Cahaya kehidupan : Aku Eksekusi Mati Part 23

* Wusss… suara bus melaju kencang. Dhee tidak bersemangat
melantunkan lagu. Dhee bergumam antara terdengar dan tidak. Penumpang
menyimak lamat-lamat. Rambut panjang Dhee tergerai berantakan.

Sudut mata Dhee menangkap seseorang berseragam polisi. Panik, sudah
sejak enam bulan terakhir Dhee panik setiap kali melihat petugas.
Terburu-buru menghentikan petikan gitar, bergegas melangkah menuju
pintu keluar.

Bus merapat ke salah satu terminal kota. Dhee melompat, berlari-lari
kecil di emperan terminal. Menghilangkan jejak, tidak peduli meskipun
lagunya belum sepenuhnya selesai tadi.

* Enam bulan lalu, saat orang-orang sibuk saling mengunjungi.
Bersilaturahmi di hari kemenangan. Dhee masih terbaring di atas
ranjang. Badannya sakit, panas, menggigil.

Memperhatikan langit-langit kamar itu. Reza? Dimana Reza? Perlahan
memori ingatannya kembali. Hujan deras, kilat, guntur, ribuan siluet
cahaya. Lari di sepanjang lorong lantai 48 yang berkabut.

Suara tembakan? Kakinya terasa perih, Reza melarikannya ke dalam
mobil. Pingsan, tidak ingat apa-apa lagi. Dhee berusaha duduk. Sakit,
tubuhnya terasa sakit. Melihat pahanya, sudah dibungkus perban? Reza?
Dimana Reza?

Tiga hari berlalu, Dhee akhirnya tahu dimana Reza dari berita-berita.
Partner kerjanya tertangkap polisi. Apa yang terjadi pagi itu? Pasti
Reza menyembunyikannya di kamar itu, lantas rela ditangkap.

Apa yang akan menimpa sahabatnya? Hukuman apa? Tubuhnya menciut,
ketakutan. Sempurna, selama dua minggu ia bersembunyi di rumah Reza.
Hanya warga sekitar yang tahu kejadian itu.

Dan mereka enggan memasuki rumah yang sekarang dikelilingi pita kuning
dengan tulisan “Garis Polisi”. Luka di kaki Dhee berangsur mengering.
Fisiknya diatas rata-rata, cepat pulih.

Di minggu ketiga, Dhee sudah bisa berjalan-jalan. Mengambil makanan
beku yang disimpan Reza di dalam kulkas. Sementara berita tentang Reza
semakin jelas. Dan Dhee semakin takut mendengarnya.

Sepertinya Reza benar-benar melakukan apa yang dulu dikatakannya :
“Jika salah seorang dari kita tertangkap, maka tidak ada yang
mengkhianati teman sendiri. Tutup mulut, mengaku bekerja sendiri.”

Satu bulan berlalu. Dhee tidak tahan dengan semua ingatan tentang
pencurian itu. Apalagi tentang berita terakhir yang menyebutkan Reza
dituntut hukuman mati atas pembunuhan seorang petugas di lantai 48.

Dhee memutuskan menjauh. Pergi dari rumah Reza, juga rumah petak yang
sebulan ini ia tinggalkan. Sebelum pergi Dhee sempat mengemasi
barang-barangnya. Pindah mengontrak di tempat lain. Jauh kearah
selatan meninggalkan Ibukota.

Dhee masih menjadi pengamen. Dengan gitar milik Epul. Gitar lamanya?
Ia buang, sudah rusak parah dan tidak bisa diperbaiki lagi. Dhee
mengamen dengan wajah kusut tidak bersemangat.

Dhee selalu cemas, takut setiap melihat orang berseragam polisi. Takut
orang-orang mengenalinya sebagai salah satu pelaku upaya pencurian
terhebat yang pernah ada. Butuh waktu lama untuk menghilangkan
kecemasan itu.

* Waktu melesat bagai peluru. Enam tahun berlalu begitu saja.
Lihatlah, tidak ada yang berubah dari kehidupannya. Umurnya sekarang
dua puluh enam tahun. Dia masih menjadi Dhee si pengamen.

Masih mengamen dari terminal satu ke terminal lain. Dari bus satu ke
bus lain. Dhee si pengamen yang selalu mengesankan jika menyanyikan
lagu-lagu sendu.

Tubuhnya bertambah tinggi, badannya tetap hitam seperti dulu. Hanya
gurat wajahnya yang berubah. Tidak ada lagi sisa-sisa wajah remaja
tanggung disana. Tumbuh menjadi pemuda yang kenyang akan pahitnya
kehidupan.

Inilah kehidupannya enam tahun terakhir. Bangun kesiangan, cuci muka,
pergi ke warung sebelah, mengisi perut seadanya. Menyambar gitar Epul,
pergi ke terminal kota, mengamen sepanjang hari hingga larut malam,
hingga tidak ada lagi bus yang melintas.

Pulang terlalu lelah walau untuk duduk sejenak. Langsung merebahkan
tubuh diatas ranjang, tidur terlelap. Hari-hari yang melelahkan.
Esoknya, rutinitas itu kembali terulang. Bagai Deja Vu abadi yang
tidak akan hilang.

