Beautiful Football(?), Part2

Jingga, warna langit sore itu. Dua anak perempuan kini sudah duduk di dalam bis di kursi paling belakang. Anak yang berpipi chubby itu hanya melihat ke arah depan sambil memegangi tongkat silver yang sudah menemaninya beberapa bulan terakhir. Sementara disebelahnya, seorang gadis hanya melihat ke arah jendela yang ada disebelah kirinya.

Suasana sore itu nampak seperti biasanya. Banyak sekali kendaraan pribadi maupun kendaraan umum yang lalu lalang. Maklum saat itu jam-jam-nya pulang sekolah dan jam pulang para pekerja kantoran juga. Suara klakson makin sering terdengar, dan bis pun berhenti melaju. Mogok? Bukan, melainkan jalanan sudah macet.

“Sin….” Sinka pun menoleh.

“Ya?”

“Kaki kamu beneran patah gara-gara main bola?” Sinka hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Viny.

“Emangnya kenapa gitu Vin?”

“Aku juga suka, malah dulu pernah dimasukin ke sekolah sepak bola khusus cewek, tapi.” Viny menggantung perkataannya.

“Tapi kenapa?” Sinka pun mengerutkan keningnya.

“Kayanya udah SMA gini udah ga akan aktif lagi main bola.”

“Loh kok gitu?”

“Iya, kan di SMA 48 ini ga ada eskul sepak bola, futsal juga ga ada, baik cowok atau cewek.”

“Eh serius? Kok gitu ya, padahal sekolah lain ada tim sepak bolanya bahkan sekarang udah banyak sekolah yang ada tim ceweknya.”

“Nah tapi SMA 48 itu beda, kepala sekolahnya lebih mentingin akademis, ekstrakulikuler boleh ada asal berprestasi, kalau ga ada prestasi kepaksa harus dibubarin.”

“Ishh… kepala sekolahnya ternyata gitu ya.” Viny pun mengangguk.

“Aku dipaksa masuk SMA sini buat pilihan duanya, ibu aku ga setuju soalnya kalau aku aktif di sepak bola lagi, katanya masa cewek main bola, harusnya cewek tuh masak.”

“Kalau aku sih masuk SMA 48 karna yang paling deket sama rumah, selain SMA 5 sama SMA 3.”

“Aku juga punya kenalan, dia kakak kelas di SMA 48. Katanya club sepak bola baru dibubarin tahun kemarin, gara-gara ga pernah ngasih prestasi, itu juga sih tim sepak bola cowok, kalau cewek SMA 48 tuh ga punya.”

“Jadi sekarang adanya eskul apaan aja dong?” tanya Sinka.

Viny menggaruk kepalanya, ia berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sinka.

“Basket kayanya Sin, yang aku tau cuma itu, soalnya tahun kemarin mereka juara tingkat kota.”

“Cuma itu?”

“Yang aku tau cuma itu, mungkin ada yang lainnya, nanti kita tanya-tanya aja.”

“Hah… aku pengennya eskul sepak bola.”

“Aku juga pengennya itu Sin.”

“Dulu waktu SMP aku masuknya eskul sepak bola, malah dari dulu udah sering main bola, masa SMA ga ada.”

“Tapi kalau eskul sepak bola, emang kaki kamu udah ga kenapa-kenapa?” tanya Viny.

“Minggu ini jadwal aku lepas gips, aku udah tiga bulanan lebih pake gips ini, kata dokter minggu ini udah bisa dibuka.”

“Tapi kan butuh waktu biar terbiasa lagi.”

“Iya sih, aku juga harus terapi biar bisa jalan kaya normal lagi.”

Saat bis sudah tiba disebuah halte, Sinka pun turun disana. Sinka berjalan masuk kedalam komplek perumahannya. Dibantu dengan sebuah tongkat ia pun berjalan pulang menuju rumahnya. Saat sampai didepan rumah, keadaan rumah terlihat sepi, hingga ia menggunakan kunci cadangan yang dibuatkan orangtuanya agar bisa masuk kedalam rumah.

