The Legend of Moonlord, Part14 (Living in The Darkness)

“Tempat macam apa ini?” gumam Sandy kesal.

 

Lama sudah Sandy berjalan tapi ia tak bisa melihat apapun. Kabut pekat di Shaded Wood benar-benar membuatnya buta. Harus perlahan dan hati-hati dalam melangkah jika ia ingin selamat. Rasanya sekarang ia butuh tongkat yang biasa digunakan orang buta untuk menyusuri jalan.

Buk!

 

Sandy lagi-lagi menabrak sesuatu. Entah berapa kali ia seperti itu. Tadinya ia kira itu adalah pohon seperti sebelumnya, namun sepasang bola mata besar muncul dihadapannya. Refleks, ia melompat mundur dan membuat sesuatu itu menghilang dari pandangannya.

 

“Apa yang barusan itu? Mengagetkan saja. Tapi kurasa sekarang sudah aman.”

 

Baru saja ia berpikir begitu tapi sebuah gada kayu besar mengarah padanya. Naluri yang tajam membuatnya memasang posisi bertahan. Meski begitu kekuatan serangan yang datang jauh melebihi perkiraannya. Ia pun terpental dan membentur pohon.

 

Darah keluar dari pelipisnya. Lengan kanannya terasa tak bisa di gerakkan. Pandangannya juga buram. Meski demikian insting miliknya masih berfungsi tajam. Serangan berikutnya dirasakan datang mendekat. Namun Sandy pingsan terlebih dahulu.

 

CRRTT!!

 

Sebuah dagger menusuk lengan Hobogoblin yang ingin menyerang Sandy. Setelahnya, serangan beruntun dilancarkan pada monster itu. Dalam sekejap hobogoblin pun dapat di lumpuhkan. Seseorang lalu berjalan mendekati Sandy.

 

“Apa yang dilakukannya disini? Apa dia tidak tahu kalau disini sangat berbahaya,” gumamnya.

 

“Shafa, apa kau baik-baik saja?” teriak seseorang.

 

“Ya, aku baik. Kalian cepatlah kemari, ada seseorang yang terluka disini,” balas orang di dekat Sandy itu.

 

“Baik.” mereka lalu menawan Sandy bersama mereka pulang.

 

 

*******

 

 

“Anda memanggil saya tuan?”

 

“Ohh, Shafa. Sudah berapa kali kau katakan tidak usah memanggilku tuan bukan?”

 

“Maaf, tapi saya sudah terbiasa dengan itu tuan. Ohya, ada apa tuan memanggil saya?”

 

“Ku dengar kau membawa orang asing kesini. Siapa dia?”

 

“Hal itu memang benar. Saya menemukannya terkapar di Shaded Wood. Sepertinya dia diserang Hoboglobin disana. Maaf sebelumnya atas kelancangan saya karena tidak meminta izin tuan Gani lebih dulu,” jelas Shafa.

 

“Shaded wood? Sedang apa orang itu disana?” gumam Gani.

 

“Shafa, bisakah kau mengantarku ke tempat orang itu?”

 

“Baik, tuan.”

 

Mereka lalu menuju kediaman Shafa tempat Sandy dirawat.Keadaan disana masih sama seperti saat Shafa meninggalkannya. Tak ada benda yang bergerak barang sejengkal. Begitu pula dengan Sandy yang masih terlelap di kamar Shafa. Sinar matahari yang jadi penerangan satu-satunya itu pun masuk ke sana. Sandy pun masih terlelap di tempatnya.

 

“Anak ini… Apa mungkin dia… Ah tidak mereka kan sudah… Tapi…” gumam Gani dalam benaknya.

 

“Shafa.”

 

“Ya, tuan?”

 

“Aku akan pergi untuk beberapa waktu, selama itu tolong kau jaga semuanya termasuk dia. Mengerti?”

 

“Baik, tuan. Tapi tuan Gani akan pergi kemana?”

 

“Membangkitkan sesuatu yang sudah lama tertidur,” Gani pun berlalu begitu saja.

 

Selepas kepergian Gani, Sandy mulai membuka matanya. Shafa langsung menyadarinya karena insting-nya yang tajam.

 

“Kau sudah sadar rupanya,” sapanya dingin.

