You’re Mine, Part 4

AUTHOR POV

Matahari bersinar cukup terik dan cukup untuk menggosongkan kulit putih dua gadis ini yang sekarang sudah memerah dan lengket. Pohon cemara yang tumbuh tinggi di kanan kiri jalan tidak cukup untuk melindungi mereka berdua dari sengatan terik matahari. Namun hal itu tidak menghalangi rasa bahagia yang Yupi rasakan saat ini. Senyuman tetap terpatri di bibir gadis itu walaupun samar.

Penyebab senyum dan rasa bahagia Yupi tidak lain dan tidak bukan adalah karena malam ini Rizal akan menginap di rumahnya dan itu berarti malam ini mereka bertiga akan bersenang-senang.

“Traktir es krim dong, Yup! Panas nih!” seru seorang gadis berambut sebahu yang tengah mengayuh sepedanya di samping Yupi.

“Elah jangan cuma ngangguk, ayo!” seru gadis itu lagi saat Yupi hanya mengangguk dan tersenyum tidak jelas. Yupi menoleh.

“Eh, hah? Ayo deh!” Yupi bergerak menuju sebuah minimarket yang kebetulan ada di pinggir jalan diikuti Vinny dan sepedanya.

Kedua gadis ini duduk di emperan toko dengan masing-masing sebuah es krim di tangan mereka. Yupi duduk di atas skateboardnya dan Vinny benar-benar duduk di ubin.

“Mau nginep di rumah gue nggak?”

“Kapan?”

“Entar malem.” Yupi pikir akan lebih menyenangkan kalau semakin banyak yang ikut.

“Sorry, Yup, sore ini Nenek gue dateng dari Yogya,” jawabnya kemudian dengan raut wajah menyesal.

“Ini aja nyokap gue udah di bandara,” tambahnya. Yupi mengangguk paham.

“Nggak papa kok,” jawabnya dengan senyuman lebar yang menular pada Vinny.

Tidak ada lagi percakapan setelah itu, keduanya sibuk menghabiskan benda manis dan dingin yang telah mereka beli.

Lima menit berlalu, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Yupi sudah membuka es krimnya yang kedua dan memakannya dengan lahap, kaki kirinya sekali-kali ia turunkan ke aspal untuk mendorong dan menggerakkan skateboardnya.

Yupi bergerak santai tanpa menghiraukan Vinny yang sudah jauh di depannya. Sampai saat di persimpangan Vinny melambaikan tangannya sebelum menghilang di persimpangan yang berlawanan arah dengan rumah Yupi.

Yupi melambaikan sebelah tangannya yang tidak memegang es krim.
Setelah berbelok di persimpangan Yupi sudah bisa melihat rumahnya.

Rumah bergaya klasik modern dengan pagar tinggi berwarna hitam. Kira-kira ada jarak kurang lebih 10 meter dari gerbang untuk sampai ke pintu utama. Halamannya cukup luas, dengan rumput hijau dan beberapa pohon rindang. Jika kita melihat ke samping kanan akan ada taman bunga warna-warni berukuran kecil. Di tengah-tengah ada sebuah kolam ikan dengan air mancur kecil. Dengan sekali lihat saja orang sudah bisa menebak kalau bagunan berlantai dua ini menghabiskan uang yang tidak sedikit.

Yupi tersenyum lebar saat mendapati pemuda dengan t-shirt putih itu duduk bersandar di salah satu pilar teras rumahnya dengan salah satu kaki terangkat. Rambut Hitam gelapnya bergerak tertiup angin. Messy hair favorit Yupi itu terlihat semakin berantakan yang justru membuat Rizal terlihat semakin memesona di manik jernih milik Yupi.

Rizal tersenyum kecil saat manik matanya bersitatap dengan iris hitam jernih kebiruan milik Yupi.

“Kok nggak masuk?” tanya Yupi saat duduk di hadapan Rizal. Matanya tidak lepas memandangi setiap inchi wajah Rizal yang masih sedikit lebam dan plester di pelipis kirinya.

“Lo kesini pake apa?” Yupi menggerakkan kepalanya mencari benda yang sudah mengantarkan Rizal kesini.

Rizal menunjuk sebuah sepeda fixie berwarna putih yang terparkir di dekat garasi.
“Gue nunggu lo dan gue naik itu,” jawab Rizal, menjawab dua pertanyaan Yupi sekaligus. Yupi mengangguk.

