Fiksi dan Fakta part 24

2 hari telah berlalu. Jaka berhasil mendapatkan kemenangan yang telah ia impikan.

Viny terbangun cukup siang, mendapati seseorang telah bertamu kerumahnya.

“Siapa sih? pagi-pagi gini,” Viny berdiri dan bergegas turun kebawah.

“Kelvin?” Viny kaget akan kehadiran Kelpo.

“Hai, Nyi.. Udah lebih baikan?” Kelpo bertanya cepat.

“Bahkan lebih sempurna dari sebelum sakit, Vin..” Viny tersenyum, namun langkah kaki-nya belum benar-benar mencapai dasar. Ia berdiri mematung pada 4 anak tangga terakhir.

“Semua kangen kamu. 2 hari cukup bikin Ndel, Elaine, Shania, Mike, Jaka dan aku sendiri kangen kamu.” Kelpo tersenyum simpul.

“Ihh.. kamu bisa aja, Vin.” Viny membalas senyuman itu sambil menuruni beberapa anak tangga terakhir.

“Ehh, serius aku mah,” Kelpo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Hahaha.. ayo ke belakang dulu,” Viny lalu mengajak Kelpo ke dapur, mungkin untuk sarapan.

Kelpo hanya membututi Viny dari belakang.

“Jaka kecewa kamu gabisa ikut di perayaan tim kemaren, tapi dia titip salam sama kamu,” Kelpo duduk di
dekat pintu geser kearah kolam renang.

“Hehehe.. aku juga gaenak nih, kemaren dia juga chat aku. Makasih salamnya,” Viny berkata sambil tertunduk lemah.

“Hari ini, anak-anak ngajak ketemuan lagi, nih..” Ucap Kelpo.

Viny hanya mengangguk, anggukan yang disertai tatapan dan senyuman kepada Kelpo.

“Kamu mau dibikinin apa? susu? roti?” Tawar Viny kepada Kelpo.

“Wihh.. sekarang rajin nih,” Kelpo terkekeh.

“Aku nawarin, malah diejek-_-” Viny malas.
“Hahaha.. canda atuh, susu coklat aja.” Pesan Kelpo.

“Oke,” Viny sangat fokus pada peralatan dapur, dia begitu tekun pada apa yang dia kerjakan.

“Kok kamu sekarang teliti banget sih? aneh.. ngoehehe.” Ucap Kelpo tertawa.

“Ihh.. aku kadang gini, kadang juga males gitu,” Ucap Viny apa adanya.

“Kayanya beda ama Viny yang dulu. Mungkin karena dulu ‘Vienny’, ‘Viny’, sekarang ‘Inyi’.” Kelpo tertawa terpingkal-pingkal.

“Ihh… mau ‘Vienny’, ‘Viny’ atau apalah itu, aku ya tetep aku!” Ucap Viny menggembungkan pipinya.

“Yee.. manyunnya keluar nih. Setelah bertahun-tahun wkwkwk,” Kelpo tak
bisa berhenti tertawa.

“Ihh.. males banget sih sama ka…” Viny kehilangan keseimbangan saat mencengkram gelas itu.

“Ehh Nyi!” Kelpo berdiri.

Gelas itu jatuh dan pecah.

“Nyi, jangan dipegang!” Kelpo memerintahkan.

“Udah gapapa,” Viny mulai memunguti pecahan gelas itu.

“Bi!!” Panggil Kelpo.

“Kelvin! jangan panggil bibi!” Ucap Viny melarang.

“Ehh?” Kelpo heran.

Kelpo lalu membantu Viny. Bibi
datang.

“Ada apa, teh?” Tanya bibi Sarti.

“Ini, Bi. Gelasnya jatoh,” Ucap Kelpo.

“Udah, biar bibi aja yang beresin, teh,” Bibi lalu membantu membereskan.

“Udah, ayo Nyi,” Ajak Kelpo.

“Kamu tuh ya..” Viny kesal.

“Apa?” Kelpo bingung.

“Aduh..” Jari telunjuk Viny tergores.

“Teh!!” Ucap bibi cemas.

“Udah, Nyi. Ayo aku obatin,” Ucap Kelpo membuat Viny tak bisa menolak.

