X-World, Side Story (2) : Sinka – Grudge

“…Ciri – cirinya nggak spesifik, pokoknya dia cukup spesial dan dia loyal…”

Kata-kata itu terus terbayang di benak anak perempuan yang kini tengah duduk di bangku cockpit pesawat. Pikirannya masih sibuk memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan kalimat tersebut. Dia terus saja memutar bangku yang ia duduki sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.

“Hmm. Kira-kira, aku harus mulai darimana ya?”

Amanat yang diberikan oleh orang yang sudah dianggapnya seperti ayah sendiri itu memang tidak terlalu sulit. Ia ditugaskan untuk mencari rekrutan baru bagi organisasi yang sudah seperti keluarganya. Brotherhood of Chaos, itulah nama organisasi itu.

Insiden terakhir yang melibatkan organisasi itu membuatnya kehilangan sosok ketua. Sebenarnya kehilangan ketua hanyalah masalah sepele. Tinggal tunjuk saja ketua yang baru, tidak sulit bukan? Tapi sepertinya, solusi itu tidak bisa diterapkan pada Brotherhood of Chaos.

Banyak anggota yang memilih resign setelah mengetahui kalau sang ketua telah tewas. Kalau diibaratkan sebuah benda, Brotherhood of Chaos saat ini adalah sebuah pipa air dengan banyak lubang. Bagi mereka yang masih memilih untuk tinggal di organisasi itu sebenarnya wajib diacungi jempol karena loyalitas mereka yang begitu kuat.

Tapi tentu saja, kondisi ‘berlubang’ yang terjadi pada Brotherhood tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Banyak kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada organisasi itu bila dibiarkan dalam keadaan kekurangan anggota. Salah satu yang paling buruk adalah, bubarnya Brotherhood itu sendiri.

Saat Sinka masih melamun memikirkan dari mana ia harus mulai mencari rekrutan baru. Tiba-tiba, sebuah cahaya raksasa melintas di depan pesawatnya.

Cahaya raksasa itu berhasil mencuri perhatian Sinka, dan saat ia mencari kemana perginya cahaya raksasa itu, ia melihat benda itu telah hilang di dalam Battleworld. Cahaya itu sudah menghilang, tapi Sinka masih memfokuskan pandangannya ke salah satu sudut Battleworld dimana cahaya itu jatuh dan menghilang.

“Tidak salah lagi. Yang tadi itu….”

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba dari tempat cahaya raksasa itu jatuh, muncul sebuah domain baru. Sinka menatap domain itu. Sebuah senyuman kecil mengembang di wajahnya. Sekarang ia tahu, dari mana ia harus mulai mencari rekrutan baru.

“Domain baru itu sepertinya menarik.” Sinka langsung mengemudikan pesawatnya dengan kecepatan penuh menuju domain baru itu.

**

Sinka sampai di domain baru itu kurang dari 20 menit. Keadaan domain baru itu benar-benar kacau. Wajar saja, domain itu baru saja selamat dari seleksi perang antar dunia. Terang saja pemandangan di domain itu didominasi tanah-tanah berlubang, bangunan hancur, dan juga asap dimana-mana.

Sinka turun dari pesawatnya dan mulai melangkahkan kakinya di domain itu. Tidak ada tanda-tanda makhluk hidup di sekitar tempatnya saat ini. Bukan, bukan tidak ada, tapi hampir.

“WARGREYMON!” Terdengar suara teriakan seseorang yang tiba-tiba membuat Sinka refleks menoleh dan berlari mencari sumber suara itu.

Sinka tiba di tempat asal suara teriakan yang tadi ia dengar. Ia bersembunyi di belakang reruntuhan dan mengamati apa yang tengah terjadi di tempat itu. Terlihat seorang perempuan yang sedang panik di tengah pertarungan yang melibatkan dirinya dan juga 3 monster yang disebut Digimon di depannya.

Sinka mengambil Digital Assistant miliknya dari dalam kantong. Menggunakan alat yang berbentuk seperti sebuah smartphone itu, Sinka mengakses database milik organisasi untuk mencari identitas ketiga digimon yang tengah ia mata-matai dari balik reruntuhan.

“Gallantmon, Craniamon, dan juga Wargreymon. 2 Royal Knights dan 1 digimon level mega. Hmm….” Ucap Sinka. Kemudian ia kembali melihat kearah depan. “Perempuan itu, dia pasti tamer dari Wargreymon.”

Pertarungan yang terjadi di tengah-tengah sebuah kota yang sudah porak-poranda itu terbilang cukup brutal. Ketiga digimon itu bukan melawan sesama jenis mereka, melainkan melawan kawanan robot-robot raksasa yang memiliki ukuran tubuh lebih tinggi sedikit dari mereka. Robot-robot itu mengepung ketiga digimon dan juga si tamer perempuan yang merupakan partner dari Wargreymon.

“Gracia, cepat pergi dari sini!” Perintah Gallantmon.

“Kau satu-satunya tamer yang tersisa dari dunia kita. Kalau kau sampai mati, maka selesai sudah.” Tambah Craniamon.

“Aku tidak akan meninggalkan kalian. Justru karena aku satu-satunya yang tersisa, aku juga akan bertarung bersama kalian berdua untuk melindungi domain ini.” Gracia memprotes perintah dari kedua orang yang bisa disebut sebagai teman seperjuangannya.

