Romansa Di Kota Itu, Part7

“Kak, bangun, udah jam tujuh, nggak makan?”

Suara seorang wanita kembali menggema di kamar tidur Dendhi, namun Dendhi tak membuka matanya.

“hmmm… gimana ya caranya bangunin kak Dendhi?” tanya Michelle

“mending aku tanya kak Ve aja, dia kan udah lebih lama kumpul sama kak Dendhi, jadi dia pasti tau gimana cara bangunin kak Dendhi” ujar Michelle pelan, dia pun berlahan meninggalkan kamar kakaknya, dan bergegas menuju ke ruang tamu, dilihatnya kak Ve sedang asyik menonton TV.

“Kak Ve, kakak tau nggak cara bangunin kak Dendhi? Dia susah banget dibangunin kak” kata Michelle

“masa sih? Coba kakak ke kamarnya” kata Kak Ve sambil beranjak dari tempat duduknya. Mereka berdua berjalan menuju ke kamar Dendhi yang berada di lantai dua. Baru saja mereka di depan kamar Dendhi, tiba-tibaa…

“KAAAAAAK VE” Dendhi berteriak, mereka berdua yang sudah memegang gagang pintu kamarnya Dendhi pun tersentak kaget

“kenapa? Having a nightmare again?” tanya kak Ve sambil melihat ke arah Dendhi yang sudah bermandikan peluh.

“Itu tadi nyata banget” kata Dendhi pelan

“Apanya yang nyata banget?” tanya kak Ve

“Nggak kok kak” kata Dendhi singkat

“Kak, makan yuk. Itu aku udah masakin nasi goreng buat kak Dendhi” kata Michelle

“ iya deh” kata Dendhi yang kemudian beranjak dari tempat tidur nya menuju ke ruang makan, di sana sudah tersaji Nasi goreng yang masih hangat, lalu di makannya nasi goreng itu oleh Dendhi

“Buset… ini nasi goreng asin banget, si Michelle pengen banget buat aku sakit hipertensi” kata Dendhi dalam hati

“Kenapa kak?” tanya Michelle kaget

“kamu cobain sendiri aja deh, daripada aku yang ngomong langsung” kata Dendhi sambil menyodorkan sepiring nasi goreng yang Michelle buat, kemudian Michelle dan kak Ve mencicipi rasa nasi goreng buatannya.

“Asin banget” kata kak Ve

“Perasaan tadi nggak asin deh, aku Cuma masukin tiga sendok makan doang” kata Michelle yang mengingat-ingat

“Tiga sendok makan? Parah kamu” kata Dendhi yang agak menaikkan volume suaranya

“Pantes asin ngene rek” kata Dendhi yang meninggalkan mereka (pantes asin gini)

Dendhi bergegas menuju ke kamar nya, dia mengganti baju nya, dan berjalan keluar

“Mau ke mana Den?” tanya kak Ve

“Mau makan di luar” kata Dendhi

“Kak Ve ikut ya” kata kak Ve yang berlalu ke kamarnya

“Kamu nggak ikut juga?” tanya Dendhi

“hmm… iya deh kak” ujar Michelle yang masih diam di ruang makan

“buruan woii” Kata Dendhi lagi.

Sepuluh menit kemudian Michelle dan kak Ve muncul, berangkatlah mereka bertiga menuju salah satu restoran sea food terkenal di Banyuwangi. Ketika sampai di parkiran tanpa sengaja Dendhi menabrak seseorang

“Maaf, saya nggak sengaja” kata Dendhi

“Iya mas, nggak apa-apa kok” balas orang itu

“eh.. bentar kayak nya aku pernah ketemu sama ini orang, tapi di mana ya?”  tanya Dendhi dalam hati

“Kak Reza, masih lama nggak?” tanya seorang wanita

“What?? Reza?? Apa dia Reza sahabat kecilku?” tanya Dendhi dalam hati

Tak lama kemudian muncul seorang wanita

“lho.. kak Dendhi? Ngapain di sini?” tanya wanita itu

“eh.. ka…kamu Gre. Aku tadi mau makan malem, sama Michelle dan kakak ku juga” kata Dendhi

“Dendhi? Kamu Dendhi Yoanda nggak? Yang dulu rumahnya di deket sawah? Rumahnya cat putih, pintunya warna biru?” tanya orang itu.