“Dasar anak kecil!” Rizal mendekatkan tangannya ke sudut bibir Yupi dan terkekeh. Yupi terkesiap.

“Cokelat atau es krim, heh?” tanyanya, membersihkan sisa coklat yang menempel di bibir Yupi. Cengiran lebar terukir di bibir Yupi.

“Es krim, dua!” akunya. Rizal menarik rambut Yupi. Gadisnya ini kadang sangat menggemaskan.

Yupi ikut membalas menjambak rambut Hitam halus milik Rizal. Terlihat sangat akrab, saling jambak dengan tawa renyah keluar dari bibir keduanya.

Keakraban mereka berdua membuat sudut bibir wanita yang sedari tadi berdiri di depan pintu memperhatikan mereka, terangkat ke atas.

Dia menurunkan kamera yang telah berhasil mengabadikan beberapa momen itu. Ia bersyukur putrinya bisa menjadi penyebab tawa seseorang.

“Rizal, gue sayang lo!”

Via mengatupkan mulutnya menahan senyuman geli saat tanpa sengaja berhasil mengabadikan apa yang baru saja dilakukan putrinya pada Rizal.

“Ada bunda tuh,” ini suara Leon yang entah sejak kapan sudah berdiri tak jauh dari Yupi dan Rizal.

Via tersenyum geli melihat wajah putranya yang bisa dibilang—kalau kata Yupi—Es batu atau krisis ekspresi.

Sepersekian detik setelah menyadari kehadiran Leon dan Via, wajah keduanya merona merah.

Rizal mengusap tengkuknya dengan kepala menunduk.

“Bunda liat?” Yupi bertanya cemas. Via mengangguk.

Blushh..

Wajah Yupi semakin merah dan panas. Ia menyembunyikan wajah merahnya di balik telapak tangan.

Dia benar-benar malu atas apa yang telah dilakukannya. Jadi, tadi saat mereka bertengkar dan tertawa tiba-tiba saja Rizal mengecup pipinya sekilas dan tersenyum manis ke arahnya.

Yupi yang terbius dengan senyuman itu, balas mencium Rizal sekilas tepat di bibir.

“Yupi malu!!” teriak Yupi yang membuat Via tertawa geli.

Mengabaikan teriakan Yupi, Leon berjalan menghampiri Via yang sudah rapi dengan maxi skirt berwarna tosca, blouse hitam.

“Bunda mau kemana?” tanyanya setelah mencium pipi dan punggung tangan Via.

“Katanya Bunda dibutuhin di butik,” jawab Via, menyimpan kameranya di dalam tas. Kening Leon berkerut samar.

“Katalog minggu ini belum selesai,” jelas Via. Yupi dan Rizal mendekat, ikut menyimak.

“Makan malemnya gimana, Bun?” rengek Yupi. Via tersenyum menenangkan.

“Tenang sayang, kamu nggak akan kelaparan,” jawab Via, mencubit pipi Yupi. Yupi mengangguk.

“Bunda berangkat ya? Jangan delivery!” serunya, melambaikan tangan dan berjalan menuju garasi. Ketiganya mengangguk patuh sebelum masuk ke dalam rumah.

***

“Oh ya, tadi gue belum sempet nanya, muka lo kenapa?” Leon membuka percakapan saat mereka tengah bersantai di kamar Leon.

Yupi sedikit mengejang mendengar pertanyaan sensitif itu. Ia menoleh untuk melihat ekspresi Rizal yang masih terlihat santai duduk di sebelahnya.

Suasana mendadak canggung. Walaupun sudah berteman lama, Leon memang tidak tahu keadaan keluarga Rizal secara detail. Tidak ada orang lain yang tahu kecuali Yupi dan kedua orang tuanya.

“Berantem,” jawab Rizal singkat. Leon menaikkan sebelah alisnya, yang dia tahu bukankah Yupi tidak pernah suka melihat Rizal berkelahi? Tapi kenapa…

“Terpaksa. Gue nggak suka kalo ada cowok lain yang ngeliatin Yupi kayak—lo tau lah,” jawabnya, kilat amarah kembali terlihat di matanya.

Yupi tersenyum kecil dan menepuk-nepuk punggung tangan Rizal.

Terdengar posesif dan tidak romantis memang. Tetapi dia tahu itu adalah cara Rizal menunjukkan rasa sayangnya.