LOAD! Keluarlah, Gabumon!” Gracia mengeluarkan digivice-nya dan mengarahkannya ke depan. Ia memanggil seekor digimon dari dalam digivicenya. Gracia mengambil sebuah kartu dari dalam kantongnya, kemudian ia menggesekan kartu itu pada digivicenya.

“Gabumon! Warp Shinka!”

Gabumon milik Gracia berubah ke wujud Meganya, Metal Garurumon. 1 manusia, 4 digimon. Mereka saling menatap, seolah tengah berbicara menggunakan telepati padahal tidak. Mereka berlima saling tersenyum satu sama lain.

“Jangan sampai kau mati, Gracia.” Ujar Gallantmon.

“Itu pasti.” Balas Gracia pada Gallantmon. Puluhan robot yang mengerumuni mereka berlima mulai melakukan kontak fisik.

Gallantmon dan Craniamon melakukan serangan secara bersamaan untuk membuka jalan di tengah kerumunan robot itu. Sementara itu, Wargreymon dan Metal Garurumon milik Gracia berusaha melindungi Gallantmon dan juga Craniamon dari serangan yang datang dari belakang mereka.

Satu-persatu, robot-robot yang mengerumuni mereka berlima mulai berkurang, hingga akhirnya mereka semua berhasil dikalahkan. Akan tetapi, itu bukan pertanda bahwa mereka telah menang dalam pertarungan ini. Pion jatuh, bidak catur yang lain pun akhirnya keluar.

2 buah robot raksasa yang bentuknya berbeda dengan robot-robot tadi, datang dengan tiba-tiba. Salah satu dari mereka yang memiliki lengan dengan bentuk menyerupai senapan berhasil menembak Craniamon dan membuatnya terpental cukup jauh.

Kaget. Mungkin itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaan Gracia saat ini. Craniamon menghantam 2 gedung tinggi dan langsung terduduk lemas diselimuti reruntuhan gedung yang ia tabrak tadi.

“HA! Menyedihkan. Jadi hanya segitu saja kekuatan seorang Royal Knight?” Ucap robot yang tadi menembak Craniamon.

“Craniamon… KETERLALUAN!” Gallantmon yang terlanjut emosi melihat temannya telah jatuh, tidak tinggal diam begitu saja. Ia berlari dengan cepat ke arah Megatron sambil mengacungkan pedangnya ke depan.

Robot yang datang bersama dengan Megatron langsung mengintervensi dengan menahan serangan Gallantmon dan menendangnya mundur. Untunglah Gallantmon berhasil melindungi dirinya dari tendangan robot itu dengan perisai miliknya. Kalau tidak, mungkin Gallantmon akan menerima dampak langsung dari tendangan itu.

“MENYINGKIRLAH, PRIME! Urusanku kali ini dengan Megatron, bukan kau. Kalau kau juga ingin bertarung melawanku, akan ku layani kau lain kali.” Ucap Gallantmon kepada robot yang baru menghalanginya untuk menyerang Megatron tadi.

Robot bernama Optimus Prime itu tidak menanggapi Gallantmon. Dia malah berlari kearah Gallantmon dan menyerangnya dengan pedang yang terpasang pada tangannya. Wargreymon dan Metal Garurumon melakukan serangan balik dengan diam-diam dari belakang Prime, tapi sayangnya mereka gagal karena Megatron berhasil menembak jatuh mereka berdua.

Prime berhasil menghantam perut Gallantmon dengan keras. Ia mengambil pistol yang tergantung di punggungnya. Lalu ia mengarahkan benda itu pada leher Gallantmon dan menarik pelatuknya.

BUM! Dalam sekejap, Gallantmon langsung terjatuh lemas di atas jalanan kota.

“GALLANTMON!!!” Gracia berteriak sejadi-jadinya melihat tubuh Gallantmon yang sekarang sudah tidak bernyawa lagi.

“Seorang Royal Knights kalah? Wow.” Gumam Sinka dalam hati. Sebenarnya dia juga kaget melihat kejadian itu, karena Digimon Royal Knights seharusnya tidak mudah untuk dikalahkan.

“Bagus sekali, Prime! Akhirnya kau berani juga untuk mengambil tindakan melawan para monster bedebah itu.” Megatron menghampiri temannya yang tengah diam membatu sambil mengamati jasad Gallantmon.

“Ini salah, tapi–“

“SADARLAH, PRIME! Mau sampai kapan kau bersifat naif?!! Mereka sudah sepantasnya mati, karena mereka yang terlebih dahulu membantai kaum kita!!” Bentak Megatron pada Prime. Megatron mengangkat tubuh Gallantmon, dan melemparnya ke arah reruntuhan yang menimpa Craniamon.

“Beginilah seharusnya kau menangani mereka, Prime.”

Megatron mengarahkan tangannya yang berbentuk senapan ke arah Gallantmon dan Craniamon, kemudian ia menembak mereka berdua sekaligus.

Tubuh Gallantmon dan Craniamon menghilang. Bukan, lebih tepatnya MUSNAH. Megatron tersenyum melihat 2 Royal Knights yang tersisa telah mati di tangannya. Kini ia berhasil membalaskan dendam kaumnya yang mati dibantai para Royal Knights.

