You’re Mine, Part 3

AUTHOR POV

Angin malam berhembus melalui pintu balkon yang sengaja dibuka oleh si empunya kamar. Membiarkan hembusan angin menerpa kulit berwarna putih itu. Senyuman lebar terpatri di bibir mauvenya.

Yupi tersenyum lebar mengingat perkataan Rizal sore tadi. Rizal selalu saja bisa membuat hatinya menghangat hanya karena kalimat sederhana yang diucapkan pemuda itu.

Walaupun tadi dia sempat resah karena Rizal yang tiba-tiba memeluknya lama tanpa mengucapkan apapun. Jika sudah seperti itu Yupi tahu bahwa Rizal sedang berusaha mengenyahkan sesuatu yang mengganjal di hati pemuda itu.

Tapi setidaknya sebelum dia pulang, pemuda itu sudah kembali seperti Rizal yang biasanya. Rizal yang hobi menggoda dan membuatnya kesal sekaligus tersipu.

Detak jantung Rizal…

Bahkan sampai detik ini degup jantung Rizal yang ternyata tak kalah cepat dengan detak milik Yupi masih tergiang di telinganya. Detak jantung pemuda itu adalah melody favorit Yupi.

Yupi menutup wajahnya yang terasa panas dengan kedua tangan.

“Aaaa!” seperti seorang gadis kecil yang baru saja mendapat boneka baru, Yupi melompat-lompat di atas ranjang dan cekikikan tidak jelas.

Sampai suara gaduhnya itu mengganggu pemuda yang tengah bergemelut dengan hatinya.

“Yupi diem!” teriak Leon dari kamar sebelah.

Yupi berhenti melakukan aksi gilanya dan bergelung di bawah selimut. Tapi baru saja memejamkan matanya, dia mendengar pintu kamarnya diketuk.

Dengan langkah sedikit diseret Yupi berjalan ke arah pintu.

“Ngapain?” kening Yupi berkerut samar mendapati Leon tengah bersandar di tembok samping pintunya. Leon masih membisu.

“Kenapa?” tanya Yupi lembut, dia bersandar pada frame pintu. Leon menghela nafas.

“Nggak jadi deh,” katanya sebelum kembali masuk ke kamarnya. Yupi mencebik.

“Mau curhat kan? Yaudah sih nggak usah malu-malu,” sahut Yupi sambil menyeringai menatap kembarannya itu. Leon menaikkan sebelah alisnya.

” Not me ,” jawabnya singkat. Yupi memicingkan matanya.

Ia bisa merasakan kalau pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran kembarannya itu. Sebenarnya tidak perlu dirasakan hanya perlu dilihat dan orang akan tahu kalau Leon sedang kalut.

“Wajah kusut, rambut berantakan, tiba-tiba bertingkah nggak jelas, gue yakin lo ada masalah sama hati,” Yupi berdiri di depan pemuda itu dan meletakkan telunjuknya di dada pemuda itu.

Leon menautkan kedua alisnya melihat muka sinis Yupi yang terlihat sangat tidak cocok untuk wajah manisnya ini.

“Aakh! Leon lo mulai move on ya?!” Yupi memekik histeris. Leon memutar matanya. Hampir saja dia lupa siapa gadis yang baru saja dia datangi untuk meminta nasihat.

“Siapa? Siapa ceweknya? Gue kenal nggak?” cercanya dengan suara toa miliknya. Leon mengusap wajahnya.

“Bunda! Bunda ngidam apa sampai Yupi punya mulut toa begini?” adu Leon dramatis dan masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan yupi.

Yupi tergelak. Sepertinya dia memang berbakat membuat orang lain kewalahan.

Tenggorokan yang terasa kering mendorong langkah Yupi untuk pergi ke dapur.

Masih dengan tawa geli di bibirnya, Yupi menuruni tangga dan menemukan ayah dan bundanya duduk di sofa depan tv.

Yupi tersenyum. Betapa beruntungnya dia memiliki kedua orang tua yang saling mencintai dan menyayanginya.