“Maaf ya, Bi. Viny gabisa bertanggung jawab,” Viny membungkuk kepada bibi.

Kelpo hanya memperhatikan Viny.

“Udah, teh. Gapapa, ayo lukanya diobatin,” Balas bibi.

Viny duduk di sofa ruang tamunya. Kelpo mengambil peralatan dari kotak P3K.

“Ayo, sini mana jari kamu,” Kelpo duduk berlutut di hadapan Viny.

“Ehh,” Rintih Viny sedikit kesakitan saat Kelpo memberi obat merah.

“Kamu tuh ya, udah aku bilangin juga. Kamu gaboleh keras kepala kaya tadi. Liat sekarang? aku ama bibi khawatir ama kamu tau.” Ucap Kelpo menceramahi Viny.

“Maaf, Vin. Aku cuma mau berubah jadi lebih mandiri,” Ucap Vin
tertunduk. Matanya menitihkan air mata.

“Udah, Nyi. Aku juga salut sama kamu, keinginan kamu besar banget. Kita emang semakin tua, jadi mandiri itu bener-bener pelajaran yang wajib dipelajari,” Kelpo menaikkan dagu Viny, menyuruh Viny agar menatap matanya yang tulus itu.

“Makasih ya, Vin. Untuk masa lalu, kemarin, hari ini, sekarang dan besok,” Viny memejamkan matanya.

Jarak mereka semakin dekat. Viny hanya melemaskan tubuhnya, seakan-akan menyuruh Kelpo melakukannya.

Muka Kelpo mulai mendekati muka Viny.

“Akankah dia?” Gumam Viny dalam hati.

Semakin dekat dan..

“Plek,” Kelpo menjatuhkan dirinya ke tubuh Viny. Memeluk erat tubuh itu.

“Maaf, tapi aku bukan orang yang tepat. Hal kaya tadi itu lebih mahal dari yang kamu pikirin,” Bisik Kelpo pelan.

Viny mengangguk.

*Skip

Jam 9.15, Viny telah siap untuk pergi.

“Kita ke rumah Ndel dulu ya?” Ajak Kelpo.

“Iya, ayo! udah ga sabar nih,” Viny antusias.

Kelpo tersenyum dan mulai bergegas menuju mobil, disertai Viny yang
mengikuti Kelpo dari belakang. Mereka duduk bersebelahan. Hanya obrolan-obrolan ringan yang mereka bahas. Beberapa kali Kelpo menatap Viny dalam diam.

“Kau tumbuh begitu sempurna, what a great moment..” Kelpo berkata dalam hati.

Sementara itu,

“Shan, aku jemput sekarang ya?” Jaka menelpon Shania.

“Iya, Raz. Aku tunggu ya..” Telepon singkat itu selesai.

Entah mengapa, Jaka mau menelpon. Biasanya ia cukup mengirimkan pesan untuk itu.

“Michelle?” Panggilan dari Michelle masuk.

Jaka menerimanya.

“Hai Razaqa!” Michelle semangat.

“Ya chel?” Jaka membalas senyuman itu.

“Besok aku berangkat dari sini, kita bahas lagi ya soal Bali.. aku tungguin kamu,” Michelle terus menunjukkan wajah bahagianya.

“Sekolah kamu gimana, Chel?” Jaka bingung.

“Aku udah mutusin, walaupun tanggung tapi gapapa deh..”

“Sip deh, ini juga mau ketemuan sama yang lain,” Jaka terus membalas.

“Iya, pakaian kamu juga rapi banget. New haircut ya?” Michelle menebak.

“Hehehe.. iya. Seminggu yang lalu aku potong.” Jaka tersenyum.

“Hahaha.. sip deh, kayanya kamu juga udah ditungguin. Salam buat yang lain,” Michelle mengakhiri video call itu.

Jaka hanya meninggalkan kamarnya.

“Jak, besok papa mama kan pulang, gue malem ini mau berangkat sama anak-anak,” Sony memanggil Jaka.

“Jakarta? Promosi?” Jaka bertanya cepat sambil fokus pada sepatu yang sedang ia pasang.

“Iye, seminggu mungkin.” Lanjut Sony.

