Cahaya Kehidupan : Aku Pencuri Yang Hebat Part 20

Hari pelaksanaan pun tiba, hari H. Pukul 19:00, Dhee meletakkan
berbagai perlengkapan di kursi belakang sedan tua tahun 70-an.
Penampilan mobil itu menipu, hanya luarnya saja yang terlihat rapuh.

“Mobil ini bisa melesat 100 km/jam dalam enam detik, Rusdi. Kita harus
lari secepat mungkin dari kejaran polisi. Tapi aku tidak tahu apakah
mobil ini bisa melesat secepat itu di jalanan macet Ibukota.” Reza
tertawa.

Pukul 21:00, semua persiapan sudah selesai. Sedan tua itu melesat di
jalanan Ibukota. Menuju pemberhentian pertama, alun-alun kota. Malam
ini sangat ramai, wajar saja. Karena malam ini adalah karnaval hari
raya.

Dhee dan Reza bersantai, menunggu waktu yang tepat. Memantau gedung
berlantai 50 dengan teropong bintang, tempat berlian seribu karat
disimpan. Berlari-lari kecil, memantau kembali. Jajan-jajan, memantau
kembali. Mengobrol ria, memantau kembali. Begitu seterusnya sampai
alun-alun benar-benar sepi.

Pukul 23:00, sedan tua itu menuju pemberhentian kedua, gedung
berlantai 50. Berlian seribu karat ada di lantai 48, yaitu tempat
salah satu bank internasional. Rencana itu pasti berhasil, karena Reza
sudah memperhitungkan semuanya secara detail.

Langit Ibukota mendadak gelap, hujan akan segera turun. Tapi itu
adalah keuntungan terbesar untuk keberhasilan mencuri berlian seribu
karat.
“Bukan main, bahkan langit merestui rencana kita.” Reza tersenyum puas.

Pukul 24:00, gerimis membasuh Ibukota. Tak berapa lama, hujan deras
pun turun dengan lebat. Mengguyur langit Ibukota yang awalnya terang.
Reza memutar lagu dari sound system mobil. Ikut bersenandang, sangat
yakin pencurian itu akan berhasil.

Petugas gerbang tidak banyak bertanya saat Reza memperlihatkan sebuah
kartu. Menyilahkan masuk, malas memeriksa bagasi mobil. Rencana itu
sudah Reza siapkan secara detail, bahkan kartu tanda masuk juga sudah
ia siapkan. Beberapa hari lalu Reza mengambilnya dari salah seorang
penghuni gedung.

Mobil itu menuju parkiran bawah, merapat ke pintu lift basemen.
Berhenti tepat di depannya. Dhee dan Reza segera beraksi. Mereka
menyambar tas besar di bagasi mobil, kemudian membawanya.

Menekan tombol lift, pintu lift pun terbuka. Mereka masuk ke dalam
lift, pintu lift kembali tertutup. Dhee menelan ludah, memegangi
lehernya. Peluh mengucur, Dhee merasa gugup.

Pukul 01:00, pintu lift terbuka. Lift itu hanya sampai di lantai 40.
Karena lantai 40 sampai 50 disewa oleh salah satu cabang bank
internasional. Sebentar lagi berlian seribu karat akan segera lenyap.

“Berlian itu ada di lantai 48, tapi tombol untuk membuka pintu masuk
bank itu ada di lantai 50. Kau harus kesana untuk membukanya, sisanya
serahkan padaku.” perintah Reza.

Seperti prediksi Reza, tepat di lantai 40 ada sebuah gondola pembersih
kaca. Gondola yang ditinggalkan pekerjanya sejak pukul lima sore tadi.
Reza segera memotong kaca menggunakan alat khusus. Meletakkan
potongannya secara perlahan.

Lalu mereka menaiki gondola, perlahan naik dari lantai 40 ke lantai
48. Tidak ada percakapan walau sedikit, tidak ada waktu jeda. Reza
sangat profesional. Setelah sampai, Reza segera menuju pintu masuk
bank tempat berlian seribu karat disimpan.

Deru mesin hidroulik terdengar memekikkan. Ditambah oleh terpaan angin
dan hujan. Serta petir yang menggelegar. Dhee dan Reza segera
mengenakan pakaian khusus, memakai google agar mata terlindungi dari
terpaan air hujan.

Akhirnya sampai juga di lantai 48, perlahan Reza memotong kaca
jendela. Meletakkan potongannya secara perlahan agar tidak jatuh.
Kalau sampai jatuh maka semua rencananya akan sia-sia.

“Aku akan menunggu di bank, kau harus menekan tombol di salah satu
ruangan di lantai 50. Tombol itu akan membuka pintu masuk bank, lalu
aku bisa mencuri berlian seribu karat. Tugasmu hanya menekan tombol,
sisanya serahkan padaku. Soal pola, aku sudah tahu.” Reza segera
menuju bank.

Dengan cepat Dhee menuju lantai paling atas, lantai 50. Sesampainya di
lantai 50, Dhee segera bersiap memotong kaca jendela. Tapi Dhee tidak
sengaja menggesernya, ternyata kaca itu tidak terkunci. Bagus, Dhee
tidak perlu repot-repot memotongnya.