“Yupi ngapain berdiri di situ?” tanya Via saat melihat putrinya bergeming di ujung tangga terbawah. Yupi menggeleng.

“Yupi seneng deh kalo liat ayah sama bunda berduaan kayak gitu,” celetuk Yupi membuat Rio tergelak.

“Tapi Yupi juga sedih,” tambah Yupi dengan senyum masam. Via tersenyum kecil dan berniat menghampiri putrinya itu.

Dia tahu apa yang membuat Yupi sedih saat melihat kebersamaannya dengan Rio.

“Princess, kamu aja yang kesini,” kata Rio menahan lengan Via membuat wanita dua anak itu tidak tahan untuk tidak memutar matanya. Rionya tidak pernah berubah.

Yupi mengangguk dan menghampiri mereka. Ia tertawa geli melihat kedua orang tuanya. Rio yang tetap tersenyum lebar padahal Via sedang melotot ke arah pria itu.

“Kamu makin cantik kalo lagi marah gitu, Ai,” celetuk Rio, berhigh five ria bersama Yupi, yang semakin membuat Via kesal.

Like Father, like daughter. Via menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan ayah itu.

“Kenapa?” tanya Via saat tawa putrinya itu mereda. Yupi menautkan kedua alisnya.

“Kenapa Yupi sedih?” ulang Via.

Sebenarnya dia sudah bisa menebak apa yang membuat Yupi sedih, hanya saja dia ingin mendengarnya langsung.

Yupi menghela nafas, “Yupi inget Rizal,” jawabnya.

Rio menghela nafas dan mengusap rambut Yupi.

“Rizal pasti baik-baik aja,” ucap Rio berusaha menenangkan.

Yupi tersenyum samar. Ya, dia harap juga begitu.

“Yupi ke dapur dulu deh.” Yupi beranjak setelah mengecup pipi kedua orang tuanya.

“Yuvia!” panggilan Via membuat yupi menoleh.

Via tersenyum hangat.
“Selalu ada buat dia ya, Sayang. Ayah kamu sok tau,” Via tersenyum miring dan melirik Rio sekilas,

“nggak selalu yang nggak terlihat itu nggak ada.”

“Ajak aja Rizal nginep disini sekalian bantuin Leon jaga kalian, besok ayah sama Om Rudy ada operasi sampe pagi.” Ucap Rio yang berhasil membuat senyuman terbit di bibir Yupi.

“Besok Yupi bakal ngasih tau Rizal,” katanya semangat kemudian menghilang di dapur.

Rio tersenyum.
Sepasang suami istri ini masih berada di posisi mereka saat suara putra mereka terdengar.

“Bun, Leon mau ngomong,” Leon menuruni tangga dengan tergesa. Via tersenyum.

“Curhat maksud kamu?” goda Rio. Leon mencebik.

“Leon mau tanya sesuatu sama Bunda,” katanya saat sudah duduk di single sofa di sebelah orang tuanya.

“Kenapa nggak tanya sama ayah?”

“Oke, Leon tanya sama kalian berdua. Gimana caranya—”

“Move on dari Kak—”

“Yupi! Ngapain lo?” tanya Leon sedikit kaget saat melihat Yupi berdiri di belakang sofa yang Rio dan Via duduki.

Dia pikir tadi Yupi sudah terlelap di kamarnya jadi dia berani mendatangi Bundanya.

“Seperti yang lo liat, gue lagi bernafas, berdiri dan makan es krim,” jawab Yupi dengan mulut penuh es krim. Leon mendengus kecil.

“Oh ya! Yah, Bun, Leon lagi galau tuh,” adu Yupi, duduk di antara kedua orang tuanya.

“Leon ke atas,” katanya sedikit kesal. Yupi tertawa kecil.

“Yupi juga ke atas. Leon tunggu!” Yupi berlari kecil menyusul langkah lebar Leon. Via dan Rio menautkan kedua alisnya.

“Ngggak jadi cerita?!” teriak Rio. Leon balas berteriak.

