Romansa Di Kota Itu, Part6

Sesampainya di rumah, Dendhi dan Michelle kaget karena Kak Ve sudah datang di rumah.

“Gimana camping nya seru?” tanya kak Ve

Michelle langsung memeluk kak Ve, perlahan air matanya keluar

“Eh… kenapa ini?” tanya kak Ve

“nanti aku jelasin kak, yang penting biarin si Michelle istirahat dulu” kata Dendhi

“Oh iya, doa dulu biar kamu nggak kesurupan lagi” kata Dendhi

Michelle hanya mengangguk pelan sambal berjalan meninggalkan mereka

“What? Kesurupan?” Tanya kak Ve

“iya kak”

Lalu Dendhi pun menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Michelle kepada kak Ve, kak Ve pun hanya mengangguk pelan.

“Kayaknya emang sengaja ada yang ngerubah petunjuk arah itu deh Den”kata kak Ve

“Iya, feelingku juga ngomong gitu kak, Cuma aku nggak tau siapa yang ngerubah, nggak gampang nemuin yang ngerubah petunjuk arahnya di antara dua ratus siswa kak” kata Dendhi

“Dan, akhirnya aku ngasih tau identitas Michelle ke temen-temenku kak” tambahnya

“Ya udah Den, yang penting kamu udah jagain adek kamu” kak Ve

SKIP

Hari senin adalah hari pertama Dendhi bersekolah setelah melewati masa-masa yang bisa sedikit kelam bagi dia karena dia hampir kehilangan adiknya.

“Kak, aku berangkat dulu ya” ujar Dendhi kepada kak Ve

“iya, hati-hati di jalan ya, jagain adikmu itu Den” balas kak Ve

“Iya kak” balas Dendhi sambil menggandeng tangan adiknya

Hanya butuh waktu lima belas menit bagi mereka berdua untuk sampai di sekolah itu, sesampainya di sekolah

“Kak, aku ke kelas dulu ya” Ujar Adiknya

“Iya le, hati-hati, jangan kebanyakan ngelamun” ujar kakak nya sambil tersenyum.

Baru saja di tinggal oleh Michelle, ada yang memegang pundaknya.

“Den, kantin yuk” ajak Sando

Dia pun mengangguk kan kepala nya pelan, sesampainya di kantin

“Pak, nasi goreng nya dua, minum nya es teh panas ya” ujar Sando

“Woiii.. emang ada es teh panas?” tanya Dendhi

“Iya juga ya, teh anget aja ya pak, dua” ujar sando

“di tunggu ya” kata penjaga kantin itu

“Guys, bolek ikutan nggak?” tanya Viny dan kawan-kawan

“Boleh kok” kata Dendhi sambil tersenyum

Mereka pun lalu duduk, tak berselang lama, pesanan Dendhi dan Sando pun sampai

“Den, Michelle itu beneran adik lu?” tanya Kinal

“Iya Devi Kinal Putri, kamu kok nggak percaya banget sih sama aku” balas Dendhi sebal

“eh. katanya ada murid baru di sekolah ini”  Viny pun mengalihkan pembicaraan

“Nice timing vin” kata Dendhi dalam hati

“Yang bener lu vin?” tanya Lidya sedangkan Yoshi hanya duduk sambil memainkan Hp nya

“Iya” kata Viny

“Cowok atau cewek?” tanya Sando antusias

“hmmm… katanya sih cowok” kata Viny

“yaaahh…” kata Sando lesu.

Lalu suasana di luar kantin mulai ramai, karena penasaran Sando pun bertanya kepada salah satu siswa yang sedang berada di kantin

“Itu ada apa sih?” tanya Sando

“Ada pembagian kelas untuk kelas X dan kelas XI” balas siswa itu

“Ayo kita liat” ajak Yoshi

“Kalian duluan aja, aku mau bayar makanan dulu”kata Dendhi

Ketika Dendhi mau berjalan tiba-tiba

*BRUUUK*

Dendhi terjatuh karena badannya dengan sengaja di dorong

“Woii.. lu kalo jalan yang bener dong” kata Lidya

“Aduh… maaf ya” ejek Gio sambil tertawa

“Lu mau cari masalah? Dasar troublemaker” kata Lidya, mendengar kalimat Lidya yang sangat menusuk itu, emosinya memuncak, dia pun ingin memukul lidya, dan

*BRUUUK*

Pukulan nya mengenai wajah Dendhi, dia pun jatuh tersungkur.