Saat melewati ruang keluarga, Sinka menemukan secarik kertas dengan isi goretan tinta hitam khas tulisan ibunya. Setelah selesai membaca Sinka pun segera pergi ke kamarnya.

Esok harinya Sinka pergi ke sekolah seperti biasa. Ia menaiki sebuah bis untuk sampai di halte dekat sekolah, lalu disambung dengan berjalan kaki. Hari ini ospek masih diberikan pembekalan materi tentang pengenalan sekolah. Setelah istirahat semua murid dipersilahkan untuk mendatangi stand-stand pendaftaran eskul.

Stand pendaftaran ekskul berada di dalam gedung olahraga. Dari luar gedung terlihat suasana cukup ramai. Mungkin bisa dibilang semua murid kelas sepuluh sekarang tumpah ruah disana. Sinka dan Viny pun masuk kedalam gedung olahraga itu. Terlihat beberapa stand berjajar rapi. Ada juga yang sedang menyelenggarakan demo eskul.

“Jadi mau milih eskul apa?” tanya Viny.

“Entah lah, liat-liat dulu aja.”

Stand yang tersedia di dalam gedung ini bisa dihitung oleh jari. Menandakan eskul yang ada hanya sedikit. Stand basket paling banyak digandrungi setelah itu karate, sisanya hanya eskul klub Biologi, Fisika, Kimia, B. Inggris dan beberapa eskul yang mendukung mata pelajaran disekolah.

Sinka pun mengambil selembar brosur yang ia dapatkan di stand eskul B.Jepang. Disana dicantumkan prestasi-prestasi yang dimiliki eskul tersebut selama beberapa tahun terakhir. Mereka berdua terus berjalan dan mengambil brosur-brosur yang disediakan eskul tersebut.

Dari semua brosur yang mereka dapatkan, ada kesamaan yaitu dari segi prestasi. Mereka semua mencantumkan prestasi apa saja yang diraih. Terlebih prestasi-prestasi itu, kebanyakan baru saja mereka dapatkan di beberapa bulan terakhir.

Sinka dan Viny pun akhirnya keluar dari gedung olahraga dan menuju kantin sekolah. Mereka memesan minuman dan duduk disalah satu meja. Viny melihat beberapa brosur yang ia dapatkan dari stand-stand eskul. Beberapa kali ia membanding-bandingkan satu eskul dengan eskul yang lainnya.

“Kenapa?” tanya Sinka.

“Bingung mau masuk eskul mana, kalau basket atau karate aku ga suka,” jawab Viny.

“Di sekolah ini ga di wajibkan ikut eskul kok, banyak kakak kelas kalian yang ga ikut eskul, ya terutama yang eskulnya dulu pernah dibubarin mereka mikir lebih baik ga ikut eskul aja,” ucap seorang cowok.

Sinka dan Viny pun menoleh ke meja sebelah. Disana ada seorang cowok dengan rambut yang disisir rapi kebelakang. Layaknya model-model rambut kekinian. Cowok itu pun menoleh ke arah Sinka dan Viny.

“Kenapa? Ada yang aneh? Ah lupa, belum kenalan ya. Kenalin, Azka, kelas XI Social 2, kakak mentor kelas X Social 1.” Azka mengulurkan tangannya mengajak Viny dan Sinka berjabat tangan.

“Sinka.”

“Viny.”

“Kalian kelas sepuluh kan?” Sinka dan Viny pun mengangguk. “Kelas sepuluh apa?”

“Science 5,” jawab Viny.

“Oh gitu, mentornya kak… Gian bukan?” Sinka pun mengangguk.

“Emang bener ya kak, di sini ga diwajibkan ikut eskul?” tanya Viny.

“Iya, soalnya eskul nya sedikit sih, jadi ga di wajibkan, kalau dulu sih banyak katanya itu juga, tapi sebelum kepala sekolah diganti,” kata Azka.

“Emang sempet diganti kepala sekolahnya?” tanya Sinka.