“Nggak jadi Yah, ada pengganggu!” sahutnya dari dalam kamar.

Di lantai bawah Via dan Rio menggelengkan kepala dan tersenyum melihat kelakuan putra-putrinya.

“Leon ish! Pelit lo mah,” Yupi merengek dengan badan yang menempel pada pintu kamar saudaranya. Gadis ini sedang berusaha mendorong pintu berwarna putih yang juga tengah di dorong saudaranya dari arah berlawanan.

“Udah malem, jangan gangguin gue!” tegur Leon, sambil menahan pintu kamarnya. Yupi mencebik.

“Gue nggak ganggu, gue cuma mau ngasih solusi!” elaknya.

Tidak ada balasan dari Leon. Pemuda itu masih menahan pintu dan berusaha menjauhkan tangan Yupi dari pinggiran pintu.

“Ayolah! Gue juga kan sering curhat ke elo,” Yupi masih terus berusaha. Leon menggeleng.

“Nggak,” jawabnya datar. Dia segera menutup pintu saat tangan Yupi tidak lagi menghalanginnya.

“Gue kutuk lo, semoga cewek yang berhasil bikin lo move on lebih nyebelin dari gue!”

“Bye!”

Suara pintu ditutup dan dikunci membuat decakan kecil keluar dari mulut Yupi. Dia mengambil es krim yang dia simpan di saku piyamanya dan menjilat es krim yang sudah mulai mencair itu. Ia menyeret langkahnya ke kamar sebelah dan melupakan masalah Leon.

Setelah menghabiskan es krimnya, Yupi berjalan ke arah balkon dan menutup pintu kaca itu. Udara malam yang cukup dingin membuat dia sedikit menggigil. Ia tersenyum sekilas melihat bintang-bintang berkedip dari atas sana. Malam yang semakin larut dan udara yang cukup dingin membuat Yupi cepat-cepat melompat ke tempat tidur dan bergelung di bawah selimut.
Ia menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut sutra berwarna putih biru dan siap untuk menjelajah alam mimpi.

***

YUPI POV

Pagi hari matahari bersinar cukup cerah untuk menyinari dan menghangatkan apa yang ada di bumi.

Aku yang tengah asik dengan skateboardku ini. Sudah sejak lima menit yang lalu Aku menyusuri jalanan kompleks rumahku menggunakan papan kecil warna hitam beroda yang dibelikan ayah satu tahun yang lalu.

Kaki kiriku sesekali turun ke aspal untuk membuat benda tungganganku ini terus bergerak.

Jalanan kompleks rumahku cukup ramai, ada beberapa orang yang tengah jogging pagi, membeli sarapan di beberapa pedagang kaki lima, anak SD yang pergi ke sekolah dengan mengayuh sepedanya dan masih banyak aktivitas pagi lainnya.

Kompleks rumahku memang terkenal dengan daerah yang bersih dengan udara yang segar. Pohon-pohon rindang tumbuh di tepian trotoar.

Lingkungan yang nyaman dengan tetangga-tetangga baik hati yang sering memberiku makanan gratis.
Sesekali Aku tersenyum dan melambaikan tangan saat ada orang yang menyapaku.

“Pagi Kak Yupi!” sapa seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir dua yang tengah bersepeda di sebelahnya. Aku yang tengah melahap es krim hanya nyengir lebar dan melambaikan tangan.

“Yupi, nanti ke rumah tante ya? Tante abis bikin kue!” teriak salah seorang ibu-ibu yang tengah mengerubungi tukang sayur. Aku menautkan ibu jari dan telunjukku membentuk lingkaran dengan tiga jari lainnya tetap berdiri.

Pagi ini matahari cukup bersahabat jadi Aku memutuskan untuk skateboarding untuk sampai ke sekolah. Kebetulan letak sekolah lumayan dekat jadi tidak masalah jika tidak menggunakan kendaraan bermotor.

