“Haunted Villa” – 2

“Kamu lagi apa Den?” Tanya Ve

“ini lagi baca diary milik Andela Yuwono” balasku

“Andela? Diantara kita nggak ada orang yang namanya Andela” Tanya Ve

“Emang nggak ada, dia ini pernah nginep di Villa ini” balasku enteng

“aku boleh ikutan?” tanyanya lagi

“boleh aja, cuman jangan kaget kalo suasana di villa ini tiba-tiba nggak enak karena apa yang tertulis di diary ini seperti nya pernah terjadi di villa ini” balasku

“Maksudnya?” Tanya Melody Penasaran

“Yang kalian denger orang tengkar tadi itu asalnya dari Diary ini” balas Yupi

“waaaaah… sialan tuh Diary, mana diary nya? Pengen gue bakar, ganggu tidur gue aja” Nabilah terlihat emosi

(Entah kenapa di kamar cowok stabil dari tadi, mungkin dua orang itu tadi masih tidur dengan posisi saling berpelukan :v)

“Jangan bil, aku mau baca ini sampe abis” protesku

Aku, Yupi dan Ve kembali membaca

 

Bandung 14 Oktober 2004

Dear Diary

Hari ini papiku pergi ninggalin Villa ini, aku nggak tau pergi nya ke mana, aku Cuma bareng sama mamiku aja. lusa, aku sama mamiku bakal ninggalin villa ini. Sebenernya sayang banget aku ninggalin Villa ini, pemandangannya bagus amat. Cuma mau gimana lagi? Suasana keluargaku udah nggak harmonis, mending aku balik aja ke Solo

 

Bandung 15 Oktober 2004

Baru aja aku denger pintu Villa ini di dobrak, Cuma aku nggak tau oleh siapa

Tiba-tiba terdengar dobrakan dari pintu Villa ini, Cuma ketika aku menoleh ke pintu depan Villa itu, pintu nya masih rapat. Kami semua yang berada di ruang tengah Villa tentunya kaget. Namun tidak dengan Si Rusdi dan Ical yang masih tertidur di kamar cowok.

“Kampret amat cowok-cowok tuh, mereka kok nggak kebangun sama sekali ya? Padahal itu tadi kenceng amat” gerutu Nabilah

“mungkin telinga dia emang di tutup sama makhluk astral” kataku

“Emangnya bisa ya?” Tanya Naomi

“Bisa aja, contohnya di kampungku dulu sering ada kecelakaan kereta api, tapi anehnya. Hanya orang yang kosong pikirannya yang jadi korban” balasku

“Kamu kok tau?” Tanya Ve yang rupanya ikut penasaran

“ itu sih kata orang-orang jaman dulu ve -_-“ balasku

 

Langkah kaki itu makin lama-lama makin dekat menuju kamarku

 

Terdengar langkah kaki menuju ke kamar cowok-cowok itu sedang tidur

 

“bentar lagi mereka pasti kebangun” kataku

 

Lalu ku dengar pintu kamarku terdobrak…

 

Sontak kamar yang menjadi tempat Adikku dan Rusdi tertidur, tidak seperti kejadian-kejadian sebelumnya, pintu kamar nya sampai terbuka

 

“Anjirrr… apaan tuh?” teriak Rusdi ketakutan

“nggak tau lah” ujar Ical

 

Lalu aku dan mamiku di Tarik oleh dua orang yang memakai topeng

 

Lalu terdengar keributan di lantai dua, Ical dan Rusdi langsung berlari turun dari lantai dua ke lantai satu, “Den, ini mulai nggak enak, berhenti den bacanya” Ve terlihat ketakutan, dan mulai menggoyangkan tanganku

“Iya nih Den, badanku mulai merinding semua” kata Naomi juga

“Ya udah deh, kita berhenti, kalian tidur aja ya” kataku

Ku lihat mereka mulai memasuki kamarnya kembali, aku yang di liputi rasa penasaran kembali membaca itu,

 

Mamiku di seret menuju ke dapur, sedangkan aku di seret ke ruang tengah, orang itu mulai mengeluarkan pisau dan mulai merusak wajah ku

 

Terdengar teriakan di lantai ruang tengah, persis beberapa langkah dari ku. Teriakan, dan tangisan itu terdengar nyata, air mata ku mulai keluar membayangkan apa yang terjadi di sini, lalu aku berjalan di dapur. Terdengar teriakan yang makin lama makin jelas

“Jangan mas… jangan mas” teriakan itu semakin jelas menggema di ruangan itu

Ku baca lagi diary itu

 

Lalu orang itu menusuk kan pisau nya tepat di perut ku

“AAAAAAAAAAAAAAA……..”