Di lantai 50 ada belasan ruangan, perlahan Dhee membuka ruangan
pertama. Bukan, kemudian membuka ruangan kedua. Juga bukan, lalu
membuka ruangan ketiga. Perlahan mengintip, takut ada orang dan
rencana pencurian itu gagal total.

Apa itu? Perlahan Dhee mendekat. Itu dia, tombol untuk membuka pintu
masuk bank. Dhee menekannya, sementara Reza mulai beraksi. Perlahan
melangkah masuk bank yang dilengkapi alat sensorik panas.

Reza merayap, menghindari laser. Kalau sampai terkena, alarm akan
berbunyi. Dhee kembali ke gondola, diam sejenak. Memperhatikan langit
Ibukota yang diterpa angin dan dibasuh hujan lebat.

Menatap langit di lantai 50 jauh lebih menyenangkan dibanding
menatapnya di atas rumah singgah dan lapangan sunyi. Dhee menyeringai,
menyaksikan pemandangan luar biasa hebat.

Gurat petir di langit menyambar, membentuk akar-akar serabut. Terlihat
ribuan siluet cahaya yang begitu indah. Bulir-bulir air hujan membuat
nuansa cahaya itu terlihat berbeda.

Sungguh indah pemandangan Ibukota jika dilihat dari atas sini. Damai,
menenteramkan sekali melihat langit dengan google. Tuhan memang selalu
memudahkan jalan orang-orang jahat. Lihatlah, pencurian itu berjalan
lancar.

Sayang sekali, tak berapa lama mendadak sirine keamanan berdengking
kencang. Dhee terkesiap, melompat dari duduknya. Apa yang terjadi? Apa
yang salah? Reza membuat kesalahan? Bagaimana mungkin? Bukankah
rencana itu terlalu sempurna untuk gagal?

Dalam hitungan detik, Dhee meluncur turun dengan kecepatan tinggi.
Berhenti di lantai 48, tepat di depan jendela yang dipotong Reza. Yang
Dhee pikirkan hanya satu, tidak ada teman yang meninggalkan teman
lain.

10 menit, hanya itu waktu yang mereka miliki sebelum gedung
benar-benar dipenuhi oleh ratusan polisi. Dhee menerobos lorong lantai
48 yang sudah dipenuhi kabut malam.

Apa yang terjadi dengan Reza? Dimana Reza? Dhee harus segera
menemukannya. Dhee ingat denah lantai 48, karena sebelumnya Reza
menyuruh dia menghafal denah tersebut. Walaupun itu bukan tugasnya.

09 menit, 05 detik. Dhee berlari menerobos pintu-pintu, melewati
lorong-lorong. Sial, Dhee bergegas berbalik. Dhee keliru membedakan
pintu. Tiga puluh detik berharga terbuang percuma.

07 menit, 45 detik. Dhee menemukan bank yang dimaksud. Pintu
dihadapannya terkunci. Tanpa pikir panjang Dhee langsung memberondong
pintu tersebut dengan rentetan peluru kaliber 21 mm.

06 menit, 20 detik. Ruangan kaca terlihat, Dhee mendesis. Tidak ada
siapa-siapa disana selain asap cokelat. Dimana Reza? Dhee buas memukul
dinding kaca. Yang dicari, terlihat merangkak. Menahan nafas?
Mengetuk-ngetuk memberitahu posisi.

Ada satu bagian kecil yang dilupakan Reza. Malam itu setelah sekian
kali Reza berhasil, akhirnya ia bernasib buruk. Pemberat yang Reza
siapkan untuk menggantikan posisi berlian tersebut kurang berat
sepersekian gram.

Hanya sepersekian gram saja, tapi cukup untuk memicu alarm super
canggih lantai 48. Ruangan kaca itu mengunci otomatis, mengeluarkan
asap pembius. Lift menutup otomatis, pintu mengunci sendiri.

Dhee menyaksikan sahabatnya terkapar antara sadar dan tidak. Tanpa
pikir panjang Dhee memberondong dinding kaca itu. Percuma saja, kaca
itu terlalu tebal. Dhee mulai panik, kemudian teringat sesuatu.

Ia punya sekotak kecil C4 yang jauh-jauh hari ia siapkan. Dhee
bergegas memasang bom diluar dinding kaca, tidak perlu timer. Dhee
berlari menjauh, Reza berguling menjauh dengan sisa-sisa tenanganya.

Meledak, dinding kaca itu hancur berkeping-keping. Dhee melesat
menyambar tubuh Reza yang terkapar. Reza masih bisa berjalan walau
tertatih-tatih. Udara segar di koridor membantunya segera pulih.

03 menit, 30 detik. Dhee membantu Reza menaiki tali gondola. Reza
menggenggam erat tali gondola, tubuhnya masih terkapar. Saat mereka
hendak turun, tiba-tiba ada suara tembakan.

Peluru itu mengenai jendela kaca. Memperbesar lubang yang dibuat Reza.
Dari koridor lantai yang berkabut, dua petugas terlihat mengarahkan
pistolnya kearah Dhee. Maka terjadilah baku tembak antara Dhee dengan
dua petugas.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s