“Iya, tahun lalu baru ganti, dia bikin kebijakan kalau eskulnya kurang berprestasi mendingan dibubarin aja. Siswa-siswi lebih dituntut buat fokus seluruhnya ke pelajaran disekolah,” jawab Azka.

“Tapi kak kalau ga ikut eskul kan jenuh juga, lagian eskul kan bisa ngebantu ngembangin bakat siswa,” kata Viny.

“Ya gimana lagi, toh itu kebijakan kepala sekolah kita,” kata Azka.

“Tapi, kak kalau mau ikut eskul juga ga ada yang sreg,” kata Sinka.

“Iya sih, kakak juga kurang sreg sama eskul sekarang, tapi ada rumor kita bisa ngusulin eskul baru,” kata Azka.

Sinka mengerutkan keningnya, “Maksud kakak?”

“Iya, kamu bisa usulin eskul baru, misal kamu mau eskul golf, tinggal bikin surat permintaan dibuat eskulnya, terus cari anggota, kalau dalam enam bulan ga bisa ngasih prestasi harus dibubarin, rumornya sih gitu,” kata Azka.

“Masih rumor kan kak?” tanya Viny.

“Iya, itu juga cuma anak-anak OSIS doang yang tau, kan disekolah ini anak OSIS jadi penghubung juga antara murid sama dewan sekolah. Jadi murid bisa ngajuin keluhannya sama kita dulu baru kita sampein ke dewan sekolah,” kata Azka.

“Ada sistemnya gitu ya?” tanya Viny dan Azka hanya mengangguk.

“Iya, meskipun nama sekolah kita SMA 48 tapi kan kita bukan sekolah negeri, sekolah ini yang punya bukan pemerintah melainkan sebuah yayasan,” kata Azka.

“Iya kak, aku tau kalau soal itu,” jawab Sinka.

“Nah makanya sekolah kita ini ada dewan sekolahnya, jadi segala masalah atau saran kita bisa usulkan ke dewan sekolah, tentu lewat OSIS. Jadi misalnya, kalian mau ngusulin eskul, nanti bisa kontakin ke OSIS, tapi itu masih rumor kemarin, nunggu hasil rapat dewan sekolah nanti lusa,” kata Azka.

“Ya semoga direalisasikan, aku ga punya pilihan buat ikut kegiatan eskul,” kata Viny.

“Loh badan kamu kan tinggi, ikut basket aja,” kata Azka.

“Aku ga tertarik ikut basket, lebih suka sepak bola,” jawab Viny.

“Nah iya kak, aku juga sama,” kata Sinka.

“Sepak bola cewek ya, ah kakak inget satu orang yang dulu mau ngajuin eskul sepak bola untuk cewek,” kata Azka.

“Anak sekolah ini?” tanya Sinka.

“Iya, nama dia Devi Kinal Putri, dia anak kelas XI, dulu sempet mau ngajuin tim sepak bola cewek, tapi sialnya eskul sepak bola udah dibubarin gara-gara gagal berprestasi,” kata Azka.

“Kalau gitu kita bisa dong ngajuin minta diadain lagi eskul sepak bola cewek?” tanya Sinka.

“Bisa sih, tapi tunggu keputusan rapat dewan nanti lusa, terlebih pasti ada syaratnya juga buat ngajuin entah itu apa syaratnya cuma dewan sekolah yang tau,” kata Azka.

“Ya semoga aja berita buat ngusulin eskul itu direalisasiin,” kata Viny.

“Harusnya sih, terlebih banyak murid yang pingin eskul-eskul lama itu aktif kembali, ya memang eskul bukan hal terpenting dalam sekolah, tapi eskul kan bisa nunjang kreatifitas anak, bisa nyalurin bakat juga,” jawab Azka.

“Iya juga sih kak,” kata Sinka.

Azka pun menghabiskan sisa minumannya, lalu ia beranjak dari kursinya. “Udah ya kakak tinggal dulu, kalian juga cepet balik ke kelas, bentar lagi materi mau mulai.”

“Iya kak,” jawab Viny dan Sinka.

 

*to be continued.

 

 

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Beautiful Football(?), Part2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s