‘Touchdown’, Part15

image

“Kami pulaang,” ujar Desy dan Falah bersamaan.

“Nih Bu,” ujar Falah sambil menaruh belanjaannya di meja makan.

“Makasih ya, yaudah kamu istirahat dulu sambil nunggu makanannya mateng,”

“Yooo,” Falah mengangguk, ia menuju ruang keluarga.

Falah menyalakan TV dan mencari acara yang menarik menurutnya.

“Nih minum dulu,” ujar Desy yang duduk di sebelah Falah sambil memberikan segelas es jeruk.

“Thanks yoo,”

“Fal, gue mau ngomong deh,” ujar Desy.

“Hmm?” Falah berdehem karena ia sedang meneguk es jeruknya.

“Gue suka sama lo,”

~

Falah menatap Desy dengan seksama. Mencari sisi bercanda dari ucapannya barusan.

“Bercanda lo Des,” Falah kembali memalingkan wajahnya ke arah televisi.

“Serius Fal,” Desy menggenggam tangan Falah.

“Haah.. Des.. seriusan deh gue lagi cape, jangan bercanda dulu,”

Desy menatap mata Falah dalam.. Ia berusaha meyakinkan kalau ia memang menyukai Falah.

Falah malah diam, tidak tahu harus berkata apa. Entah kenapa dipikirannya justru Lidya yang terbayang.

“Oke, lo suka gue, terus?” tanya Falah.

“Ya a.aku mau kita pacaran,” Desy memasang puppy eyesnya.

Lagi, helaan nafas lolos dari mulut Falah.

“Oke, kalo emang serius. Gue sangat teramat berterima kasih, karena perempuan..” Falah menggantung kalimatnya dan menatap Desy dari atas hingga bawah.

“Perempuan semanis lo bisa suka sama gue, tapi… jujur Des.. gue nggak punya perasaan apa-apa,” ujar Falah.

Falah melihat ada raut kecewa dari wajah Desy.

“Please, gue nggak suka maksain perasaan gue. Dan gue yakin lo juga paham itu,”

Perlahan Desy melepaskan tangan Falah.

“Jadi, gue harap kita tetep kaya biasa aja, temenan, udah cukup itu,”

“Iya, aku ngerti,” ujar Desy pelan.

“Oke syukurlah kalo lo paham sekarang kita nonton tivi aja oke?” Falah mengganti saluran tivi, berharap ada acara yang cukup menghibur.

“Ngg.. aku bantuin di dapur dulu deh,” Desy beranjak dari sofa meninggalkan Falah sendirian.

“Haah.. ada-ada aja,”

~

Di meja makan.

“Gimana enak nggak?” tanya Melody kepada Falah.

“Hmm, enak kok tante, tante kenapa nggak buka restoran?”

“Haha, bisa aja, hmm kenapa ya, yaa nanti bisa dipikirin,” ujar Melody.

Falah memanggut-manggut sambil melanjutkan makan.

“Kamu nggak laper Des?” tanya Veranda.

“Eh, la.laper kok tante, cuma biasalah mendadak ilang moodnya, tapi ini di makan kok,” Desy langsung menyedokkan sesuap nasi ke mulutnya.

“Kamu ada masalah?” tanya Melody.

Falah melirik ke arah Desy, menunggu apa yang nanti akan diceritakan.

“Hmm, nggak kok, yaa tau sendirilah anaknya gimana,” ujar Desy sambil memasang senyum.

Melody mengangguk, ia memang cukup paham tabiat anaknya yang kadang suka berubah moodnya.

“Tapi nggak baik lho seperti itu, seorang perempuan harus bisa mengatur emosi nya saat berada di depan umum, apalagi di depan cowo yang dia suka,” ujar Veranda.

Pipi Desy bersemu merah saat Veranda berbicara seperti itu. “Ah tante, bisa aja,” ujar Desy malu-malu.

“Heheh, ya bisa dong,”

“Emang Kak Desy lagi suka sama orang ya?” tanya Yansen.

“Eh.. ngg itu..”

Ketiganya melirik ke arah Falah yang justru malah sibuk makan.

“Kelakuan ayahnya banget,” celetuk Melody.

“Yaa begitulah, jadi berasa ngurus dua bayi gede,” ujar Veranda.

“Kalian ngomongin apa sih? Yansen nggak ngerti,” ujar Yansen dengan polosnya.

“Biasa Yansen, obrolan orang tua, kamu makan aja, kalo makan nggak boleh sambil ngomong,” ujar Falah kepada Yansen tanpa melirik ke arah ketiganya. Falah tau kalau dirinya sedang dibicarakan tadi, tapi yaa.. gitu.

“Oke kaak,” jawab Yansen yang kembali melanjutkan makannya.

Sedangkan ketiga perempuan itu manyun-manyun lucuk. Apalagi Veranda, ingin sekali ia menguyel wajah anaknya yang sotoy itu.

Selesai makan, baik Melody maupun Desy pamit pulang, iyalah orang barengan datengnya.

“Hati-hati Mel,” ujar Veranda sambil melambaikan tangannya.

“Pulang duluan yaa, dah Ve, dah Fal,”

“Iya tante tiati,”

Setelah keluarnya mobil Melody dari rumah Falah, Falah menutup pintu gerbang, kemudian masuk ke dalam. Ia memasuki pintu rumahnya, ia melihat Ibunya sedang menonton tv bersama Yansen. Ia mengurungkan niat untuk segera kembali ke kamar.

“Buuu..” ujar Falah manja yang langsung tiduran di paha kiri Veranda, sebelah kanannya ada Yansen soalnya.

“Apa?” jawab Veranda datar.

“Ah Ibu mah gitu jawabnya,”

Veranda memutar matanya malas, ia tahu jika sedang begini Falah pasti ada maunya.