“Siapa?” tanya Leon tanpa mengalihkan fokusnya dari buku di atas meja belajarnya. Rizal menoleh dengan kening berkerut.

“Siapa yang ngeliatin Yupi sampe segitunya?” kali ini Leon memutar kursinya menghadap Rizal dan Yupi yang duduk di lantai depan tv.

Yupi mengangkat tangannya mengintrupsi.
“Laperr!” rengeknya. Leon memutar matanya mendengar rengekan kembarannya itu yang sekarang sudah menarik-narik lengan Rizal.

Yupi sengaja memotong, dia tidak ingin Leon membahas masalah ini lebih panjang lagi.

“Masakin dong, Zal! Lo kan pinter masak tuh.”

“Enggak.”
Leon tersenyum miring dan melempar pensil yang sedari tadi ada di tangannya. “Nggak ke balik?” ejeknya.

Rizal tergelak.
“Nah, bener tuh! Harusnya lo yang masakin gue,” Rizal mencubit pipi Yupi.

“Sakit!” kata Yupi mencoba melepaskan cubitan Rizal.

Terdengar kekehan dari Rizal sebelum melepaskan cubitannya.

“Mau kemana?” tanya Rizal saat Yupi beranjak dan keluar kamar. Yupi menjulurkan lidahnya.

“Nyari makan! Percuma ada 2 cowok tapi nggak guna!” cibirnya sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.

Rizal meninggalkan sticknya dan beranjak mengejar Yupi.

“Yupi, lo mau kemana?! Gue obrak-abrik lemari lo!”

“Awas aja kalo lo berani!”

Leon menggeleng melihat kelakuan Rizal dan Yupi. Gaya pacaran model apa itu?

“Mau kemana, sayang?” Rizal menyeringai setelah berhasil menangkap Yupi yang sudah bersiap keluar gerbang. Yupi tergelak.

“Rizal lepas!” Yupi meronta berusaha melepaskan tangan Rizal yang mengukung tubuhnya dari belakang.

Bukannya lepas Rizal justru semakin merapatkan tubuhnya dan meletakkan dagunya di atas pundak Yupi yang semakin membuat gadis itu tergelak karena geli.

“Gue cuma mau ke rumah Bu Stella, tadi pagi gue ditawarin kue,” katanya disela tawanya. Rizal menjauhkan tubuhnya.

“Gue ikut.”

Yupi membalikkan tubuhnya dan memandang Rizal dengan sebelah alis terangkat.

“Apa?” tanya Rizal terlihat bingung. Yupi menggeleng.

“Nggak lupa kan Bu Stella itu siapa?” tanya Yupi memastikan. Rizal menggeleng.

“Ibunya jesson, jeston sama Si Gembul jayden kan?” Yupi tertawa mendengar sebutan Rizal untuk anak bungsu Bu Stella yang memang memiliki tubuh subur itu.

“Nggak mungkin gue lupa sama setan kecil kayak mereka!”

“Mereka lucu tau!” bela Yupi, menghadiahi pukulan di lengan Rizal.

Tawa bahagia Rizal terdengar membuat senyuman kecil terbit di bibir tipis Yupi.

” But I think the cutest is you!” kata Yupi cepat seraya menginjak kaki kanan Rizal yang membuat pemuda itu meringis.

Kini Yupi sudah berlari meninggalkan Rizal yang tengah kesakitan.

Jangan tanyakan pacaran model apa ini, yang pasti Yupi mencintai Rizal begitupun Rizal.

“Tunggu Yup!” Rizal berlari dengan sedikit pincang mengejar Yupi yang sudah berlari keluar.

Mendengar teriakan Rizal, Yupi berhenti di bawah salah satu pohon mangga yang tumbuh di dekat trotoar.

” Your lips is the sweetest thing in the galaxy,” bisik Rizal di telinga Yupi.

“Rizal mesum!” teriaknya dengan wajah merona. Rizal tergelak dan meninggalkan Yupi.

“Yang sampe duluan yang dapet kue!”

“Nyari ribut lo, Zal!”

Di bawah cahaya matahari yang perlahan berwarna jingga, keduanya beradu cepat untuk sampai di rumah Bu Stella yang ada di ujung jalan.

Tawa dan pekikan sebal terdengar mengiringi langkah kaki mereka berdua yang tidak ada satupun yang mau mengalah.

