X-World (Pt. 36) : The Hope That We’re Fighting For…

~Gary’s POV~

“DATANGLAH PADAKU JUUBI!” –Ezio

“GROOAAAA!!!!” –Juubi

Gedo Mazo telah berubah menjadi sebuah monster Bijuu berekor 10 yang bernama Juubi. Ezio tertawa dengan puas karena dia berhasil membangkit monster terlarang dengan kekuatan dari 9 Bijuu. Kinal dan Jinchuuriki lainnya terkapar di atas tanah dibawah Juubi. Melihat kondisi mereka yang tidak sadarkan diri seperti itu membuat emosi gue meledak.

“JANGAN BIARIN DIA DAPET JUUBI!” –Rizal

Masih dalam keadaan emosi, tubuh gue bergerak dengan sendirinya setelah mendengar ucapan Rizal barusan. Juubi sepertinya ingin bergabung dengan Ezio, dan jelas sekali hal itu nggak boleh dibiarin untuk terjadi. Gue langsung berlari menghampiri Ezio dengan GN-Sword di tangan kanan gue, dan juga sebuah GN-Bits di tangan kiri gue.

“DASAR BRENGSEK!!!” –Gary

“GARY!” –Ve

“GER, BAHAYA!” –Sagha

Peringatan dari Sagha dan Ve gue abaikan. Mungkin lebih tepatnya gue nggak denger sama sekali, karena hanya satu hal yang saat itu ada di pikiran gue, ‘SERANG EZIO! BUAT DIA MENDERITA!’

Juubi hampir menyentuh Ezio, dan Ezio sendiri membiarkan tubuhnya untuk dimasuki Juubi.

“KEKUATAN JUUBI AKAN MENJADI MILIKKU!!!” –Ezio

Begitu jarak gue dan Ezio udah tinggal se-meter, gue langsung ngarahin pedang gue lurus kearah perut Ezio.

“HEAAAA!!!!!” –Gary

“JANGAN MENGGANGGU!” –Ezio

Ezio menahan ujung GN-Sword gue dengan tangan kosong. Karena ujung pedang GN-Sword terbuat dari pancaran partikel GN yang dipadatkan, jadi meskipun Ezio berhasil menahan serangan gue, telapak tangannya tetap sobek dan terkikis karena telapak tangannya menyentuh partikel GN secara langsung.

Gue yang Cuma kena radiasi aja bisa mati rasa sampe satu badan. Nah, ini kulitnya sampe sobek sama kekikis kayak abis kena bahan kimia begitu. Anehnya, Ezio sama sekali nggak kesakitan.

Serangan gue belum selesai. Karena serangan dari senjata di tangan kanan gue (GN-SWORD) berhasil ditahan, gue langsung beralih ke serangan menggunakan senjata di tangan kiri gue (GN-Bits). Gue langsung melancarkan serangan kearah perut bagian bawah Ezio.

Serangan gue kali ini berhasil. Gue berhasil menancapkan GN-Bits gue di perut Ezio, dan gue langsung mendorong tubuhnya menjauh dari tempatnya berdiri saat itu agar dia tidak bisa bergabung dengan Juubi.

Gue mendorong tanpa melihat kearah depan. Tujuan gue saat itu adalah menjauhkan Ezio sejauh-jauhnya sambil memperdalam luka tusuk yang gue buat tepat diperutnya.

“KEPARAT!” –Ezio

Ezio menghantam punggung gue dengan sikutnya berkali-kali agar dia bisa lepas dari gue. Hantaman Ezio makin kuat, dan punggung gue udah gak sanggup nahan hantamannya lagi. Begitu dia mau menghantam punggung gue lagi, gue langsung bangun, gue cabut GN-Bits gue dari perutnya. Lalu gue tendang bagian perutnya yang luka.

Ezio jatuh. Gue berpaling meninggalkan dia untuk segera membantu para Jinchuuriki yang ada di bawah Juubi persis.