“Orang kayak kamu nggak berhak buat mukul temen ku” kata Dendhi

“Kita pergi aja deh, biar aku sama Dendhi yang bayar” kata Viny

Lalu Viny dan Dendhi pergi untuk membayar tagihan pesanan mereka, lalu setelah itu mereka pergi untuk melihat pembagian kelas XI. Ketika sampai di koridor.

“Den… kita sekelas” Ujar Sando senang

“Aku juga Den” kata Dhika

“Aku beda kelas, kamu di IPS 2, sedangkan aku di IPS 4” kata Rafles

“Serius?” tanya Dendhi lagi

“Iya, kalo kamu nggak percaya, liat aja sendiri” kata Rafles, dan Sando yang meninggalkan dia.

Dendhi dan Viny pun semakin penasaran, mereka langsung menuju ke Mading di depan kantor Tata Usaha, ketika sampai di sana. Mereka pun melihat pembagian kelasnya

“Den. Kita sekelas” ujar Viny girang

“Iya” kata Dendhi

Tak sengaja mata Dendhi melihat nama rival nya yang ternyata masuk di kelas IPS 2.

“Gio ternyata juga se kelas sama kita juga” kata Dendhi

“What? Serius kamu?” tanya Viny kaget

“iya, coba liat lagi” kata Dendhi

Viny pun melihat dengan seksama, dan ternyata memang ada nama Gio, Andri, dan Jordan.

“kenapa kok ada Gio and the gang sih,jadi nggak seru nih” kata Viny.

“udah, mendingan kita langsung masuk aja ke kelas” ajak Dendhi kepada Viny

Ketika di jalan menuju kelas, terdengar suara bel yang merupakan tanda bagi siswa-siswi untuk masuk ke dalam kelas. Mereka berdua dengan setengah berlari menuju ke kelas XI IPS 2. Sesampainya di sana ternyata sudah ada Pak Bayu yang seperti nya akan menjadi wali kelas mereka selama 2 tahun.

“Selamat pagi anak-anak, bapak akan jadi wali kelas kalian selama dua tahun, mulai kelas XI sampai kalian lulus nanti, jadi mohon kerjasamanya ya” kata pak Bayu

“Iya pak” jawab Murid-murid serentak

“Pagi ini, bapak akan urus pengurus kelas, yang bersedia jadi ketua kelas siapa?” tanya pak Bayu

Tak ada yang mengajukan diri menjadi ketua kelas

“nggak ada yang berani? Baiklah, bapak tunjuk” kata pak bayu yang diiringi tawa yang sungguh menggelegar :v

“Ketua kelas nya Gio, sementara wakilnya Jordan” kata pak Bayu

“Ihh.. pak Bayu kalo nunjuk kok seenak jidatnya sendiri ya?” bisik Dhika kepada teman sebangkunya

“masa bodo dah” Kata Yoshi sambil memejamkan matanya perlahan.

Tepat setelah pak Bayu mengumumkan perangkat kelas, datanglah guru BK sambil membawa seorang anak yang usianya sih seumuran dengan Dendhi.

“Pak Bayu, ini ada murid baru” kata guru BK itu

“Oh iya” kata pak Bayu sambil mempersilahkan anak baru itu masuk ke dalam kelas

“Sekarang coba perkenalkan nama kamu” jawab pak Bayu

“Halo semua, nama ku Ahmad Fahrezalical, panggil aja Ical, aku pindahan dari Semarang, salam kenal” kata anak itu

“Anak itu kayak pernah liat, tapi di mana ya?” kata Dendhi dalam hati

“Idih… itu anak kok kayaknya kampungan banget siih” kata Gio pelan-pelan

“Gimana kalo kita kerjain aja mereka” tambahnya

“kalo aku sih oke-oke aja” balas Jordan

“ ya sudah ical, kamu sekarang duduk di belakang Dendhi, tepatnya di bangku pojok kiri belakang” kata pak Bayu

Lalu ical berjalan menuju tempat yang di perintahkan oleh pak Bayu, tempat yang di tunjukkan oleh pak Bayu hanya di isi oleh Rafles.

“Nama ku Raf…” ujar rafles terpotong

“Rafles Saputra kan? Salah satu pemain yang pernah ikut trial sama club Gamba Osaka kan?” Tanya Ical memastikan

“Buset.. ini anak bener-bener tau latar belakangku, bisa bahaya kalo latar belakang ku, Dendhi, sama Yoshi di buka di sekolah ini, pasti bakalan ribet” kata Rafles dalam hati.

