Sebuah Cinta dan Kenangan, Part15

“GRESSS..” Suara batu kecil menggelinding dalam jumlah banyak secara bersamaan.

“Shani !” Tetiak Anin keras membuat barisan yang didepannya meloleh kebelakang.

“Hey ! Ada apa ?” Tanya Erza.

“Aww…”

“Shani kepleset za” Ucap Anin sambil mencoba membantu Shani bangun.

“Awas…” Erza mendekat.

“Buat jalan sakit ga ?” Tanya Erza.

“Lumayan, kekilir soalnya” Balas shani memegangi kaki kanannya.

Aldo mencoba akan mendekati Shani, namun langsung ditahan oleh Yogi dan Rezki.

“Mau apa lu ? Udah diem aja” Ucap Yogi memandang Aldo datar.

Erza kemudian memposisikan dirinya jongkok didepan Shani.

“Naik, biar aku gendong sampe penginapan”

“Ngga papa ?” Tanya Shani memastikan.

“Kaki kamu kan kekilir, nanti kalo dipaksain buat jalan malah tambah memar, tambah sakit juga. Udah naik sini” Balas Erza.

Shani dengan dibantu Anin dan Elaine untuk bangun dan menumpukan tubuhnya dipunggung Erza.

-oOo-

didepan rumah-rumah penginapan semua siswa dikumpulkan tanah lapang. Dari para guru pembimbing memberikan pejelasan tentang kegiatan dihari pertama.

Semua dikumpulkan menurut kelasnya masing-masing seperti semula. Kecuali Shani yang tak ikut berkumpul dikarenakan kakinya yang terkilir pagi itu.

“Kelas angkatan kita banyak juga ya ternyata” Ucap Sinka.

“Iya” Balas Elaine.

“Hari pertama mau ngapain nih ?” Lanjut Elaine.

“Ngga tau” Balas Sinka.

“Udah pada diem dulu napa, nanti ketahuan bisa kena omel kalo berisik” Bisik Yogi.

“Dasar bibit emak-emak, sukanya ngerumpi…” Ceplos Yogi.

“PLETAK ! PLETAK !” Dua jitakan Yogi dapatkan dari Elaine dan Sinka.

Elaine dan Sinka menatap tajam ke arah Yogi. Yogi hanya cengengesan sambil menunjukan jarinya membentuk huruf “V”e.

“Piss”

Pagi itu guru pembimbing pertama hanya sekedar mengumpulkan semua murid hanya untuk didata dan hanya menyampaikan beberapa patah kata yang berhubungan dengan kegiatan dihari pertama acara tahunan sekolah pada desa tersebut.

Setelah dibubarkannya apel pagi. Erza duduk di salah satu bangku yang menghadap ke arah terdapatnya hamparan perkebunan teh. Sebelumnya Erza juga menghampiri Shani untuk memastikan kondisi kakinya paska terkilir.

Dengan Earphone yang tersumpal dikedua telinganya dan secangkir teh hangat digenggamannya, Erza terdiam. Tanpa menyadari seseorang datang menghampiri. Disapa Erza tak menyahut, orang tersebut menepuk pelan pundak Erza.

“Oh, hai !” Ucap Erza.

“Pagi-pagi dah bengong aja, nanti kesambet loh”

“Tadi udah liat Shani lagi ?” Lanjutnya.

“Udah kok, nin” Balas Erza.

Anin ikut memposisikan duduk dirinya duduk disebelah Erza.

“Ngapain disini sendirian ? Bengong lagi” Tanya Anin lagi.

“Siapa juga yang bengong ?”

“Lah itu tadi”

“Gue cuma lagi nikmatin aja udara pagi disini, jarang-jarang kan bisa dapet udara kaya gini dikota” Balas Erza kemudian mengambil nafas dan menghempaskannya pelan.

“Seger banget” Lanjut Erza.

“Udah sarapan ? Anak-anak lagi pada sarapan tuh” Tanya Anin, menyeruput teh hangatnya.

“Nanti aja deh. Eh, lu sendiri udah belum ?” Tanya balik Erza.

“Barusan udah, makanya langsung kemari”

Beberapa saat kemudian suasana berubah sekejap menjadi sunyi.

“Kadang gue suka ngrasa iri sama Shani” Ucap Anin tiba-tiba.

Erza menoleh, “Iri kenapa ?” Tanya Erza.

“Ah ? Nga papa kok. Tunggu sini bentar ya” Ucap Anin beranjak dari tempatnya.

“Mau kemana ?”