Yupi yang biasanya sangat payah dalam hal berlari berusaha lari sekuat tenaga demi kue buatan tetangganya yang tidak perlu diragukan lagi kelezatannya itu. Dan yang paling penting adalah gratis.

“Curang! Kok lo nggak capek?!” cerca Yupi dengan nafas tersengal. Ia menendang dan memukul Rizal karena kesal. Rizal tertawa. Mereka sudah sampai di tempat tujuan.

“Makannya punya kaki yang panjang dan olahraga dong, jangan cuma ngegame, makan sama tidur,” cibir Rizal yang mendapat hadiah cubitan di pinggangnya.

Tanpa menghiraukan Rizal yang meringis, Yupi mengetuk pintu rumah Bu Stella dan tidak lama muncul lah tiga setan kecil yang selalu menjadi musuh Rizal.

“Barbie!” suara melengking mereka terdengar. Yupi melambaikan tangannya.

” Hi, boys! ” sapanya, tersenyum lebar.

” We miss— “

” No! She’s mine ,” Rizal langsung berdiri di depan Yupi saat ketiga bocah itu bergerak untuk memeluk Yupi.

Bocah gembul dan kedua kakak kembarnya itu memberengut.

” Barbie is ours! ” pekik salah satunya seraya menginjak kaki kiri Rizal. Yupi menahan senyum gelinya.

” Hei, she is not a barbie. She is my queen !” Rizal berkacak pinggang setelah mengusap kakinya.

Ketiga bocah itu meniru gaya Rizal berkacak pinggang.

Yupi tertawa terbahak-bahak melihat pertengkaran Pemuda berusia 17 vs Tiga kakak beradik berusia 7 dan 5 tahun. Lucu sekali.

“Eh, Yupi?— Hei, calm down kids !” suara perempuan dari dalam rumah memutuskan kontak mata 4 bocah laki-laki itu.

“Kenapa Kak Yupi nya nggak diajak masuk?” tanya wanita itu pada ketiga putranya. Ketiga bocah itu kompak menunjuk ke arah Rizal. Yupi menahan senyumnya.

“Maaf Tante, kita bikin rusuh disini,” Yupi menundukkan kepala sopan. Stella mengibaskan tangannya.

“Nggak kok, anak-anak tante yang bikin masalah,” Stella tersenyum ramah dan beralih pada ketiga putranya.

“Jesson, jeston, jayden jangan nakal ya?” nasihatnya. Mereka mengangguk kompak.

“Ayo Yupi , Rizal tante udah nunggu dari tadi lho,” Stella mengajak mereka semua masuk ke dalam. Yupi mengangguk.

Rizal berjalan di sebelah Yupi dan merangkul gadis itu.
“Lo kan Barbar bukan Barbie,” gumam Rizal menggerutu. Yupi memutar matanya.

“Anak kecil itu jujur,” sahut yupi kesal. Rizal menyeringai.

“Bercanda, Barbie.” Rizal mencubit pipi Yupi gemas. Yupi menjulurkan lidahnya.

“Ini Yup, tante bikin black forest sama puding,” Stella meletakkan dua makanan yang tadi ia sebutkan di atas meja makan. Yupi mengangguk senang.

Mereka berlima sudah duduk di depan meja makan yang sudah penuh dengan berbagai kudapan manis. Yupi duduk di sebelah Rizal dan di meja sebrangnya ada Si kembar dan adik gembulnya dengan sepotong kue di piring masing-masing.

“Gimana rasanya, Yup? Kurang apa?” tanya Stella. Yupi memamerkan deratan giginya.

“Kurang banyak Tante,” jawabnya membuat Stella tertawa.

“Rizal, Yupi, tante boleh minta tolong buat jagain mereka bertiga? Nggak lama kok, tante cuma mau ke apotek sebentar,” kata Stella yang sudah rapi dengan tas di tangannya.

Rizal menggeleng dan Yupi mengangguk. Stella menautkan alisnya bingung.

“Bisa kok Tante, bisa.” Yupi melotot dan menginjak kaki Rizal. Stella mengangguk dan pamit pergi.

Rizal meringis, “Urakan, brandal, barbar,” gumamnya mengumpat. Yupi mengerucutkan bibirnya.

“Kakak nggak boleh ngomong kayak gitu sama Barbie!”

“Kata Ibu, itu bukan kata-kata yang baik.”