“Yang lagi duduk di bangku tengah itu pasti si tangan besi kan? Yoshi Satryanto, dia kalo gak salah ikut trial sama Manchester City”kata Ical

“Ben..bener” kata Rafles gugup

“Halo cal, nama ku Viny,sedangkan yang di sampingku ini namanya Den…” ujar viny yang lagi-lagi di potong oleh Ical

“Dendhi Yoanda kan? Dia pernah ikut Trial sama Club liga Inggris, Manchester United kan?” kata Ical, Dendhi yang pernah mendengar itu langsung kaget.

“Emang kamu pernah ikut Trial sama Manchester United ya?” Tanya Viny, Dendhi tak menjawab anak itu, dan menatap penasaran Ical

“Kamu tau dari mana kalo aku pernah ikut trial sama MU?” Tanya Dendhi

“kita dulu satu karantina, kamu lupa?” Tanya Ical lagi

“Masa sih?” Tanya Dendhi sambil mencoba mengingat-ingat lagi

“Kamu lupa sama ini?” Tanya Ical sambil mengeluarkan gelang berwarna merah, dengan logo MU sebagai hiasannya

“Benda ini kan…” kata Dendhi menggantung

*FLASHBACK ON*

Lima tahun yang lalu di tempat karantina yang suasana cukup menegangkan, namun pelatih berusaha membuat suasana di tempat karantina itu cukup kondusif. Pelatih pun mengumpulkan anak-anak terbaik di Indonesia, beberapa adalah Dendhi, Rafles, dan Yoshi.

“Kalian yang ada di ruangan ini mungkin ada yang ikut trial bareng Manchester United, mungkin juga ikut sama Gamba Osaka, sekarang nikmati kebersamaan kalian dengan rekan-rekan kalian” kata pelatih

Lalu Dendhi pun segera memanggil Ical, ketika ia sampai di depan Dendhi, ia pun mengeluarkan gelang itu.

“Gelang? Ini buat apaan?” Tanya Ical

“udah, ambil aja. Itu kenang-kenangan ku sama kamu, bakalan sulit bagi kita untuk ketemu lagi setelah ini. Ambil dan kenakan itu pada pergelangan tanganmu” kata Dendhi

Ical pun menuruti perintah Dendhi. Dipakai nya gelang itu di tangan kiri nya

“Kita bakal terus jadi sahabat” kata Dendhi sambil tersenyum

*FLASHBACK OFF*

“Nggak nyangka ya kita bakal ketemu di sini” kata Dendhi yang tersenyum lebar

“Iya” balas Ical

~oOo~

Bel pertanda istirahat telah berbunyi, semua siswa-siswi mulai berhamburan keluar. Begitu pula dengan Michael bersama Dhike, Yoshi bersama Lidya, sedangkan rafles menjadi obat nyamuk dalam istirahat kali ini, sedangkan Dendhi lebih memilih untuk tidur selama jam istirahat.

“Ney.. mau pesen apa?” Tanya Yoshi pada Lidya

“nama gue kan Lidya, bukan ney” ujar Lidya sebal

“Ney itu singkatan dari Honey tau” jawab Yoshi lesu

“Oooh… nasi goreng aja minum nya Es teh” balas Lidya sambal tersenyum

“Aku sama Dhike pesen mie pangsit, minumnya es jeruk” kata Michael

“Aku pesen es buah aja deh” kata Rafles ikut-ikutan

“Lha.. aku takon ning Lidya, kok malah kowe karo Rafles sing jawab” kata Yoshi (aku Tanya nya ke Lidya, kok malah kamu sama Rafles yang jawab)

“lagi mager aku”  balas Michael

“Sama, aku juga” Rafles pun ikut-ikut an berbicara

Lalu Yoshi pun pergi memesankan makanan kepada penjaga kantin.

Selagi Yoshi sedang memesan makanan, mereka sedang bercanda di kantin.

“Kak, liat kak Dendhi nggak?” Tanya seseorang

“Eh. Kamu Michelle, itu kakak mu lagi di kelas, mungkin tidur” balas Rafles.

“ooh.. oke kak, makasiih ya” kata Michelle yang meninggalkan mereka

“Sifatnya bener-bener mirip Dendhi ya?” kata Lidya

“Iya.. cuek, dan kalo ngomong seperlu nya” kata Michael.

Michelle pun segera berjalan menuju ke kelas Dendhi. Sesampainya di sana ia melihat kakaknya sedang tidur pulas, dia pun mendekati meja dimana kepala kakaknya menempel dengan lengket.