Tidak sampai setengah jam akhirnya Aku sampai juga di sekolah. Di depan gerbang sudah ada Lidya dan juga Vinny yang sedang membantu anak-anak Osis membagikan brosur berisi peraturan dan formulir ekstrakulikuler untuk anak-anak baru.

Aku melambaikan tangan dan menghampiri kedua temanku itu.

“Gue pikir lo nggak berangkat,” kata Lidya saat Aku sudah berdiri di sebelahnya.

“Iya, soalnya tadi gue liat Leon berangkat sendiri,” tambah Vinny. Aku nyengir dan menjinjing skateboardku.

“Gue nggak akan ngebiarin Rizal tebar pesona seenaknya,” balasku, membuka bungkus coklat.

“Rizal udah berangkat?” tanyaku. Baik Vinny maupun Lidya menggeleng.

Aku menghembuskan nafas pelan. Jam yang sudah mendekati angka 7 membuat gerbang masuk semakin ramai, mulai dari mobil sampai yang perjalan kaki berebut untuk segera masuk karena tidak ingin berurusan dengan satpam ataupun guru piket karena terlambat.

Aku duduk di atas skateboardku. Bel masuk sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu, Vinny, Lidya dan anak-anak yang lain sudah masuk ke dalam sekolahan tetapi Aku masih bertahan di parkiran menunggu seseorang yang sampai detik ini belum juga kelihatan batang hidungnya. Kemana pemuda itu?

Aku menekan layar ponselku dengan tidak sabaran saat panggilanku tidak juga mendapat respon untuk yang ke sekian kali.

“Rizal lo dimana?” geramku gemas sampai ingin sekali menggigit benda persegi di tanganku ini.

Aku mendongak saat mendengar deru mobil masuk ke parkiran. Senyumku mengembang saat melihat pajero itu sudah terparkir tidak jauh dari tempatku duduk.

Dengan berlari kecil Aku menghampiri mobil itu dengan skateboard di tanganku.

“Rizal! Gue pikir lo kenapa-napa, gue—tunggu, muka lo kenapa?!” Aku menyentuh wajah Rizal dengan khawatir saat melihat sedikit luka sobek di pelipis pemuda ini.

Rizal tesenyum kecil tetapi Aku tidak bisa melihat itu karena tertutup masker.
“Lo nggak tawuran lagi kan Zal?” tanyaku dengan suara bergetar. Rizal menggeleng.

“Kenapa bisa luka-luka gini?” Aku bisa melihat semua luka Rizal saat ia melepas masker yang dipakainya itu.

“Hei, kenapa lo yang nangis? Kan gue yang luka,” Rizal terkekeh dan menepis setitik air mata yang menetes dari mataku.

“Lo kenapa?!” cercaku lagi. Rizal menghela nafas.

“Berantem sama Bang Roby.”

“Masalah apalagi sekarang?”

“Gue peringatin dia buat nggak ngeliatin lo berlebihan dan dia nolak,” jawab Rizal santai, seakan-akan semua ini sudah biasa terjadi. Aku meringis.

“Ayo kita ke UKS!”
Rizal tersenyum kecil dan membiarkan Aku menariknya menuju UKS.

***

LEON POV

“Yupi mana?”
“Rizal juga!”
Aku yang sedang memeriksa hasil jempretanku mendongak saat mendengar nama dua orang yang selalu kompak jika menggangguku itu.
“Leon, kembaran lo mana? Gue butuh dia nih,” tanya salah seorang anak OSIS yang aku ketahui bernama Andi. Aku menggeleng.

“Si Rizal juga, kemana sih dia? Nggak tau apa kalo anak cewek X-1 susah diatur kalo nggak ada dia,” gerutu teman sekelasnya, Ikha.

Aku menghela nafas. Sepertinya Aku harus turun tangan mencari dua bocah itu. “Gue cari mereka.”

Baru beberapa langkah, suara Lidya menghentikanku.
“Tadi ada yang liat mereka di UKS!”
Aku mengangkat ibu jariku tanpa berbalik.

