, Viny, coba deh dengerin tentang pembahasan kami..” Entah mengapa, Bobby seperti giat membuka obrolan.

“Iya?” Tanya Viny mencari makna dari
kata-kata Bobby.

“Fiksi dan Fakta? 2 kata yang menarik bukan?” Pertanyaan itu dibalas anggukan dari Viny. Namun, dibalas tatapan tajam oleh yang lainnya.

“Kira-kira, kalo kamu denger kata ‘Fiksi’ dan ‘Fakta’, apa yang terlintas dipikiran kamu?” Lanjut Bobby. Kini, Kelpo dan Jaka sudah memahami akan kemana perginya kalimat-kalimat tersebut.

“Emm.. maksudnya?” Viny belum mengerti.

“Misalkan kamu denger seseorang teriak ‘Fiksi’ dan ‘Fakta’, apa yang terlintas dibenakmu?” Ulang Bobby.

“Fiksi itu fantasi, Fakta itu realita..” Jawab Viny mantap.

Bobby mengacungkan kedua
jempolnya.

“Gimana kalo 2 kata itu digabung?”

“Yin-Yang!” Sahut Mike cepat.

Semuanya menatap Mike yang tersenyum-senyum konyol.

“Bener tuh, Mickey..” Bobby mengacungkan jempolnya kepada Mike.

Kelpo dan Jaka hanya saling tatap, seperti takut akan respon Viny.

“Jadi, gimana menurut kamu, Viny?” Ulang Bobby.

Terus terang, Viny menyukai tatapan Bobby. Terlihat dari pipi Viny yang memerah dan dirinya yang tidak mau menatap Bobby dalam.
“Viny?” Tanya Bobby heran.

“Ehh.. ‘Fiksi dan Fakta’? Emm.. menurut aku, itu kaya 2 hal yang setara namun ga bisa disatuin..”
Semuanya memikirkan jawaban Viny. Perlahan, Bobby menunjukkan senyumnya yang mempesona itu lagi.

“Langit dan bumi, right?” Kelpo tersenyum.

“Hahaha.. keren. Menarik ga?” Tanya Bobby cepat.

“Lumayan sih..” Viny tertegun.

“Panutan kamu apa?” Bobby melanjutkan.

“Maksud kamu?”

“Panutan kamu..”
“Tuhan Yang Maha Esa lah..” Balas Viny masih bingung.

“Gimana kamu memandang Tuhan?” Bobby mulai terlihat keluar dari kesadarannya. Kelpo dan Jaka mulai risau, sementara Mike hanya memperhatikan.

“Segala-galanya.. pasti gitu..” Jawab Viny.

“Kamu yakin keberadaan Dia?” Bobby terdengar aneh.

“Pasti, Aku sangat ya-“

“Ntar dulu, Bob. Maksudnya apa?” Potong Kelpo yang mulai aneh.

Mike menatap Kelpo, sementara Jaka hanya melirik kearah teman-temannya.

“Keberadaan-Nya itu fakta. Namun, tak
ada satu pun dari kita yang pernah melihat wujud-Nya..” Bobby menjawab.

“Ga bisa lah.. tetep aja Tuhan itu ada, Bob.” Lanjut Kelpo tak setuju.

“Yang bilang ga ada siapa?” Bobby menaikkan alis sebelah kirinya.

“Lol.. so?” Jaka memotong.

Kelpo terdiam sejenak, mencoba mencerna maksud Bobby.

“If you have to ask, you’ll never know. If you know, you need only ask..” Bobby tersenyum.

“Helena Ravenclaw, Bob?” Kelpo tersenyum.

“The Grey Lady..” Viny berkata pelan sambil tersenyum simpul.
“Ahah! Potterhead?” Tembak Bobby yakin.

Viny mengangguk.

“Keren!” Teriak Bobby lalu tertawa lebar melihat keatas.

“Just same as me, Bob.” Kelpo menepuk pundak Bobby.

“So what went wrong?” Jaka menatap Bobby.

Bobby menggeleng.

“Viny. Get the point, now?” Bobby mengalihkan pandangannya kepada Viny.

Viny tersenyum sambil mengangguk pelan.

“Get it, Bob.” Mike mematikan
rokoknya, bergerak masuk ke dalam kamar dan menepuk pundak Bobby.

“Syukurlah..”

“Jadi, Tuhan itu bener-bener ada. Namun, kenapa kita tetep menyangkal keberadaannya saat kita ‘out of control’?” Mike memastikan.

Bobby mengangguk.

“Rare view, Bob? hehehe.. like an old jokes..” Jaka mengerti dan bangkit dari sofa-nya.

Viny hanya duduk dan bingung dengan maksud teman-teman laki-lakinya itu.

“Jokes lama tentang ‘Perubahan yang tak akan merubah masa lalu’?” Ucap Mike lagi.

“Brother, ini lelucon ter-jenius yang
pernah kita buat..” Kelpo tersenyum.

“Kebanyakan lelucon kita itu lebih dari lucu, tapi dibuat dipertengahan.” Bobby menatap semuanya satu per satu.

“Yang satu ini, pas semuanya udah selesai..”  Lanjut Bobby lagi.

“Lelucon yang akhirnya bisa di kenang, yo?” Mike terkekeh.

