‘Touchdown’, Part12

Fanfict Touchdown png

“Enak!” ujarku tertahan. Aku melihat Falah hanya mengangguk sambil mengunyah makanannya.

Well, emang nggak bisa dibandingin sama Pizza atau fast food lainnya, tapi ini emang enak!

Aku makan dengan lahap sekali, entah emang karena lapar, atau emang ini makanannya yang enak.

“Mba,”

Aku menoleh ke arah Falah.

“Hm?”

“Itu..” Falah menunjuk sesuatu dengan dagunya.

“Apa?” tanyaku setelah berhasil menelan suapanku.

“Hadeuh..” Falah memajukan tangannya. Dengan lembut ia mengusap sudut bibirku dengan Ibu jarinya.

“Kalo makan tuh yang rapih,” ujarnya sambil tersenyum.

Deg.

 

Lidya POV.

 

Aku masih terdiam sejak kejadian tadi hingga kini aku sudah kembali berada di dalam mobilnya. Astaga.. Tapi bukan berarti aku diam seperti patung ya. Aku masih menjawab pertanyaan atau meladeni obrolannya.

Hanya saja aku masih tidak bisa menetralkan debaran jantungku ini.

“Non, udah sampe,”

Aku sedikit terkejut saat tangan Falah menepuk pundakku.

“Eh? I.iya,” aku celingukan, benar ternyata sudah sampai.

“Rumah kamu yang itu?” tanya nya sambil menunjuk rumahku.

“Iyap,”

“Cuma berdua sama kak Vivo?” tanyanya.

Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.

“Kenapa emang? Mau mampir?”

“Eh enggak kok, cuma heran aja rumah cukup gede begini diisi sama dua orang doang? Emang Papah Mamah kemana?” tanyanya.

Aku terdiam.. pertanyaan itu mengingatkanku akan kedua sosok yang memang seharusnya menemani hariku.

“Hello?”

“Hm?” aku menatapnya yang kini melihatku dengan wajah bingung.

Why? Something wrong?” tanyanya.

Um.. nothing, just.. little bit tired,”

Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ok then, go to bed early,

Yes I will,”

Aku mengangguk, kemudian membuka pintu mobil.

“Ngg.. about my parents, I’ll tell you later,”

“Haha, never mind, if you won’t to tell me, I’ll understand,”

Aku tersenyum mendengarnya.

Bye big 28,”

“Hahaha shut up, bye too, have a good sleep,

Setelah ia menghilang di tikungan, aku masuk ke dalam rumahku.

Aku melihat kak Vivo yang sudah menungguku di teras rumah.

“Lho? Tadi itu kamu toh? Kakak kira siapa,” ujarnya.

“Hehe, Assalamualaikum,”

“Waalaikumsalam, yang nganterin mana?” tanyanya dengan tampang meledekku.

“Ish, apa sih, udah pulang yang nganterinnya,”

“Ciyee, hahaha, nggak usah merah gitu kali pipinya,” kak Vivo mencolek pipiku.

“Iish diem aah, udah ah mau masuk capee,”

“Kamu udah makan?”

“Udah kok tadi, di kasih makan sama raksasa,” ujarku sambil melangkah masuk ke dalam rumah.

“Raksasa?”

Hihi aku masih bisa mendengar kak Vivo mengatakan itu.

 

~

 

Author POV.

 

Minggu pagi..

“Ih kakak, katanya mau nemenin aku?” rengek Lidya di ruang tamu. Ia melipat kedua tangannya.

“Aduuh, kakak kan udah bilang manager kakak dateng hari ini, kakak harus kerja,” ujar Vivo sambil memakai seragamnya.

“Ah kakak mah,” Lidya ngambek, ia melangkah menuju kamarnya.

Vivo hanya menggelengkan kepalanya, ia sudah cukup terbiasa, karena memang ia seperti itu. Adiknya paling tidak suka jika ada yang sudah membuat janji namun tidak menepatinya.

“Kaka berangkaaat,” teriak Vivo.

Lidya yang sudah di kamarnya hanya diam tidak menjawabnya.

“Masa sendirian sih, bisa sih.. tapi…” Lidya berpikir sejenak. Kemudian ia mengambil hapenya.

Lidya mencari nama seseorang pada kontaknya.

Setelah ketemu ia menekan ‘call’.