Digimon dan juga para Transformers. Awalnya mereka hidup di dunia yang berbeda, sampai pada akhirnya, dunia mereka dipilih oleh para Beyonders. Dunia mereka dipertemukan untuk diadu satu sama lain, melihat siapa yang lebih kuat dan pantas untuk hidup dan menjadi bagian dari Battleworld.

Para tamers dari dunia digimon bersama Royal Knights bertarung mati-matian untuk mempertahankan dunia mereka. Sama halnya dengan para Autobots dan juga Decepticon dari dunia transformers. Mereka rela mengesampingkan permusuhan mereka demi untuk bertahan hidup di pertarungan yang menentukan nasib dunia mereka.

Pertarungan antara kedua dunia itu dimenangkan oleh dunia Digimon, tapi disisi lain, dunia Digimon harus kehilangan 10 Royal Knights dan 11 tamer mereka, menyisakan 1 orang tamer terakhir dan juga 2 orang Royal Knights.

Tidak diketahui oleh mereka, pemimpin para transformers yaitu Optimus Prime dan juga Megatron berhasil selamat. Bersama dengan sisa-sisa pasukan mereka, mereka berdua menyusup dan bersembunyi di dunia digimon. Begitu dunia digimon tiba di Battleworld dan berubah menjadi sebuah domain, Prime dan Megatron mulai bergerak untuk mengambil alih domain Digimon.

Rencana mereka hampir berhasil. Dengan matinya Gallantmon dan Craniamon, Gracia dan juga kedua digimonnya yaitu Agumon dan Gabumon, menjadi satu-satunya pelindung terakhir domain ini.

“Kau berikutnya anak kecil.” Megatron mengarahkan lengan senapannya ke arah Gracia yang masih terduduk lemas sambil menggenggam digivicenya. Melihat tamernya dalam bahaya, Wargreymon, dan Metal Garurumon langsung bergerak ke depan Gracia untuk menghalangi Megatron.

“Kalau ada yang akan mati….” Tangan Gracia mengambil sebuah kartu dari dalam kantongnya. Perlahan-lahan ia berdiri dan mengusap air matanya. Ia menatap Megatron dengan tatapan tajam.

“….ITU ADALAH KAU!”

“BANYAK BICARA!!!” Megatron menembakkan senapannya kearah Gracia.

“CARD SLASH! WARGREYMON! METAL GARURUMON! JOGRESS SHINKA!”

“OMEGAMON!”

Gracia menggabungkan Wargreymon dan Metal Garurumon menjadi Omegamon. Omegamon berhasil memantulkan tembakan Megatron ke arah lain. Dengan sisa tenaganya, Gracia memberikan perlawanan terakhirnya terhadap Megatron dan Prime.

Omegamon mengeluarkan Omega Blade dari tangan kirinya, dan dengan cepat ia menghabisi sisa-sisa anak buah Megatron yang mengepungnya. Omegamon beralih ke target berikutnya yang tidak lain adalah Megatron.

Ketika Omega Blade milik Omegamon hampir mendarat di kepala Megatron, sebuah pedang lain yang ternyata milik Optimus Prime berhasil menghalanginya. Prime menendang Omegamon, membuatnya sedikit terpental ke belakang.

Omegamon kembali melakukan serangan, tapi lagi-lagi Prime berhasil menahannya. Gagal menyerang dari jarak dekat, Gracia memerintahkan Omegamon untuk melakukan serangan dari jarak jauh dengan Garuru Cannon di tangan kanannya.

Sama halnya dengan serangan jarak dekat, serangan jarak jauh pun berhasil di halau oleh Prime menggunakan pistolnya.

“Bagus sekali, Prime. Seharusnya dari dulu kita bekerja sama seperti ini.” Prime hanya diam menanggapi ucapan Megatron. Gracia makin frustasi. Ia hampir tidak bisa menyentuh Megatron karena Prime selalu melindunginya.

“Omegamon! Double Torrent!!” Perintah Gracia pada Omegamon.

Omegamon mengarahkan kedua lengannya kearah Megatron. Sesaat kemudian, kedua lengannya melepaskan energi Es dan Api di saat yang bersamaan. Kedua energi itu bergabung menjadi satu serangan dahsyat, tapi sayangnya….

*WUSH!*

“Lain kali kalau kau ingin menembak, perhatikan dimana letak targetmu baik-baik.”

Megatron muncul dengan tiba-tiba tepat di belakang Omegamon yang masih melakukan serangan. Megatron mengeluarkan sebuah pedang pada lengan senapannya. Lalu dengan cepat, ia menusuk Omegamon dari belakang. Sebuah serangan fatal sukses mendarat tepat di tubuh Omegamon.

“OMEGAMON!!!” Gracia berusaha memanggil partnernya yang telah terjatuh di atas jalanan kota. Tidak ingin kehilangan teman untuk yang kesekian kalinya, Gracia langsung berlari menuju Omegamon.

“Lihat siapa yang datang,” Megatron melirik Gracia yang tengah berlari ke arahnya dan juga Omegamon. Megatron mengabaikan Omegamon untuk sesaat dan dia berniat untuk membunuh perempuan itu terlebih dahulu.