“Soal kekhawatiran kalian, gue harap ‘Fiksi’ dan ‘Fakta’ bakal terus jadi satu kalimat ‘F&F’.” Bobby kembali meneruskan.

Mungkin dengan cara ini, semuanya tak akan terbawa emosi. Namun, Viny kini melebihi bingung. Rasa bingung yang bercampur dengan keingintahuan dirinya.

“Jadi, menurut lu?” Kelpo menatap
Bobby.

“Ga sepantasnya gue ngelupain pola pikir kita..” Jaka menyesali ketidaksetujuannya di awal.

“Lu cuma gamau ada korban.” Mike melanjutkan sambil menepuk pundak Jaka.

“Kita semua selamat kemaren, gue sadar lu gamau kita berakhir kaya yang lain kali ini..” Kelpo menambahkan.

“Soal Satria, gue seneng kalian besuk dia..” Bobby tersenyum.

“Guys?” Jaka masih tertunduk.

“Yo, Jak?” Semuanya menatap Jaka.

“Jujur, kalian salah. Gue diselimuti rasa takut.” Jaka menjawab jujur.

“Pertama kalinya dia takut?!” Kelpo dan Mike berkata dalam hati. Rasa kaget yang tak dapat dijelaskan dari raut wajah Bobby, Kelpo ataupun Mike. Pengakuan yang benar-benar langka.

“Lu gaperlu takut, Jak.” Mike mencoba menenangkan Jaka.

“Inti dari maksud kalian semua itu, sebenernya cuma satu.”

Semuanya terus menatap Jaka.

“Seorang Razaqa Nafan Gunawan, takut akan perang yang sebenarnya harus sudah direncanakan siasatnya.” Kini Jaka mendongakan kepalanya, mencoba menangkap semua pandangan teman-temannya.

Mereka terdiam.
“Viny? Kamu tau?” Jaka menatap Viny.

“Iya?” Viny menatap Jaka.

“Akan ada hari dimana kita semua diliburin, dan keputusan kamu soal pindah ke sini.. aku harap ga akan kamu sesali..” Jaka tersenyum simpul. Viny melongo dan menatap Jaka.

“Kita semua bakal jaga kamu, Nyi.” Kelpo ikut menimpali.

“Ohiya, ini masih prediksi kok. Hahaha..” Jaka tertawa. Suasana mulai tenang, semuanya larut dalam tawa. Entah apa yang mereka masing-masing pikirkan, tapi tawaan ini bukan tawaan kosong ataupun terasa hambar. Ini tawaan tulus dan penuh makna.

“Drrttt…” Panggilan masuk ke hp Bobby.

“Angkat gih!” Perintah Kelpo cepat.

“Ya, Halo?”

“Kak Bobby, udah didepan. Rumah kuning pager merah kan?” Jelas itu dari Aria.

“Iya, Ar. Tunggu ya,” Bobby mematikan panggilan itu dan bergerak hendak keluar dari pintu kamar Kelpo.

“Ar? Ntar dulu, ada temen kita yang namanya Ar?” Jaka heran.

“Entahlah.” Jawab Mike singkat.

“Itu temen les-nya Bobby.” Kelpo menambahkan.

Tak lama, Jaka benar-benar dibuat terkejut dengan kehadiran laki-laki yang berjalan membututi Bobby.

“Aria?!” Jaka bangkit dengan cepat.

Kelpo, Mike, Bobby dan Viny menatap Jaka bingung.

“Kak Razaqa?!” Aria sama kagetnya.

“L…lu.. masuk SMU48?!” Tanya Jaka cepat.

“Iya kak.”

“Hah?! Siapa yang nyuruh?” Jaka kembali melontarkan pertanyaan.

“Bang Sony..” Jawaban Aria sukses membuat Jaka terdiam.

“Hah? kalian saling kenal?” Bobby heran.

“Dia sepupu gue..” Jaka berkata pela
Aria mengangguk.

“Jadi, lu masuk SMU48?” Mike ikut bertanya.

Jaka segera menarik Bobby keluar kamar.

“Bob! Dia harus kejaga!” Jaka sedikit berteriak.

“Eh.. Kenapa Jak?”

“Sony bilang ke elu?”

“Soal apa?”

“Soal Aria kesini?”

“Dia ga bilang apa-apa, cuma sempet nyuruh gue jagain semua adik kelas nanti..”

Jawaban yang sukses membuat Jaka
terhenyak.

“Sony udah gila..” Jaka berkata pelan.

Bobby masih terdiam sambil menatap mata Jaka.

“Gue yakin, Aria bakal nyatuin kelas X..” Ucap Bobby pelan.

“Aria.. karate, gue takut dia ga terbiasa..” Jaka terus tertunduk.

“Lu harus percaya ama dia..”

Jaka mengangguk pelan.

Tepat jam 5, mereka mengakhiri pertemuan itu. Jaka sedikit lebih tenang kali ini. Mereka juga membahas banyak hal tentang ‘Perang’ yang bisa saja terjadi lagi.

“Razaqa, aku udah dirumah nih.. lama
juga ya..” Pesan dari Michelle yang membuat Jaka kembali tersenyum lebar.

“Shan, gimana hari ini?” Jaka mengirim pesan kepada Shania.

Obrolan berlanjut dan berakhir.

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s