 

Teriakan itu jelas sekali terdengar dari ruang tengah sesampainya di ruang tengah, terlihat darah berceceran di mana-mana, aku hanya bisa menangis.

 

Ibuku lalu mengalami nasib yang sama seperti ku

 

Terdengar teriakan kali kedua yang berasal dari dapur..  aku lihat darah berceceran di mana-mana. Lalu kuputuskan untuk tidur saja

 

*AUTHOR’S POV*

 

Pagi yang indah, pagi pertama di villa ini, aku berusaha melupakan kejadian semalam, di mana tiba-tiba pintu kamarku di dobrak, namun aku tak melihat siapapun yang mendobrak pintu itu, ku lihat di sebelah ku, rusdi masih asik tertidur. Aku menuruni anak tangga menuju ke lantai satu, di lantai satu aku melihat kakak ku yang sudah bangun

“Udah bangun kak? Tumben” Tanya ku, hmmm… sebenarnya sedikit meledek dia sih

“Udah bangun gundulmu.. semalem aku nggak tidur.” Balas kakak ku

Aku yang penasaran, akhirnya ku lihat wajah kak Dendhi lebih detail, terlihat jelas kantung matanya yang mulai membengkak.

“Kok bisa sih kak?” tanyaku

“Bisalah, kemarin pas kelian tidur, aku lanjutin baca ini, dan yang terakhir terlihat, ada darah di mana, di ruang tengah, sama Dapur.” Jawab kak Dendhi

“Kamu sih Den, udah di bilang tidur aja masih ngeyel” kak Ve tiba-tiba muncul dan mencubit kakakku

“Kampret.. ngapain kamu nyubit pipiku” jawab kak Dendhi sebal

“Udah-udah, masih pagi gini mending kita jalan-jalan aja” ajakku kepada mereka

“Boleh tuh idemu cal, tapi kemana ya?” Tanya kak Ve

“Ke kebun teh aja” jawab kakakku

“Oke deh, ayo berangkat” ajakku

Kami pun berjalan menyusuri kebun teh, kulihat banyak warga yang memetik daun teh di pagi hari, mungkin inilah yang mengilhami pembuatan teh Pucuk :v

Entah aku yang terlalu cepat, atau kak Dendhi dan kak Ve yang terlalu lambat, ketika aku menoleh ke belakang, mereka sudah tertinggal jauh..

“ah. Shit.. kemana mereka?” tanyaku, tiba-tiba

“BAAAAA…”

“AAAAAA…” “Kak Dendhi sama kak Ve apaan sih? Bikin kaget aja” kataku sebal

“pulang yuk, udah siang ini, kasian yang di Villa” kata kak Ve mengajak ku pulang

Sepanjang perjalanan aku melihat dua gundukan tanah, dan sepertinya itu sih bunga, namun aku tak terlalu memperhatikan itu. Sesampainya di sana

“Kalian abis dari mana sih?” Tanya Nabilah

“Iya nih, kalian nggak bangunin kita” kata Melody

“kak Dendhi nggak seru nih” ucap Yupi

“Kita abis jalan-jalan di kebun teh” ucap kak Dendhi. “Nanti aku ajak kalian ke sana deh” tambah kakakku

Hari pun beranjak sore, kami pun kembali berjalan ke arah kebun teh, sepanjang perjalanan hanya terdengar celotehan dari kakak ku yang berbicara mengenai kegiatan di sekolah. Sampai akhirnya

“Aduh…” Nabilah terjatuh

“hahaha…” aku pun tertawa lepas melihat Nabilah yang terjatuh.

“Lu gak nolongin, malah ketawa” Nabilah kelihatan nya sebel

“Lagian udah tau gundukan tanah, tetep aja lu terobos” kak Naomi pun ikut menimpali

“Ini kayaknya bukan gundukan tanah biasa deh” kata kak Dendhi, dia seperti nya melihat di depan gundukan itu.