“GARY, KAU SUDAH GILA YA?!!” –Ve

Gue abaikan teriakan Ve. Gue terus berlari kearah Juubi untuk menolong para Jinchuuriki yang tengah tidak sadarkan diri saat ini. Juubi melihat gue yang tengah menghampirinya saat ini, dan dia langsung menyambut gue dengan sebuah serangan dari ekornya.

*WOOSH!!! BRAAAK!!!*

“Ugh! Hah? Gue masih hidup?” –Gary

Ajaib. Gue berhasil selamat dari serangan Juubi. Pas gue liat ke atas, ternyata ada Imperialdramon. Dia menahan ekor Juubi yang harusnya jatuh menimpa gue.

“Tidak akan kubiarkan kau menyentuh temanku!” –Imperialdramon

“Bagus Imperialdramon!” –Anto

“Thanks ya, Imperialdramon.” –Gary

Imperialdramon menganggk. Dia langsung melempar ekor Juubi yang tadi dia tahan ke arah lain. Gue harus cepet. Juubi bisa aja nyerang lagi dan belum tentu pas serangan kedua nanti Imperialdramon bisa ngelindungin gue. Gue percepat langkah gue agar gue bisa menolong para Jinchuuriki sebelum terjadi sesuatu pada tubuh mereka dikarenakan gerakan Juubi.

Gue berhasil mencapai para Jinchuuriki, tapi di saat yang bersamaan ekor Juubi datang dan berniat menghantam gue dari 2 arah yang berbeda. Gawat!!

“Add Vent!!” –Visor

*BRAKK!!!*

“Dragreder?” –Gary

“GARY CEPAT!! Dragreder tidak mungkin bertahan lama menahan serangan makhluk itu!” –Viny

Tanpa pikir panjang, gue langsung menggendong 2 orang member sekaligus. Yang gue gendong yaitu Ve (JD) dan Angel. Gue sengaja ngangkat mereka duluan karena mereka bertiga yang badannya paling ringan untuk dibawa. Ringan sih ringan, tapi tetep aja kalo 2 orang sekaligus jatohnya berat juga.

Gue langsung pergi secepatnya menjauh dari Juubi sambil membawa 2 orang Jinchuuriki di punggung dan di tangan gue. Gila, lo bayangin gue gendong orang depan belakang. Berat, asli. Sumpah dah.

Setelah gue rasa gue udah cukup jauh dari Juubi, gue letakkan Ve (JD), dan Angel di atas tanah dan gue berlari kembali ke bawah Juubi untuk mengangkat Jinchuuriki yang lain.

Dragreder masih menahan serangan Juubi, tapi dia nggak sendirian. Imperialdramon ikut membantunya kali ini. Rizal, Sagha, Anto, Viny, Andela dan Ve datang dari arah yang berlawanan dengan gue. Mereka sampai lebih dulu di bawah Juubi daripada gue, dan masing-masing dari mereka langsung membopong Jinchuuriki di pundak mereka.

Anto ngebawa Grace, Rizal ngebawa Yupi, Sagha ngebawa Desy, Ve ngebawa Ayana, Viny ngebawa Lidya, Andela ngebawa Kinal, dan gue ngebawa Shania.

Kita bertujuh buru-buru pergi dari bawah Juubi karena keliatannya Dragreder udah nggak kuat nahan kedua ekor Juubi dengan tubuhnya yang lebih kecil dari Juubi. Bener aja, begitu kita udah pergi dari bawah Juubi Dragreder langsung digempur abis-abisan sama Juubi bersama Imperialdramon.

Dengan sisa tenaganya Dragreder bangun dan langsung masuk kedalam kaca terdekat dari tempatnya, sementara Imperialdramon yang terkapar langsung berubah kembali menjadi bentuk semulanya, menjadi V-Mon dan Wormon.

Anto pergi kembali untuk membawa V-Mon dan Wormon yang terkapar menjauh dari Juubi. Kita semua berkumpul di samping venue untuk nyusun ulang rencana sambil nungguin para Jinchuuriki yang udah kehilangan Bijuu mereka.