“Pergilah ke neraka, nak!”

*BUM!!!*

………………….

*DUAAAAAAAR!!!*

Area tersebut dipenuhi kepulan asap tebal karena ledakan barusan. Bagaimanakah nasib Gracia saat ini?

Megatron telah menganggap dirinya berhasil mengirim anak perempuan itu ke neraka, dan sekarang dia juga akan melakukan hal yang sama pada partnernya. Megatron melihat ke bawah, tempat dimana seharusnya Omegamon berada tadi.

“Dimana makhluk bodoh itu?” Pikir Megatron, sambil melirik sekelilingnya mencari keberadaan Omegamon. Omegamon sudah tidak berada tepat di bawahnya. Kemanakah ia?

Kepulan asap yang menutupi area tersebut mulai hilang. Tidak jauh dari tempat Megatron berdiri, terlihat Omegamon tengah terjongkok dengan posisi tangan kirinya yang mengeluarkan Omega Blade, menutupi wajahnya. Rupanya Gracia masih hidup. Omegamon berhasil menyelamatkannya di detik-detik terakhir sebelum tembakan Megatron mengenai dirinya.

Prime dan Megatron kaget melihat Omnimon yang sudah terluka parah masih bisa bergerak untuk melindungi partnernya. Gracia membuka matanya, dan ia melihat Omegamon yang sudah dalam keadaan kaku berada di depannya.

“Gra–cia” Omegamon terjatuh ke tanah dan Omega Blade yang ada pada tangan kirinya hancur berkeping-keping. Tubuh Omegamon mulai menghilang dan berubah menjadi cahaya-cahaya kecil.

“Klasik,” Ucap Megatron, “Cukup sudah main-mainnya!” Megatron kembali mengarahkan senapannya ke arah Gracia, dan ia langsung menembakkan senapan tersebut.

*DUAAAAAAAR!!!*

“Selesai sudah. Sekarang domain ini jadi milik kita! HAHAHAHA!!!” Ujar Megatron diiringi tawa jahatnya. Megatron dan Prime berubah menjadi kendaraan, dan mereka pergi meninggalkan area tersebut.

**

“Nghh… Apa yang terjadi padaku?” Ucap Gracia kebingungan.

“Jangan berpikir kalau saat ini kamu sudah berada di alam lain. Kamu belum mati, dan kita masih ada di domainmu.” Jelas Sinka pada Gracia.

“Kamu siapa?” Tanya Gracia, “Apa kamu tadi menyelamatkanku?”

“Yap, bisa dibilang begitu. Melihat perjuanganmu tadi, aku jadi tidak tega untuk membiarkanmu mati begitu saja.”

“Terima kasih. Uh… Boleh aku tau namamu?” Tanya Gracia.

“Sinka, Sinka Juliani. Kamu?” Jawab Sinka datar.

“Gracia, Shania Gracia.”

Di tengah-tengah api unggun, mereka saling diam setelah berkenalan. Sinka sibuk memanggang 2 buah makanan kaleng miliknya di atas api unggun, sementara itu Gracia hanya duduk diam sambil memeluk kedua kakinya.

“Ini, makanlah. Aku tau kamu kelaparan setelah berusaha mempertahankan dirimu dari robot-robot tadi.” Sinka memberikan satu makanan kalengnya yang sudah matang kepada Gracia.

“Terima kasih.” Gracia menerima makanan kaleng itu.

Selesai makan, mereka berdua kembali diam satu sama lain. Sinka melihat Gracia yang sepertinya masih dalam keadaan shock berat setelah kejadian di kota siang tadi.

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu begitu nekat?” Tanya Sinka, membuka pembicaraan di antara dirinya dan Gracia.

“Maksudmu?”

“Kamu pikir aku tidak melihatnya? Kamu tadi berusaha menyelamatkan data-data Omegamon di saat-saat terakhir bukan?” Gracia kaget mendengar ucapan Sinka.

“Aku melakukan itu, karena kami adalah partner. Tidak ada alasan lain lagi.” Jelas Gracia pada Sinka. Sebuah jawaban yang cukup simpel sekaligus membuat Sinka bingung.

“Sepenting itukah seorang partner?” Pikir Sinka. Memang, Sinka tidak pernah mengenal apa itu partner karena dalam setiap pekerjaannya, ia selalu melakukannya sendiri.

“Tapi tindakanmu itu tetap sia-sia saja bukan? Kalaupun kamu bisa membangkitkan Omegamon, dia akan–“

“Cacat?? Iya, aku tau itu.” Potong Gracia.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau saat Omegamonmu bangkit dalam keadaan cacat?” Tanya Sinka.

“Aku akan berusaha sebisaku untuk mengembalikannya seperti biasa. Dulu Omegamon sering menyelamatkanku dari maut berkali-kali, dan sampai sekarang aku belum bisa membalas jasanya. Aku bahkan gagal melindungi duniaku. Teman-teman tamers-ku, lalu para digimon-digimon lain, dan juga Royal Knights. Kematian mereka merupakan bagian dari kegagalanku sebagai seorang tamer.” Tak terasa saat berbicara, Gracia mulai menangis perlahan-lahan.