DENDHI’S POV

“Semalam aku dapat penglihatan dari hantu yang di bunuh di villa itu, bahwa dia dan ibunya di kuburkan tak jauh dari Villa itu? Apakah tempat ini yang di maksud oleh hantu itu”, pertanyaan itu sekarang memenuhi otak ku, seakan tak mau untuk di lupakan, ketika aku melhat ke depan, tiba-tiba ada dua sosok mengagetkan ku. Wajahnya hancur dan terdapat luka tusuk di mana-mana, aku dapat menebak bahwa memang ini lah tempatnya. Aku teringat oleh hal yang pernah di ajarkan oleh kakek aku dan Ical ketika kami di Jogja dulu.

“Ada yang bawa air minum nggak?” tanyaku pada teman-temanku

“Aku bawa kok” balas seseorang itu

“boleh minta Ve?” tanyaku

“Ini” ucapnya sambil memberikan Air mineral kepadaku

Aku pun langsung memejamkan mataku, aku berdoa kepada Yang Di Atas supaya DIA membuka sedikit misteri tentang apa yang ada di dalam gundukan tanah.

“Tolong cek di sini sebelum aku tuang air mineral di sekitar sini, apa ada darah atau nggak” perintahku kepada teman-teman

Mereka pun berjalan di sekitar gundukan itu, dan mulai memeriksa, tiga menit berselang mereka kembali dan mengatakan bahwa di sekitar sini tidak ada darah yang tercecer

Aku pun langsung menuangkan air mineral itu di tanah, dan tiba-tiba ada darah yang timbul dari dalam tanah.

“ih.. apaan tuh?” Tanya Nabilah

“Itu darah?” Tanya Yupi

“coba kita gali” kata Rusdi

Kami pun mulai menggali, muncul lah tengkorak dari dua orang.

“kalian kenapa di sini?” ujar seseorang mengagetkan kami

“Pak asep?” Tanya Yupi

“Kalian nggak seharusnya ada di sini” pak Asep membentak kami.

“Pak, ini tengkorak punya siapa?”  tanya Ical

“Apa ini mayat milik tamu di villa ini dua belas tahun yang lalu?” tanyaku

“Iya” ujar pak Asep sambil tersenyum

“Perasaan ku mulai nggak enak ini” kata ku dalam hati

“Jadi bapak yang membunuh mereka?” tanyaku lagi dengan suara agak bergetar

“Insting mu hebat sekali, aku memang membunuh mereka, tapi awalnya aku tak berniat membunuh mereka, aku hanya berniat memperkosa mereka, tapi teman ku lah yang membunuh mereka” ujar pak Asep dengan senyum licik

“Karena kalian sudah tau semuanya, maka kalian semua harus mati di tempat ini” pak Asep mengeluarkan parang dari punggung nya

“Apa?” kata Yupi kaget

“Kalian semua lari.. aku akan coba nahan dia.” Ujarku tanpa berpikir panjang

“Tapi..” kata Ve yang ku potong

“LARIIII SEKARANG…” Aku membentak mereka, mereka pun langsung berlari meninggalkan ku

“cukup punya nyali kau anak muda” kata pak Asep

 

AUTHOR’S POV

Sudah sangat jauh kami berlari, sepertinya pak Asep tak mengejar kami.

“kamu kenapa kok ninggalin kak Dendhi sendirian? Dia itu kakak kamu Ical” Yupi memarahi ku

“Iya, lu kenapa nggak bantuin kakak lu?” nabilah pun kelihatannya mulai menceramahi ku

“Kalian nggak denger apa kata kak Dendhi tadi?” aku pun membentak mereka

“Kita di suruh lari, tapi kita akan kembali ke sana lagi, sama warga di sekitar sini” tambah ku

“Tapi kalo kita nggak cepet, Dendhi bisa jadi korban selanjutnya” kata kak Ve

“Ya udah, kita cari bantuan sekarang” kata ku

Kami pun langsung mencari warga setempat untuk membantu kami, dari kejauhan aku melihat seperti nya ada Poskamling, kami pun langsung mendekati poskamling itu

“Pak Tolong kami” kata Yupi

“kenapa kalian?” tanya bapak-bapak yang sedang berjaga di Poskamling

“Temen kami mau di bunuh sama penjaga Villa kami pak” kata kak Ve

“ya sudah, bapak akan kumpulkan warga dan melapor ke polisi” kata bapak itu lagi

 

DENDHI’S POV

“Kau cukup lincah juga anak muda” kata pak Asep

“Shit… kalo gini terus, bisa-bisa aku jadi korban selanjutnya dari penjaga kebun biadab ini” kataku dalam hati

Ku lihat dia berjalan mendekat padaku

Aku sudah pasrah dengan semua ini, mungkin aku akan menyusul kedua sosok itu dengan cepat. Aku hanya berharap kepada Tuhan supaya aku tidak berakhir pada hari ini, dan tiba-tiba…

“JANGAN BERGERAK”

Ku lihat segerombolan warga dan Polisi mulai memadati kebun teh itu, Pak Asep yang mengetahui itu, langsung kabur. Ku lihat salah seorang anggota polisi mulai menodongkan pistol, dan..

