Cahaya Kehidupan : Aku Pertanyaan Kedua, Part 17

* “Dhee, semua orang di dunia ini pernah mengeluarkan pertanyaan
keduamu, apa arti cinta?” orang dengan wajah menyenangkan mengusap
wajahnya, menyibak rambut yang menutupi ujung-ujung mata.

“Asal kau tahu saja, ribuan tahun lalu ada seorang manusia pilihan
yang sempat melalui sebuah perjalanan besar bersamaku. Bukan, bukan
perjalanan mengenang masa lalu seperti ini. Ia tidak diberikan lima
kesempatan untuk bertanya. Justru sebaliknya, diberi lima kesempatan
untuk tidak banyak bertanya tentang apa yang kutunjukan.” orang
berwajah menyenangkan menatap wajah pasien di sebelahnya.

“Sama sepertimu, Dhee. Manusia pilihan itu juga bertanya tentang
kejadian yang sedang dilihatnya. Lima kali dia bertanya. Lima
kesempatan, lima pertanyaan. Dan kami terpaksa berpisah karena
pertanyaan-pertanyaannya.” orang berwajah menyenangkan kembali menatap
lurus ke depan.

“Jujur saja, Dhee. Pertanyaan keduamu ini sulit sekali dijawab. Bukan
karena jawabannya tidak ada. Melainkan karena jawabannya terlalu
banyak. Setiap orang bertanya sesuai apa yang dirasakannya. Maka
jawabannya juga harus sesuai dengan pemicunya.” orang berwajah
menyenangkan tersenyum.

“Asal kau tahu saja, Dhee. Epul itu sebenarnya adalah Saepul Anwar.
Sahabat lamamu!” orang berwajah menyenangkan menyentuh lembut bahu
pasien berumur enam puluh tahun di sebelahnya.

Seketika tubuh pasien itu mendadak menjadi dingin. Bulu kuduknya
berdiri, matanya membesar bulat, tidak percaya apa yang baru saja
dikatakan orang berwajah menyenangkan.

“Bukankah dulu Epul sempat mengambil kertas janji milikmu itu? Dan
saat Epul melihatnya ia terbelalak, terkejut tidak percaya apa yang
baru saja ia baca. Epul langsung percaya bahwa kaulah Rusdi,
sahabatnya dulu!” orang berwajah menyenangkan menghela nafas pelan.

“Dan semenjak saat itu Epul rela melakukan apapun untukmu. Bahkan rela
mati untukmu. Luar biasa kau masih menyimpan kertas itu. Tapi
kenyataannya kau tidak menyimpannya. Bukankah kau tidak sengaja
menemukan kertas itu? Saat hendak mencuri uang ayahmu kan, Dhee?”
tanya orang berwajah menyenangkan.

“Satu lagi, Boim itu sebenarnya adalah Rizky Zulkarnain. Dia juga
salah satu sahabatmu dulu. Dan setelah luka-luka bekas perkelahian
itu, enam bulan kemudian Boim akhirnya meninggal. Tidak kuat menahan
rasa sakit yang tak kunjung sembuh.” jelas orang berwajah
menyenangkan.

“Dan 6 hari sebelum Boim meninggal, Ghaida sempat mencari asal-usulmu.
Dan ia akhirnya tahu bahwa namamu sebenarnya adalah Rusdi. Boim kaget
mengetahui itu, bahwa kau adalah sahabatnya dulu. Beberapa hari
kemudian Boim meninggal. Bukan main, bahkan Boim pun langsung percaya
bahwa kaulah Rusdi.” kembali menjelaskan.

Pasien berumur enam puluh tahun itu diam tidak berbicara, memegangi
tengkuknya. Kenapa orang itu bisa tahu segalanya? Kenapa ia bisa tahu
tentang janji masa lalunya? Kenapa bisa tahu tentang
sahabat-sahabatnya? Tentang Epul sebenarnya? Tentang Boim? Siapa
sebenarnya orang itu?

* Malam hari di rumah petaknya, seperti biasa tidak ada yang berubah.
Rutinitas hariannya selalu saja begitu. Pagi mengamen di bus, siang
istirahat, Sore berkunjung ke lapangan yang sepi itu, malamnya pulang
dan tidur.

Tadi sore Dhee sempat berkunjung kembali ke rumah singgah nya.
Memutuskan mampir, melihat rumah itu dari jarak jauh. Melihat
anak-anak rumah singgah tertawa lepas, bahagia bersama. Maka teriris
lah hatinya. Kunjungan itu membuka kembali kenangan indah nya dulu.

Setelah kunjungan jarak jauh itu Dhee pergi ke lapangan. Tempat
favoritnya saat senja hari, menyaksikan indahnya sunset. Memandang
langit sore berwarna jingga. Menatap burung-burung yang terbang bebas.
Mendengar hembusan angin yang menerpa ilalang, menerpa pohon-pohon,
dan menerpa tubuhnya. Mendengar lantunan lagu dari seekor jangkrik
kecil.

Tiduran diatas tanah, bersandar pada rerumputan liar. Ilalang
menyapanya, sungguh menyenangkan hidup seperti ini. Hanya saja ia
rindu rumah singgah. Rindu sahabat-sahabatnya. Dan rindu potongan masa
lalunya.
“Hay, kau masih ingat aku?” sapa seseorang.

BERSAMBUNG

By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s