Tidak ada lagi rutinitas memandang langit sore, di lapangan sunyi itu.
Bukan karena disitu tidak ada lapangan. Selama enam tahun itu, kepala
Dhee berhenti bertanya tentang jalan hidupnya. Berhenti mengutuk
langit atas kejadian yang menimpanya.

Selama enam tahun itu kepala Dhee hanya dipenuhi oleh sebuah
pertanyaan : Reza? Reza? Dan Reza. Sejak pindah, Dhee mulai
membiasakan diri dengan kejadian tersebut. Dhee mulai bisa rileks jika
berpapasan dengan polisi.

Mulai yakin tidak akan ada yang mengenalinya. Karena Reza sempurna
mengakui semua kejahatan itu dilakukannya sendirian. Termasuk saat
menjelaskan bagaimana ia memanjat tali baja gondola.

* Nyaman atau tidak, Dhee mengikuti berita tentang Reza. Setahun
berlalu, Dhee tertunduk dalam saat mendengar hakim menjatuhkan vonis
hukuman mati bagi Reza.

Dua tahun berlalu, Dhee tertunduk semakin dalam. Pengadilan yang lebih
tinggi menjatuhkan hukuman yang sama, hukuman mati di tiang gantung.
Tidak ada lagi jalan keluar bagi Reza.

Tiga tahun berlalu, Dhee kehilangan semangatnya. Pengadilan tertinggi
pun sama, tidak ada bedanya. Ketiga pengadilan itu menjatuhkan hukuman
yang sama.

Empat tahun berlalu, tidak ada harapan lagi bagi Reza. Tidak ada
pengampunan baginya. Hanya tinggal menunggu waktu. Reza menghitung
hari, karena eksekusi itu akan dilaksanakan di tahun keenam.

Hari-hari yang panjang bagi Dhee. Dhee memaksakan dirinya datang
mengunjungi sel tahanan Reza. Membujuk hatinya untuk terakhir kali
menemui Reza. Bertanya apa kabar? meminta maaf atas kekeliruan di
lantai 48, memeluk Reza.

“Kau siapa?” tanya sipir penjara.
“Te-man?” Dhee agak gugup.
Sipir itu menyeringai. Sebelumnya penjahat terkenal itu tidak pernah
mendapatkan kunjungan. Kecuali wartawan, petugas, dan pihak berwenang.

Siapa pula yang sekarang hendak menemuinya? Tidak peduli, membiarkan
Dhee masuk. Dhee sudah duduk di kursi besuk. Kakinya bergetar hebat.
Tapi saat Reza keluar dari sel tahanan, Dhee mendadak lari. Hatinya
menciut, ia tidak bisa bertemu dengan Reza.

Apa yang akan dikatakannya? Apa yang akan dilakukannya? Dhee takut
sekali dengan ancaman mati itu. Bagaimana jika tiba-tiba Reza bilang
dialah yang membunuh petugas malam itu? Bagaimana jika sipir penjara
bisa merangkaikan sebuah penjelasan?

Yang lebih menyesakkan lagi ketika ia menyadari bagaimana ia bisa
meninggalkan Reza begitu saja? Bukankah X-Warriors akan berkumpul
kembali? Jika Reza mati, mereka takkan bisa berkumpul kembali.

Tahun keenam, eksekusi hukuman itu akhirnya terjadi. Layar televisi
ramai menayangkan berita. Koran-koran berebut memasang wajah Reza.
Pencuri hebat yang pernah ada. Pencuri yang mengakui kejahatannya,
menunjukkan dengan sukarela barang curian sebelumnya.

Ternyata berlian hasil curian sebelumnya diberikannya kepada
orang-orang yang kurang beruntung.
“MALING BERHATI MULIA DIGANTUNG!” orang-orang berdemo membela Reza.

Spanduk dipasangkan, poster-poster dibentangkan, yel-yel diteriakkan.
Reza menjadi idola baru, simbol perlawanan. Tetapi hukuman itu tetap
dilaksanakan. Orang-orang mendesah kecewa, menyumpah-nyumpah.

Film-film dokumenter untuk Reza mulai dibuat. Juga film yang
berdasarkan kejadian lantai 48 itu. Pemuda yang berhasil mencuri
berlian seribu karat yang akhirnya tertangkap.

Adegan film yang sangat hebat. Membuat penonton berseru saat Reza
meluncur dari ketinggian lantai 48. Dengan luka tembakan, perih
menahan luka yang dibasuh air hujan. Lantas melarikan diri.

Sementara itu, Dhee hanya bisa duduk meringkuk di pojokan kamar saat
eksekusi itu dilakukan. Sebelah kamar sewaannya kebetulan punya
televisi, lantas menyaksikan eksekusi itu.

Pukul 00:00, eksekusi itu tertutup. Hanya ada dua belas karcis. Enam
untuk wartawan dan petugas. Lima untuk keluarga korban. Satu untuk
keluarga Reza. Dhee mendesis, siapa pula keluarga Reza yang akan
datang?

Dhee menghitung detik demi detik sebelum eksekusi. Tertunduk dalam
saat tengah malam Apa yang telah dilakukan Reza untuknya? Lantas apa
pula yang telah dilakukannya untuk Reza? Dhee mendesah resah.

Besok pagi, Dhee memutuskan pergi dari Ibukota. Pulang ke kota
kecilnya. Mencoba melanjutkan hidup.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s