*DOOOR…*

Timah panas dengan sukses bersarang di kaki nya pak Asep, pak Asep yang sudah di lumpuhkan langsung di borgol oleh polisi.

Aku pun langsung berjalan ke arah warga dan meminta supaya tengkorak yang ada di sini untuk dimakamkan dengan layak, dan diberi nama Andela Yuwono.

AUTHOR’S POV

Keesokan harinya kami pun mulai mengemasi barang bawaan kami dan ku lihat kak Dendhi sedang duduk di ruang tengah.

“Lelet amat sih kamu Cal” seseorang berkata begitu sambil menepuk pundakku dengan keras

“sakit tau Rus” aku pun memandang tajam Rusdi, ingin ku balas si Rusdi sialan itu, namun tiba-tiba

“Oiii.. kalian udah siap atau belum?”tanya Yupi dengan suara lembutnya

“ Ini udah siap kok, tinggal nunggu yang cewek” kata Rusdi

“heiii.. kita juga udah siap kaliii.” Kata kak Naomi yang tiba-tiba ada di belakang Yupi.

“Hayuk turun…” ajakku kepada mereka

Kami pun dengan perlahan menuruni anak tangga, akhirnya kami sampai di ruang tengah, ku lihat ekspresi wajah kak Dendhi sepertinya kaget.

“kok bisa ada tulisan nya ya? padahal kemarin kosong lho halaman ini” kata kak Dendhi heran

Kami yang penasaran langsung menghampiri kak Dendhi

“Mana sih Den?” tanya kak Ve

“Ini nih tulisannya” kata kak Dendhi

Kak Dendhi pun menunjukkan diary milik Andela yang masih di bawanya, memang ada tulisan di halaman yang tadinya kosong, kira-kira seperti ini tulisannya

Bandung, 12 Februari 2016

Terimakasih buat kalian yang telah menemukan mayat ku dan mayat mamiku dan memakamkannya dengan layak, maafkan aku kalo aku udah bikin kalian ketakutan, tapi sudah sekitar dua belas tahun aku mencari orang yang bisa mengungkap semuanya, tapi nggak ada yang berani, semoga kita bertemu di kehidupan selanjutnya

Ketika kami selesai membaca dan menengok ke pintu depan, muncul sesosok wanita yang ku taksir usianya sama dengan kak Dendhi bersama dengan wanita paruh baya, mereka berdua tersenyum manis ke kami.

“Manis juga orang ini” kataku dalam hati

Ku lihat wanita itu mengecap kan kata

“Te…ri…ma.. Ka… sih” Kak Dendhi pun berusaha membaca pergerakan bibirnya

Kami semua pun tersenyum kepadanya, lalu kedua sosok itu menghilang di balik sinar mentari yang masuk ke dalam villa itu

“Selesai sudah semua misteri ini” kata kak Dendhi

“iya kak” balasku

“Terus Diary itu bakal terus kamu bawa Den?” tanya kak Ve

“Nggak, biarkan Diary ini di sini, karena tempatnya memang di sini, mungkin aku akan menaruh lagi diary ini di tempat semula” kata kak Dendhi sambil berjalan menuju ke lantai 2.

Lalu ku lihat lagi kak Dendhi yang berjalan ke arah kami sambil tersenyum

“Yuk ah pulang” kata dia

“Ayooo…” balas semuanya kompak.

Kami pun beranjak meninggalkan villa ini, villa yang memberikan banyak cerita yang menakutkan, selamat tinggal Andela, semoga kami akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya

 

 

Author’s Note : Halo rekk… Ff two shoot ini adalah hasil Kolaborasi antara @Dendhi_yoanda dan @Rezalical, kita minta kritik dan sarannya, makasiih sebelumnya, salam sejahtera O:)

Iklan

5 tanggapan untuk ““Haunted Villa” – 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s