Aku terus berjalan menuju UKS seperti apa yang Lidya katakan. Langkahku terkesan santai dengan tangan dan mata yang fokus pada kamera. Masih jam setengah delapan jadi Aku masih mempunyai waktu kira-kira setengah jam untuk menemukan pasangan itu sebelum masuk kelas. Anak-anak kelas X juga sepertinya masih upacara dengan para pembina.

Aku sedikit meringis saat seseorang menabrak bahu kiriku. Padahal koridor cukup sepi. Aku menoleh dan mendapati seorang gadis dengan name tag di dadanya tengah mangatur nafasnya yang memburu. Aku menaikkan sebelah alisnya.

Setelah nafasnya teratur gadis itu menatapku dengan cengiran lebar di bibir.

“Hai, Kak Leon!” sapa gadis itu girang. Aku menghela nafas.

“Kenapa masih di sini?” tanyaku datar. Gadis itu mengerjap.

“Papih nggak ngizinin gue pindah Kak,” jawabnya dengan senyuman lebar. Aku memalingkan wajahku dan kembali melanjutkan langkahku.

“Jangan ikutin gue,” ucapku saat merasakan gadis tadi mengekor di belakangku. Gadis itu berdiri tepat di depanku membuat Aku otomatis menghentikan langkahku dan mundur satu langkah.

“Emang lo mau kemana Kak?” tanya gadis itu. Lagi-lagi Aku memalingkan wajahku saat mata hitamku bersitatap dengan mata itu.

“UKS,” jawabku singkat. Gadis itu menepuk keningnya sendiri.

“Elaine! Astaga, gue lupa!” gadis itu berlalu meninggalkanku.

Aku menghela nafas lega saat gadis itu pergi. Entahlah, sejak kemarin Aku bertemu gadis itu lagi setelah hampir tiga tahun aku tidak bertemu ada sesuatu yang berbeda aku rasakan.

Gadis kecil bergigi ompong yang dulu selalu menggangguku sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang tetap saja masih suka mengusik hidupku.

“Jangan sampe kutukan Yupi jadi kenyataan,” gumamku.

***

RIZAL POV

“Ssh…”

“Huaa…”

Aku menghela nafas mendengar Yupi menangis. Aku heran sendiri melihat gadis ini. Kenapa dia yang menangis? Padahal yang luka dan yang meringis perih adalah aku. Yuvia memang aneh—ah, bukan! Ajaib.

Aku duduk di tepi ranjang dan Yupi berdiri di hadapanku dengan kapas dan alkohol di tangannya. Mata gadis itu sudah basah karena air mata. Yupi tengah membersihkan dan menutup lukaku dengan plester.

“Sst… Berisik Yup, lo nggak kasian? Itu ada yang lagi sakit,” tegurku, membekap mulut Yupi.

“Tapi luka lo,” rengeknya kembali menangis. Aku terkekeh dan mencium Yupi sekilas.

UKS sekolahku berukuran 4 x 5 meter dengan cat berwarna coklat muda dan hanya ada empat ranjang yang setiap ranjangnya disekat dengan tirai berwarna putih. Di ruangan ini hanya ada aku, Yupi dan seorang lagi di ranjang sebelah yang sedang pingsan.

Jadi Aku pikir tidak akan ada yang memperhatikanku dengan Yupi. Tapi ternyata pikiranku salah, sedari tadi gadis yang aku bilang pingsan itu sudah bangun dan memperhatikan gerak-gerik kami berdua

“Rizal jangan nakal!” Yupi menunduk dan memukul dada Rizal.

“Lo yang bikin gue nakal,” Aku menarik kedua pipi Yupi membuat gadis itu meringis dan memukul-mukul tanganku.

“Rizal sakit ish!” Aku terkekeh dan menjauhkan tanganku.

“Abis muka lo gemesin banget kalo merah gini,” Aku tertawa kecil dan menekan-nekan pipi Yupi dengan telunjukku.

“Rasain nih!”

“Aduh, sakit Yup!” Aku meringis dan mengibaskan jariku yang terasa berdenyut karena digigit Yupi

“Vampir lo!”

