‘Touchdown’, Part13

Fanfict Touchdown png

“Ya.. apa aku masih ada kesempatan?” tanya Dion sambil menatap mata Lidya.

Lidya tertunduk, kemudian menggeleng lemah.

“Maaf Dion, aku udah ngelupain semuanya,” ujar Lidya lirih.

Dion menghela nafas pelan.

Dion mengangkat dagu Lidya perlahan.

“Ya.. liat mata aku,” ujar Dion.

Lidya menatap perlahan ke mata Dion.

“Ya.. aku..” Dion perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Lidya.

Lidya reflek memundurkan wajahnya, “Di.dion kamu mau apa?”

Dion menahan wajah Lidya dengan tangannya.

“Dion!” Lidya menampar pipi Dion dengan keras.

“Kamu pikir aku apa hah!!” teriak Lidya.

 

Lidya keluar dari mobil Dion.

“Ya, tunggu Ya, maaf aku bisa jelasin Ya,” ujar Dion yang juga keluar dari mobilnya.

“No Dion! Nggak usah jelasin ke aku apapun! Kamu udah mau.. ih! Aku nggak nyangka kamu seperti itu sekarang!?” ujar Lidya yang sudah diubun-ubun amarahnya.

“Bukan! Tadi aku Cuma kebawa suasana dan..”

Lidya menggeleng tidak percaya.

“Sayang? Kok kamu ninggalin aku, katanya kita mau non…ton?”

Dion dan Lidya menoleh ke arah seseorang yang ada di belakang Dion.

“Viny?” tanya Lidya tidak percaya.

“Li..lidya?”

Mata Lidya membulat. ‘Sayang’? tadi Viny memanggil Dion ‘sayang’?

“Vin kamu…”

“E.enggak Lid.. aku,”

Lidya menatap Dion yang juga terkejut atas kedatangan Viny. Lidya kembali menggeleng tidak paham dengan apa yang dia hadapi saat ini. Sesaat tadi mantan pacarnya hendak mencium dirinya, dan sekarang, ia harus mengetahui kenyataan bahwa sahabat terbaiknya! Sahabat yang selalu ada untuk dirinya, memanggil mantan pacarnya dengan ‘sayang’?

“Ya, aku bisa jelasin aku sama Vin…”

“Kamu diem di sini! Kalo kamu ikutin aku, aku akan teriak,” ujar Lidya, setetes air mata mengalir dipipinya.

“Tapi..”

Lidya mengangkat tangannya memberikan isyarat untuk Dion agar ia diam. Kemudian ia merogoh tas kecilnya. Mengambil hp dan segera menelfon Falah. Matanya melirik ke arah Viny yang menunduk.

“Kamu di mana?

Di parkiran, gue pikir lo udah pulang, lo di mana emang?”

Tut.

Di seberang sana Falah heran kenapa panggilannya langsung diputus dari Lidya.

“Lha? Ada apa ya?” gumam Falah. Falah membuka pintu belakangnya. Menaruh bungkusan berisi komik yang tadi ia beli.

Falah menutup pintunya, kemudian berbalik.

“Hiks..”

“Eh?”

Falah terkejut saat ada seseorang yang tiba-tiba memeluk dirinya.

“Lidya? Lo kenapa?” tanya Falah. Ia menatap puncak kepala Lidya.

Tubuh Lidya bergetar.

Are you cry?”

Lidya diam tidak menjawab, tangisnya makin menjadi. Perlahan dengan takut-takut tangan Falah mengusap puncak kepala Lidya.

“Ssh.. I’m here,” ujar Falah berusaha menenangkan Lidya.

Falah membiarkan Lidya menumpahkan tangisnya, ia menghela nafas.. apa yang terjadi ya? Pikirnya

“Ngg.. kita masuk dulu yuk, nggak enak diliat orang, nanti dikira gue bikin nangis anak orang lagi,” ujar Falah.

Lidya mengangguk, kemudian masuk ke dalam mobil. Falah menutup pintunya perlahan sebelum ia berputar masuk ke dalam mobil melalui pintu satunya.

“Sambil jalan keluar ya,”

Lidya kembali mengangguk.

 

~

 

Selama perjalanan Lidya hanya menunduk, Falah sendiri tidak berani bertanya ada apa, karena ia maunya Lidya yang menceritakannya.

“Ngg.. Lid..”

Tidak ada jawaban dari perempuan yang sedari tadi duduk di sebelah Falah itu.

“Udah sampe nih, kamu mau di sini terus atau mau masuk ke dalam rumah?” tanya Falah.