“Oke deh, gue bawa kunci aja. Belom tau hari ini pulang jam berapa,”

“Oke deh, gue kabarin yak,” Lalu Sony
masuk ke ruangan santai.

“Sip, gue pamit dulu,”  Jaka berlalu begitu saja.

Memasuki mobilnya dan menuju rumah Shania.

“Om, tante, Oscar pamit ajak Elaine jalan ya..” Mike menyujudi tangan kedua orangtua Elaine.

“Iya, Hati-hati ya, nak Oscar. Titip Elaine,” Pesan mama Elaine.

“Siap, tan!” Mike berpose hormat.

“Jangan ngebut-ngebut Car. Titip Elaine-nya,” Pesan papa Elaine.

“Hehehe.. oke siap om, pamit ya om, tante.” Mike memasuki mobilnya.

“Pah, mah, Elaine pamit ya..” Elaine lalu
memasuki mobil.

“Tit…” Klakson dari Mike yang sekarang sudah menjalankan mobilnya menuju salah satu tempat nongkrong di Bandung.

“Mike, kamu kenal Kinal dari mana?” Pertanyaan itu muncul ditengah obrolan mereka.

Mike melirik kearah Elaine.

“Fokus ke andro-nya..” Batin Mike.

“Mickey?” Elaine heran.

“Ehh..” Mike sadar.

“Tuh kan, hampir aja kita kecelakaan. Kerjaannya ngelamun mulu,” Elaine mengerucutkan bibirnya.

“Hehehe.. justru karena aku lagi fokus
ke jalan, Elaine-ku sayang.” Lirik Mike dengan tatapan menahan tawa.

“Ihh.. kamu tuh ya..” Elaine kesal.

“Dia temen aku pas SMP, dulu ada temenku namanya Fosa. Kinal itu orang yang paling deket sama Fosa.” Mike menurunkan nadanya.

Elaine hanya mengangguk tanda mengerti.

*Skip

Andela telah bersama Kelpo dan Viny. Setelah mereka pamit dari rumah Andela, mereka langsung menuju tempat yang sudah mereka sepakati.

“Vin?” Andela berkata pelan.

“Ya?” Jawab Kelpo dan Viny bersamaan.

“Ehh, lupa sama-sama Vin._. aku manggil Kelvin tadi,” Andela tertunduk malu.

“Hahaha..” Kelpo dan Viny tertawa seketika.

“Kenapa, Ndel?” Tanya Kelpo lembut.

“Kita bahas apa hari ini?” Andela bertanya.

“Liburan mungkin, karena udah lengkap kitanya.” Jawab Kelpo tersenyum.

“Kita? temen Razaqa itu juga?” Andela bingung.

“Ntar dulu, temen Razaqa?” Kelpo ikut bingung.

“Maksudnya gimana?” Viny ikut
berpikir.

“Itu yang dari Australia..” Sambung Andela.

“Ohh.. Michelle?” Kelpo ingat.

“Nah, iya!” Andela tersenyum.

“Iya dia, Michelle bentar lagi ke indo kayanya..” Kelpo membalas senyuman itu.

Mereka akhirnya sampai.

Terlihat Mike dan Razaqa telah sampai terlebih dahulu. Kelpo, Andela dan Viny mulai bergerak masuk. Cafe itu tampak ramai sekali.

“Yo, Kelpo..” Sambut Mike.

“Kelv, what’s up?” Jaka juga menghampiri Kelpo.

“Viny? Andela?” Elaine kaget melihat Viny bersama Andela.

“Hai, Len.” Balas Andela.

Viny hanya mengangguk sambil tersenyum lebar.

“Hai, Ndel, Vin. Duduk disini nih,” Shania berdiri sambil mempersilahkan duduk.

“Asik nih, udah pada ngumpul..” Jaka membuka obrolan.

“Sebelumnya, selamat kembali lagi buat temen kita, Viny. Kami seneng kamu bisa kumpul bareng kita lagi,” Jaka tersenyum, disertai ucapan kepada Viny dari yang lain.

“Jak, bahas apa hari ini?” Mike bertanya.

“Hari ini, gue mau ngajak kalian nonton, gue yang traktir. Sebelumnya gue mau ngasih tau kalo Michelle besok udah berangkat ke Bali.” Lanjut Jaka.