 

“Kau siapa?” tanya Sandy sambil mengacak-acak rambutnya.

 

“Namaku Shafa. Aku menemukanmu terkapar saat sedang berpatroli. Sekarang kau berada dirumahku. Apa itu cukup jelas untukmu?”

 

“Jadi, begitu…” Sandy terlihat berpikir.

 

“Sekarang kau sebaiknya ikut denganku. Lenganmu harus segera diperiksa.”

 

“Bicara apa kau? Aku sama sekali tidak…” Sandy terdiam begitu Shafa memegang tangan kanannya yang diperban.

 

‘Lenganku… Kenapa tidak merasakan apapun? Bukankah aku terluka.. Tapi kenapa…’ Sandy bingung.

 

“Masih mau menolak?”

 

“Baiklah, aku mengerti.”

 

Mereka pun bersiap. Shafa membalut tangan Sandy lalu mengalungkannya ke leher orang yang. entah dari mana asalnya itu. Setelah selesai mereka pun menuju teras, akan tetapi….

 

“Haaaa!! Tempat macam apa ini?”

 

“Kenapa? kau heran dengan temapat kami tinggal?”

 

‘Perlukah dia menanyakan hal itu? Maksudku dasar dari tempat ini terlalu gelap sampai terasa tak memiliki akhir. Belum lagi tali yang tersambung entah kemana. Di kanan mengarah ke bawah dan kiri mengarah ke atas. Tempat hidup macam apa ini??’ gumam Sandy.

 

“Geronimoo!!”

 

Tiba-tiba saja seseorang datang dari tali yang mengarah ke atas, Sandy kembali dibuat terkejut oleh orang-orang yang tak ia tahu.

 

“Oh, Sisil. Kau datang tepat waktu,” ucap Shafa pada gadis yang baru datang itu. Sisil hanya memiringkan kepalanya karena tak mengerti maksud Shafa. “Hey Orang asing…”

 

“Sandy. Namaku Sandy. Ingat itu baik-baik.”

 

“Baiklah, Sandy. Apa kau bisa berlari dengan keadaan seperti itu?”

 

“Jangan remehkan aku ya!”

 

“Hoo, semangatmu itu boleh juga, tapi kalau hanya semangat saja kau takkan bisa menang melawanku,” ejek Shafa.

 

“Apa katamu?!” emosi Sandy mulai terpancing.

 

“Mau membuktikannya?” tantang Shafa.

 

“Boleh saja.”

 

“Baiklah kalau begitu. Sisil, tolong kau pimpin jalan menuju rumah si kakek tua. Tugasmu dan aku hanyalah mengikuti Sisil sampai ke tempat tujuan. Ya, itupun kalau kau berhasil selamat sampai disana haha,” Shafa kembali mengejek Sandy akhir kalimatnya.

 

“Cih. Jangan remehkan aku!”

 

“Aku tidak terlalu mengerti tapi baiklah.”

 

Detik itu juga Sisil langsung terjun dari teras rumah, diikuti Shafa. Sementara Sandy yang terlambat bereaksi juga ikut melompat meski masih banyak hal yang menghantui pikirannya. Sesaat setelah kakinya berpijak, Sisil langsung berlari kencang. Begitu pula dengan Shafa dan Sandy. Dalam kegelapan hutan, mereka berlari. Di sisi jalan yang mereka lewati, banyak hewan-hewan kecil yang bercahaya. Mirip dengan kunang-kunang tapi bukan itu. Beruntung Sisil dan Shafa mengenakan pakaian berwarna terang, jadi Sandy masih bisa membuntuti mereka.

 

‘Sial. Tak ku sangka mereka cepet juga. Dan lagi tempat macam apa ini? Gelap sekali. Aku hampir tidak bisa melihat apapun,’ gumam Sandy.

 

Setelah beberapa lama mereka berlari dan melompat di bukit bebatuan, mereka berhenti disebuah mulut gua yang cukup besar. Sandy langsung terduduk begitu sampai disana. Jantungnya berdetak cepat, begitu juga dengan paru-parunya yang terus mengembang dan mengempis.

 

“Kakek Magina, apa kau didalam?” Sisil berteriak memanggil seseorang dari dalam gua.

 

“Sisil! Tidak baik berteriak pada kakek Magina seperti itu!” bentak Shafa.