“Zal, udah lo suntikin obatnya ke mereka semua kan? *Nunjuk para Jinchuuriki*” –Gary

“Udah. Tinggal nunggu mereka sadar aja, paling semenit dua menit mereka juga udah sadar.” –Rizal

“Lalu bagaimana dengan monster ekor 10 itu? Apa rencana kita sekarang?” –Andela

“Gue nggak nyangka, ternyata rencana Ezio ngejar Bijuu untuk ngebangkitin makhluk laknat itu. Asli, ini bakalan jadi pertarungan yang panjang karena yang kita lawan kali ini adalah monster yang punya kekuatan dari 9 Bijuu.” –Rizal

“Rizal benar. Kita tidak boleh membiarkan Ezio berhasil menjinakkan ataupun mendapatkan kekuatan Juubi.” –Ve

“Trus gimana kita ngalahin dia? 1 Bijuu punya kekuatan setara dewa, apalagi makhluk yang punya kekuatan 9 Bijuu? berarti kemungkinan kita ngalahin makhluk itu kecil dong?” –Anto

“ ‘Hampir’. Apa lo semua inget waktu dia narik semua Bijuu keluar dari Jinchuuriki ke dalem matanya?” –Rizal

“Iya, terus?” –Anto

“Kita bisa pake cara itu untuk ngalahin Juubi. Pertama-tama kita pretelin dulu kesembilan Bijuu yang ada di dalam Juubi. Abis itu baru kita ancurin Juubi pas dia udah berubah lagi jadi Gedo Mazo.” –Rizal

“Tapi bukankah Gedo Mazo tidak bisa dihancurkan?” –Ve

“Bisa….” –Gary

“Hah? Bagaimana caranya?” –Ve

“Lo semua ngeliat dada Gedo Mazo nggak, dia dateng tadi?” –Gary

“*Menggeleng*.” –Semuanya

“Jadi, tadi gue liat ada aura-aura chakra yang mirip sama chakra homonculus Bee. Dan waktu Ezio manggil Gedo Mazo, dia manggil patung itu dengan sebutan Bee. Itu berarti homonculus Bee ada di dalem patung itu. Secara nggak langsung, itu berarti ada akses masuk menuju kedalam patung itu, seperti sebuah cockpit. Mungkin lewat cockpit itu kita bisa ngancurin Gedo Mazo dari dalem.” –Gary

“Hmm… Gary bener juga. Tadi Ezio manggil Gedo Mazo pake sebutan Bee. Berarti teori soal cockpit di dalem Gedo Mazo itu bener.” –Rizal

“Mungkin kita bisa mencoba cara itu. Kita coba hancurkan Gedo Mazo dari dalam lewat ruang cockpit itu.” –Ve

“Bagus, kalau begitu yang sekarang kita perlukan hanya rencana–.” –Viny

“Dan bantuan. Kita akan perlu banyak bantuan untuk mengalahkan makhluk itu.” –Andela

Pas lagi ngebahas rencana, Kinal sadar dari pingsannya. Satu persatu para Jinchuuriki sadar. Kita tinggalin urusan bahas rencana sebentar untuk ngecek kondisi mereka satu persatu.

“Lo semua gapapa kan?” –Gary

“Iya”, “Aku gapapa”, “Aku baik-baik saja”, “Tidak apa-apa” –Para Jinchuuriki

“Sori ya. Gara-gara gue sama temen-temen gue ceroboh, jadinya–” –Kinal

“Gapapa, tenang aja. Ini bukan akhir dari segalanya.” –Gary

“Tapi monster itu adalah gabungan dari semua Bijuu. Hampir mustahil untuk mengalahkannya.” –Grace

“Slaw. Serahin ini ke kita. Lo semua masuk ke dalem venue.” –Gary

“Tidak mau, aku tetap akan disini dan bertarung bersamamu.” –Shania

“Gue juga, Ger. Cuma gara-gara gue udah kehilangan Shichibi, bukan berarti gue gak bisa apa-apa kan?” –Desy

