The Legend of Moonlord, Part17 (Unbelievable Decision)

Di dalam kabut pekat yang berwarna putih susu, seseorang tengah melangkah dalam diam. Jalan yang panjang nan lurus tanpa ada penanda apapun terus ditelusuri. Sang petualang menemukan tempat yang dicari setelah perjalanan panjangnya. Sebuah daerah tanpa kabut dijejakinya.

‘Dibalik air danau tak bertuan, tertidur sebuah pusaka peninggalan kegelapan.’

Itulah satu-satunya petunjuk yang dimiliki pria berjubah itu. Ia lalu beristirahat sejenak untuk memulihkan stamina. Setelahnya ia mulai mencari. Meski telah mengitari sekitar danau yang luas itu, sang petualang tak juga menemukan benda yang dicari.

“Aneh.. Seharusnya pedang itu ada disekitar sini,” gumamnya. Lalu, ia mengeluarkan secarik kertas yang membuatnya mendatangi tempat itu. “Dibalik air… Ah, apa mungkin…” seperti tersadar akan sesuatu, ia pun melirik ke danau.

Sejurus kemudian ia menyelam kedalam danau. Setitik cahaya mencuat dari dasar. Sebuah pedang nan hitam tertancap disana seperti perkiraannya. Tanpa menunggu lebih lama, ia mencoba menarik pedang dari tempatnya. Akan tetapi, ketika pedang itu menyentuh tangannya, rasa sakit menjalar disekujur tubuhnya.

Sejenak ia melepaskan pegangan dari pedang itu, lalu berpikir sejenak. “Kuat sekali, tapi aku tak bisa menyerah disini,” ucapnya dalam hati.

First Ability: Assassin’s Soul

Aura hitam mulai menyelimuti tubuh petualang itu. Disaat yang sama pedang itu juga mengeluarkan aura hitam seakan terkoneksi dengan kekuatan sang petualang. Ia pun coba menarik pedang itu lagi. Tapi tetap tidak bergeming.

“Sial.. Kalau begitu..”

Second Ability: Dark Adrenaline

Tangan sang petulang berubah menjadi hitam dengan sedikit garis ungu. Ototnya pun mengeras. Lagi, ia coba mencabut pedang itu dari dasar danau. Usahanya sedikit membuahkan hasil. Pedang itu bergeming tapi tenaga pria berjubah tak cukup kuat untuk mencabutnya. Tak menyerah disana, ia mencobanya terus dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Akhirnya pedang itu pun tercabut. Setelah itu, secepat mungkin ia berenang menuju permukaan.

“Pedang yang mengerikan. Tenagaku hampir terpakai seluruhnya hanya untuk mencabutnya. Sebenarnya seberapa besar kekuatan yang diperlukan untuk menggunakan pedang ini?” Pedang itu lalu dibungkus dengan kain dan kemudian diikatkan pada tubuhnya.

SLASSSHH!!

Sebuah goresan terbentuk di wajah sang petualang itu. Darah segar pun mengalir dari sana. Dihadapannya berdiri seekor makhluk mengerikan.

“Wah, wah. Ada tamu tak diundang yang datang rupanya. Tidak kusangka jebakan yang ku pasang akan jadi sia-sia saja. Memang sulit menghentikanmu ya, Gosuk sang Raja Goblin,” ucap sang petualang.

Makhluk dengan postur tinggi besar berwarna biru-abu itu hanya tersenyum licik. Ia lalu menjilat darah segar yang ada di pedangnya, memperlihatkan gigi tajam yang siap mengoyak apapun.

“Kau berharap mainan itu menghentikanku? Jangan bercanda! Tapi aku harus memberimu pujian karena bisa mencabut pedang keramat itu dari tempatnya meski kau bukanlah yang terpilih, Gani sang Assassin,” balas Gosuk. “Tapi perjalananmu cukup sampai disini saja,” tambahnya.

CRRTT!!

Pedang milik Gosuk dengan mudahnya menembus perut Gani. Darah pun mengalir dari mulut juga perut pria itu.

“Kenapa..?! Kenapa kau tak menghindar?!!” teriak Gosuk.