 

“Tidak apa Shafa. Masuklah kalian semua,” jawab seseorang dari dalam. Mereka pun masuk.

 

Berbeda dengan apa yang dipikirkan Sandy, gua yang terlihat sepi itu penuh dengan kegiatan produksi, seperti pabrik yang tanpa suara. Orang-orang berlalu-lalang kesana kemari, memasak sesuatu di wajan raksasa dan lain sebagainya. Tempat ini lebih cocok disebut pabrik ramuan ketimbang gua. Di tengah langit-langit gua, seseorang melayang sambil memberi komando pada yang lainnya.”Oii kakek Mag!” panggil Sisil.

 

“Oh, kalian sudah disini rupanya,” balasanya. Ia lalu turun menghampiri mereka. “Ada perlu apa kalian kemari?”

 

“Soal itu…” Shafa melirik ke arah Sandy.

 

“Oh… Ikutlah denganku kalau begitu.”

 

Mereka masuk ke suatu ruangan. Di dalamnya tedapat kursi panjang dan beberapa kursi kecil. Sandy duduk disalah satu kursi itu dan Magina duduk di hadapannya. Sang kakek mulai memeriksa lengan Sandy dengan Magical Power-nya.

 

“Hm…” Magina bertopang dagu.

 

“Bagaimana keadaannya?” tanya Shafa.

 

“Aku tidak pernah melihat keadaan seperti ini selama hampir 200 tahun terakhir.”

 

‘200 tahun? Apa dia bercanda? Dilihat bagaimanapun ia terlihat seperti pria berusia 40 tahun,’ gumam Sandy.

 

“Seluruh syaraf dan ototnya mati, tapi anehnya tidak ada luka luar. Bisa kalian beritahu aku siapa yang melakukan ini?”

 

“Seekor Hobogoblin yang melakukannya,” jelas Shafa.

 

“Hmm… Ini aneh. Bukankah banyak teman kalian yang lain juga sering terkena hobogoblin, tapi kenapa dia bisa mengalami luka separah ini?”

 

“Mungkin karena aku bukan berasal dari dunia ini,” tutur Sandy.

 

“Apa katamu?” Shafa terkejut, begitu juga dengan Sisil.

 

“Hmm, meski begitu struktur tubuh mu secara mendasar tidak berbeda jauh dengan Shafa,” Magina kembali menggunakan kekuatannya untuk membandingkan tubuh Sandy dengan Shafa. “Pasti ada penyebab lain,” ia kembali berfikir.

 

“Apa mungkin karena dia terluka di Shaded Wood?” Shafa lagi-lagi berujar.

 

“Hah? Dia terluka disana? Dengan keadaan seperti ini?” Shafa pun mengangguk. “Itu menjelaskan semuanya.”

 

“Memangnya kenapa Kek?” Tanya Sisil dengan polosnya.

 

“Kabut di Shaded Wood mengandung sesuatu yang belum bisa aku pahami sepenuhnya, tapi yang jelas itu adalah racun. Aku pernah memberikan sebuah carian pada kalian semua bukan? Itu adalah anti racun dari zat dalam kabut di Shaded Wood. Tak ku sangka efeknya akan jadi seperti ini,” jelas Magina.

 

“Hey!” Sandy berteriak. “Sejak tadi kalian selalu membicarakan hal-hal yang tidak ku mengerti! Jangan menganggap seperti aku tidak ada disini!”

 

“Maaf, maaf. Segala keanehan ini membuatku melupakan sekitar. Mungkin agak terlambat tapi biarkan aku memperkenalkan diri. Namaku Magina The Wizard.” Bola mata Magina tertuju pada benda di lengan kiri Sandy.

 

“Benda ini… Katakan darimana kau mendapatkannya?” wajah Magina berubah serius. Sandy menarik lengannya kembali.

 

“Aku mendapatkannya dari Red-Hood Grandma. Memang kenapa?”

 

“Kau…”

 

“Kakek Mag, bisakah kau sembuhkan lengannya? Ini perintah tuan Gani,” Shafa berujar.

 

“Hmm…” Magina kembali berfikir. “Mungkin ada sebuah cara,” ucapnya kemudian.

 

“Apa itu?” Shafa dan Sandy serempak berkata.

