Cahaya Kehidupan : Aku Kencan Pertama, Part 28

“Bagaimana, pak? Sukses? Kalau dilihat dari senyumnya, sudah pasti
bapak sedang bahagia. Kapan bapak akan membawakannya bunga mawar
untuknya?” Gre bertanya sambil tertawa.

Dhee tertawa lebar. Tidak melemparnya dengan kulit pisang, ataupun
potongan batu bata. Tidak lagi sebal mendengar pertanyaan yang
dilontarkan Gre. Hatinya kini berbunga-bunga.

Sukses? Entahlah, Dhee tidak tahu apakah hubungan itu sukses atau
tidak. Sebulan berlalu, hubungan mereka berkembang aneh sekali. Sejak
saat itu, Dhee sering menemani gadis itu kemanapun ia pergi.

Gadis itu terlihat riang penuh kebahagiaan, seolah lepas dari beban
berat yang selama ini ia pikul. Tergantikan oleh seseorang yang
berharga baginya. Seorang yang menjanjikan kehidupan bahagia untuknya.
Dhee selalu sibuk bercerita pada gadis itu.

* “Kau tahu, ada 49.251 batu bata, 4.521 sak semen, 18.569 kubik pasir
yang digunakan untuk membangun gedung itu!” Dhee sibuk bercerita,
gadis itu hanya tersenyum tipis seraya mendengarkan.

“Kau tahu, aku bercita-cita ingin membangun gedung berlantai 50
untukmu!” Dhee antusias, gadis itu tersenyum simpul seraya menampakkan
gigi-gigi kelincinya.

* Malam ini, Dhee akan berkencan dengan gadis itu. Hendak melamarnya
dan melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius lagi. Ia akan
menikahi gadis pujaannya.

Gre dan buruh lain ramai berteriak. Seperti melepas panglima pasukan
berangkat perang. Dhee tertawa, merapikan pakaian kerennya yang baru
saja ia beli.

Gadis itu menyambutnya di pintu depan rumahnya. Mengenakan pakaian
yang terlihat anggun. Gadis itu bagai ratu dalam cerita dongeng. Dhee
menelan ludah, sungguh cantik ciptaan-Mu.

Dhee dan gadis itu duduk, sejenak mengobrol di ruang tamu. Rumahnya
terlihat indah, gadis itu benar-benar menatanya dengan sangat rapi.
Khusus untuk malam spesial ini.

Hidangan sudah disiapkan, makanan siap santap, minuman sudah ada,
bahkan beberapa cemilan dan makanan ringan pun sudah ada. Lilin-lilin
tertata rapi diatas meja makan di ruang tamu rumah gadis pujaan
hatinya.

Apa yang harus ia lakukan? Melamarnya langsung? Atau harus mengajaknya
bercakap-cakap terlebih dahulu? Apa mungkin harus bertele-tele? Aduh,
bingung sekali. Ia tidak punya banyak waktu, lamaran itu harus selesai
sekarang juga.

“Aku ingin mengajakmu menikah, bagaimana menurutmu?” Dhee langsung
saja ke intinya.
Seketika suasana menjadi hening. Lilin-lilin yang sebelumnya menyala
kini sudah padam tertiup oleh angin.

Duaarrr, seketika hatinya meledak. Jantungnya berdebar cepat. Entah
apalagi yang akan terjadi. Matanya ditutup rapat-rapat, Dhee menggigit
kencang bibir bagian bawahnya

“Aku… mau…” akhirnya gadis itu menjawab.
Inilah akhir dari hubungan aneh mereka. Pernikahan akan segera
dilaksanakan. Dhee sangat senang, sampai-sampai mendekap calon
istrinya seraya berkata “Terima Kasih”.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s