“Yes, I’m Mrs. Cullen,” Yupi tergelak mendengar jawabannya sendiri. Aku mendengus.

“No. You’re Mrs. Dinnur,” desisku tajam. Yupi mengerjap dan tergelak.

“You’re so sweet! ” Yupi memeluk ku sekilas sebelum melompat dan menyanyi tidak jelas.

“I really really really really really really like you… And I want you, do you want me, do you want me, too?” Yupi melompat dan mengangkat tangannya mengikuti irama musik yang mengalun di kepalanya. Membuatku tertawa geli.

“Itu pertanyaan?” tanyaku. Yupi mengangguk dan melompat dengan brutal ke atas ranjang.

“Astaga Yupi! Lo cewek bukan sih?” pekikku melihat tingkah Yupi yang tidak bisa diam. Yupi hanya nyengir.

“Elaine, sorry gue—Yupi?!”
Yupi dan Aku menoleh ke arah pintu saat mendengar suara toa yang lainnya.

“Sinka?!” Yupi memekik dan berdiri di atas kasur. Aku mengusap wajahku kasar. Siap-siap telingaku berdengung ada dalam satu ruangan bersama dua gadis bersuara toa.

Dengan tergesa Yupi melompat turun dari ranjang setinggi perutnya.

“Yupi nanti ja—tuh kan!” Aku menggeleng dan membantu Yupi yang jatuh terjerembab di lantai. Gadis yang dipanggil Sinka itu terbahak.

Yupi mengerucutkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca.
“Sakit kan?” Aku mengacak rambut Yupi gemas. Yupi mengangguk.

“Ya ampun lo masih aja ceroboh ya?” gadis bernama Sinka itu mendorongku menjauh dan memeluk Yupi.

Yupi balas memeluk Sinka. “Kok lo nggak bilang Sinka balik lagi dan sekolah disini?” tanya Yupi padaku. Aku mengangkat bahu.

“Kan lo nggak nanya,” sahutku. Yupi mencebik.

“Gue pulang kemaren malem, yup,” Sinka terkekeh kecil. Yupi mangut-mangut.

Sinka Juliani Dinnur adalah sepupuku dan teman kecil Yupi dan Leon yang tiga tahun lalu pindah ke Bandung karena ayahnya ada pekerjaan di sana atau memang karena alasan yang tidak aku dan Yupi tahu.

“Gue seneng banget lo balik! Eh, udah ketemu Leon belum?” tanya Yupi antusias..

Saat ini kedua gadis itu sudah duduk di atas tempat tidur yang lagi-lagi membuatku menggeleng, melihat bagaimana cara mereka duduk.

“Heh, lo berdua itu cewek, pake rok, bisa nggak sih feminim dikit?!”
Yupi dan Sinka kompak menjawab.

“Enggak!”

“Udah ketemu Leon?” tanya Yupi lagi mengabaikan tampang kesal ku. Sinka mengangguk.

“Udah. Kak Leon makin ganteng deh,” jawabnya menerawang. Yupi mengangguk.

“Eh iya, lo ngapain kesini? Jenguk Rizal?” tanya Yupi. Sinka terlihat kaget, dia sepertinya ingat untuk apa sebenarnya dia datang ke tempat ini.

“Astaga, tuh kan gue lupa! Gue kan mau jenguk Elaine,” jawabnya, menepuk kening dan turun dari ranjang.

Sinka segera menyibak tirai dan menemukan teman sebangkunya tengah berbaring di ranjang sebelah ku.

“Ya ampun Len, lo nggak papa kan?” tanyanya khawatir. Gadis yang tengah berbaring lemah itu mengangguk dan tersenyum kecil.

Aku dan Yupi ikut memperhatikan gadis itu. Bahkan Yupi sampai memiringkan kepalanya.

“Lo yang kemarin manggil Adit kan?” tanya Yupi saat ingat wajah gadis itu. Gadis itu mengangguk.