 

“Baru-baru ini aku melakukan sebuah eksperimen. Aku mencoba melakukan pembedahan pada mayat Goblin yang belum lama kalian bunuh. Dengan Magical Power-ku dan Magical Power milik Goblin yang tersisa ditubuhnya, aku berhasil menyembuhkan sedikit lukanya seperti semula. Aku mungkin bisa saja menyembuhkan lenganmu seperti semula, tapi dengan tingkat kekuatan Magical Power-mu saat ini, hal itu akan sangat memakan waktu. Dan juga lenganmu harus terus berada dalam ruang pemulihan. Apa itu tak apa?”

 

Sandy berfikir sejenak. “Berapa lama kira-kira waktu yang dibutuhkan?”

 

“Sekitar 5 bulan.”

 

“Kalau begitu lupakan saja.”

 

“Waktuku ditempat ini hanya sekitar 6 bulan dan aku harus menghabiskan hampir seluruh waktuku demi menyembuhkan sebelah lengan? Lebih baik aku tetap seperti ini saja.” Sandy berdiri. Ia bermaksud melangkah pergi dari tempat itu. Tapi kemudian…

 

“Hey nak, apa kau mendengarkan perkataan ku dengan baik?”

 

“Hah? Bicara apa kau?”

 

“Tadi aku mengatakan yang perlu tinggal disini hanyalah lenganmu yang terluka saja kan? Bukan dirimu seutuhnya.”

 

“Lalu? Apa bedanya?” Sandy mendelik heran, tapi Magina tetap diam.

 

“Jangan bilang kalau kau mau memotong lenganku, menyembuhkannya dan memasangnya kembali layaknya mainan? Itu tidak mungkin terjadi!! Terlalu mustahil, bahkan untuk dunia aneh seperti ini.”

 

“Tapi sayangnya, semua hal yang baru saja kau katakan adalah hal yang akan ku lakukan.”

 

Tidak hanya Sandy, tapi Shafa dan juga Sisil dibuat terkejut oleh pertanyaan Magina ini.

 

“Apa yang baru saja kau katakan?” Sandy coba menyangkat hal yang baru ia dengar.

 

“Tapi Kek, bukankah itu mustahil seperti yang dikatakannya?” Shafa menimpali.

 

“Memang benar hal ini mustahil bagi makhluk hidup yang memiliki tingkat Magical  Power rendah.”

 

“Tapi bukannya kau juga mengatakan kalau kekuatan ku biasa saja?” Sandy berkata lagi.

 

“Hal itu juga benar. Akan tetapi, kau memiliki satu hal yang tak dimiliki orang lain. Benda itu menempel di lengan kirimu.”

 

“Maksudmu jam ini?”

 

“Ya. Aku tak tahu kau punya hubungan apa dengan Red-Hood Grandma, tapi sejauh yang ku tahu, dia memiliki Magical Power yang amat besar dan kuat. Hanya sedikit orang yang sanggup menerima barang pemberiannya karena memang kekuatannya di atas rata-rata.”

 

“Jadi maksudmu?” Sandy mulai kebingungan.

 

“Dengan kata lain, kau memiliki semacam kekuatan tersembunyi yang cukup besar karena kau sanggup mengenakan barang dari Red-Hood Granma. Dan kalau perkiraanku benar, maka hal mustahil yang tadi kau katakan bisa menjadi kenyataan. Bagaimana? Ingin mencobanya?”

 

‘Aku… Punya kekuatan tersembunyi? Apakah itu mungkin?’

 

Sandy gelisah. Pikirannya melayang jauh. Tiba-tiba ia teringat akan perkataan terakhir kakaknya.

 

‘Kau harus tetap hidup karena suatu saat nanti aku akan menjadi harapan bagi banyak orang.’

 

“Baiklah. Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak, tapi lebih baik mencoba dan gagal daripada melarikan diri dengan rasa penasaran juga penyesalan yang tak berujung.”

 

“Kalau begitu berbaringlah disana dan pejamkan matamu.”

 

 

*******

 

 

Sandy sedang duduk didepan teras. Rumah Shafa menjadi tempatnya bernaung selama berada disini. Ia masih tidak percaya dengan keadaannya sekarang meski ia sendiri yang menyutujui untuk melakukannya. Lengan andalannya telah hilang dari tempatnya semula dan hanya tersisa lapisan hitam diujung bahunya. Shafa dan Sisil hanya memperhatikannya dari dalam rumah.