“Karena jika melakukannya aku akan kehabisan tenaga dan tak bisa pulang,” jawabnya. Gani lalu mengeluarkan sebelah tangan yang ia sembunyikan. Sebuah dagger berwarna ungu terang berada dalam genggamannya.

“Benda itu…”

“Sampai jumpa lagi, Gosuk,” ucap Gani. Ia lalu menusukkan dagger itu ke perutnya sendiri. Seketika itu pula tubuhnya menghilang dari hadapan Gosuk. Tak lama berselang, beberapa Guardian Goblin datang.

“Tuan raja, apa perintah Anda selanjutnya?” tanya salah satu dari mereka.

“Siapkan pasukan dalam jumlah besar. Kita akan menyerang Shadow Forest!” perintah Gosuk dengan mata penuh ambisi.

**********

TING! TINGG!!

Suara benturan antar besi terdengar jelas ditengah kesunyian Shadow Forest. Tak seorang pun terlihat dibalik gelapnya hutan. Seiring berhentinya suara, dua orang terlihat saling berhadapan.

“Kemampuanmu meningkat pesat ya dalam beberapa bulan ini,” ujar sang wanita.

“Begitulah. Itu juga berkat kau,” balas sang pria bertangan satu. “Kau sendiri kan yang menyuruhku berlatih pada ahlinya,” tambahnya. Ketika mereka bersiap melanjutkan pertarungan, seseorang datang.

“Hey, Sandy. Kakek Magina memanggilmu. Sepertinya dia berhasil menyembuhkan lengan kananmu,” ujarnya.

Segera setelah mendapat pesan itu, kedua orang tadi pergi ke tempat kakek Magina. Sesampainya disana, hanya Sandy yang diperbolehkan masuk, sementara Shafa menunggu di luar. Selagi menunggu, gadis itu duduk sambil melamun.

“Aku hampir lupa tentang hal ini. Dia masih punya sebelah lengan yang sedang coba diobati oleh kakek Mag. Padahal dengan keadaan begitu saja, dia sudah sangat kuat. Di pertarungan tadi saja…” mata Shafa yang sudah ingin menutup kembali terbuka penuh. Ia baru tersadar sesuatu.

“Benar juga. Perturangan tadi… Kami sama-sama menggunakan First Ability dan aku sudah kehabisan nafas, tapi dia… Sandy sama sekali tidak terlihat lelah. Belum lagi kemampuannya dalam menguasai teknik yang diajarkan Sisil beserta pasukannya. Dia seperti memiliki bakat alami untuk hal itu,” gumamnya.

“Ya, kau benar. Aku juga baru menyadari beberapa hal dari anak itu,” Sisil datang menyambar.

“Kemampuan yang dimilikinya jauh melampaui rata-rata. Hanya dalam hitungan minggu, dia mampu menguasai First Ability. Belum lagi staminanya yang di luar batas kewajaran. Aku tak habis pikir bagaimana dia bisa sekuat itu,” gerutu Sisil.

“Tapi ada satu hal yang belum kau ketahui darinya, Shafa,” Sisil mulai bertingkah aneh.

“Apa maksudmu?”

“Dia… Sandy juga sudah menguasai Second Abiliy.”

“Apa katamu?! Bagaimana bisa??” Shafa terkejut bukan main.

“Kau ingat saat The Cursed Seven kembali dari misi satu bulan lalu?” tanya Sisil.

“Ya, saat itu kalian kembali dengan kondisi penuh luka. Tapi bukankah itu karena kalian terkena perangkap musuh?”

“Tidak, itu hanyalah kebohongan yang kubuat agar kalian tak cemas. Sebenarnya kala itu kami tak sengaja menemukan sebuah jalan rahasia menuju kerajaan Goblin.” Mata Shafa terbelalak mendengar penuturan Sisil.

“Pada awalnya kami hanya bermaksud mengintai dan mencari informasi lebih lanjut, tapi…” ucapan Sisil terhenti disana. Setetes air mata mengalir dipipinya.