“Tunggu sebentar. Itu teh gue jangan diminum juga loh” Teriak Anin sambil berlari pelan, menjauh.

“Dasar” Erza tersenyum kecil.

Anin pergi dari tempatnya. Erza kembali fokus dengan pemandangan yang ada dihadapannya. Hingga tak lama kemudian Anin kembali lagi dengan membawa sesuatu.

“Nih dimakan, katanya tadi belum sarapan kan ?” Anin menyodorkan mangkuk berisi mie instan panas.

“Ngga usah repot-repot kali, gue juga bisa ambil sendiri, nin”

“Udah dimakan, nanti keburu dingin ga enak loh”

“Apa mau disuapin ?” Lanjut Anin.

“Hah ?” Kaget Erza.

“Nga papa kok” Ucap Anin mulai mengambil isi mangkuk dengan sendok.

“Udah, gau usah nin. Gue bisa sendiri”

“Yaudah, nih dimakan. Dihabisin juga, awas aja kalo ga dihabisin” Anin memberikan mangkuk.

“Emang kalo ga dihabisin bakal gimana ?” Tanya Erza.

“Ya dosa lah. Makanan itu jangan di sia-siain, diluar sana banyak yang membutuhkan, masa kita yang bisa dikatakan masih gampang buat dapat makan malah di sia-siain” Ucap Anin.

“Iyadeh, gue habisin”

Erza menghabiskan sarapan yang dibawakan oleh Anin dan ditemani juga oleh Anin dengan penghangat obrolan kecil.

 

“TING !” Bunyi pesan masuk.

Shani : Udah sarapan ?

Erza  : Ini lagi sarapan. Kamu sendiri udah apa belum ? Jangan bandel

Shani : Udah kok. Ini udah lagi duduk depan penginapan

Erza  : Emang kakinya udah ga sakit ?

Shani : Tadi udah dikompres juga. Kamu dimana ? Kesini dong, sendirian nih. Yang lain entah

pada kemana

Erza  : Iya bentar, aku kesitu

Pesan berakhir pada Erza.

“Siapa za ? Shani ?” Tanya Anin.

“Iya”

“Gimana kakinya ? Tadi pas antar Shani ke kamar doang terus belum liat lagi soalnya”

“Tadi katanya udah agak baikan, udah dikompres”

“Syukur deh”

“Nin, gue pamit mau ke Shani”

“Oh, iya”

“Makasih banget buat sarapannya, pake dibawain segala”

“Ah santai aja kali, kaya baru kenal aja”

“Yaudah gw duluan ya nin” Ucap Erza tersenyum.

“Iya” Balas Anin tersenyum balik.

 

SKIP

 

Pagi dihari kedua. Masih sama dengan hari pertama. Hanya saja kaki Shani yang terkilir dihari pertama sudah membaik dan sudah dapat diajak untuk berjalan tanpa rasa sakit yang besar.

 

Di hari kedua ini, semua akan dibagi menjadi kelompok. Setiap kelompok akan disuruh mengumpulkan foto, foto bersama penduduk sekitar. Catatan foto adalah sebelum mengajak berfoto kelompok tersebut harus membantu apa yang dikerjakan oleh penduduk tersebut.

Dari semua kelompok, kelompok mana yang paling banyak mendapatkan foto dan membantu sekitar, kelompok tersebut ialah pemenangnya. Kelompok pemenang akan diberi makan ayam satu hari setiap jam makan. Sedangkan yang kalah ? Tak mendapat apa-apa.

Game kecil tersebut dibuat agar para siswa maupun siswi bisa memunculkan jiwa saling membantu, peduli sesama dan yang paling penting untuk mempererat hubungan antar manusia tanpa mengenal ras dan budaya.

“Kita mau mulai dari mana ?” Tanya Yogi.

“Yang paling deket dulu kali ya. Bantu ibu-ibu metik daun teh” Usul Elaine.

“Tapi ini jam berapa len, kalo metik teh kan harus pagi banget. Ini aja udah jam 7 lebih”

“Iya ya. Terus apa dong?” Tanya Elaine.

“Gue ada usul yang gampang, tapi pada setuju apa ga nih ? Nanti pada bilang jorok lah, jijik lah” Ucap Ardi.

“Apaan emang ?” Tanya Yogi.

“Kalian liat itu…” Ucap Ardi menunjuk arah sebuah rumah dengan halaman cukup luas dengan pagar dari bambu.

“Pertama, kita kasih makan Ayam. Kedua, kasih makan Bebek. Kebetulan si bapak juga kayaknya lagi ngasih makan tuh” Ucap Ardi.