 

“Hey, menurutmu sampai kapan dia akan seperti itu?” tanya Sisil sambil mengunyah cemilan yang ada.

 

“Entahlah.”

 

“Apa kau akan membiarkannya seperti itu?”

 

“Entahlah.”

 

“Apa kau merasakan sesuatu yang aneh darinya?”

 

“Entah-, eh tunggu. Apa maksud yang barusan itu?”

 

“Entahlah.”

 

Setelah mengunyah cemilan terakhir, Sisil kembali berkata, “Baiklah. Aku akan mengajaknya pergi jika memang kau tak mau mengusiknya.”

 

“Asal kau tak membunuhnya, silahkan lakukan sesukamu.” Sisil pun langsung menghampiri Sandy.

 

Shafa hanya mengamati ketika Sisil membawa Sandy pergi. Setelah beberapa lama, Shafa pun tak tahan. “Huh, sebaiknya aku pergi menyusul mereka.” Ia lalu meletakkan buku yang sedaritadi dibaca dan pergi.

 

Sementara itu, Sandy yang ditarik pergi oleh Sisil masih kebingungan. Mereka terus berlari dijalan yang terbentuk dari batang pepohonan. Langkah kaki pun terhenti disebuah arena melingkar, mirip seperti tunggul kayu raksasa. Sisil lalu melepaskan pegangannya.

 

“Mau apa kau membawaku ke-”

 

BUKK!!

 

Belum selesai dengan kata-katanya, Sandy langsung ditendang hingga terlempar ke tengah lapangan.

 

“Apa maksudnya itu?!” bentak Sandy sambil memegangi pipi kirinya.

 

“Ada satu hal yang perlu kau ketahui. Aku tidak suka melihat orang lemah sepertimu! Peraturan ditempat ini adalah membunuh atau dibunuh. Dirimu yang lemah itu hanya akan merepotkan Shafa saja dan aku takkan membiarkan itu terjadi!”

 

“Apa kau tidak salah bicara? Aku? Lemah? Jangan bercanda!”

 

Sisil tersenyum menanggapi ucapan Sandy. “Kalau begitu bagaimana kalau kita buktikan saja?” tantangnya kemudian.

 

“Maaf, tapi aku tidak suka memukul wanita,” Sandy bangkit dan beranjak dari tempatnya.

 

“Kalau memang begitu…” Sisil pun berlari menuju Sandy. “Akan kubuat kau menyukainya!” Ia mengarahkan sebuah pukulan lain pada Sandy.

 

Dengan lihai Sandy menghindar dan menangkap pukulan Sisil, lalu dilemparnya tubuh gadis itu ke udara. Sisil berputar dan mendarat dengan mulus. Ia lalu melancarkan pukulan bertubi-tubi, tapi tak satupun mengenai Sandy. Pria itu kemudian melompat mundur untuk mengambil jarak.

 

“Boleh juga kau, tapi…” Sisil tibatiba menghilang.

 

“Jika hanya menghindar kau takkan bisa hidup!”

 

Secara mengejutkan Sisil muncul dihadapan Sandy. Ia pun menghempaskan musuhnya ke sisi arena dengan satu pukulan telak diperut.

 

‘Apa itu tadi? Sesaat aku tak bisa merasakan keberadaannya. Sial! Sepertinya aku terlalu meremehkannya. Kalau begini, aku juga akan serius menanggapinya meski keadaanku seperti ini. Aku juga ingin tahu bagaimana kemampuan sesungguhnya dari Assasin.’

 

Sandy bangkit dengan wajah serius. Hal itu disambut senyuman penuh ambisi oleh Sisil.

 

-to be continue

‘dipolacubo’

 

P.S. mau tanya pendapat kalian dong. Kedepannya mending update nya 2 minggu sekali tapi panjang atau seminggu sekali tapi gak terlalu panjang? Jadi tiap judul ada 2 part gitu. Balas ya di kolom komentar, ditunggu~

Iklan

6 tanggapan untuk “The Legend of Moonlord, Part14 (Living in The Darkness)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s