“Iya sih, tapikan lo–” –Gary

“Ger, tunggu! Kita perlu bantuan mereka.” –Rizal

“APA???” –Gary, Anto, Sagha, Viny, Andela

“Zal, gila lo ya?” –Sagha

“Rizal benar, kita perlu bantuan mereka.” –Ve

“Kasih gue alesan, kenapa gue harus bolehin mereka ikut ngebantuin gue?” –Gary

“Pertama, kita kekurangan jumlah dan tenaga. Kedua, kita perlu mereka karena mereka mantan Jinchuuriki yang punya hubungan batin dengan para Bijuu. Mungkin saja mereka bisa menarik Bijuu mereka masing-masing keluar dari dalam Juubi.” –Ve

“Dan terakhir, jangan lo kira mereka udah jadi manusia biasa Cuma gara-gara mereka udah gak punya Bijuu didalam tubuh mereka.” –Rizal

“Hah? Maksud lo apaan, Zal?” –Anto

“Shania, buat api di tangan lo.” –Rizal

“Tidak bisa. Nibi sudah tidak ada dalam tubuhku. Kekuatanku sudah hilang.” –Shania

“Itu Cuma pikiran lo doang.” –Rizal

“Eh?” –Shania

Mendengar ucapan Rizal barusan, sepertinya Shania juga jadi penasaran. Shania mengangkat tangannya dan dia berkonsentrasi. Kayaknya dia lagi berusaha membuat api di tangannya sesuai dengan instruksi dari Rizal.

*BWOSHH!!!*

“Berhasil? A-Aku bisa!” –Shania

“Lihat? Karena status mereka mantan Jinchuuriki, bukan berarti mereka nggak bisa pake kekuatan Bijuu mereka lagi. Justru karena tubuh mereka bekas ditempatin Bijuu, jadi mereka juga ikut dapet kekuatan dari Bijuu mereka.” –Rizal

Setelah melihat Shania berhasil membuat api, para Jinchuuriki yang lain juga menjadi penasaran dan ikut mencoba hal yang Shania lakukan. Jinchuuriki yang lain ternyata juga masih bisa menggunakan kekuatan Bijuu mereka masing-masing.

Desy masih bisa ngeluarin sayap capung di punggungnya dan ngeluarin lendir lem dari tangannya. Yupi masih bisa ngeluarin 5 buah ekor rubah dari tubuhnya dan pada tiap ekor terdapat elemen yang berbeda-beda. Dia juga masih bisa ngontrol elemen-elemen itu. Angel, Grace, Kinal, Ve (JD), Lidya, dan Ayana juga masih bisa mengakses kekuatan Bijuu masing-masing.

“Aku tarik ucapanku. Sepertinya kita benar-benar akan butuh mereka kali ini. Aku mendukung keputusan Ve dan Rizal.” –Viny

“Ini domain kami, dan kami ingin ikut melindunginya.” –Ve (JD)

“Huft… Apa boleh buat? Kita emang lagi kekurangan orang kan?” –Gary

“Kita pasti bisa ngalahin Juubi, kan ada mereka juga.” –Sagha

“Sekarang yang kita butuhkan hanya tinggal rencana saja.” –Andela

Tepat disaat Andela mengatakan hal itu, otak gue mendapatkan sebuah ide. Dengan cepat gue langsung menyusun ide itu menjadi sebuah rencana. Setelah 30 detik diam dan berpikir, gue selesai menyusun ide tersebut menjadi sebuah rencana.

Gue sebar rencana tersebut ke temen-temen gue. Singkatnya kita melakukan briefing. Kita nggak punya cukup waktu untuk briefing lama-lama karena Juubi udah mulai bergerak. Setelah briefing singkat, kita semua langsung berpencar menjalankan peran masing-masing dalam rencana buatan gue.