“Jadi menurutmu, dengan menyelamatkan Omegamon, kamu bisa menebus kegagalanmu?”

Gracia mengangguk. Ia menghapus air matanya dengan tangannya. Sinka merubah posisi duduknya. Ia bersender pada sebuah batang pohon besar sambil menatap langit malam.

“Kenapa kamu tidak mulai dari mengalahkan robot-robot itu?” Ucap Sinka.

“Hah?” Ujar Gracia bingung, “Maksudmu?”

“Kamu bilang, kamu ingin menebus kesalahanmu bukan? Kenapa tidak mulai dengan mengalahkan robot-robot itu?”

“Tidak mungkin. Mereka terlalu kuat. Selain itu, aku tidak bisa melakukannya sendirian.”

“Siapa bilang kamu sendirian?” Sinka berdiri dan membersihkannya celananya dari debu. Kemudian, ia mengulurkan tangannya pada Gracia yang masih terduduk lesu karena putus asa.

“Aku akan membantumu. Kamu tidak perlu takut. Asalkan kamu punya keinginan kuat, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, bahkan mengalahkan robot-robot setinggi 35 kaki.”

Gracia menatap Sinka. Mendengar kata-kata Sinka membuat semangat dalam dirinya untuk kembali bangkit dan bertarung menyala-nyala. Ia menyambut uluran tangan Sinka, lalu ikut berdiri.

“Kamu benar.” Ucap Gracia sambil tersenyum.

Dalam hatinya, Sinka tersenyum manis. Usahanya untuk menyelamatkan Gracia ternyata tidak sia-sia. Dia memang sudah melihat sedikit kemampuan Gracia, tapi menurutnya itu belum cukup.

Jadi dia memancing Gracia untuk kembali bangkit melawan para Transformers, dan bahkan memberinya bantuan dengan tujuan tersembunyi sebagai tes terakhirnya, apakah ia memang pantas untuk direkrut menjadi bagian dari Brotherhood. Gadis licik….

Sinka membawa Gracia menuju pesawatnya, dan ia memperlihatkan semua persenjataan yang ada di ruang kargo. Sepertinya usahanya untuk mendapat kepercayaan Gracia berhasil. Terbukti, padahal mereka baru berkenalan beberapa menit yang lalu. Gracia bahkan belum mengetahui latar belakang Sinka, tapi dia sudah menganggap Sinka sebagai temannya.

Setelah membekali diri dengan persenjataan dari pesawat Sinka, mereka berdua menyusun Rencana untuk menyerang para Transformers esok hari.

**

Hampir tengah hari, tepatnya jam 11.35 waktu Battleworld.

Dalam kurun waktu kurang dari 1 hari, Prime dan Megatron berhasil membangun ulang kaum mereka di domain yang baru saja mereka ambil alih. Sekitar 119 tentara robot telah mereka sebar ke kota untuk memburu sisa-sisa warga sipil yang masih hidup di domain ini. Mereka juga telah menciptakan markas yang terletak di pusat kota.

Megatron menatap keluar balkon istana raksasanya yang berbentuk asimetris. Ia tersenyum melihat asap-asap dan bunyi-bunyi ledakan yang terdengar di seluruh penjuru kota yang merupakan ulah dari para anak buahnya yang tengah berburu ‘mangsa’.

“Sebentar lagi peradaban kami akan bangkit kembali, dan lebih besar dari sebelumnya!” Ucap Megatron dengan penuh keyakinan. Terlihat Prime yang tengah berdiri tepat di belakangnya menunjukkan ekspresi sedikit menyesal. Melihat cara-cara Megatron yang berbanding terbalik dengan prinsipnya, Prime hanya bisa menghela nafas dan beberapa kali mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

Ia tidak punya pilihan lain, karena hanya dengan cara ini saja dia bisa membangun ulang peradabannya. Prime hendak berjalan pergi meninggalkan Megatron untuk ikut terjun ke lapangan melakukan ‘perburuan’-nya. Akan tetapi, sesuatu menghentikan langkahnya.

Sebuah suara pesawat yang bunyinya sangat asing. Prime menoleh ke belakang. Ia melihat Megatron telah siap dengan lengan senapannya begitu melihat kedatangan tamu tak diundang yang tengah mengarah ke basecamp mereka.

“Tidak kusangka kita akan kedatangan tamu.” Ucap Megatron.

*BUM!!!*

Tembakan pertama dilancarkan oleh Megatron dan berhasil dipantulkan oleh pesawat itu. Rupanya pesawat itu dilengkapi sebuah perisai yang melindungi seluruh bagiannya dari serangan energi apapun.

Megatron memanjat pembatas balkon, kemudian ia melompat dan berniat menghantam pesawat itu dengan tangannya. Lagi-lagi pesawat itu berhasil menghindar untuk kedua kalinya dari serangan Megatron dengan melakukan manuver.

Pintu belakang pesawat terbuka. Dari dalamnya muncul 2 orang yang mengendarai 2 buah Hover Bike. Kedua orang itu tidak lain adalah Sinka dan Gracia. Mereka langsung tancap gas dan melesat ke arah Megatron yang baru saja mendarat di tanah. Melihat temannya akan diserang, Prime ikut turun dari balkon.