Perlahan Lidya mengangkat wajahnya.

makasih,” ujar Lidya dengan suara serak.

Falah menatapnya dengan sendu, entah kenapa ia tidak tega melihat Lidya yang seperti itu.

“Hmm, iya, anytime,”

Falah ikut turun saat Lidya keluar dari mobilnya. Falah berjalan mengekor dibelakang Lidya hingga ia sampai di depan rumahnya.

“Oke, gue bisa pastiin aman kan ya kalo udah sampe depan pintu,” ujar Falah.

Lidya mengangguk, tatapannya masih kosong.

“Ngg.. please jangan melakukan hal yang super duper alay, apalagi sampe nyayat nyayat pergelangan tangan lo, oke? Kalo lo emang butuh sesuatu untuk dipukul mending lo pukulin gue, oke?” ucapan Falah sukses membuat Lidya tersenyum. Meski hanya tipis. Setipis perbedaan cinta dan benci *halah..

Begitu Lidya masuk ke rumahnya Falah pun berbalik dan pergi dari tempat itu. Berharap Lidya bukan perempuan lemah yang kemudian menyakiti dirinya sendiri.

Lidya yang memasuki rumahnya langsung terduduk.

Ingatannya tentang Dion kembali berputar, hal indah yang mereka lakukan berdua, tawa, tangis, saling bersaing dalam menggapai nomor satu di sekolahnya.

Bayangan Viny juga terputar jelas saat mereka bertiga jalan bersama, betapa bahagianya Lidya memiliki sahabat seperti Viny dan pacar seperti Dion.

Tapi kini? Entah kenapa ia merasa terkhianati?

“Kenapa?” tanya Lidya pada dirinya sendiri saat air matanya kembali lolos.

“Harusnya aku nggak usah nangis seperti ini,” ujarnya lagi. Tangannya mencengkram bajunya dibagian dadanya. Sesak itu datang lagi saat mengingat Dion dan Viny.

“Hihi.. dasar cengeng,” ujar Lidya menertawai dirinya sendiri dan tangisnya kembali pecah.

 

~

 

Seninnya setelah sekolah usai…

“Dih bukannya gitu Tur, maksud gue nanti kalo pas dilapangan kan biar bisa cepet larinya kalo sambil nunduk gitu,” ujar Eka.

“Lo kata ini Naruto? Ini olahraga kampret,” ujar Rizal.

“Yaang bilang ini Naruto siapa Cal?” tanya kampret dengan wajah polosnya. Atau bego? Ya polos sama bego beda tipis lah..

“Hadeuuh.. eh ngebunuh orang pas pulang sekolah dosa kaga sih?” tanya Rizal.

“Pak, yang namanya ngebunuh mau waktunya subuh atau bada isya juga pasti dosa,” ujar Faisal sambil menepuk pundak Rizal.

Yang lainnya terkekeh mendengar perdebatan kecil anggota Bad Rhinos itu. Falah yang juga berada di situ entah kenapa kali ini hanya diam saja, tidak seaktif biasanya.

“Lu tumben diem aja,” tegur Sagha.

“Eh? Nggak, lagi kepikiran sesuatu aja,” ujar Falah.

“Lo takut ya ketemu temen lo Boby di pertandingan nanti?”

“Bukan, bukan itu,”

“Terus apa?”

“Lagi malarindu dia mah,” ujar Guntur.

Falah melirik Guntur.

“Haciyee, ama sekretaris kita ya?” tambah Anto.

“Ah mulai deh,” Falah menggelengkan kepalanya.

“Kaga, cuma lagi..” belum selesai Rama bicara, seseorang menarik tubuh Falah ke belakang.

“Di..”

Buk.

Dion memukul Falah hingga ia tersungkur.

“Akh..”

“Weey! Apa-apaan nih!” ujar Anggota Bad Rhinos.

“Lo nggak apa Fal?” tanya Faisal dan Rizal yang menahan tubuh Falah. Mereka juga ikut terjatuh karena tidak bisa menahannya.

“Lo napa woy!? Main pukul aja!” Edho mendorong tubuh Dion.

“Diem, lo lo pada nggak tau masalahnya, jadi nggak usah ikut campur,”

“Iye kita emang kaga tau masalahnya, tapi jangan asal mukul juga kali,” ujar Edho.

Dion berjalan lagi mendekati Falah dan siap untuk memukulnya lagi.

“Dion!” Dion menoleh, ia mengenal suara itu.

“Kamu ngapain lagi sih!!”