Tepat seperti dugaan gue, Juubi ternyata mengincar Hall B yang nggak lain adalah venue Handshake. Dari sekian banyak bangunan yang ada di dalam JIExpo, kenapa harus Hall B? Gue gak ngerti apa yang dipikirin sama monster yang satu ini.

Juubi berniat meratakann Hall B dengan tangannya. Begitu tangannya mau menghantam Hall B, sebuah perisai chakra muncul dan sukses menahan tangan Juubi.

“Tidak akan semudah itu!” –Ve (JD)

Yang nahan tangan Juubi barusan adalah Ve (JD), dan dia menahan tangan Juubi SENDIRIAN tanpa ada bantuan dari siapapun. Wew, ada peningkatan. Kemampuan dan tenaga Ve naik drastis banget. Padahal waktu dia nahan petir Juubi sebelumnya aja masih dibantuin Kinal. Lah ini, tangan Juubi segede gaban ditahan sendirian. Ckckck… Gokil!

“Giliran kita. Ayo Lid!” –Kinal

“Sip!” –Lidya

“COMBO! DOUBLE LARIAT!!!” –Kinal & Lidya

Kinal dan Lidya yang udah ada di atas atap venue mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan gabungan mereka. Pertama-tama mereka melapisi tubuh mereka dengan chakra Bijuu masing-masing. Setelah itu, mereka langsung melompat lurus dengan cepat dan langsung menghantam Juubi dibagian perutnya.

Juubi meraung dengan kencang begitu Kinal dan Liday menghantam perutnya. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan kombinasi yang mereka berdua lakukan.

“AYANA! DESY! GRACE! SEKARANG!” –Kinal

Juubi jatuh akibat serangan gabungan Desy dan Lidya. Sekarang giliran Ayana, Desy, dan juga Grace. Ayana menahan tangan Juubi menggunakan pasirnya, Desy menahan kaki Juubi dengan lendir lengketnya, sedangkan Grace menahan ekor-ekor Juubi agar tidak bergerak menggunakan gelembung-gelembung alkali buatannya. Sekarang Juubi terjebak di atas tanah dalam keadaan terbuka untuk diserang secara masal.

“SIKAT!!!” –Gary

Angel, Yupi, dan Shania yang sudah bersiap-siap daritadi langsung melompat dan melayangkan serangan terbaik mereka pada Juubi. Bukan Cuma mereka bertiga, tapi juga ada Rizal, Andela, dan Viny yang akan membantu dari jarak jauh dengan serangan proyektil mereka masing-masing.

“TERIMA INI!!!” –Angel, Yupi, & Shania

“TEMBAK!” –Rizal

Tepat sebelum serangan gabungan mereka berenam, Ayana, Grace, dan Desy sudah menjauh dari Juubi. Jadi mereka bertiga aman dari efek serangan. Sementara itu Angel, Yupi, dan Shania juga baik-baik saja. Liat? Mereka keluar dengan selamat dari kepulan asap bekas ledakan serangan terakhir tadi.

“Kita… *Terengah-engah* Berhasil.” –Shania

“Sepertinya… *Terengah – engah* Begitu.” –Yupi

………………….

“GROOOAAAOOO!!!!!!!!” –Juubi

“APA???” –Semuanya

“Tidak mungkin. Bukankah tadi kita berhasil mengenainya?” –Angel

“Serangan kecil seperti itu tidak akan bisa menyakiti Juubi.” –Ezio

“Sial!” –Gary

Ternyata Ezio masih hidup, begitu juga dengan Juubi. Juubi kembali bangun dan muncul dari dalam kepulan asap bekas ledakan serangan tadi. Di pundak kanan Juubi, sudah ada Ezio yang berdiri dengan santai di atas sana. Dia sudah seperti pemilik dari makhluk itu.

“Sepertinya tidak perlu bergabung dengan Juubi untuk membuatnya patuh denganku. Kalian lihat? Juubi mematuhi perintahku. Itu tandanya, dia menganggapku sebagai tuannya.” –Ezio

“Gak monster, gak pemilik, dua-duanya nggak ada yang bener.” –Sagha

“Ini gawat.” –Rizal

………………….