“Gue Yupi,” Yupi menjulurkan tangannya. Gadis itu mencoba duduk dibantu Sinka.

“Aku Elaine, Kak” sahutnya dengan senyum kecil di bibir yang terlihat pucat itu.

“Siapa Adit?” tanya ku tidak suka. Yupi menoleh.

“Yang gambar wajah gue,” jawabnya. Aku menggeram.

“Jangan kenal sama dia, gue nggak suka,” kata ku dingin. Yupi menggeleng.

“Bilang kalo lo cemburu baru gue anggukin,” tawar Yupi. Aku mendengus.

“Yuvia, jangan deket-deket sama tuh cowok. Gue cemburu. Puas?” jawabku setengah kesal. Yupi mengangguk dan tersenyum lebar.

“Puas banget.”

“Yupi, balik!” suara dingin sarat perintah itu terdengar dari arah pintu. Aku, Yupi, dan Elaine menoleh.

“Leon!” seru Yupi.

“Udah ketemu Sinka?” tanya Yupi. Leon mendengus kecil saat melihat gadis yang tadi dia temui di koridor berada di ruangan ini.

“Udah, bahkan udah gangguin gue,” jawab Leon sinis. Sinka mengerucutkan bibir.

Tanpa menghiraukan Sinka, Leon kembali meminta Yupi untuk kembali dan menjalankan tugasnya

“Rizal sakit, gue pengen disini,” rengek Yupi.

“Justru itu, Ikha jadi nggak ada temen buat ngehandle X-1,” sahut Leon berjalan mendekati kembarannya itu. Yupi menggeleng.

Leon melakukan kontak mata denganku. Meminta supaya aku membantunya untuk membujuk Si Keras Kepala bersuara toa ini. Aku mengangguk.

“Balik sana kasian temen-temen yang lain,” bujukku. Yupi menggeleng.

“Gue nggak papa, kan udah diobatin sama lo?” kataku seraya mengusap kepala Yupi. Leon berdehem.

“Denger? Jadi, ayo!” Leon menarik Yupi keluar.

“Rizal, bunda nyuruh lo nginep malem ini!” teriak Yupi yang kubalas anggukan dan acungan jempol.

“Duluan Zal!” pamit Leon di ambang pintu. Aku hanya melambaikan tangan.

“Kayaknya bentar lagi masuk. Len, lo nggak papa kan gue tinggal?” tanya Sinka pada gadis yang sudah duduk bersandar di ranjang sebelah ku. Gadis itu mengangguk.

“Jangain temen gue, Zal!” pesannya padaku sambil berlari keluar UKS. Aku mendengus.

“Dia kira gue babunya,” gumamku menggerutu.

Gadis itu tanpa sadar tersenyum kecil melihat wajah kesal ku.

AUTHOR POV

Sejak Rizal dan Yupi masuk ke ruangan ini, dia tahu kalau ada yang salah, keduanya langsung bisa mencuri semua fokus Elaine. Mata dan telinganya tidak bisa untuk tidak memperhatikan tingkah mereka berdua.

“Gue Rizal.”
Elaine terkesiap saat tiba-tiba saja tangan Rizal terjulur ke arahnya.

Dengan gerakan sedikit ragu, dia menjulurkan tangannya dan menjabat tangan Rizal.

“Elaine, Kak,” jawabnya sedikit gugup. Rizal tertawa kecil melihat gadis di depannya yang terlihat gugup.

“Nggak usah gugup kali, gue bukan penjahat, artis, pejabat ataupun presiden jadi lo santai aja.” Katanya ramah. Elaine tersenyum kecil

#bersambung..

@ZubaeryAchmad

Iklan

Satu tanggapan untuk “You’re Mine, Part 3

  1. ‘Tapi luka lo,” rengek Natta kembali menangis. Aku terkekeh dan mencium Yupi sekilas.’

    Itu Natta siapa thor?

    Ceritanya seru, enak juga dibca dan gk ngebosenin hehe.. good job (y) lanjutkan yaa!!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s