*Flashback*

“Ini…” Sinka memperlihatkan sebuah senjata pada Gracia, “…Adalah peluangmu untuk balas dendam. Satu peluru, satu kali tembak, dan satu kali kesempatan. Megatron memang nyaris merenggut nyawa Omegamon, tapi dia tetap sudah merenggutnya nyawa teman-temanmu yang lain. Kamu paham maksudku?”

“Aku mengerti. Jadi bagaimana cara kerja Mega Particle Cannon ini?” Tanya Gracia.

“Lepaskan penguncinya, tarik tuasnya, kunci targetnya dengan tombol ini, lalu tarik pelatuknya. Sedikit catatan, untuk memastikan dia benar-benar tamat, pastikan kamu mengenai dadanya.” Ucap Sinka sambil memberikan Mega Particle Cannon itu pada Gracia.

………………….

“Ini saatnya….” Gumam Gracia. Dia menyalakan pilot otomatis pada Hover Bike-nya. Kemudian ia mengeluarkan Mega Particle Cannon dari dalam box khusus yang terpasang pada jok belakang motor. Gracia melakukan langkah-langkah untuk menggunakan senjata itu sesuai dengan petunjuk yang diberikan Sinka.

“Target, TERKUNCI!” Ucap Gracia, “TERIMA INI!!!” Tanpa ragu-ragu, Gracia menarik pelatuk senjatanya. Sinar laser bertenaga dahsyat terpancar keluar dari moncong Mega Particle Cannon yang dipegang oleh Gracia.

“MEGATRON!!!” Melihat temannya dalam bahaya, Prime berlari menghampirinya. Dia sudah tau, kalau ucapannya tidak akan sempat untuk memperingatkan Megatron. Prime menendang Megatron untuk menjauh dari jarak tembak Mega Particle Cannon yang ditembakkan Gracia.

*BUUUUM!!!*

Sinar dari Mega Particle Cannon itu gagal mengenai Megatron, tapi malah sukses mengenai Prime. Tembakan Gracia berhasil membunuh Prime.

Mega Particle Cannon yang dipegang Gracia mengalami overheat dan tidak bisa digunakan lagi. Gracia membuang senapan besar itu, lalu beranjak menyerang Megatron bersama Sinka dengan rencana B.

“Kurang ajar!” Tanpa basa-basi lagi, Megatron membombardir Sinka dan Gracia menggunakan lengan senapannya. Serangan membabi buta yang ia lakukan berhasil membuat Hover Bike Gracia terjatuh.

Melihat temannya jatuh, Sinka tidak terpengaruh. Ia lanjut melancarkan serangannya terhadap Megatron selagi perhatian Megatron masih terfokus pada Gracia yang telah tertembak jatuh. Sinka melesat ke belakang Megatron, dan ia berhasil menanamkan sejumlah bom tempel pada lengan senapan Megatron secara diam-diam.

Sinka pergi menjauh, lalu ia menekan pemicu bomnya dan BUM! Lengan senapan milik Megatron berhasil ia hancurkan. Sinka lanjut mengejar Gracia sebelum ia terjatuh menghantam tanah bersama dengan Hover Bike­-nya yang telah rusak.

“DAPAT!” Sinka berhasil menangkap tubuh Gracia sebelum ia terjatuh ke tanah.

“GRRR!!!” Megatron meraung kesakitan karena lengannya yang baru saja terputus akibat serangan diam-diam Sinka.

Ia melirik tubuh Prime yang sudah tidak bernyawa lagi. Ia memotong tangan kanan Prime dan menyambungkannya pada bahu kanannya. Sekarang Megatron telah memiliki lengan baru yang tidak kalah mematikan dengan lengan kanan lamanya. Lengannya kali ini dilengkapi sebuah pedang tajam dan bergerigi.

Ia juga memungut pistol yang ada pada tangan Prime, dan menggunakannya untuk menjatuhkan Sinka dan Gracia yang masih berusaha memberi perlawanan dari udara. Kemampuan menembak Megatron memang cukup hebat. Lagi-lagi ia berhasil menembak jatuh keduanya.

Sebelum Sinka dan Gracia jatuh menghantam tanah, mereka berdua melompat dan berguling. Pendaratan mereka memang kurang mulus, tapi setidaknya mereka masih hidup saat ini. Sinka mengeluarkan senjatanya dan mulai menembaki kepala Megatron. Ia berusaha membutakan Megatron dengan mengincar bagian matanya.

“BODOH!” Megatron berlari mengejar Sinka sambil menembakkan pistolnya. Sinka tidak bisa fokus menembak, karena menerima gangguan dari peluru-peluru raksasa yang melesat ke arahnya. Untung saja peluru-peluru itu gagal mengenai tubuhnya. Akan tetapi, kini Megatron sudah berada tepat di depannya.

Megatron mengayunkan pedangnya untuk menghantam Sinka yang ada di bawahnya. Serangan Megatron gagal mengenai Sinka dengan tepat sasaran, tapi efek serangannya membuat Sinka terpental ke area pepohonan di sekitar tempat itu.

Untuk memastikan ia tidak mengulangi kesalahan lagi seperti yang ia lakukan pada Gracia, Megatron membombardir area pepohonan itu dengan pistolnya.

“SINKA!!!” Teriak Gracia.