“Iya kenapa anak Ibu yang paling ganteng?”

“Iyalah ganteng, orang anak satunya cewe,” celetuk Yansen.

“Rr.. nyaut aje,” ujar Falah.

“Sst ah malah berantem, kenapa ada apa?” tanya Veranda lagi.

“Nggak apa, Bu, nanti ke bandung yuk Bu, ke rumah Beby, kan udah lama nggak ke sana,”

“Ah itu mah kamunya aja mau main ke sana,”

“Nah itu Ibu tau,”

“Yaa coba kamu ngomong sama Ayah sana, kan Ayah yang kerja, tapi lagian kamu sama Yansen kan sekolah,”

Falah manyun, kalau sudah berurusan dengan Ayahnya pasti lama. Ketemunya juga jarang.

“Yaa liburan laah, Yansen mau kan yaa?” ujar Falah.

“Hmm, iyaa Bu, liburannya ke Bandung aja, enak adem daripada di Cirebon,” ujar Yansen.

“Yaudaaargh.. kalian ngobrol sama Ayah sanaaa,”

Keduanya terdiam, memanyunkan bibirnya.

“Iya..iya nanti coba ngobrol sama Ayah, kalo Ayah pulangnya jam dua belas siang,” ujar Falah.

Falah kemudian bangkit, hendak menuju kamarnya.

“Mau kemana? Gitu aja ngambek,” ujar Veranda.

“Nggak ngambek, ada PR, mau ngerjain,” ujar Falah singkat-singkat.

“Heleuh, kakakmu, kalo keinginannya nggak di-iya-in begitu tuh,” ujar Veranda sambil mengelus rambut Yansen.

“Yaa, kakak mah emang manja Bu dari dulu juga,”

“Kaya kamunya nggak aja,”

“Hehe, kan aku masih muda,” ujar Yansen sok imut.

“Astaga punya anak dua sama aja kelakuannya,”

~

Di rumah Lidya…

Ting tong…

“Yoo bentar,” ujar Lidya sambil keluar dari kamar.

“Kakak apa ya? Tapi perasaan pulangnya harusnya masih lama,” gumam Lidya.

Lidya membuka pintu rumahnya. Seketika wajahnya berubah menjadi malas.

“Mau apa?”

“Hmm.. nggak, aku tadi kebetulan lewat sini, terus.. yaa mau mampir aja,”

Lidya diam menatap Dion tidak percaya.

“Ah, oke, aku tau kamu masih marah sama aku, ini aku mau ngasih ini,” Dion mengulurkan sekotak cokelat.

Lidya mengangkat satu alisnya.

“Nggak usah deh, makasih,” ujar Lidya dingin.

“No, aku nggak suka penolakan, nanti kalo nggak kamu makan juga nggak apa kok,” ujar Dion sambil mengambil tangan Lidya dan menaruh kotak cokelat itu di tangan Lidya.

“Ta..”

“Oke, aku langsung ya, ditunggu Mamah di rumah,” Dion memotong ucapan Lidya, dan langsung beranjak pergi dari rumah Lidya.

Lidya menatap kotak cokelat itu.

“Hhh ada-ada aja,” Lidya mengunci kembali pintunya.

Begitu Lidya masuk ke kamar, ia mendengar hpnya berdering. Lidya menghampiri meja belajar di mana hpnya ditaruh.

“Falah?”

Lidya mengangkat bahunya.

“Halo?”

“Halo dut,”

“Dat dut dat dut, emang aku gendut apa?”

“Haha, sensi amat mba, nggak kok nggak gendut, suaranya gendut. Ini beneran Lidya kan?”

“Kalo mau ngejek sekalian aja mas,”

“Haha, abis suara mu itu lho, kayak cowo,”

“Udah basa-basinya?”

“Duh ilah, iya iya.. Ngg.. lagi apa?”

“Hahaha, please Fal, template banget,”

“Hehe, yaa kan takutnya lagi sibuk gitu, kalo sibuk ya nanti lagi nelfonnya,”

“Sok baik kamu,”

“Astagfirullah, giliran ngomong bener malah dibilang sok baik, yaudah deh kalo lagi sibuk gue tutup aja,”

“Eeh iya bercandaa ih, lagi pms ya mas?”

“Nggak, lagi PBB gue, buat latihan upacara nanti,”

“empat per sepuluh mas”

“Makasih,”

“Hahaha, aku lagi duduk aja, tadi ada orang iseng ngasih cokelat,”

“Lha enak banget malem-malem ada yang ngasih cokelat, emang dari siapa?”

“Dion,”

Hening…

Entah kenapa diujung sana Falah merasa teriris hatinya saat tau Dion yang memberikan kue itu.

“Kok diem mas?”

“Eh kaga, ini gue sambil ngerjain PR, lagi nemu caranya aja,”

“Lha? Sempet-sempetnya ngerjain PR trus nelfon,”

“Tadi lagi suntuk soalnya hehe,”

“Yaudah kerjain dulu aja PRnya, kamu mah malah nelfon,”

“Iya iya, yaudah gue tutup yaa,”

“Iya..”

“Assalamualaikum,”

“Waalaikumsalam..”

Dan telfonpun dimatikan..

TBC

Hoaah, udah part berapa ini? 15 ya? Makin absurd aja.. aseli mendadak feelnya tidak seperti awal bikin.. kenapa ya kenapa ya..

Tapi makasih lho udah mau baca sampe ke part ini, dan masih setia mengomentari serta memberi semangat. Maaf kalau ceritanya kurang menarik, dan kurang panjang.

HufLid..

Tunggu part selanjutnya yaaa ^^

By : falahazh

Iklan

3 tanggapan untuk “‘Touchdown’, Part15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s