“Iya, itu bukan kata-kata baik,” Jayden membenarkan apa yang kedua kakak kembarnya katakan dengan mulut penuh makanan. Ia mengerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Yupi tersenyum miring.

” Listen to them! ” katanya seraya memasukkan sesuap puding berwarna coklat yang terlihat menggoda lidahnya. Rizal mengembungkan kedua pipinya.

“Kak Rizal harus minta maaf sama Barbie!” anak laki-laki yang terlihat menggemaskan dengan rambut kriting coklatnya itu berdiri di atas kursi. Yupi melebarkan matanya.

“Jesson , sitting down in your chair! ” perintahnya. Jesson mengangguk patuh.

“Kakak harus minta maaf atau Barbie nggak boleh Kakak bawa pulang,” anak berambut kriting hitam yang terlihat paling tenang di antara ketiganya bersuara. Rizal memutar bola matanya.

“Terima ini! Cyu! Cyu!” Jayden melempari Rizal dengan remah-remah kue di piringnya. Rizal mengangkat kedua tangan untuk melindungi wajahnya.

“Oh! Ngajak perang-perangan nih? Ayo!” Rizal yang tidak mau kalah ikut melempari Jayden dan dua sekutunya dengan kue, puding atau makanan apapun yang bisa dilempar.

“Jadi sekutu gue, Yup!” perintah Rizal.

Yupi menggelengkan kepalanya dramatis. Dia tidak rela makanan enak itu terbuang sia-sia.

“Jangan buang-buang makanan!” teriak Yupi yang tidak digubris sedikitpun oleh keempatnya.

“Bocah nakal!”

“Kakak jelek!”

“Mucikari!”

“Jayden, kata ibu itu nggak baik!”

Yupi mengusap wajahnya. Dengar dari mana anak berusia 5 tahun soal ‘mucikari’?

Ini memang bukan kali pertama dia melihat Rizal dan tiga bersaudara itu bertengkar. Tapi ini yang pertama keempat bocah itu melibatkan benda favoritnya. Kue-kue itu sangat ingin dia kunyah tetapi dengan seenaknya mereka buang?

“Stop! Berhenti guys!” Yupi berteriak sampai urat lehernya terlihat dan kali ini berhasil membuat mereka berhenti.

Yupi mengatur nafasnya.
“Bersihin semua ini!”

“Tapi Ta—”

” Shut up! Yuvia nggak mau tau pokoknya saat Tante Stella pulang, ini semua harus bersih!” Yupi mengangkat sebelah tangannya. Rizal mendengus kasar.

“Selamat bersih-bersih Kak Rizal!” ucap Jesson sebelum beranjak bersama kedua saudaranya.

Yupi mengangkat tangannya mengisyaratkan mereka untuk berhenti.

” No kids! Kalian bertiga dan Kak Rizal yang akan bersihin semua ini,” kata Yupi tenang. Bahu ketiganya merosot turun.

“Baik, Barbie!” jawab mereka patuh.

Ketiga anak itu mulai mengambil remah-remah kue dan mengumpulkannya di piring.

Yupi tersenyum puas. Merasa senang karena bisa menjinakkan dan mengatur anak-anak hiperaktif itu. Tidak jauh dengan pemuda yang duduk di sebelahnya.

Rizal tersenyum dengan mata yang tidak lepas dari Yupi.
“Yup,” panggilnya. Yupi menoleh.

“Ya?”

“Gue yakin suatu hari nanti lo bakal jadi ibu yang hebat buat anak kita,” katanya sambil mencium pipi Yupi.

“Barbie kan cuma boleh dicum sama kami bertiga,” gumam seseorang dari samping.

Rizal dan Yupi menoleh dan mendapati ketiga bocah itu tengah memperhatikan mereka.

Yupi meringis kecil. Kenapa dia melupakan tiga bocah itu? Untung saja dia tidak khilaf balas mencium Rizal seperti saat di depan Bundanya tadi.

“Kalian beresin semuanya ya? Kakak ke depan dulu,” kata Yupi sebelum melarikan diri ke ruang tamu. Rizal tersenyum kecil.

“Ayo bersihin, jangan bikin Barbie marah.” Kata Rizal pada ketiga bocah yang dengan ajaibnya langsung mengangguk tanpa membuatnya kesal terlebih dahulu.

#bersambung…

– @ZubaeryAchmad –

Iklan

2 tanggapan untuk “You’re Mine, Part 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s