“HAHAHAHAAA!!! MATI! MATI! MATI!!!” Megatron tertawa dengan puas sambil menikmati hal yang tengah ia lakukan. Area pepohonan itu berhasil diporak-porandakan oleh Megatron. Tidak ada satupun pohon yang tersisa dalam keadaan berdiri tegak.

“Kau pikir kau bisa menang melawan kami? HAH! MAKHLUK TOLOL!!! KAU TIDAK PUNYA KESEMPATAN! Kau hanya bisa bergantung pada teman-temanmu. Kau bahkan tidak punya kemampuan untuk berdiri sendiri membela dirimu. LEMAH!”

*DEG!!!*

“LEMAH!” Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala Gracia. Trauma lamanya yang kemarin mendadak kembali mempengaruhi dirinya. Tidak ia sadari, Megatron telah berada tepat di depannya dengan tangan kanannya yang terdapat pedang sudah siap untuk menghabisi dirinya yang masih duduk membisu.

Di lain tempat, Sinka yang rupanya berhasil selamat dari rangkaian serangan Megatron, tengah memantau keadaan Gracia.

“Kita lihat apa aku salah karena telah memberimu harapan, atau tidak.” Ucap Sinka dari kejauhan. Jika seandainya Gracia gagal memenuhi ekspektasinya, ia akan langsung pergi dari domain ini.

………………….

“Sampaikan salamku pada teman-temanmu di alam sana.” Megatron mengangkat pedangnya, Kemudian….

*SRINK! TRANG!!!*

“Hmm?” Megatron kaget dengan apa yang tengah ia liat dengan matanya saat ini. Sesuatu, bukan, lebih tepatnya sesosok makhluk telah menghalangi serangannya.

“Kau!”

………………….

“Apa itu?” Sinka mencoba memfokuskan matanya untuk melihat apa yang tengah terjadi di tempat Gracia dan Megatron saat ini. “Itukan….” Sinka sepertinya juga cukup terkejut sama halnya dengan Megatron.

Gracia masih terduduk membisu seperti tadi, tapi ada yang berbeda darinya. Tangan kirinya telah menggenggam digivice BERWARNA HITAM. Sementara tangan kanannya telah menggenggam sebuah kartu yang diselimuti aura hitam.

“….Omegamon, Hitam?” Ucap Sinka yang setengah bingung dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sosok yang menghalangi serangan Megatron tidak lain adalah Omegamon yang berwarna hitam. Wujudnya masih samar-samar. Tidak nyata seperti bayangan.

“Kau membunuh teman-temanku, kau menghina mereka, dan yang paling membuatku semakin dendam kepadamu… KAU MENGHINAKU DENGAN ALASAN AKU TIDAK PUNYA KEMAMPUAN UNTUK BERDIRI SENDIRI!” Ucap Gracia dengan nada sedih dan diakhiri dengan nada marah.

*SRAK!!!*

Bayangan Omegamon hitam itu menghantam Megatron dengan kuat sampai-sampai membuatnya terpental beberepa meter menjauh dari Gracia.

Gracia berdiri dan berjalan ke samping bayangan Omegamon hitam. “Akan ku bungkam mulutmu yang banyak bicara itu.” Gracia menggesekan kartu ber-aura hitam itu pada digivice hitam di tangan kirinya.

LOAD! BLACK OMEGAMON!”

Digivice Gracia langsung mengeluarkan aura hitam yang bergerak menyelimuti bayangan Omegamon hitam yang ada di sampingnya. Sesaat kemudian, bayangan Omegamon itu berubah menjadi nyata.

Gracia memberi aba-aba kepada Black Omegamon untuk menyerang Megatron. Tanpa membuang-buang waktu, Black Omegamon langsung menghilang dari samping Gracia. Megatron melayangkan pandangannya ke sekelilng, berusaha mencari kemana Black Omegamon pergi.

Puluhan serangan kasat mata menghantam Megatron dari berbagai arah. Sudah bisa ditebak siapa pelakunya. Kurang dari 10 detik, tubuh Megatron telah terpotong-potong menjadi bagian-bagian kecil menyisakan bagian kepala dan dadanya yang masih tersambung tanpa tangan dan kaki untuk bergerak.

Black Omegamon bersama Gracia berdiri di samping tubuh Megatron yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berbicara dan mungkin memohon ampun, tapi sepertinya tidak mungkin, karena memohon ampun bukan gaya Megatron.

“Siapa yang lemah sekarang?” Ucap Gracia dengan nada sinis untuk menyindir Megatron. Megatron berusaha meludah ke arah Gracia. Akan tetapi, Black Omegamon telah menusuk mulutnya tepat sebelum ia bisa melakukannya.

“Aku tanya sekali lagi, SIAPA YANG LEMAH SEKARANG?!!!” Gracia kembali menyindir Megatron. Megatron berusaha meronta dengan keadaan mulut yang tertusuk pedang. Black Omegamon mengeluarkan Garuru Cannonnya, dan mengarahkannya ke arah dada Megatron. Sepertinya, inilah momen terakhir Megatron….

*DUAAAAARR!!!!!!*

….Dan, Ya. Megatron tamat oleh Black Omegamon. Black Omegamon berubah menjadi aura hitam dan menghilang masuk kedalam digivice milik Gracia. Sesaat kemudian Gracia berjalan pergi meninggalkan mayat Megatron, tapi di tengah langkahnya itu dia terjatuh.