“Kak, bangun dong. Udah istirahat ini” kata Michelle

“iya-iya, kamu kesambet setan apaan siih dek kok tiba-tiba nyamperin aku di kelasku, biasanya kan aku yang ke kelasmu” kata Dendhi yang masih agak mengantuk

“suka-suka dong kak” jawab Michelle sambil menggembungkan pipinya.

“Oh iya kak, nanti anterin aku ke Togamas ya?”kata Michelle manja

“Iya.. asalkan dapet fee aku” kata Dendhi

“Ih.. tega amat sama adik sendiri” kata Michelle sebal

“Hahaha… bercanda kok” kata Dendhi.

Mereka yang sedang bersenda gurau tak menyadari bahwa Ical mengintip mereka dari balik pintu kelas mereka.

“Cantik banget… senyumannya.. beuh.. maut” kata Ical dalam hati

*TEEEEET…*

Bel pun berbunyi Michelle pun meninggalkan kelas, tak menunggu lama, semua siswa kelas XI IPS 2 pun memasuki kelas. Rafles pun berpindah tempat duduk di sebelah Dendhi

“Den…” sapanya

“Hmmm…”

“Katanya bentar lagi Turnamen nasional antar SMA bakal diadain lho…” kata Rafles

“Lawan kita berat-berat nggak ya? Untung aja kamu nge gol in pas lawan Surabaya” tambahnya

Tak ada jawaban dari Dendhi, Rafles pun yang mulai jengkel langsung melihat ke samping, dan…. Dendhi sedang tertidur pulas.

“Kampret kowe den.” Kata Rafles (Kampret kamu den)

Dendhi pun tertidur dengan sangat lelap, sampai tak terasa jarum jam menujukkan pukul 13.15, dimana siswa-siswi pulang, diparkiran terdapat siswi cewek yang sedang menunggu kakaknya

“Nyariin Dendhi ya?” tanya orang itu

“Iya kak, kakak temen sekelas nya ya?” tanya Michelle

“Iya, dia lagi tidur, mulai setelah istirahat pertama sampe tadi, untung aja nggak ada guru dari tadi” kata orang itu

“Oh, makasih kak Rafles” kata Michelle sambil meninggalkan Rafles

Dengan langkah seribu Michelle menuju ke kelas, sesampainya di kelas, Michelle geram lantaran kakaknya sedang tertidur pulas

“Kak Dendhiiiii…..” seseorang berteriak persis di samping kepala Dendhi

“Hmmm…” Dendhi berdehem

“Whaat? Rafles kok jadi perempuan ya? Abis operasi Transgender ya?” kata Dendhi lagi

“Transgender gundulmu kak, lihat sekarang jam berapa?” ujar Michelle sebal

Dendhi pun mengucek matanya, melihat jam dinding yang ada di kelas nya, yang ternyata sudah menunjukkan pukul 13.30, yang merupakan jam pulang sekolah

“Wiiih… aku tidur lama banget ya? Perasaan Cuma lima menit doang” kata Dendhi sambil terkekeh

“Jangan bilang ke kak Ve ya le kalo aku abis tidur di kelas” kata Dendhi memelas

“aku bakal bilangin ke kak Ve, biar tau rasa” kata Michelle sebal

“Ih.. jahat amat sama kakak sendiri” kata Dendhi

“Biarin :p” kata Michelle

“kak, anterin ke toko buku dong kak” kata Michelle manja

“Tadi jutek nya minta ampun, sekarang manja nya minta ampun” kata Dendhi dalam hati.

Mereka pun menuju ke parkiran, baru saja tiba di parkiran, ada yang menepuk pundak Michelle

“Michelle, kamu mau pulang ya?” Tanya seseorang

“Iya Gre, kenapa?” Tanya Michelle balik

“Aku boleh nebeng nggak?” Tanya nya lagi “Papa ku nggak bisa jemput aku” tambahnya

“Shit.. jadi kambing conge, padahal aku lebih tua dari mereka” kata Dendhi dalam hati

“Kamu Tanya aja ke kakakku, dia kan driver nya” kata Michelle setengah mengejek Dendhi

“Shiiit… driver. Emang nya aku supir taksi apa” kata Dendhi dalam sambil menatap tajam Michelle

Michelle yang mengetahui bahwa Dendhi agak marah langsung tertawa terkekeh.. “Maaf kak” kata Michelle

“Boleh nggak kak aku nebeng ke kakak, soalnya papa ku nggak bisa jemput aku” kata gre lagi

“boleh kok” kata Dendhi ramah sambil tersenyum

“ya ampun, senyum nya manis banget” kata Gre dalam hati

“Malah bengong kamu, ayo naik” kata Michelle membuyarkan lamunan Gre

“Eh… mana kak Dendhi?” Tanya gre

*TIIIN… TIIIN…*

Suara klakson mobil Innova milik Dendhi terdengar. Namun mereka berdua masih tetap tidak naik ke mobil nya Dendhi

“Ooiiii.. Macan PMS.. cepet naik. Kalo nggak naik aku tinggal nih” kata Dendhi, mendengar itu wajah Gre pun tertunduk. Sebenarnya kata itu di tujukan kepada Michelle.