“E.enggak Ya, aku cuma… ini nggak seperti yang kamu kira,”

Enough, aku nggak mau ngeliat muka kamu lagi! Mending sekarang kamu pergi,”

“Tapi Ya,”

“Kamu mau aku panggil guru?” ujar Lidya.

Dion terdiam, ia kembali memikirkan reputasinya sebagai Ketua Osis di sini. Dion menatap bengis ke arah Falah. Kemudian ia beranjak dari situ. Menabrakkan pundaknya kepada anak-anak Rhinos yang berada di depannya.

“Weits gila, kaga nyantai banget,” ujar Rama.

Dari lantai dua sana, ada beberapa pasang mata yang melihat kejadian itu. Mereka tersenyum saat melihat kejadian yang tidak terduga itu.

“Sepertinya kita akan punya pembantu di sini,” ujarnya sinis.

“Lo kenapa jadi terobsesi sama tuh cowo sih?” ujar temannya.

“Bukan hanya masalah itu, jujur gue juga emang udah suka sama tuh anak, tapi gue lebih suka lagi kalo orang yang sekarang lagi suka sama dia itu tersakiti,”

Kedua temannya bingung mendengar pernyataan itu.

“Ah, intinya bantuin gue deh,”

Keuda temannya mengangguk.

“Oke yuk cabut,”

 

~

 

Meanwhile..

 

“Ssh.. sakit,” ujar Falah saat Lidya menempelkan kapas yang sudah dibasahi dengan alcohol.

“Heleeuh badan gede doang, gitu aja sakit,” ujar Hanna.

“Berisik lu,” sunggut Falah.

Lidya tersenyum mendengarnya. Ia sengaja menawarkan dirinya untuk membersihkan dan merawat luka Falah sehabis dipukul Dion tadi. Tidak besar, hanya saja agak terbuka dikit pada ujung bibirnya.

“Lagian tu anak kenapa dah kok bisa mukulin lo?” tanya Hanna.

Mereka berempat bersama Guntur kini berada di ruangan Bad Rhinos.

Falah mengangkat bahunya nggak paham.

“Udah nih, maaf ya,” ujar Lidya dengan tatapan bersalah. Entah meski ia memang tidak ada sangkut pautnya, tapi Lidya merasa kalau ini akibat kesalahannya.

Nope, kenapa lo minta maaf, gue malah mau bilang makasih udah ngobatin hehe,” ujar Falah.

“Udah kan? Kalo udah gue mau ngunci ruangan ini lagi nih,” ujar Hanna.

Falah dan Lidya mengangguk bersamaan.

“Ayo Tur,” ujar Hanna.

“Hadeuh, tanggung padahal,” Guntur dengan terpaksa mematikan tv dan dvd playernya. Ia sedang menonton film ternyata.

Mereka berempat keluar dari ruangan Bad Rhinos.

“Yaudah gue balik duluan ya,” ujar Guntur. Kemudian ia mengamit tangan Hanna mesra.

“Idih, sok romantis lo,” celetuk Falah.

“Biarin,” ujar Guntur tanpa menoleh dan terus berjalan.

“Lo balik sama siapa?” tanya Falah.

“Ngg.. aku, naik angkutan umum kayaknya,”

“Yaudah bareng gue aja,”

“Tapi nggak pake pegangan tangan kaya Guntur kan?” celetuk Lidya.

“Heleeuh, ngarep banget,” ujar Falah.

“Eeeh, maksudnya apaaa,”

 

~

 

“Oke, begitu kesepakatannya, gimana?”

“Tapi atas dasar apa gue harus ngikutin perintah lo?”

“Lo nggak mau Lidya balik lagi sama Lo?”

“Baiklah,”

“Sip!”

 

TBC

 

Well, maaf karena untuk beberapa hari kemarin ngaret untuk ngirim ceritanya. Soalnya ogut lagi sidang kuliah hehe, tapi sekarang udah terbebas haha..

Ada juga yang bilang, dia bingung ini cerita apa? Genre Sport tapi kebanyakan romance nya..

Well, karena gue cuma sempet baca dan tidak me-reply pertanyaan beliau, jadi gue jawab di sini. Dari awal emang ini cerita genre nya romance, sport, dan ogut sendiri lebih menitik beratkan kea rah romance nya. Jadi jangan bingung kalo emang kebanyakan romance daripada sportnya. Begitu hehe.. thanks atas pertanyaannya.

Gimana dengan part ini? Apa masih terlalu pendek? Kalo 1400 masih terlalu pendek, nanti next part 1300. Alias jangan lupa comment :p

Sankyu~

– @falahazh –

Iklan

5 tanggapan untuk “‘Touchdown’, Part13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s