“JANGAN MENYERAH!!!” –Melody

Suara apaan tuh barusan? Kok kayak suara Melody?

“Suara itu….” –Gary

“Itu suara Kak Melody.” –Shania

“KALIAN PASTI BISA! BERJUANGLAH!!!” –Melody

Itu bener-bener suara Melody. Suara itu asalnya dari speaker yang ada di depan venue. Oh, kayaknya gue tau nih. Dia pasti pake FOH buat bikin jalur koneksi antara speaker yang ada di luar dengan microphone miliknya yang ada di dalem. Tapi, gimana ceritanya dia bisa tau kalo gue lagi dalam keadaan susah?

Tunggu sebentar….

OH IYE! Gue baru inget. Gue masang CCTV satu di depan venue biar FOH bisa mantau keadaan di luar. Duh, gue yang masang juga, kok gue bisa lupa ya? Hmm… Jadi begitu ya caranya dia bisa tau keadaan gue di luar saat ini?

Meskipun di dalem suara ledakan yang ada diluar bisa diredam dengan alat pembuat medan peredam suara, tapi tetep aja mereka yang di dalem masih bisa liat keadaan di luar lewat CCTV yang gue pasang di depan venue.

“AKU PERCAYA PADA KALIAN SEMUA. KALIAN PASTI BISA MENGALAHKAN MAKHLUK ANEH ITU. FAKTANYA, BUKAN AKU SAJA YANG PERCAYA PADA KALIAN. PARA MEMBER LAINNYA, DAN JUGA PARA FANS YANG ADA DISINI, KAMI SEMUA PERCAYA PADA KALIAN. OLEH KARENA ITU BERJUANGLAH DENGAN SEKUAT TENAGA!!” –Melody

“Melody….” –Gary

“AYO SEMANGAT!!! KALIAN PASTI BISA!!! BERJUANGLAH!! LO BISA KAWAN, AYO!!! SHANIA, KAMU PASTI BISA!! AYO, YUPI!!! MAJU, NAL!!! KALAHKAN MEREKA, DES!! ANGEL, JANGAN KALAH!!! GRACE, AYO!!! AYO, LID! LO BISA!!! SEMANGAT AYANA!!! JANGAN MAU KALAH SAMA YANG LAIN, VE!!!” –Para Fans

Melody, iseng juga ya? Kayaknya dia ngoper micnya yang terkoneksi sama speaker luar ke para fans. Alhasil, gue daritadi denger banyak fans yang neriakin kita untuk ngasih kita semangat dari dalem venue.

Ya emang sih, mereka lebih sering neriakin member favorit mereka daripada ngasih semangat ke gue dan temen-temen gue (Ngarep), tapi jujur walaupun begitu gue jadi ikut semangat denger kata-kata dari mereka.

“Susah deh yang punya banyak fans. Lo semua liat kan? Mereka ngedukung kita abis-abisan. Mereka ngedukung kita, karena mereka percaya sama kita.” –Gary

“Kita nggal boleh ngeceweain mereka.” –Kinal

Kata-kata semangat dari para fans itu sukses bikin mood kita naik. Tenaga gue serasa keisi lagi. Entah gimana ceritanya, pokoknya abis denger kata-kata dari para fans JKT48 itu, gue serasa balik lagi ke kondisi 100% siap tempur. Mungkin ini Cuma sugesti, tapi siapa yang peduli?

“Bersiaplah, psikopat. Ronde kedua baru akan dimulai.” –Gary

………………….

“DENGARKANLAH LAGU DARI KAMI, REFRAIN YANG PENUH HARAPAN.” –Melody

*Lagu Refrain Yang Penuh Harapan mengiringi pertarungan*

“Itu tandanya kawan-kawan, AYO MULAI!” –Kinal

Serentak, kita maju bersama untuk menyerang Juubi. Gue nggak tau apa yang terjadi di dalam venue, tapi dari suara yang keluar lewat speaker yang masih terhubung dengan salah satu mic di dalam venue, kayaknya Melody ngelanjutin acara mini konser yang sempet tertunda gara-gara pertarungan gue.

