Cahaya Kehidupan : Aku Perkenalan Pertama Part 27

* “Bagaimana, pak? Sukses?” Gre bertanya sambil tertawa.
Sebagai jawaban, Dhee melempar potongan bata. Gre menghindar, celaka
kalau sampai terkena.

Malam itu, Dhee pulang dari rapat bulanan konstruksi gedung di kantor
pusat. Pukul setengah sebelas malam. Ada banyak poin evaluasi, dan
Dhee mendapat banyak pekerjaan tambahan. Insinyur bangunan lebih
percaya padanya dibandingkan mandor lain.

Sudah larut, tidak ada lagi angkutan umum. Tengah malam begini hanya
ada satu pilihan kembali ke lokasi konstruksi, jalan kaki. Dhee
berjalan di tengah gemerlap jalanan yang sepi.

Saat melintasi sudut-sudut yang lebih gelap, Dhee melihat seorang
gadis sedang disudutkan beberapa pemuda. Tertawa-tawa, pemuda itu
jahil menggodanya. Gadis itu berteriak minta tolong.

Dhee merapatkan jaketnya. Dia dulu juga bekas anak jalanan. Jadi tahu
persis apa masalah kerumunan itu. Dhee perlahan mendekat, ternyata
gadis yang ia sukai sedang dalam masalah.

Para pemuda itu makin jahil. Gadis yang tadinya berteriak, kemudian
menerobos mereka. Hendak lari, namun salah seorang pemuda berhasil
menyambar tasnya. Mereka tertawa diatas penderitaan orang lain.

“Kembalikan, aku mohon.” gadis itu berseru parau, tapi mereka malah
mencolek tubuhnya.
“KEMBALIKAN!!!” Dhee mendesis tajam, pemuda-pemuda itu menoleh kearahnya.

Sudah lama Dhee tidak berkelahi. Terakhir? Mungkin delapan tahun
silam, saat ia tinggal di rumah singgah. Lama bukan berarti ia lupa
caranya. Baginya bertahan hidup, membela diri adalah insting
alamiahnya.

Bahkan saat SD pun ia sudah sering berkelahi, bersama
sahabat-sahabatnya di X-Warriors. Maka saat pemuda-pemuda itu
menatapnya sepele, bahkan ada yang meludah Dhee hanya menyeringai.
Terpaksa memukuli mereka satu persatu.

Empat pemuda itu terkapar di jalanan. Sisanya kabur terbirit-birit.
Dhee mengembalikan tas itu ke gadis yang dikenalinya. Gadis itu
berdiri kaku di bawah tiang lampu. Dhee hanya tersenyum, tapi gadis
itu hanya diam.

* Kejadian itu benar-benar membuat Dhee tidak bisa melupakan gadis itu
sepanjang malam. Esok ia memutuskan untuk menemui sang gadis. Datang
ke rumah si gadis layaknya pria sejati.

Tidak terasa, pagi ini Dhee akan menemui gadis itu. Pergi dengan
pakaian rapi ke rumahnya. Tapi disana, Dhee hanya berdiri saja di
depan pintu rumah gadis itu. Ya, hanya diam tanpa mengetuk pintu.

Dia harus bisa mengajaknya bicara. Apa susahnya? Tapi bagaimana harus
memulainya? Hai, saya Dhee. Kau terlihat cantik sekali hari ini.
Tidak, itu terdengar aneh baginya. Bagaimana caranya? Bagaimana?

Tanpa diduga, gadis itu tiba-tiba membuka pintu rumahnya. Dhee
terkesiap, sangat terkejut. Ia tidak boleh lari, inilah kesempatan
emasnya yang tidak akan datang dua kali.

“Hai, namaku Dhee.” Dhee memulai pembicaraan.
“Kau yang semalam menolongku, aku masih ingat wajahmu. Terima kasih
sudah menolongku.” gadis itu tersenyum.

Dhee terlihat gugup, tersenyum? Ia tersenyum untukku? Sungguh indah
sekali senyumnya.
“Namaku Nabilah.” akhirnya Dhee tahu nama gadis yang selama ini ia kejar.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s