“Halo.. Assalamualaikum,”

“…”

“Astaga masih tidur? Maaf ya maaf,”

“…”

“Ngg.. hari ini ada acara nggak?”

“…”

“Ngg.. itu, temenin aku ke toko buku,”

“…”

“Bener? Hehe, makasih yaa,”

“…”

“Yaudah mandi sana, aku tunggu yaa,”

“…”

“Daah, assalamualaikum,”

Lidya tersenyum sambil menatap layar hpnya.

“Oke, mandi dulu,” ujar Lidya, ia men-charge hp nya, kemudian menyambar handuk dan beranjak menuju kamar mandi.

Setelah beberapa menit(?) ia keluar dari kamar mandi. Lidya mulai mematut dirinya di depan cermin. Ia mengenakan kaus hitam dan celana panjang hitam, kemudian ia membalut badannya dengan kemeja berwarna biru dongker.

Nice, simple,” ujarnya sambil tersenyum.

“Assalamualaikuum,”

Lidya mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya.

“Waalaikumsalam, tungguu!” teriak Lidya dari kamarnya.

Lidya mengambil hp dan dompetnya, ia masukkan ke dalam tas kecil.

Lidya berlari kecil menuju pintu depan.

“Hai,” sapa Lidya sambil tersenyum.

“Yo,”

Lidya manyun karena yang disapanya hanya menjawab seperlunya.

“Bentar, aku ngunciin pintu dulu, kamu duduk aja dulu,” ujar Lidya sambil mempersilahkan tamunya duduk di kursi teras.

Setelah memastikan rumahnya terkunci dan aman, Lidya keluar dari rumah dan mengunci pintu depan.

“Yuk,” ujar Lidya.

“Ke toko buku doang kan?”

“Iya, hehe maaf ya ngerepotin Fal,” ujar Lidya.

“Nyaah nggak apa, gue juga mau nyari komik,” ujar Falah.

 

~

 

“Ham, buku yang diminta gurunya kaya gimana sih?” tanya Lidya.

“Yang covernya timbangan sama gelas kimia gitu kalo nggak salah,”

“Begini?” Lidya menunjukkan sebuah buku.

“Sepertinyaa,” ujar Falah agak ragu.

“Ish gimana sih, malah ragu gitu,” Lidya memukul pelan bahu Falah.

“Lha? Kan gue kaga tau yang diminta guru lo apaan, orang kita beda guru Kimia,” ujar Falah.

“Iya juga sih,”

“Ih nenek, udah ah gue mau nyari komik,”

“Lha-lha? Kok ditinggal?” ujar Lidya sambil menghentakkan kakinya.

Falah tidak memperdulikannya, lempeng aja memasuki barisan komik-komik.

“Dasar raksasa,” sunggut Lidya.

“Hmm.. hmm..” Falah mulai mencari komik kesukaannya, dari mulai shinchan, doraemon, hai miiko, dan sejenisnya.

Falah yang sudah mendapatkan komik yang mau ia beli memperhatikan sosok Lidya dari jauh. Kemudian ia tersenyum saat Lidya memanyunkan bibirnya yang tidak juga menemukan buku yang ia cari.

Falah mengetikkan sesuatu di HPnya.

“Haduh mana sih? Yang mana ya? Ini Viny juga nggak bales-bales,” ujar Lidya sambil melihat hpnya.

“Hmm, apa yang ini ya?” tanya Lidya pada dirinya sendiri sambil menimang sebuah buku.

“Yang ini nih,”

“Eh?”

Lidya terkejut saat ada buku yang bertengger di atas kepalanya.

“Bener ini?” tanya Lidya kepada Falah.

Falah mengangguk kemudian menunjukkan chat nya dengan Hanna. Hanna mengirimkan gambar buku yang sama persis dengan apa yang ada di tangan Lidya kini.

“Eh iya, kenapa aku nggak kepikiran sama Hanna ya?” ujar Lidya.

“Nenek dasar,”

Stop calling me like that,” gerutu Lidya.

“Ya ya ya, udah yuk bayar,” ujar Falah. Falah berjalan mendahului Lidya.

Di kasir mereka berdua mengantri karena ternyata cukup ramai juga yang ke toko buku hari itu. Maklum sih hari minggu.