Begitu lagu mini konser mulai bermain, gue nggak Cuma bisa denger suara dari satu orang doang, tapi suara banyak orang. Suara member yang lagi nyanyi, suara musik, suara chant dari para fans, semua keluar lewat speaker.

Jangan-jangan FOH sengaja nyambungin sambungan mic sama sound system di dalem ke speaker luar. Gapapa sih sebenernya. Ini jadi semacam penyemangat juga buat kita yang ada di luar.

Kita semua berpencar untuk menyerang Juubi dari berbagai arah. Sagha, Ve, dan Kinal menyerang dari depan Juubi bersama. Melihat gue dan temen-temen gue datang dari arah depan, Ezio memerintahkan Juubi untuk menyerang gue dan temen-temen gue dengan ekornya.

*WOOSSH… BUMMM!!!!*

“Fiuh, hampir saja.” –Ve

“Ayo semuanya naik!” –Gary

Ekor Juubi yang tadi menghantam gue kebetulan masih tersangkut di tanah. Gue, Sagha, dan Kinal memanfaatkan kesempatan ini untuk naik keatas Juubi menggunakan ekornya sebagai jalan.

Ve belum sempet naik, tapi ekornya udah keburu diangkat duluan sama Juubi. Tiba-tiba Kinal melapisi tangannya dengan chakra, dan langsung menghantam ekor Juubi yang sedang kita tumpangi untuk naik.

*BRAKK!!!*

“GRAOOO!!!!” –Juubi

“PEGANGAN!” –Gary

Ekor Juubi kembali turun ke bawah untuk sesaat. Ve langsung melompat naik dan bergabung bersama kita bertiga. Oh, jadi tadi Kinal mukul ekor Juubi biar Ve punya kesempatan buat ikut naik keatas? Wih, hebat. Gue malah nggak kepikiran cara kayak barusan.

Begitu ekor Juubi terangkat, kita buru-buru lari mengikuti arah ekor Juubi. Ezio melihat kami ada di salah satu ekor Juubi, dan dia langsung menembaki kami menggunakan crossbow miliknya.

“Ckh! Ah, rese nih gangguannya.” –Sagha

“Serahkan padaku. Kinal, beri aku perlindungan.” –Ve

“Sip!” –Kinal

Kinal membuat dinding chakra sambil berjalan untuk melindungi kita berempat dari tembakan Ezio. Ve mengambil Sniper yang ada di punggungnya. Lalu dia mengisinya dengan peluru. Begitu senjatanya sudah terisi penuh….

“Matikan pelindungnya!” –Ve

*Syung*

“Rasakan ini!” –Ve

*DUAR!*

Tidak disangka, ternyata tembakan yang dilakukan Ve berhasil mengenai Ezio tepat di dadanya. Ini kesempatan! Dia nggak bisa gangguin kita lagi, dan saat ini dia sedang lemah-lemahnya. Kita mempercepat langkah kita untuk bisa sampai ke tempat Ezio berada saat ini, yaitu pundak Juubi.

Sampai di punggung Juubi, kita dapet sedikit kendala. Kita bingung gimana caranya naik keatas pundaknya karena punggungnya Juubi susah untuk dipanjat secara manual.

“Gue punya ide, tapi gue nggak tau deh lo mau pake ide ini atau kagak.” –Kinal

“Emang apa ide lo?” –Gary

“Gimana kalo gue ngelempar lo sampe keatas sana pake chakra Bijuu?” –Kinal

“Lo nanti gimana? Lo nggak ikut naik?” –Gary

“Kalo soal gue masalah gampang. Yang penting lo bertiga naik duluan.” –Kinal

Berhubung waktu kita sempit dan gue juga kasian sama temen-temen gue yang kewalahan nahan Juubi di bawah, jadi gue setuju dengan ide Kinal. Pertama-tama Kinal membuat proyeksi tangan raksasa menggunakan chakra Bijuunya, dan satu persatu gue, Ve, dan Sagha dilempar ke atas.

