Beautiful Football(?), Part1

“Sebelumnya saat waktu normal, Amerika sempat memimpin oleh gol yang dicetak Alex Morgan. Untung Jepang bisa menyamakan kedudukan oleh gol yang dicetak Aya Miyama, sepuluh menit menjelang bubar. Sehingga pertandingan pun diteruskan ke babak perpanjangan waktu….”

“Di perpanjangan waktu, Amerika kembali unggul oleh gol yang dicetak penyerang andalan mereka Abby Wambach. Tapi sayang, berkat kegigihan Jepang, akhirnya mereka bisa menyamakan kedudukan oleh gol yang dicetak Homera Sawa tiga menit sebelum babak kedua perpanjangan waktu berakhir. Pertandingan pun terpaksa dilanjutkan dengan adu pinalti. Sebelum menyaksikan babak adu pinalti, kita simak-simak dahulu komersial break berikut.”

Ditemani se toples keripik kentang, Sinka masih duduk sambil menyandarkan punggungnya di sofa hitam ruang keluarga. Kakinya ia letakan dimeja depan sofa, layaknya seorang boss.

“Belum beres?” Seorang pria tiba-tiba datang ke ruang keluarga, ia langsung duduk disamping Sinka dan mengusap-ngusap rambut anaknya itu.

Sinka hanya menggeleng pelan, lalu kembali memasukan sepotong keripik kentang ke mulutnya.

“Berapa-berapa?”

“Dua sama, ini mau adu pinalti.”

“Dukung siapa?”

“Ini dong!” Sinka menunjukan lambang sebuah bendera berwarna putih dengan linkaran merah ditengahnya yang tertempel di jersey sebelah kanan.

Ayah Sinka mengerutkan dahinya. “Ga Indonesia?”

“Ga ada, entar kalau aku pemainnya baru masuk piala dunia!”

“Oiya Sin, besok Ayah mulai berlayar lagi.”

“Loh udahan liburnya? Jadi besok berangkat lagi?” Sinka kini melirik mata pria disampingnya, Ayahnya pun hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Kamu sehat-sehat ya dirumah, jagain Ibu juga.” Sinka mengangguk cepat, televisi pun sudah menampilkan lagi pertandingan final sepak bola itu.

“Ayah juga hati-hati, jangan lupa oleh-oleh!” Ayahnya tersenyum melihat tingkah laku anaknya itu.

“Iya pasti, oiya kamu udah tau masuk SMA mana?”

“Emm… tinggal nunggu, Ahhh!!!” Sinka terlihat kecewa saat tendangan Yuki Nagasato yang mengarah ke kanan gawang berhasil di block oleh Hope Solo, kiper Amerika.

“Bakal kalah tuh,” ledek Ayah Sinka.

“Yee… tadi juga yang Amerika ketahan dua kali.” Ayah Sinka tersenyum.

“Jadi kamu mau masuk SMA mana?”

“SMA 5 sih, tapi tinggal nunggu pengumumannya, keterima atau engga, bagus ketahan lagi!”

Babak adu pinalti masih berlanjut, kini sudah ada penendang Jepang yang bersiap menendang, nomor punggung 6, Mizuho. Ia mulai berlari dan bersiap menendang. Tendangan pun mengarah ke kanan gawang dan sempat di tepis oleh penjaga gawang. Namun karna tendangan cukup kencang, alhasil tepisan itu tidak sempurna dan bola berhasil masuk kedalam gawang.

Kini giliran Tim Amerika menendang, nomor punggung 20, penyerang andalan mereka Abby Wambach. Ia mengambil ancang-ancang dan bola pun berhasil bersarang di pojok kanan gawang, mengecoh kiper Jepang, Kaihori.

“Ya, ini dia penendang Jepang selanjutnya, nomor punggung empat, Saki Kumagai….”

“Jika tendangan kali ini masuk, pupus sudah harapan Amerika untuk meraih gelar juara piala dunia tahun ini….”

“Penendang sudah mengambil ancang-ancang, dan Gooool!!! Bola berhasil melesat ke pojok kanan gawang, meskipun kiper Amerika berhasil membacanya namun bola mengarah ke pojok hingga sulit ditepis….”

“Setelah melewati pertandingan sengit, dengan ini Jepang resmi di nobatkan sebagai juara piala dunia.”

“Tuh kan juara!” ledek Sinka kepada Ayahnya.

“Haha… iya-iya, oiya kamu belum makan, makan gih, tuh di dapur ibu baru beres masak.”

“Ya udah deh, ayah juga ayo ke ruang makan,” ajak Sinka.

“Bentar mau ambil koran didepan, kamu duluan aja.” Sinka pun mengangguk.

Sinka langsung mengambil tongkat berwarna silver yang diletakan disamping sofa. Ia kemudian berdiri dibantu Ayahnya. Sebelum meninggalkan Ayahnya, Sinka sempat tersenyum, ia lalu berjalan ke arah ruang makan dengan dibantu sebuah tongkat.

~oOo~

Hari penerimaan murid baru dimulai. Tidak seperti kebanyakan murid lainnya, Sinka diharuskan duduk di ruang panitia sementara teman-teman lainnya mengikuti latihan baris berbaris.

Setelah latihan baris berbaris selesai, para murid kelas sepuluh diperintahkan pergi ke Aula, dan Sinka pun di antar oleh kakak kelasnya ke Aula.