“Aku gelap mata melihat kesempatan emas yang tak mungkin datang lagi. Aku berniat membawa pulang satu kepala Guardian Goblin yang kami lihat sebagai bukti agar kekuatan kami diakui. Bukti supaya kau mengakui kekuatanku !!”

PLAAKK!!

“Dasar bodoh.” sebuah tamparan mendarat diwajah Sisil. “Memangnya kalau kalian mati semuanya tidak merasa kehilangan? Memangnya kalau kau mati, aku tidak sedih?? Hah?!” setelahnya ia memeluk Sisil erat. Mata Shafa berkaca-kaca, menahan tangis yang ingin pecah.

“Maafkan aku…”

“Sudahlah, tak apa. Hal terpenting adalah kau masih hidup, tapi bagaimana caranya kalian lolos?” pembicaraan pun kembali ke inti.

“Awalnya kami mampu menghadapi para goblin itu, tapi semakin lama jumlah mereka semakin bertambah. Kami pun kewalahan dan mulai terdesak. Separuh dari timku dibuat tak sadarkan diri. Aku lalu menggunakan First Ability untuk mengulur waktu dan menyuruh Deny, Diky juga Sandy untuk membawa pergi yang lain.

Aku berhasil tapi tenagaku tak banyak tersisa. Pandanganku memudar tak lama setelahnya. Meski begitu aku ingat betul kalau Sandy kembali untuk menjemputku. Ia membaringkanku ditempat aman dan berdiri gagah menghadapi musuh yang datang. Dan sebelum kesadaranku menghilang sepenuhnya, aku mendengar dia mengatakannya…

Second Ability: Dark Adrenaline.”

“Ssskkkk… Ssskkk*

Perbincangan mereka sedikit terganggu oleh suara dari semak-semak. Shafa dan Sisil menoleh tajam menuju asal suara. “Siapa disana?!” gertak Shafa.

Perlahan seseorang melangkah keluar dari semak-semak. Jalannya tertatih dengan sebelah tangan memegangi perutnya. Cahaya dari dalam gua mengenai wajah orang itu, menyibak identitasnya.

“Aku pulang,” ucapnya.

“Tu-tuan Gani?!!” teriak Shafa dan Sisil serempak.

Mereka pun segera menghampirinya. Shafa memberi komando pada Sisil untuk meminta bantuan Magina dan semua orang di dalam gua. Sisil pergi dengan segera.

“Tuan, apa yang terjadi? Kenapa Anda bisa terluka parah seperti ini?” tanya Shafa. Dia yang biasa tenang dalam menghadapi apapun, kini dibuat panik.

“Shafa, aku punya tugas penting untukmu…”

Sementara itu, Sandy sedang menjalani proses penyambungkan kembali lengan kanannya. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, Magina mencoba menyambungkan sel berlapis Magical Power di ujung lengan dengan bahu Sandy. Perlahan tapi pasti, sel-sel itu kembali menyatu satu dengan yang lain. Operasi penyambungan pun sukses.

“Nah, sudah selesai,” ucap Magina sambil mengelap peluh di wajahnya.

“Sekarang cobalah kau gerakan tanganmu.

“Sandy mencoba lengan ‘lama tapi baru’-nya itu. Mulai dari gerakan pemanasan hingga kombinasi beberapa pukulan. Tampaknya semua berfungsi normal bahkan cenderung meningkat kekuatannya.

“Bagaimana? Apa semua normal?” tanya Magina.

“Ya, ini luar biasa,” ujar Sandy senang.

Kesenangan Sandy tak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian Sisil datang dengan wajah panik.

“Kakek Mag… Tolong.. Tolong tuan Gani.”

-to be continue

 

dipolacubo

Iklan

4 tanggapan untuk “The Legend of Moonlord, Part17 (Unbelievable Decision)

  1. Bagi para pembaca sekalian, ada sedikit pengumuman.

    Cerita ini akan vakum (lagi) untuk sementara waktu karena kesibukan penulis (gue). Maaf sebelumnya dan mohon pengertiannya. Cerita mungkin akan update sebulan sekali, itupun kemungkinan paling cepat. Terimakasih atas kesediaan kalian membaca cerita ecek-ecek ini sampai sini.

    Best regards,
    dipolacubo

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s