“Kita jadi ke Bali?” Potong Kelpo cepat.

“Iya..” Jawab Jaka singkat.

“Kita ga nyari tiket, Zaq?” Elaine bingung.

“Tiket udah aku cek, Len. Nanti liat lagi deh, masih mahal sih.” Jaka melihat keatas.

“Kalo jadi, Viny ikut ga?” Shania menatap Viny.

“Ehh? aku? belom tau, Shan. Hehehe..” Viny membungkuk.
“Ikut aja, biar seru!” Elaine semangat.

“Kamu boleh kalo mau ikut, Vin.” Jaka juga ikut mengajak.

“Aku pikir-pikir dulu ya.” Viny terus menunduk dan membungkuk.

“Jadi, Kita deal ya? buat liburan ke Bali?” Jaka mengulangi.

“Gue liat budgetnya aja Jak.” Balas Kelpo.

“Aku bisa, udah dizinin.” Elaine ikut.

“Gue ada tabungan, untuk izin mah udah.” Mike ikut.

“Aku ikut, kalo Kelvin ikut.” Andela masih ragu-ragu.

“Aku usahain ikut, untuk biaya udah beres.” Shania ikut.

“Aku masih mikir-mikir ya, Zaq.” Viny masih dengan tatapan tidak enak.

“Oke, Vin.” Jaka melemparkan senyuman kepadanya.

“Jak, Kinal ama Gilang broke ya?” Tanya Mike cepat.

“Wih.. belom tau kabar terbarunya tuh,” Balas Jaka kaget.

“Serius lu, Mike? liat dimane?” Kelpo penasaran.

“Ini, tweet-nya Kinal.” Mike menyodorkan.

“Wahh.. tumben lu follow orang.” Jaka menahan tawa.

“Njirr, following Mike cuma 95, Jak.” Kelpo menyenggol bahu Jaka.

“Mickey pelit follow emang :P” Elaine menjulurkan lidahnya ke samping.

“Idih.. fitnah -_-” Mike membantah.

“Followers Mike 528.” Andela ikut menimpali.

“Pake auto-followers tuh,” Goda Kelpo terus memojokkan Mike.

“Udah-udah -_-” Mike malas.

“Hahaha.. kemana lagi nih?” Jaka langsung mengutarakan pertanyaan baru.

“Udah jam 11.20,” Andela melihat ke arloji-nya.

“Langsung siap-siap buat nonton aja gimana? nongkrong di sekitaran cinema.” Saran Shania.

“Asik juga, tuh.” Mike setuju.

“Yaudah, gue ikut aja.” Kelpo sepakat.

Mereka meninggalkan cafe itu, dan mulai menuju ke mal yang dimaksud.

*Skip

Mereka telah sampai dan mulai menuju ke bioskop.

Obrolan terus berlangsung diantara mereka.

“Nonton apa nih?” Tanya Jaka.

“Hmm… kok pada aneh filmnya.” Shania bingung.

“Gaada kartun nih,” Mike malas.

“Hahaha.. otak lu kartun mulu.” Kelpo
menjitak kepala Mike.

“Bodo ah, lu juga suka njir, makanya nama lu ‘Kelpo’. Kalo lu suka action, dah gua kasih nama ‘Kelv Bond’.” Mike memegangi kepalanya yang dijitak.

“Hahaha.. Kelvin ada-ada aja,” Andela tersenyum.

“Udeh ah, rusuh mulu.” Jaka melerai kedua temannya.

“Itu juga bagus, aku udah liat review-nya.” Viny menunjukkan salah satu judul film.

“Iya, kayanya seru.” Mike menyetujui.

“Ehh, sempak tomcat, lu pernah nonton trailernya juga engga, pake acara ikut-ikutan Inyi.” Kelpo mengomeli temannya itu.
“Husshhh.. ribut lu jeg, liat posternya, keren tuh gambarnya.” Mike menunjuk.

“Lol, kalo liat film mah, bukan dari poster depannya doang-_-” Jaka menimpali.

“Tau tuh, si Saurus gebleg.” Kelpo masih kesal.

“Kalian pada sakit ato gimana sih, kan gua bilang ‘kayanya’ tadi -_-” Mike beralasan.