Di tengah perjalanan suasana sangat hening, hanya butuh lima menit bagi mereka untuk mencapai Togamas, karena sekolah mereka berdekatan dengan Togamas. Setelah masuk ke Togamas, wajah Gre masih tertunduk

“Gre… ada masalah?” Tanya Dendhi

“kak, maafin aku ya? Kalo aku tadi bikin kak Dendhi marah, sampe ngomong macan PMS” kata Gre dengan wajah masih tertunduk

“Macan PMS??? Itu bukan kamu Gre, tapi buat Michelle” kata Dendhi sedikit tertawa

“eh.. serius kak?” Tanya Gre lagi.

Namun tiba-tiba tangan Gre di pegang oleh Dendhi. Wajah Gre pun memerah. Dendhi pun membisikkan kata Gre

“Iya Shania Gracia, Michelle itu kalo marah kayak macan PMS tau”

Setelah Dendhi menjauh kan wajahnya dari telinga Gre, Dendhi melihat wajah Gre memerah

“Kamu kenapa?’ Tanya Dendhi.

“Nggg.. nggak apa-apa kok kak” kata Gre salting.

“I… itu tadi mimpi?” Tanya Gre dalam hati

“kak, ayo pulang yuk, aku udah bayar di kasirnya” kata Michelle.

Michelle dan Dendhi sudah berjalan menuju parkiran, ketika Dendhi menoleh ke belakang. Tidak ada Gre..

“Bentar le, Gre nggak ada, aku balik ke dalam ya” kata Dendhi

Dendhi pun setengah berlari masuk ke dalam toko buku itu, melihat gre yang masih melamun

“Kamu masih di sini toh? Pulang yuk, udah sore nih” ajak Dendhi sambil menggandeng tangan Gre

“eh..” wajah Gre semakin memerah

Sesampainya di parkiran Dendhi pun melihat ke arah tangannya

“Eh.. maaf ya gre, itu tadi nggak sengaja” kata Dendhi

Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil Dendhi, di sepanjang perjalanan ternyata Michelle sedang tertidur, sedangkan gre hanya menatap kosong jalanan di kota Banyuwangi, sedangkan Dendhi masih memusatkan konsentrasi pada jalanan kota Banyuwangi.

“oh iya Gre, rumahmu di mana?” Tanya Dendhi

“Di Genteng kak” jawab Gre singkat

“Ooh..” jawab Dendhi singkat.

Butuh waktu empat puluh lima menit untuk mengantarkan Gre ke kandangnya *Eh.. maksud aku ke rumah nya

Sesampainya di depan rumah Gre, dia langsung keluar

“Makasih kak udah di anterin” ucap gre sambil tersenyum manis

“Oke Gre” jawab Dendhi santai dan meninggalkan rumahnya Gre untuk kembali ke rumahnya

Sesampainya di rumah nya,

“Michelle, kita udah sampe” katanya lesu

Tak ada jawaban darinya, dia langsung melihat di kursi belakang.

“duh Gusti, bocah iki turu wae toh” kata Dendhi dalam hati (Ya Tuhan, tidur terus)

“le, bangun kita udah sampe, mau sampe kapan tidur terus” kata Dendhi

“Udah sampe ya?” Tanya Michelle

Dendhi tak menjawabnya, dia berjalan masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Michelle langsung turun dari mobilnya Dendhi dan langsung mencari kak Ve.

“Kak, tau nggak kalo tadi ada yang tidur di kelas lho?” kata Michelle

“Buset ini anak, bangun tidur malah seger” kata Dendhi dalam hati

“siapa yang tidur emangnya?” kata kak Ve

“itu tuh, si ketua OSIS kak” kata Michelle, yang sontak tatapan kak ve langsung tajam menoleh ke Dendhi

“hehehe… pisss… pisss” kata Dendhi “abis ngantuk banget kak” tambahnya.

Dendhi pun langsung berjalan masuk ke kamar nya, ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul empat sore, dia pun segera mandi dan membaca komik yang ada di meja belajarnya.

*To Be Continued*

@Dendhi_yoanda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s