*TAP!*

“Kamu berhasil, Gracia. Aku ucapkan selamat padamu.” Ucap Sinka dengan senyum manis mengembang di mulutnya. Ia membawa Gracia yang tidak sadarkan diri ke pesawatnya, lalu pergi meninggalkan domain asal Gracia.

**

“Ngh… Aw, kepalaku. Tempat ini? Sinka!”

“Ada apa? Tidak perlu berteriak, aku ada disini.” Ucap Sinka menenangkan Gracia.

“Apa yang terjadi padaku tadi?” Tanya Gracia

“Hah? Memang kamu tidak ingat?”

Gracia mencoba mengingat kejadian sebelum ia pingsan. Semua ingatan itu mengalir dengan cepat di dalam pikirannya seperti sebuah klip film horor, membuatnya langsung paranoid dalam sekejap.

“Kamu sudah ingat?” Tanya Sinka memastikan. Gracia hanya mengangguk. Sinka memegang erat tangan Gracia, kemudian ia meyakinkan temannya itu kalau semua akan baik-baik saja.

“Tidak, kamu tidak mengerti! Karena ulahku yang tidak terkendali tadi, aku telah merubah struktur kode Omegamon sehingga ia berubah menjadi Black Omegamon.” Gracia menceritakan masalah sebenarnya pada Sinka sambil terus menatap digivicenya yang sekarang telah berubah warna menjadi hitam.

“Lalu? Dimana masalahnya? Bukankah kamu harusnya senang karena partnermu sudah kembali? Hanya berubah warna saja tidak ada pengaruhnya bukan?” Ujar Sinka.

Gracia menggeleng, “Kalau Omegamon terus dibiarkan begini, mungkin tidak sampai 6 bulan, ia akan menghilang selama-lamanya.”

“Oh, begitu. Lalu bagaimana cara memperbaiki kode dalam dirinya?” Tanya Sinka.

“Satu-satunya hal yang dapat mengembalikan Omegamon seperti semula hanyalah Omega Blade milik Imperialdramon Paladin Mode, tapi rasanya tidak mungkin karena dia saja sudah mati dibunuh oleh Megatron.” Gracia menundukkan kepalanya.

“Hei, jangan putus asa begitu. Kamu lupa kita berada dimana? Kita ada di Battleworld saat ini. Disini, tidak ada yang tidak mungkin. Kalau kamu berpikir hanya ada 1 Imperialdramon di dunia ini, kamu salah besar.” Gracia refleks mengangkat kepalanya menatap Sinka.

“Maksudmu? Imperialdramon Paladin Mode masih hidup?” Tanya Gracia. Sinka mengangguk.

“Yap. Kabar baik untukmu. Aku kenal seorang tamer, dan dia merupakan tamer dari Imperialdramon Paladin Mode.” Ucap Sinka.

“Benarkah? Kalau begitu ayo kita temui dia dan minta tolong kepadanya untuk mengembalikan Omegamon seperti biasa.” Ucap Gracia penuh semangat.

“Wow, wow, wow! Tenang dulu, aku belum selesai. Itu baru kabar baiknya, belum kabar buruknya. Kabar buruknya adalah, dia orang yang sangat jahat.”

“Tidak mungkin. Bagaimana bisa? Seharusnya tamer seperti dia adalah orang baik mengingat digimon pendiri Royal Knight bahkan memilihnya untuk menjadi tamernya.”

“Aku tidak bohong. Dia bahkan hampir membunuh papaku,”

Gracia terkejut mendengar pernyataan dari Sinka, yang sebenarnya merupakan kebohongan hasil karangannya.

“Tapi mungkin kita bisa membuatnya menyembuhkan Omegamon.” Ucap Sinka.

“Caranya?”

“Sudah pasti bukan? Cara kasar. Tidak ada pilihan lain selain itu. Tenang saja, aku akan membantumu, tapi… kali ini bantuanku tidak gratis loh.”

“Akan kulakukan apapun demi partnerku.” Tegas Gracia.

Senyum licik itu kembali muncul di mulut Sinka. Brotherhood sepertinya mendapatkan seorang penjinak hewan buas kali ini, dan dia bukan orang yang bisa diremehkan.

……………..

~To Be Continued~

Note by Author :

Heyhow! Ada sedikit pemberitahuan nih. Untuk 3 minggu kedepan cerbung ini bakalan vakum dan balik mengudara lagi tanggal 13 April, karena gue bakalan sibuk persiapan UN. Awalnya nggak ada rencana buat vakum, tapi begitu ngerasain soal US yang ternyata susahnya minta ampun, akhirnya gue bertekad (#azekkk) untuk mantepin persiapan untuk ngadepin yang satu ini.

So, that’s all. Big Thanks buat yang udah baca dan ngikutin X-World sampai sejauh ini. Makasih juga untuk admin dan owner blog. Lastly, sampai ketemu 3 minggu kedepan di blog yang sama, yaitu KOG! J (Y)

Cherio!

By : @ahmabad25

Iklan

Satu tanggapan untuk “X-World, Side Story (2) : Sinka – Grudge

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s