“Sini bukunya,” ujar Falah.

“Nggak mau aku bayar sendiri aja,”

“Dih yang mau bayarin siapa? Ya buku lo sini, duitnya juga sini, biar gue aja yang ngantri,” ujar Falah.

Pipi Lidya memerah karena ternyata ia salah duga.

“Gih sana tunggu di lantai bawah aja,” usir Falah.

“Dih ngusir, yaudah nih uangnya, thanks yaa,” ujar Lidya, kemudian Lidya menuruni tangga menuju lantai bawah.

Setelah beberapa menit mengantri, Falah membayar buku yang ia beli dan juga Lidya beli. Kemudian ia mencari sosok Lidya yang menunggunya di lantai bawah.

“Dion lepas!”

Falah menoleh ke arah teriakkan itu. Lidya?

“Hai, sorry lama,” ujar Falah sambil menghampiri Lidya.

“Kalian?” ujar Dion sambil menatap Falah dan Lidya bergantian.

“Nih bukunya,” ujar Falah sambil memberikan kantung plastik berisi buku pesenan Lidya.

“Oh jadi sekarang kamu udah nemuin pengganti aku gitu? Hebat Ya hebat,” ujar Dion sambil menatap sinis kea rah Falah.

Falah yang ditatap seperti itu menaikkan satu alisnya.

“Kenapa?” tanya Falah bingung.

“Lo diem, ini bukan urusan lo,” ujar Dion.

“Dion kamu kenapa sih? Apa-apaan coba? Jangan bikin malu deh,” ujar Lidya sambil melirik ke kanan kirinya.

“Ikut aku!” ujar Dion sambil menarik tangan Lidya.

“Aw! Sakit ih! Dion!” ujar Lidya.

“Ion, sorry nih, bukannya mau ikut campur, tapi nggak usah kasar juga kali sama cewe,” ujar Falah.

“Lo diem!” ujar Dion sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Falah.

Falah menatap Lidya. Lidya memberi kode kalau dia nggak apa.

“Yaudah, lo tau harus hubungin gue ke mana,” ujar Falah.

Lidya mengangguk, kemudian Dion kembali menarik Lidya menuju parkiran.

Falah menghela nafas, kemudian ia beranjak menuju satu tempat makan di sana. Menunggu kabar dari Lidya.

Di dalam mobil Dion di parkiran lantai dua.

“Apa lagi sih Dion!?” tanya Lidya begitu ia masuk ke dalam mobil Dion dengan paksa.

“Kamu kenapa jalan sama dia sih!?” ujar Dion.

“Lho emang kenapa? Itu hak aku dong!?”

“Ya tapi aku nggak suka!”

“Lho? Kamu siapanya aku Dion? Kamu lupa kita udah nggak ada apa-apa?” tanya Lidya.

Lidya menggelengkan kepalanya, tidak mengerti lagi apa yang dipikirkan oleh Dion.

Dion tertunduk.

Keadaan hening.

“Kalo udah nggak ada yang mau diomongin aku keluar ya,” ujar Lidya hendak membuka pintu mobil.

“Bentar,” Dion menahan tangan Lidya.

“Maafin aku tadi agak kasar, aku.. aku cuma nggak tau apa yang terjadi sama aku,”

Lidya menatap Dion.

“Aku.. cuma takut kehilangan kamu Ya, aku.. aku sayang banget sama kamu,” Dion menatap ke arah Lidya.

“Ya.. apa aku masih ada kesempatan?” tanya Dion sambil menatap mata Lidya.

Lidya tertunduk, kemudian menggeleng lemah.

“Maaf Dion, aku udah ngelupain semuanya,” ujar Lidya lirih.

Dion menghela nafas pelan.

Dion mengangkat dagu Lidya perlahan.

“Ya.. liat mata aku,” ujar Dion.

Lidya menatap perlahan ke mata Dion.

“Ya.. aku..” Dion perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Lidya.

Lidya reflek memundurkan wajahnya, “Di.dion kamu mau apa?”

Dion menahan wajah Lidya dengan tangannya.

“Dion!” Lidya menampar pipi Dion dengan keras.

“Kamu pikir aku apa hah!!” teriak Lidya.

-TBC-

-Falah Azhari-

Iklan

7 tanggapan untuk “‘Touchdown’, Part12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s