Semua terlihat berfikir. Mereka berdiskusi.

“Oke. Gue, Yogi, Rezki, Anin, Sinka, Shani setuju” Ucap Erza.

“Kalo lu len ?” Tanya Ardi.

“Hmm…ga ada yang lain ya ?”

“Tujuh lawan satu loh”

“Lagian lu kan juga suka Bebek len. Kwek kwek kwek” Ucap Anin menirukan gaya Bebek.

“Hahaha…” Semua tertawa melihat tingkah Anin.

“Ya…yaudah deh, gue setuju” Jawab Elaine pelan.

Mereka sepakat dengan ide yang diusulkan Ardi. Langsung saja mereka berjalan menuju tempat yang dimaksud.

Sesaimpainya, mereka meminta izin dan menjelaskan apa maksud tujuan bertamu. Setelah menjelaskan, mereka diperbolehkan oleh si pemilik. Ternyata si bapak tersebut juga memelihara Kelinci.

Kelompok dibagi kembali, anak perempuan pada bagian Kelinci dan para anak cowo dibagian sisanya.

“Ini yang lu bilang Bebek, di ?” Ucap Rezki datar.

“Lah tadi gue emang liatnya bebek, kok jadi berubah gini ya”

“Itu Soang, kampret ! Awas kena sosor” Ucap Erza menghindar saat salah satu Soang mencoba menyosor.

“Woooaaa…” Rezki lari.

Sementara itu disisi lain, namun masih dalam satu tempat.

“Nah, Kelinci manis ay makan pagi dulu ya” Ucap Shani memberikan Wortel kecil.

“Woooaaa…” Terdengar suara Rezki.

“Kenapa sih si Rezki ?” Tanya Elaine.

“Liat aja tuh. Hahaha…” Ucap Anin tertawa.

“Anjir kocak. Hahaha…” Sahut Sinka sambil memegang perutnya.

“Maaf pak, peliharaan disini punya bapak semua ?” Tanya Shani sopan.

“Alhamdulilah, iya punya sendiri”

“Biasanya kalo dikasih makan berapa kali sehari pak ?” Tanya Elaine.

“Woooaaa…” Terdengar suara Erza, Ardi, Rezki bersamaan sambil lari-lari.

“Brisik banget sih” Gerutu Elaine.

“Biasanya sih tiga kali sehari” Jawab si bapak.

-oOo-

Kelompok Erza cs beristirahat di pinggir sungai setelah kesana kesini membantu warga dan mengumpulkan foto demi foto. Suara gemercik dari aliran sungai yang dingin walaupun sudah memasuki siang hari.

“Dapet berapa ?” Tanya Sinka.

“Dapet…7 foto” Balas Elaine.

“Batas waktu game tinggal lima belas menitan lagi. Lebih baik dipake buat istirahat aja disini” Ucap Anin.

“Iya” Balas serempak.

“Kakinya emang ga sakit dipake buat jalan terus ?” Tanya Erza pada Shani.

“Ga kok, malah kalo dipake buat jalan rasanya lebih enakan” Balas Shani dengan mencelupkan kakinya kedalam air sungai yang dingin.

“Kalo sakit ngomong aja, nanti pulangnya biar aku gendong”

“Ihh, emang aku masih anak kecil ? Suka digendong mulu”

“Bagiku kamu masih anal kecil. Anak kecil yang harus dijaga dan disayang”

“Malah gombal” Ucap Shani mencubit perut Erza.

“Gombal ? Nih gombal” Balas Erza dengan memencet hidung Shani.

“Nyebelin”

Waktu terus berjalan. Saat pengumuman pemenang tiba dimulai, kelompok pemenang bersorak, sedangkan kelompok lain hanya tersenyum sambil memberikan tepuk tangan. Walaupun kelompok Erza tak menjadi pemenang tapi mereka tetap merasa senang dengan apa yang sudah dilakukan.

Dengan perlahan para murid yang terdiri atau terbagi kelompok mulai membubarkan diri dari tanah lapang. Waktu telah memasuki jam makan siang.

“Loh kok makanan gue ada ayamnya ? Apa ketuker ?” Bingung Rezki.

“Punya gue juga ada” Ucap Elaine.

“Ini juga” “Ucap Anin.

“Semua ada ayamnya” Ucap Shani.

 

Saat jam makan siang tiba-tiba suasana menjadi berisik dengan perkatan bingung antar murid. Petugas pembina akhirnya menjelaskan.

