Cahaya Kehidupan : Aku Berlian Seribu Karat Part 19

* “Kau benar-benar menjemput masa-masa gelap dalam hidupmu, Dhee. Dan
itu dilakukan bersama sahabatmu.” orang berwajah menyenangkan yang
duduk disebelahnya mendesah pelan.

“Apa salahnya menjadi orang jahat?” Dhee berkata setelah terdiam lama,
untuk pertama kalinya berkomentar.
“Ya, apa salahnya menjadi orang jahat?” orang berwajah menyenangkan tertawa.

“Buat apa kehidupan panjang yang baik jika di penghujung sebelum maut
menjemput harus berakhir dengan keburukan. Lebih baik kehidupan
panjang yang buruk tapi di penghujung sebelum maut menjemput berakhir
dengan kebaikan.” orang berwajah menyenangkan kini tersenyum.

“Bagai mengumpulkan air di galon raksasa lantas bocor,
kebaikan-kebaikan itu musnah oleh penghujung yang jelek. Bagai musim
kemarau yang panjang terkena hujan satu jam, keburukan-keburukan itu
berguguran oleh penghujung yang baik. Kau benar Dhee, apa salahnya
menjadi orang jahat?” orang berwajah menyenangkan mengangkat bahunya,
wajahnya polos.

“Masalahnya kau tidak seharusnya menjadi jahat. Kau tidak boleh
menyalahkan orang lain yang…” ucapan orang berwajah menyenangkan
dipotong.
“KAU MUDAH MENGATAKANNYA!!! Kau tahu apa yang terjadi pada Yupi? Pada
Epul?” Dhee berteriak, emosi.

“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Kau tidak seharusnya menyalahkan
orang lain atas nasib burukmu, Dhee.” orang berwajah menyenangkan
hanya tersenyum.

“LANTAS SIAPA YANG HARUS DISALAHKAN??? TUHAN???” Dhee semakin emosi.
“Menyalahkan manusia saja tidak boleh, apalagi menyalahkan Tuhan.
Dhee, aku akan menjawab pertanyaan keduamu.” orang berwajah
menyenangkan menyentuh lembut bahu pasien di sebelahnya.

“Kau berkali-kali bilang kalau kau meninggalkan rumah singgah karna
perbuatan berandal-berandal itu. Tapi kau keliru, Kak Melody sama
sekali tidak mengusirmu, kan? Kaulah yang memutuskan pergi. Bahkan
saat kau berkunjung Kak Melody masih menerimamu, Dhee” jawab orang
berwajah menyenangkan.

“Tentang cinta Epul. Sebenarnya Elaine sudah tiada, mengidap beberapa
komplikasi penyakit. Saat itu hanyalah berita kematian Elaine yang
tiba. Bukan Elaine nya sendiri. Jika saat itu Epul masih hidup mungkin
ia akan sangat sakit hati. Elaine telah meninggal, beberapa hari
kemudian Epul yang meninggal. Sungguh kuasa Tuhan sangat adil.” orang
berwajah menyenangkan menatap langit.

“Tentang Yupi, kau mungkin tidak tahu. Jika saat itu lukisan Yupi
terjual, mungkin hanya laku puluhan ribu saja. Tidak sampai ratusan,
murah sekali. Tapi beberapa tahun kemudian, Yupi berhasil melelang
lukisannya seharga puluhan. Bukan puluhan ribu lagi, melainkan puluhan
juta untuk satu buah maha karya nya.” orang berwajah menyenangkan
tersenyum, masih menatap langit.

“Yupi belajar menerima kejadian apa adanya, bersikap rendah hati. Ia
kini tidak pernah menuliskan nama di setiap lukisannya.” orang
berwajah menyenangkan melirik pasien di sebelahnya yang mulai tenang,
tidak lagi berteriak emosi.

“Tentang Boim, sudah kukatakan kan sebelumnya? Boim itu adalah Rizky
Zulkarnain, sahabat lama mu. Ia berganti nama, kemudian menjadi
pemimpin para berandalan. Namun sayang ia harus meninggal. Kaulah
penyebabnya, Dhee. Saat perkelahian itu kau membiarkan pecahan botol
kaca menancap di dadanya. Boim harus merasakan sakit luar biasa selama
beberapa bulan.” orang berwajah menyenangkan menggeleng pelan.

“Baiklah, mari kita saksikan kejadian-kejadian masa lalumu. Maukah kau
mengenangnya kembali untukku, Dhee?” orang berwajah menyenangkan
tersenyum.

* Reza memang pedagang, ia pedagang besar. Tapi ia tidak pernah
membeli, hanya menjual. Menjual berlian curiannya. Mendengar berbagai
rencana Reza tentang berlian seribu karat itu, Dhee bisa menyimpulkan
bahwa sahabat lama nya bukanlah pencuri biasa.

Sejak SD dan SMP Reza adalah murid terpintar di sekolah. Bahkan di
X-Warriors Reza adalah anggota terpintar. Tapi setelah lulus SMA ia
menyalah gunakan kepintarannya untuk mencuri barang berharga. Sungguh
otak yang penuh dengan rencana mematikan.

Sebulan berlalu, sempurna dihabiskan untuk mematangkan rencana. Reza
profesional, jangan samakan ia dengan pencuri-pencuri kelas kakap.
Reza memiliki reputasi. Setiap rencananya selalu diperhitungkan sangat
detail.

Semua rencana pencurian besar itu sudah diperhitungkan Reza.
Aritmatika nya sungguh luar biasa. Bahkan Aljabar nya juga. Rencananya
sangat detail. Bahkan strategi-strategi nya juga.

Berlian itu ada di sebuah brankas bank. Terkunci, hanya ada satu pola
untuk membukanya. Pola itu ada di sebuah ruangan, tersembunyi. Tapi
Reza sudah tahu tempatnya, rencana itu sudah matang.

Berlian itu berharga belasan milyar. Dan separuhnya untuk Dhee.
Kira-kira berapa milyar bagiannya? Sungguh angka yang tidak pernah
berani dibayangkan. Reza, ia sangat setia. Ia tidak akan meninggalkan
pertner demi kepentingannya sendiri.

“Besok malam kita akan kaya, Rusdi. Ingatlah, jika salah satu dari
kita tertangkap. Tidak boleh mengorbankan temannya sendiri. Lebih baik
tutup mulut, mengaku bekerja sendiri. Tidak ada yang meninggalkan yang
lain.” Reza tersenyum.

“Tenanglah, kita hanya mengambil sedikit kekayaan orang lain. Mereka
sudah terlalu kaya. Mereka juga mendapatkan kekayaan itu belum tentu
dengan cara baik-baik. Kita harus mencurinya sedikit saja.” sambung
Reza menyeringai.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s