Eksekusinya berhasil, tapi ada satu masalah. Pendaratannya ternyata nggak sesuai eksepktasi karena Juubi terus bergerak pas kita dilempar. Alhasil, gue dan Ve mendarat di pundak sebelah kiri Juubi, sementara si Sagha mendarat tepat di atas kepala Juubi. Sekarang gue dan Ve tinggal nyebrang doang, ke pundak kanan Juubi untuk mencapai Ezio.

Ini masalah gampang. Gue Cuma tinggal nunggu Juubi membungkuk sedikit agar permukaan lehernya jadi datar dan gue bisa menyebrang dengan aman ke pundak kanannya. Lama menunggu, gue mulai kesel karena Juubi daritadi belum membungkuk sama sekali. Kalo dia emang nggak mau membungkuk, gue bakalan bikin dia membungkuk dengan paksa.

“Zal, masuk!” –Gary

“Oi? Kenapa? Lo dimana?” –Rizal

“Gue ada di pundak kiri Juubi. Gue pengen nyebrang ke pundak kanannya supaya gue bisa sampe ke Ezio, tapi gue gak bisa nyebrang karena Juubi nggak nunduk daritadi.” –Gary

“Kenapa harus nunduk?” –Rizal

“Karena kalo nunduk, permukaan lehernya jadi datar. Kan bisa dipake buat nyebrang. Lo bisa nggak bikin dia nunduk? 15 detik juga cukup.” –Gary

“Duh, gimana yak? Gue udah nggak punya bola golf lagi buat diledakin. Tadi udah abis buat ngebantai Juubi bareng-bareng sama yang lain.” –Rizal

“Serahkan pada kami. Kami akan menyerang kakinya secara bersamaan dan membuatnya menunduk selama beberapa detik. Bersiaplah.” –Ve (JD)

Oke. Sekarang gue tinggal nunggu Ve (JD) dan para Jinchuuriki lain melakukan bagian mereka. Gue liat ke bawah, para Jinchuuriki sudah bersiap-siap untuk menghantam kaki Juubi dengan melapisi tubuh mereka dengan chakra. Beberapa saat kemudian, secara bersamaan mereka menghantam kedua kaki Juubi.

*BUMMM!!!!*

“NGHHRROOOAAAOOOO!!!” –Juubi

Bagus! Juubi langsung nunduk karena serangan tadi. Gue dan Ve langsung nyebrang ke pundak kanan Juubi. Sampai di pundak kanan Juubi, gue dan Ve langsung disambut tembakan panah dari Ezio.

“Aku tidak akan semudah itu untuk kalian kalahkan.” –Ezio

“Kita liat aja.” –Gary

Ezio mengeluarkan kapak dan pedangnya. Terjadi pertarungan jarak dekat di atas pundak kanan Juubi. Ketika pertarungan baru akan dimulai, tiba-tiba Juubi kembali bangkit ke posisi semula.

Kita yang ada di atas mendapat sedikit goncangan akibat gerakan spontan Juubi. Ve yang kehilangan keseimbangan dan kebetulan posisinya ada dipinggir pundak langsung terpeleset dan jatuh dari atas Juubi.

“HUAAAH!!!” –Ve

“VE!” –Gary

*TAP!*

Untung gue cepet. Gue mengabaikan Ezio dan langsung bergerak untuk menangkap Ve sebelum dia jatuh. Gue berhasil menangkap Ve tepat waktu, tapi….

“Bodoh. Di tengah pertarungan, harusnya kau tetap fokus dengan lawanmu. Bukannya sibuk sendiri dengan temanmu. SEKARANG MATILAH KALIAN BERDUA!” –Ezio

……………..

~To Be Continued~

By : @ahmabad25

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s