Cahaya Kehidupan : Aku Yang Terakhir Part 21

* Setengan jam menegangkan berlalu. Reza mengemudikan mobil bagai
kesetanan. Beruntung mereka bisa lolos dari kejaran polisi. Hujan
membantu mereka lolos dengan mudah, menghilangkan jejak.

Terdengar suara erangan seseorang. Suara kesakitan, Dhee kesakitan.
Darah mengalir deras, perih. Dhee tadi berhasil menembak dua petugas
di lantai 48. Tapi ia terkena tembakan salah satu petugas di pahanya.

Pukul 03:15, Dhee tergeletak tak berdaya di sebelah Reza. Darah
membasuh jok mobil. Tadi Dhee berusaha menyelamatkan Reza, walau harus
menahan rasa perih karna terhujam peluru.

Reza yang sudah pulih dari pengaruh asap bius memapah Dhee menuju
basemen. Melompat masuk ke dalam mobil. Tidak ada yang boleh
meninggalkan teman.

Reza panik, lalu mengemudikan mobil menerobos plang masuk. Petugas
parkiran melongo melihat mobil yang melesat begitu kencang. Tak berapa
lama, mobil polisi mengejarnya. Tapi mereka berhasil lolos.

Petugas-petugas dan polisi-polisi itu tidak jengkel karena urung
mudik. Beruntung sekali, pencurian itu dilaksanakan saat malam takbir
yang diguyur hujan. Jadi jalanan tidak terlalu macet, sehingga
memudahkan mereka untuk kabur dari kejaran polisi.

Itu adalah sebuah keuntungan. Karena malam takbir penjagaan bank itu
sedikit dilonggarkan. Penjaga-penjaga dan karyawan-karyawannya mungkin
mudik lebaran.

Setengah jam lagi berlalu. Mobil itu sudah tiba di rumah Reza. Hujan
masih deras, seolah tidak akan pernah reda sampai pagi menjelang.
Seolah tidak peduli lapangan tempat shalat Id menjadi becek. Sedan tua
itu sudah terparkir di dalam garasi.

Reza memapah Dhee masuk ke salah satu kamar. Merebahkan tubuhnya
diatas ranjang. Tubuh Dhee mulai membiru. Reza melepas sisa-sisa
perlengkapan, lantas berlari mengambil peralatan medis darurat yang
selalu ia siapkan.

Sebelumnya Reza tidak pernah mengoperasi seseorang. Tapi kali ini ia
benar-benar harus mengoperasi seseorang, mengeluarkan peluru yang
tertanam di paha Dhee.

“Dingin…” Dhee mendesis, hendak meringkukkan tubuhnya, tapi ia tidak
punya cukup tenaga.
“Bertahanlah, Rusdi.” Reza menyelimuti Dhee dengan selimut tebal.

“Apakah aku akan mati?” Dhee bertanya terbata-bata, Reza tidak
menjawabnya dan mulai bekerja.
“Ding… in…”¬† Dhee akhirnya pingsan, sementara Reza menelan ludah,
menggigit bibir.

Tubuh itu dingin, dan mulai membeku. Tangan Reza cekatan bekerja.
Merekahkan luka, berusaha mencungkil peluru. Lima belas menit berlalu,
keringat mengucur. Reza mengusapnya, jari jemarinya bergetar.

Lima belas menit lagi berlalu. Selimut itu basah oleh darah Dhee.
Tangan Reza masih bergetar. Nafasnya terengah-engah. Peluru itu
akhirnya berhasil dikeluarkan. Reza menaburi luka Dhee dengan serbuk
antibiotik.

Menjahitnya terburu-buru. Seadanya, yang penting darahnya tidak keluar
lagi. Terakhir membungkusnya dengan perban. Reza menghela nafas lega.
Bersyukur ini semua sudah berakhir.

Pukul 04:30, Masjid dekat rumah Reza mulai berkumandang. Reza
merapikan peralatan, memasukkannya ke dalam kotak. Saat hendak meraih
gunting di dekat paha Dhee, Reza tidak sengaja melihat sesuatu
tergolek disana.

Sebuah kertas HVS lusuh yang terbungkus plastik, terjatuh dari saku
celana pemiliknya. Reza mengambilnya, mungkin itu milik Dhee. Saat
Reza hendak mengembalikannya, ia tidak sengaja membaca tulisan di
kertas itu.

Ia penasaran, kemudian membaca keseluruha tulisan di kertas itu.
Seketika Reza terkejut, matanya membulat besar. Mulutnya sedikit
menganga. Kedua alisnya diangkat tinggi-tinggi.

Pukul 04:45, Masjid mengumandangkan takbir. Memanggil orang-orang
untuk kembali. Reza? Reza lima belas menit lalu sudah bergetar di
ujung ranjang. Dia tidak mengerti kenapa Dhee masih menyimpan kertas
itu.

Kenapa? Apa maksudnya? Apa maksud semua itu? Janji masa lalunya yang
tergurat di kertas HVS. Janji masa lalunya yang mungkin tidak akan
pernah ia tepati. Reza masih gemetaran setelah membaca tulisan di
kertas itu.

“Rusdi, kau menganggap janji itu sangat berharga. Tapi aku malah
mengabaikannya. Kau menyimpan kertas itu selama 5 tahun. Maafkan aku,
Rusdi. Aku harus menebus dosa-dosaku padamu.” Reza bergumam, menatap
Dhee yang masih tergolek.

Setengah jam berlalu, Masjid mulai melagamkan kembali gema takbir hari
raya. Diluar hujan mulai mereda. Reza masih terdiam, memikirkan
pertanyaan yang mendadak datang memenuhi kepalanya.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s