“iya, betul. Kok kamu tau?”  tanya Dendhi penasaran

“Iyalah, aku sahabat kecilmu, Reza Haditama” jawab orang itu

“Rezaaa??? Kapan kamu balik dari New York?” tanya Dendhi dengan wajah gembira

“kemarin, tapi nyampe Banyuwangi baru tadi siang, oh iya, kenalin sepupuku, namanya Shania Gracia” kata Reza

“Udah kenal kali kak” kata Gre sebal

“Barengan yuk” ajak Dendhi “udah kangen banget aku sama kamu” kata Dendhi sambil memasuki ruangan di restoran sea food itu

“View nya bagus ya Den” kata Reza

“Iya, ooh iya. Gimana New York? Beda nggak sama London?” tanya Dendhi penasaran

“New York padet banget, banyak kendaraan, apalagi di Times Square” kata Reza

“Oh iya, gimana kabar nya Yupi?” tanya Reza

Sontak wajah Dendhi yang tadinya gembira langsung berubah menjadi murung

“dia tadinya mau pindah sekolah di Jepang, tapi…” kata Dendhi

“Dia meninggal gara-gara kecelakaan Pesawat” tambahnya

“besok anterin ke makamnya ya, aku mau ziarah ke makamnya dia” kata Reza

Mereka pun sampai di tempat duduk, di sana sudah ada kak Ve, Michelle, dan Gracia,

“Den, itu siapa?” tanya kak Ve

“Awakmu wae sing ngomong ning kak Ve” kata Dendhi dengan menggunakan Bahasa Jawa

“maaf Den, kelamaan di New York, jadi lupa sama Bahasa jawa” kata Reza

“Kamu aja yang ngomong ke kak Ve” balas Dendhi

“Oooh… oke” kata Reza

“kak Ve masih inget sama aku? Aku Reza kak” kata Reza dengan ramah

“Reza?” Kata kak Ve sembari mengingat-ingat

“Oooh.. Reza yang dulu rumahnya di sebelah rumah kita ya? Yang kerjaan nya ngerjain Yupi sama Shani” kata kak Ve

“Iya kak, hehehe…” kata Reza sambil terkekeh

“Beda banget kamu Za sekarang udah putih, tinggi” kata kak Ve

“kak ve juga, sekarang tambah cantik, pipinya tambah gede” kata Reza

“aaaak… gila, ganteng banget” kata Michelle dalam hati

“Ooh iya, kenalin, ini Michelle, adik nya Aku sama Dendhi” kata kak Ve

“ha…haii kak, nama ku Michelle” ujar Michelle gugup

“Hai Michelle, aku Reza, aku temennya kakak mu yang gendut itu” ujar Reza sambil menunjuk Dendhi yang sedang memesan menu makanan, sontak Dendhi menatap tajam Reza, sedangkan Michelle, kak Ve, dan Gracia tertawa lepas

“Aku pesen Udang goreng tepung aja mas” kata Dendhi

“Aku sama kayak Dendhi aja” kata kak Ve

“Aku pesen udang saus inggris aja ya” kata Gracia

“aku pesen tenderloin Steak” kata Reza

“Aku pesen nasi goreng sea food aja mas” kata Michelle

“Minumnya apa?” tanya pelayan itu

“hmmm… Chocolate Milkshake aja” ujar mereka bersamaan

“Chocolate Milkshake nya lima, di tunggu ya” kata pelayan restoran itu yang mulai meninggalkan mereka

“Ooh iya Den, kamu penasaran nggak sama Shani?” tanya Reza

“Nggak” balas Dendhi singkat

“lho.. kenapa?” tanya Reza

Tak ada jawaban dari Dendhi, namun Dendhi menampakkan wajah kalau dia sangat tidak suka dengan Shani.

“Ini Den, aku punya foto terbarunya Shani” ujar Reza sambil menunjukkan foto Shani

“ini Shani Za? Beda banget ya sekarang” kata kak Ve

“Dia sekarang di mana Za?” tanya kak Ve lagi

“Dia sih sebulan yang lalu di Singapore, tapi sekarang dia di Jogja kak” balas Reza

“kamu masih contact sama Shani Za?” tanya kak Ve penasaran

“Masih, sampe sekarang aku masih sering komunikasi sama dia kak, dia pake aplikasi LINE kok” kata Reza

“Waaah… kebeneran, aku juga pake LINE, bagi ID LINE nya dong” kata kak Ve

“ini kak” ujar Reza sambil menunjukkan HP nya

Tak lama kemudian pesanan mereka datang, dengan lahap, mereka berlima memakan pesanan mereka, ketika pesanan mereka habis, Dendhi meninggalkan mereka yang masih berkutat dengan makanan pesanan mereka, lalu ia kembali ke meja nya.