Di dalam Aula, Kepala Sekolah memberikan materi kepada murid-murid kelas sepuluh. Beberapa murid sudah terlihat ada yang mengantuk karna acara ini sangat membosankan. Oleh karna itu, para petugas OSIS tidak henti-hentinya membangunkan murid-murid yang tertidur.

Tak terkecuali Sinka, ia masih saja duduk manis dengan note kecil dilengan kirinya. Matanya masih menatap lekat ke arah kepala sekolah yang masih berbicara di depan murid-murid kelas sepuluh.

“Liat dong.” Sinka pun memperlihatkan notenya ke seseorang yang duduk disampingnya.

“Kirain nyatet,” ujar cewek itu.

“Belum, ga ngerti juga sih.”

“Oiya kita belum kenalan.” Anak itu menjulurkan tangannya, mengajak Sinka berjabat tangan.

Sinka pun menyambut uluran tangan anak itu, “Sinka Juliani, panggil aja Sinka.”

“Ratu Vienny Fitrilya, panggil aja Viny.”

Hari itu ospek berjaan lancar. Jam sudah menunjukan pukul tiga sore, artinya ospek hari itu selesai dan murid kelas sepuluh sudah di bolehkan untuk pulang. Sinka pun membereskan buku-bukunya, setelah selesai ia pun keluar dari kelas dibantu dengan tongkat jalannya.

“Sinka Sinka?” Sinka menoleh ke belakang.

“Hei!”

“Mau pulang?” Sinka pun mengangguk.

“Di jemput atau sendiri?”

“Sendiri, kalau kamu Vin?”

“Sama kok sendiri, Ayah aku ga bisa jemput soalnya, kamu naik apa Sin?”

“Bis, kamu?”

“Bis juga, kita pulangnya satu arah kayanya, haha.”

“Bisa jadi, eh tapi Bis yang lewat ke halte deket sekolah ini cuma satu jurusan kan ya?” Vinny tersenyum lalu mengangguk.

“Ya udah yuk cepet, takut ketinggalan Bis,” aja Viny.

“Eh… eh… aku ga bisa cepet-cepet.” Sinka menunjukan kaki kanannya yang dibalut gips.

“Ups, sorry hehe.”

“Ga apa-apa kok.”

“Oiya Sin, kamu kenapa mau sekolah disini?” tanya Viny.

“Kenapa ya?” Sinka terlihat memikirkan jawaban. “Karna ga keterima di pilihan pertama kali.”

“Loh emang pilihan pertamanya SMA mana?” tanya Viny.

“SMA 5, tapi ga masuk, ya udah jadinya keterima di pilihan dua, SMA 48, hehe,” jawab Sinka, “kalau kamu sendiri Vin, kenapa mau masuk SMA ini?”

Viny menjulurkan lidahnya, “Sama kaya kamu, ga keterima dipilihan pertama, tadinya aku mau masuk SMA 3, cuma ga keterima. Ya udah jadinya ke SMA 48.”

Mereka berdua pun kembali melangkah menuju halter yang tidak jauh dari sekolah. Dari kejauhan terlihat halte itu sudah penuh oleh anak-anak SMA yang menunggu Bis atau pun angkutan kota. Sesampainya disana, Viny dan Sinka ikut menunggu Bis yang akan lewat.

“Oiya Sin, sorry nih mau nanya, itu kaki kamu kenapa?” tanya Viny penasaran.

“Patah.” Sinka pun menjulurkan lidahnya ke arah Viny.

“Yeee…., tapi gara-gara apa?”

“Main bola.”

“HEH?!”

*to be continued.

 

 

Cuap cuap dikit lah ya.

Akhirnya cerita ini dikeluarin juga, tadinya mau nunggu sampe Death Game tamat. Tapi karna hari ini jumlah postingannya dikit pake banget, ya udah kepaksa dikeluarin juga wkwkwk. Lagian Death Game juga ga akan lama lagi, hmmm….

Oiya udah ketauan lah ya dari judulnya kalau ini cerbung bakal jadi kaya gimana. Yup, genre sport, mungkin(?). Di blog ini ada beberapa cerbung yang ngambil tema olahraga, nah makanya gue coba buat juga, ya coba-coba lah, bagus syukur kalau kaga harus diperbaiki lagi wkwkwk.

Cerbung ini dibuat gara-gara, gue terinspirasi dari satu artikel blog sepak bola. Ya berhubung gue suka bola juga sih, jadi pas wkwkwk. Disana isi artikelnya berandai-andai, misalnya kalau JKT48 jadi tim sepak bola kaya gimana. Nah gue terinspirasi dari sana, gimana kalau dibuat cerbung, asik juga kayanya, tentu versi gue sendiri lah 😀

Sepak bola disini juga, gue ambilnya sepak bola cewek. Lagian beberapa tahun kemaren sempet rame kan sepak bola cewek di Indo, apalagi udah ada gamenya juga.

Ya pokoknya ikutin aja part selanjutnya, paipai~ :”

– @rizaldinnur7 –

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

8 tanggapan untuk “Beautiful Football(?), Part1

  1. Weh, mantap!! Cerbung baru lagi 😁😁
    Sinka kalo maen bola kayak gimana ya, gendut gitu *tapi luvchu* heheh 😂😂😂

    Suka

  2. Macem kapten tsubasa aje bapaknye pergi berlayar.
    Waah kalau diliat ceritanya mayan menarik yah, penasaran kenapa kakinya sinka patah, ditunggu juga death gamenya min. 😄

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s