“Bener juga, ya..” Pikir Jaka dalam hati.

“Udah ah, kalian mah, malah ribut aja.” Elaine melerai.

“Udah, ayo kita nonton yang kata Viny aja, jangan berantem.” Shania menyarankan.

“Oke, aku antri dulu.” Jaka pamit.

“Aku ikut antri ya?” Shania ikut bersama Jaka.

“Po, posisi duduk gimana?” Jaka bertanya.

“Serah lu, Jak. belakang ato tengah aja.”

“Udah, lu ikut aja sini, ato tunggu disana. Ntar gua panggil kalo udah ampe loket.” Jaka menginstruksikan.

“Iye-iye, bawel banget.” Kelpo lalu mengajak Andela duduk disamping.

“Gua ke toilet ya?” Pamit Mike.

“Iya, aku ikut.” Elaine ikut dengan Mike.

“Ehh, cewe gaboleh masuk toilet cowo.” Mike mencegah.
“Ihh, kamu tuh gimana sih. Aku ya ke toilet cewe, kamu mau buang air di toilet cowo, ya urusan kamu.” Elaine memanyunkan bibirnya.

“Ohh.. hehehe kirain kamu mau..” Mike tersenyum gemas.

“Ihh, mau apa? aku lempar pake sepatu ntar,” Elaine malas.

“Idih, cantik-cantik kok galak banget. Cowonya kan juga manusia,” Mike terkekeh.

“Udah ah, sebelum yang manusia keliatan kaya setan, huahaha..” Tawa Elaine keras.

“Iya deh-_-” Mike lalu menggandeng tangan Elaine, hingga mereka terpisah.

“Saling tunggu ya?” Elaine meminta.
“Oke, kwek.” Mike memasuki toilet tersebut.

“Po, sini!” Panggil Jaka.

“Iye,” Kelpo berdiri dan menghampiri Jaka.

“Dimana nih?” Jaka bingung.

“Hmm.. tengah full,” Gumam Kelpo pelan.

“Disini aja,” Shania menunjuk.

“Hmm.. oke itu juga enak.” Kelpo setuju.

“Oke, deal ya?” Jaka memastikan.

“Iye.” Jawab Kelpo lalu kembali ke tempat duduknya.

“Oke mbak, jadi tempatnya disini, tota
tiket 7 orang.” Jaka memesan.

Tiket telah dipesan.

Mike telah keluar sejak tadi. Ia masih berdiri didepan toilet sambil melihat gadgetnya.

Tiba-tiba seorang gadis menabrak Mike. Tabrakan itu sebenarnya begitu nyaris.

“Ehh, maaf.” Minuman ringan yang dipegangnya itu tumpah.

“Ehh, iya. Hati-hati.” Mike tidak enak.

“Maaf ya, untung ga kena baju kamu,” Aksen yang tampak seperti orang yang Mike kenal.

Mike curiga, lalu menahan tangan gadis itu.
“Urang mana, neng?” Tanya Mike dengan logat sunda.

“Maaf? maaf, apa ya?” Gadis itu bingung.

“Kamu orang Jakarta?” Mike bertanya.

“Iya, aku liburan disini,” Gadis itu sangat familiar di mata Mike.

“Kenal anak yang namanya Oscar?” Tembak Mike begitu saja. Tanpa ada rasa takut jika orang itu tak mengenalnya.

Gadis cantik itu terdiam sejenak.

“Michael Christian Oscar Rau?” Gadis itu membulatkan matanya.

Mike mengangguk.

Gadis itu melepaskan minuman
ringannya, dan langsung memeluk erat Mike.

“Akhirnya…” Bisik wanita itu sembari meletakkan kepalanya ke bahu Mike.

Elaine keluar dan mendapati kekasihnya dipeluk oleh seorang perempuan.

“Dia siapa?!” Pertanyaan yang menghancurkan self-control Elaine.

Elaine menghampiri Mike.

Mengapa pertemuan itu begitu berarti? apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka?.

“Jikalau angin tak memberikan kesempatan untuk kita dapat meraih langit, pertahankan terus pandanganmu kepada alam sekitar agar tak ada kata menyerah yang
terucap.” – Zidane Irtivan pada bukunya.

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s