“Semua mohon perhatiannya. Kalian tak usah bingung kenapa makanan antara kelompok pemenang maupun kelompok kalah itu sama. Dari pihak pembina memang disengaja. Menang atau kalah itu sudah biasa, tapi bisa membantu anrar sesama tanpa memandang status sosial maupun lainnya itu hebat. Game ini hanya bertujuan untuk menumbuhkan rasa saling keperdulian kalian terhadap sesama dan kami (pembina) mohon maaf karena Rencana ini” Jelas guru pembina.

“Oh, jadi gitu” Ucap Sinka manggut-manggut.

“Sebelum makan sebaiknya berdoa terlebih dahulu” Sergah Erza.

“Nah itu” Sahut Yogi.

“Berdoa, mulai…” Ucap Erza.

“Selamat makan semua” Ucap Elaine.

“Selamat makan” Ucap semua serempak.

Ditempat Gracia berada, rumahnya. Gracia sedang duduk dikursi meja belajarnya dengan memandangi layar ponselnya. Ia terlihat seperti sedang mengharapkan adanya sebuah panggilan, pesan atau mungkin lebih tepatnya sebuah kabar dari seseorang.

Gracia memandang lesu penuh harapan pada ponselnya. Selama beberapa saat, tapi sampai saat itu belum juga ia mendapat sebuah notif masuk untuk hari itu. Gracia mengela nafas panjang, ia kemudian berjalan ke kasurnya dan mejatuhkan tubuhnya diatas permukaan lembut itu.

“Kak Erza kok belum ngasih kabar ya hari ini ?” Pikir Gracia menerawang langit-langit kamarnya.

“Mungkin lagi ada kegiatan” Tambah Gracia.

“Aarrgghhh….” Gracia membenamkan wajahnya kedalam bantal.

“Kenapa dek ?” Teriak Ve dari luar.

“Ga papa kok, kak”

“Jangan teriak-teriak gitu, ga baik kalo didenger tetangga” Ve menasehati.

“Iya, maaf kak”

“Udah makan siang dulu sini, kakak udah siapin nih” Ucap Ve.

“Iya kak, sebentar” Gracia beranjak dari tempat tidurnya menghampiri arah suara berasal.

-oOo-

Malam hari menjelang, udara sekitar menjadi lebih dingin dari tadi sore. Tak terlalu banyak aktifitas saat malam. Erza berjalan keluar, ia berniat hanya sekedar duduk-duduk didepan penginapan.

Disaat Erza hampir diambang pintu keluar, ia mendengar Suara petikan gitar. Dengan penasaran Erza mendekat. Ia menjumpai sosok perempuan terduduk membrlakanginya. Erza mendekat.

“Ngapain sendirian disini ?” Tanya Erza.

“Eh kamu za”

“B

“Kok belum tidur, shan ?” Ucap Erza.

“Belum. Hehehe…” Balasnya dengan senyuman lebar.

“Tuh kan, dibilangin jangan bandel. Udah malam, tidur gih” Ucap Erza, namun Shani menepuk bangku disebelahnya memberi isarat untuk Erza duduk.

Erza pun ikut duduk disebelah Shani dengan posisi menghadap ke depan menuju arah langit malam.

“Za..” Panggil Shani.

“Ya ?”

Shani tak menjawabnya, namyn ia langsung memeluk lengan Erza dari samping dengan kepala disenderkan dibahu Erza.

“Aku sayang kamu, za” Ucap Shani.

Erza tersenyum mendengarnya, Erza mengusap lembut kepala Shani.

“Udah shan, nanti kalo diliat yang lain atau guru malah bisa dikira yang ngga-ngga loh”

“Ah iya”

Beberapa saat suasana berubah menjadi sunyi tanpa ada seoatah katapun dari kedua mulut Shani maupun Erza. Namun, tak lama Shani bebicara.

“Langitnya disini bagus ya” Tanya Shani memandang langit.

“Cerah, jadi bintangnya keliatan banyak” Lanjutnya.

 

Shani berbicara dengan senyum manis yang mengembang.

“Za..” Ucap Shani.

“Ya” Jawab Erza kembali, Shani menengok ke arah Erza.

“Ya ampun !” Kaget Shani.

“Hidung kamu berdarah…” Ucap Shani panik.

“Hah ? Hidung gue Berdarah ?” Batin Erza dengan mengelap hidung dengan tangannya.

 

*Bersambung…

 

Wali Murid : Shanji bukan Shanju

Iklan

5 tanggapan untuk “Sebuah Cinta dan Kenangan, Part15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s