“Kalian semua makan yang nyaman yaaa… udah aku bayarin semua nya” kata Dendhi

“se..serius kak?” tanya Gre

“Iyalah.. nih struk pembayaran nya kalo nggak percaya” Ujar Dendhi sambil menunjukkan struk pembayarannya

“waaaah.. makasiih ya kak” kata Michelle sambil tersenyum manis

“anak ini senyum nya lumayan manis” kata Reza dalam hati

“Den. Besok kamu bisa nggak ke rumahku? Kalo bisa sambil bawa Keyboard ya” ajak Reza

“Iya. Tapi ada apa? Lagian juga aku nggak tau rumahmu yang sekarang” Kata Dendhi sambil menunjukkan muka cengo nya

“Kita main-main kayak dulu lagi, aku se rumah sama Gre kok, tau rumahnya Gre kan?” kata Reza

“iya” Kata Dendhi sambil mengangguk, Dendhi melihat ke arah kak Ve dan Michelle yang ternyata sudah menghabiskan makanan mereka

“Reza, Gre, kita duluan ya” ujar Dendhi sambil menarik tangan Michelle dan kak Ve, perlahan tubuh mereka menghilang dari pandangan

“Gre, kamu suka ya sama Dendhi” tanya Reza

“eh.. eng… enggak kok kak, kata siapa?” Elak Gre

“jangan boong kamu, kamu itu adik aku, aku udah kenal kamu luar dalem tau, ngaku aja deh kalo suka sama Dendhi, dia itu temen kakak yang bisa di bilang baik banget” kata Reza

“Iya-iya, aku bakal ngaku, aku itu sebenernya suka sama kak Dendhi, tapi jangan bilang siapa-siapa ya kak, please…” kata Gre

“Iya, kakak nggak akan bilang sama siapa-siapa kok, paling sama mama doang” kata Reza sambil tertawa

“di bilang jangan ngomong siapa-siapa kok malah ngomong ke mama” Ujar Gre sambil menggembungkan pipinya

“Iya-iya, bawel amat sih, yuk pulang” kata Reza

*Rumah Viny*

“kak Viny, ada paketan tuh” ujar adiknya

“Paketan? Oke, bentar ya” ujar Viny sambil keluar dari kamar nya, dia lalu membuka isi paketannya, tiba-tiba

“Waaaaaaaaaa….” Viny berteriak

“kenapa kak?” kata Papa nya yang masuk ke kamar nya

Viny masih shock ketika melihat isi paketannya, papa nya yang penasaran lalu melihat isi paketannya ternyata berisi bangkai gagak. Papa nya lalu membuang paketan itu di tempat sampah

“Udah kak, tidur aja, papa yakin besok nggak akan ada beginian” ujar papa nya sambil tersenyum

*Rumah Dendhi*

“Michelle, Michelle. Aku boleh masuk nggak?” tanya Dendhi

Tak ada jawaban dari adiknya itu, Dendhi yang sebal akhir nya masuk ke kamar adiknya itu. Dilihat adiknya itu yang tengah senyum-senyum sendiri

“Pantesan aja nggak di sahut, ternyata dia lagi ngelamun” kata Dendhi

“michelle” ujar Dendhi sambil mencolek tangannya

“iya kak Reza” ujar Michelle gugup

“Ciiiaaat… kamu suka sama Reza ya? Sampe namaku di rubah jadi Reza” ujar Dendhi sambil tertawa lepas

“Eh.. enggak kok kak” ujar Michelle yang wajah nya memerah

“Apanya yang nggak? Wong wajahmu merah gitu lho” Dendhi meledek Michelle

“Apaan sih kalian ini rame-rame, udah malem tau” kata kak Ve yang berada di kamar Michelle dengan sedikit marah

“Ini nih kak, ada yang suka sama Reza” kata Dendhi

“Hah?? Siapa?? Kamu Den?” kata kak Ve penasaran

“Kampret, bukan aku kak, aku masih normal, Michelle tuh yang suka sama Reza, sampe-sampe nama ku di ganti sama Reza” ujar Dendhi yang tertawa lagi

“ih.. apaan sih kak? Udah kalian keluar sana, aku mau tidur” ujar Michelle yang wajahnya kian memerah

“Hahahaha….” Dendhi dan kak Ve tertawa melihat tingkah adiknya, mereka lalu meninggalkan adiknya dan kembali ke kamar mereka masing-masing

Dendhi lalu melihat ke hp nya. Ada permintaan pertemanan di akun facebook miliknya.

“Shani Indira Natio?” kata Dendhi pelan. Ia teringat dengan nama sahabat yang kini sangat ia benci.

Tanpa piker panjang, dia lalu menolak permintaan pertemanan nya, dan bahkan akun facebooknya Shani di blokir.

“Udah ah.. tidur aja” kata Dendhi yang lalu memejamkan matanya

 

“Tolong….”

 

To Be Continued

-Dendhi Yoanda-

Iklan

2 tanggapan untuk “Romansa Di Kota Itu, Part7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s